Kontroversi AHOK & Politik Indonesia di tinjau dari sudut pandang Teologi.

Perjalanan PILKADA Jakarta banyak menuai kontroversi yang memanas baik di dalam maupun luar negeri bagaikan sebuah bara api yang semakin ditambah  dengan bensin. semakin hangat dengan aksi 1.000 Lilin untuk bpk Ahok yang dinyalakan hampir dibanyak provinsi di Indonesia bahkan di luar negeri seperti di Sydney Australia. Tuduhan kepada pak Ahok mengenai Surat Al-Maidah 51 menjerat beliau dengan tudingan  “penista agama” adalah korek pemicu dari semua kepanasan ini. banyak tulisan, website, blog, meme dll yang menuangkan pikiran mengenai hal ini dan menjadi sorotan yang viral ditengah-tengah kehidupan Netizens sehingga menjadi Trending Topic dihampir berbagai media sosial, media massa, dan media elektronik.

Mari kita melihat sejenak indonesia terdiri dari apa saja?

Indonesia memegang 4 pilar di tanah air yakni

  1. PANCASILA
  2. UUD 1945
  3. BHINEKA TUNGGAL IKA
  4. NKRI

yang MENGIKAT, MEMPERSATUKAN, DAN BERDAULAT.

what happen?? apa yang terjadi dengan Pilar tersebut??

KE-4 pilar ini menjadi remuk tak bertulang terbakar oleh panasnya kebakaran tersebut. dan membakar semangat juang masyarakat untuk menunjukkan kekuasaan bukan kebenaran, sangat berbanding terbalik dengan semangat juang yang berkobar terhadap para pahlawan yang terdahulu yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan ke-4 pilar tersebut.

aksi massa baik pro dan kontra mengeluarkan taring masing-masing tanpa memiliki titik tumpuh yang pas sehingga saling menonjolkan taring masing-masing pihak dengan alasan NKRI. perlu diketahui bahwa NKRI adalah harga mati tetapi didalam NKRI ada perbedaan baik agama, suku, ras, bahasa, dan adat-istiadat yang menjadi sebuah keindahan khusus bagi bangsa Indonesia. maka jika NKRI adalah harga mati maka seharusnya “DISKRIMINASI HARUS DITIADAKAN”  dan harus saling menghargai perbedaan tersebut.

Dari masalah ini saya teringat dengan salah satu dari banyaknya Ayat Alkitab yang mengajarkan mengenai perbedaan. YAITU CERITA MENGANAI ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI.  Lukas 10:25-37.

Si Samaria ketika melihat si korban, hatinya tergerak oleh belas kasihan dan ia mau menolongnya tanpa mempersoalkan bahwa korbannya adalah seorang Yahudi. Matthew Henry mengatakan : ”Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan sama sekali tidak mempermasalahkan kebangsaannya. Walaupun korbannya seorang Yahudi, dia tetap saja seorang manusia, manusia yang berada dalam penderitaan, dan orang Samaria itu telah diajar untuk menghormati semua orang”. Sikap ini harus menjadi teladan bagi kita bahwa kita tidak boleh memandang bulu di dalam menolong. Di dalam menolong orang lain kita tidak perlu mempersoalkan suku bangsa apa dia, agama apa, status sosial, tingkat ekonomi (kaya atau miskin), dsb. (Siapakah Sesamaku Manusia; hal. 15).

Mampu menolong dan menghargai orang lain yang merupakan musuh atau istilahnya “kafir” bagi dia karena bukan satu aliran dengan bangsanya. Stevri I Lumintang – Mereka memahami toleransi dengan konsep dialog dalam pengertian mengakui kebenaran semua agama, sehingga kebenaran Kristus tidak lagi dilihat sebagai kebenaran final. Hal ini tentu merupakan suatu pengkhianatan terhadap jati diri agama yang dianutnya. Toleransi seperti ini tidak diajarkan oleh Alkitab. (Theologia Abu-Abu, hal. 283-284).

kebanyakan perbedaan di Indonesia sangat ekstrim dimana menganggap diri paling benar dan menggap orang lain yang tidak sejalan denganya dengan sebutan musuh atau kafir. ini menunjukkan suatu perbedaan dan pola pikir yang sangat keliru sehingga banyak muncul opini dan gagasan yang saling menjatuhkan satu sama lain oleh karena adanya perbedaan diantara mereka. jika kembali kepada orang samaria yang baik hati diatas kita akan melihat betapa orang tersebut secara totalitas memberikan perhatian terhadap orang yahudi yang sedang membutuhkan pertolongan tanpa melihat unsur musuh dalam diri mereka.

Orang Samaria adalah orang yang dimusuhi dan dibenci oleh orang Yahudi. Karena itu, si korban dalam kisah Yesus ini sama sekali tidak mengharapkan pertolongannya, namun dari ketiga orang yang melihatnya, justru orang inilah yang turun tangan dan bersedia menolongnya.

Frase “orang Samaria yang murah hati” menjadi ungkapan sehari-hari bagi seseorang yang bersedia menolong orang lain – bahkan yang tidak dikenal sekalipun tanpa pamrih

Perbedaan itu bukan suatu hal yang perlu dipermasalahkan atau dicari mana yang lebih unggul atau tidak. tetapi suatu hal yang perlu dihargai sehingga masing-masing individu dapat menjalankan adat istiadat serta kepercayaanya dengan bebas tanpa ada diskriminasi diantara masyarakat. Selanjutnya biarkan hati nurani menemukan kebenaran dari apa yang sedang kita jalankan, sehingga hati dapat memahami mana yang benar dan mana yang salah dan memilih kebenaran untuk dijalankan. Karena kebenaran tetap adalah kebenaran tanpa perlu dibandingkan dengan hal apapun.

AMIN

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Revival Generation Of Believers

Korea Selatan adalah negara yang mayoritas dengan agama Kristiani dan pemuda-pemudi yang banyak mengikuti ibadah-ibadah dalam persekutuan di gereja, tetapi saat ini menurut penelitian bahwa banyak kemunduran yang terjadi dikalangan anak-anak muda dan remaja mengenai semangat dan kerajinan untuk beribadah. Faktor yang mempengaruhi kemunduran anak-anak muda adalah K-POP  “maniac k-popers”.

Amerika juga adalah mayoritas Kristiani tetapi kemunduran juga terjadi dinegara paman sam ini bahkan dikabarkan banyak terjadi penutupan tempat-tempat ibadah sehigga gereja dijual menjadi bioskop. club malam dan diskotik. Faktor yang mempengaruhi ini adalah lemahnya pemberitaan Firman Tuhan dikalangan mereka oleh karena praise and Worship lebih dominan menjadi celebrasi yang mendunia bahkan menyerupai club malam dengan lighting dan accesories yang memukau.

Indonesia juga saat ini banyak dominan terhadap praise and worship saja dan mengabaikan Firman Tuhan dengan alasan malas dan bosan. tetapi dalam mengikuti konser musik pemuda-pemudi sangat antusias tetapi apa yang terjadi setelah kehebohan dan celebrasi tersebut?  jingkrak-jingkra, meloncat tetapi hanya memuaskan celebrasi jiwa muda semata. hal ini sangat bahaya sekali dikalangan generasi.

Anak-anak muda saat ini sangat perlu mengalami kebangunan didalam menggali masa depan oleh karena anak-anak muda adalah generasi penerus. Apabila saat ini dimulai tanpa adanya kebangunan atau motivasi didalam hati para pemuda/i dan remaja saat ini, maka akan sangat disayangkan bagaimana mereka menghadapi keadaan global kedepan.

Kebangunan yang digali bukan hanya dalam aspek ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi bagaimana segi moralitas anak-anak muda dalam iman yang perlu dibangun dan diperhatikan. Efesus 5:16 mengatakan bahwa hari-hari ini adalah JAHAT, bagaimana kejahatan ini mampu dilawan oleh anak-anak muda apabila belum dibangun sistem kekebalan iman didalam dirinya, jangan sampai keadaan dunia ini menjauhkan anak-anak muda sebagai pilar gereja dan pilar keluarga pada akhirnya terjerumus dan tidak mampu untuk bangkit lagi.

Beberapa faktor yang terjadi saat ini yang mengakibatkan anak-anak muda “tertidur” dan malas untuk revival/ bangun dalam generasi saat ini adalah faktor lingkungan, teknologi dan perkembangan jaman yang menekankan instan dan hedonisme. Anak-anak muda tidak mudah untuk berusaha karena kebanyakan serba mengerjakan sesuatu dengan instan sehingga timbul rasa malas dan pada akhirnya tertidur. Penulis saat ini banyak memperhatikan anak-anak muda mulai kendor kerajinanya dalam beribadah ke gereja seperti ibadah youth & teens hanya dihadiri oleh 10-20 jiwa setiap minggunya apabila ditanya alasanya sangatlah beragam tetapi jelas bahwa ini semata-mata oleh karena rasa duniawi yang lebih dominan sehingga membuat para anak-anak muda dan remaja lebih mementingkan pergi menonton bioskop, makan-makan, dan nongkrong. Pikiran mereka sudah terkuras saat mereka belajar dan bekerja sehingga mereka ingin refreshing pikiran mereka dengan hang out bersama sahabat-sahabatnya dan melupakan untuk datang beribadah dan berdoa kepada Tuhan.

Dari keadaan diatas maka anak-anak muda perlu memperhatikan masa depan bukan nanti saat sudah dewasa karena justru penyesalah yang akan muncul maka dimulai dari sekarang anak-anak muda perlu bangkit sehingga generasi gereja dan generasi orang percaya kedepan juga akan bertumbuh. Bagaimana caranya?

Nah Believers coba simak ini

Mazmur 51:1-15

1. Kenali potensi dan Kelemahan.

Potensi dan kelemahan harus diperhitungkan dengan baik dan benar supaya tidak ada ketimpangan. oleh karena raja Daud sangat tahu kelemahanya saat ia berzinah dengan Batsheba maka ia menghampiri Tuhan untuk memohon pengampunan dari Allah. Raja Daud juga sangat mengenal bahwa kekuatanya ada pada kekuasaannya sebagai raja Israel tetapi diatas kekuasaannya tersebut ia sadar akan Allah yang berkuasa atas kehidupanya.

kebanyakan anak-anak muda tidak mengenal potensi sebagai pemuda yang tangguh sehingga sulit untuk bangkit dan bangun oleh karena terpuruk dalam kelemahan dan kegagalan yang pernah dialami bahkan tenggelam dalam rasa malas yang sering menghampirinya.

2. Rekonsiliasi dan Restorasi diri.

Diperlukan hubungan kita dengan Tuhan dengan baik sehingga dengan inilah kita mengerti jalan dan rencana Tuhan di dalam kehidupan kita dan kita berjalan sesuai kekuatan dari Allah. DENGAN HUBUNGAN YANG TERJALIN DENGAN BAIK BERSAMA TUHAN MAKA PEMUDA MAMPU UNTUK BANGKIT.

 

3. Hidup dalam Roh.

13654380_910368769090912_2025858652148622585_n

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

95 Dalil Martin Luther dan Bantahan Terhadap Pertobatan dan Pengampunan Dosa

Martin Luther’s 95 Theses – 95 Dalil Luther

Bantahan Dr. Martin Luther Mengenai Pertobatan dan Surat Pengampunan Dosa

Dengan keinginan dan tujuan untuk menguraikan kebenaran, perdebatan akan diadakan di Wittenberg berdasarkan pernyataan yang disetujui di bawah kepemimpinan Bapa Martin Luther, rahib Ordo St. Agustinus, Master of Arts and of acred Theology, dosen Universitas Wittenberg. Selin itu, ia meminta kepada orang yang tidak bisa hadir dan melakukan diskusi dengan kami secara lisan tentang topik itu supaya melakukannya melalui surat untuk menggantikan ketidak hadiran mereka. Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

1. Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus, ketika Ia mengucapkan “Bertobatlah,” dan seterusnya, menyatakan bahwa seluruh hidup orang-orang yang percaya harus diwarnai dengan pertobatan.

2. Kata ini tidak boleh dimengerti mengacu kepada hukuman sakramental; maksudnya, berkaitan dengan proses pengakuan dan pelepasan (dosa), yang diberikan oleh imam-imam yang dilakukan di bawah pelayanan imam-imam.

3. Dan, pertobatan tidak hanya mengacu pada penyesalan batiniah; tidak, penyesalan batiniah semacam itu tidak ada artinya, kecuali secara lahiriah menghasilkan pendisiplinan diri terhadap keinginan daging.

4. Jadi, hukuman itu terus berlanjut selama ada kebencian pada diri sendiri – maksudnya, penyesalan batin yang sejati berlanjut: yaitu, sampai kita masuk ke dalam kerajaan surga.

5. Paus tidak memiliki kekuatan maupun kuasa untuk mengampuni kesalahan apa pun, kecuali yang telah ia diberikan dengan otoritasnya sendiri, atau oleh peraturan.

6. Paus tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa apa pun, kecuali dengan menyatakan dan menjaminnya te1ah diampuni Allah; atau setidaknya ia dapat memberikan pengampunan pada kasus-kasus yang menjadi tanggung jawabnya, da1am kasus tersebut, jika kuasanya diremehkan, kesalahan akan tetap ada.

7. Allah tidak pernah mengampuni dosa apa pun, tanpa pada saat yang sama Dia menundukkan diri manusia itu, merendahkan diri da1am sega1a sesuatu, kepada otoritas imam, wakilnya.

8. Peraturan pengakuan dosa hanya dikenakan pada orang yang hidup dan tidak seharusnya dikenakan pada orang yang mati; menurut peraturan tersebut.

9. Oleh karena itu Roh Kudus berkarya da1am diri Paus me1akukan hal yang baik bagi kita, sejauh da1am keputusannya, Paus se1a1u membuat perkecualian terhadap aturan ten tang kematian dan nasib seseorang.

10. Imam-imam bertindak salah dan tanpa pengetahuan,jika dalam kasus orang yang sekarat, mengganti hukuman kanonik dengan api penyucian.

11. Benih ilalang tentang mengubah hukuman kanonik menjadi hukuman di api penyucian tampaknya tentu saja telah ditaburkan sementara para uskup tertidur.

12. Pada mulanya, hukuman kanonik dikenakan bukan sesudah, melainkan sebe1um pengampunan, sebagai ujian untuk pertobatan mendalam yang sejati.

13. Orang yang sekarat melunasi semua hukuman dengan kematian, dianggap sudah mati sesuai hukum kanon dan mendapat hak dilepaskan dari hukum kanon.

14. Kebaikan atau kasih yang tidak sempurna dari orang yang sekarat pasti menyebabkan ketakutan yang besar; dan makin sedikit kebaikan atau kasihnya, makin besar ketakutan yang diakibatkannya.

15. Rasa takut dan ngeri tersebut sudah cukup bagi dirinya sendiri, tanpa berbicara hal-hal lain, tanpa ditambah penderitaan di api penyucian karena hal itu sangat de kat dengan kengerian keputusasaan.

16. Neraka, api penyucian, dan surga tampak berbeda seperti halnya keputusasaan, hampir putus asa, dan kedamaian pikiran itu berbeda.

17. Jiwa da1am api penyucian, tampaknya harus seperti ini: saat kengerian menghilang, kasih meningkat.

18. Namun, hal itu tampaknya tidak terbukti dengan penalaran apa pun atau ayat Alkitab mana pun, api penyucian berada di luar kebaikan seseorang atau meningkatnya kasih.

19. Hal itu juga tidak terbukti; bahwa jiwa dalam api penyucian yakin dan mantap dengan berkat mereka sendiri; mereka semua, bahkan jika kita bisa sangat yakin dengan hal tersebut.

20. Oleh karena itu Paus, ketika ia berbicara ten tang pengampunan sepenuhnya dari semua hukuman, itu bukan sekadar bermakna semua dosa, melainkan hanya hukuman yang ia jatuhkan sendiri.

21. Jadi, para pengkhotbah pengampunan dosa, yang berkata bahwa dengan surat pengampunan dosa dari Paus, seseorang dibebaskan dan diselamatkan dari semua hukuman, melakukan kesalahan.

22. Sebab sesungguhnya ia tidak menghapuskan hukuman, yang harus mereka bayar dalam kehidupan sesuai dengan peraturan, bagi jiwa-jiwa di api penyucian.

23. Jika pengampunan sepenuhnya bagi semua hukuman bisa diberikan kepada seseorang, sudah tentu tidak akan diberikan kepada seorang pun kecuali orang yang paling sempurna – yaitu, kepada sangat sedikit orang.

24. Oleh karena itu sebagian besar orang pasti tertipu dengan janji pembebasan dari hukuman yang bersifat tidak pandang bulu dan sangat manis itu.

25. Kekuasaan seperti itu dimiliki Paus atas api penyucian secara umum, seperti halnya dimiliki setiap uskup di keuskupannya dan setiap imam di jemaatnya sendiri, secara khusus.

26. Paus bertindak dengan benar dengan memberikan pengampunan dosa kepada jiwa-jiwa, bukan dengan kekuasaan kunci-kunci (yang tak ada gunanya dalam hal ini), meLainkan dengan doa syafaat.

27. Orang yang berkata bahwa jiwa seseorang terlepas dari api penyucian segera setelah uang dimasukkan ke dalam peti yang menimbulkan bunyi gemerencing, berkhotbah dengan gila.

28. Sudah tentu, ketika uang yang dimasukkan dalam peti menimbulkan bunyi gemerencing, ketamakan, dan keuntungan mungkin meningkat, tetapi doa syafaat gereja tergantung pada kehendak Allah semata-mata.

29. Siapa tahu apakah semua jiwa di api penyucian ingin dibebaskan darinya atau tidak, sesuai dengan cerita yang dikisahkan tentang Santo Severinus dan Paschal?

30. Tidak ada seorang pun yang yakin tentang realita perasaan berdosanya sendiri, terlebih-lebih pencapaian pengampunan dosa seluruhnya.

31. Seperti halnya petobat sejati itu jarang, demikian juga orang yang sungguh-sungguh membeli surat pengampunan dosa itu jarang – maksudnya, sangat jarang.

32. Orang yang percaya bahwa, melalui surat pengampunan dosa, mereka dijamin mendapatkan keselamatan mereka, akan dihukum secara kekal bersama dengan guru-guru mereka.

33. Kita harus secara khusus berhati-hati terhadap orang yang berkata bahwa surat pengampunan dari Paus ini merupakan karunia Allah yang tak ternilai harganya, yang menyebabkan seseorang diperdamaikan dengan Allah.

34. Sebab kasih karunia yang disalurkan melalui pengampunan ini hanya berkaitan dengan hukuman untuk memenuhi hal-hal yang bersifat sakramen, yang ditentukan oleh manusia.

35. Orang yang mengajar bahwa penyesalan yang mendalam itu tidak diperlukan oleh orang-orang yang membeli jiwa-jiwa keluar dari api penyucian atau membeli lisensi pengakuan, tidak mengkhotbahkan doktrin Kristen.

36. Setiap orang Kristen yang merasakan penyesalan yang sejati akan mendapatkan pengampunan dosa seluruhnya yang sejati dari penderitaan dan rasa bersalah, bahkan meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

37. Setiap orang Kristen sejati, entah yang hidup atau yang mati, mendapatkan bagian dalam semua berkat Kristus dan gereja yang diberikan kepadanya oleh Allah meskipun tanpa surat pengampunan dosa.

38. Namun, pengampunan dosa, yang dilakukan oleh Paus, tidak boleh dipandang rendah dengan cara apa pun sebab pengampunan, seperti saya katakan, merupakan pernyataan pengampunan dosa dari Allah.

39. Menekankan dampak pengampunan dosa yang besar dan pada saat yang sama menekankan pentingnya penyesalan yang sejati di mata orang-orang, merupakan hal yang paling sulit, bahkan juga untuk teolog yang paling terpelajar sekalipun.

40. Penyesalan yang sejati mendambakan dan mencintai hukuman, sementara hadiah pengampunan dosa menjadikannya lega dan membuat manusia membencinya, atau paling tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk membencinya.

41. Pengampunan dosa apostolikharus dinyatakan dengan penuh hati-hati,jika tidak, orang-orang secara salah akan menduga hal itu diletakkan pada perbuatan baik kasih lainnya.

42. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus tidak pernah berpikir bahwa pembelian surat pengampunan dosa dalam cara apa pun bisa dibandingkan dengan karya kasih karunia.

43. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memberi kepada orang miskin, atau memberi pinjaman kepada orang yang kekurangan, berbuat lebih baik daripada jika ia membeli surat pengampunan dosa.

44. Karena, me1alui kasih, kasih meningkat, dan manusia menjadi lebih baik; sementara melalui surat pengampunan dosa, ia tidak menjadi lebih baik, tetapi hanya lebih bebas dari hukuman.

45. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa orang yang memandang seseorang yang kekurangan dan melewatinya, memberikan uang untuk mendapatkan pengampunan dosa, tidak sedang membeli surat pengampunan dosa dari Paus untuk dirinya sendiri, tetapi murka Allah.

46. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, kecuali mereka memiliki kekayaan yang berlimpah, mereka terikat untuk melakukan hal yang perlu untuk dipakai bagi keperluan rumah tangga mereka sendiri dan dengan cara apa pun tidak boleh menghamburkannya untuk mendapatkan surat pengampunan.

47. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, meskipun mereka bebas untuk membeli surat pengampunan dosa, mereka tidak diwajibkan untuk melakukannya.

48. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa Paus, dalam memberikan pengampunan, memiliki kebutuhan lebih banyak dan keinginan lebih banyak agar doa yang tekun dinaikkan baginya, daripada uang yang sudah siap untuk dibayarkan.

49. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa pengampunan dari Paus itu berguna,jika mereka tidak meletakkan kepercayaan mereka penyucian; tetapi paling berbahaya, jika melaluinya mereka kehilangan rasa takut mereka kepada Allah.

50. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa,jika Paus mengetahui tuntutan para pengkhotbah pengampunan dosa, ia akan lebih menyukai jika Basilika St. Petrus dibakar sampai menjadi abu, daripada dibangun dengan kulit, daging, dan tulang domba-dombanya.

51. Orang-orang Kristen harus diajar bahwa, seperti halnya merupakan kewajiban, demikian juga itu merupakan harapan Paus yang jika perlu menjual Basilika St. Petrus dan memberikan uangnya sendiri kepada banyak orang, yang darinya para pengkhotbah pengampunan dosa menarik uang.

52. Sia-sialah harapan untuk mendapatkan keselamatan melalui surat-surat pengampunan dosa, bahkan sekalipun itu komisaris, tidak, bahkan Paus sendiri – harus menjanjikan jiwanya sendiri bagi mereka.

53. Orang yang, demi memberitakan pengampunan dosa, mengutuk firrnan Allah untuk meredakan ketenangan di gereja lainnya, adalah musuh Kristus dan Paus.

54. Kesalahan dilakukan terhadap firman Allah jika, dalam khotbah yang sama, waktu yang sama atau lebih lama dihabiskan untuk membahas surat pengampunan daripada untuk membahas firman Allah.

55. Menurut pikiran Paus jika surat pengampunan, yang merupakan masalah yang sangat kecil, dirayakan dengan satu bel, satu prosesi, dan satu seremoni; Injil, yang merupakan masalah yang sangat besar, seharusnya diberitakan dengan ratusan bel, ratusan prosesi, dan ratusan seremoni.

56. Kekayaan gereja yang menyebabkan Paus mengeluarkan surat pengampunan dosa, tidak cukup didiskusikan atau dikenal di antara umat Kristus.

57. Tampak jelas bahwa kekayaan tersebut bukanlah kekayaan semen tara; sebab kekayaan tersebut tidak untuk dibagikan secara gratis, tetapi hanya ditimbun oleh banyak pengkhotbah surat pengampunan dosa.

58. Kekayaan itu juga bukan kebaikan Kristus dan para Rasul; sebab tanpa peran Paus, kebaikan selalu menghasilkan kasih karunia kepada manusia rohani; dan salib, kematian, dan neraka bagi manusia lahiriah.

  1. St. Lawrence berkata bahwa harta benda gereja adalah orang-orang miskin di gereja, tetapi ia berbicara menurut penggunaan kata itu pada zamannya.

    60. Kami tidak tergesa-gesa berbicara jika kami berkata bahwa kunci gereja, yang diserahkan melalui kebaikan Kristus, adalah kekayaan itu.
    61. Sangat jelas bahwa kuasa Paus pada hakikatnya sudah memadai untuk mengampuni hukuman dan kasus-kasus yang khusus diberikan padanya.

    62. Kekayaan gereja yang sejati adalah Injil Kudus dari kemuliaan dan kasih karunia Allah.

    63. Namun, kekayaan itu paling dibenci karena membuat orang yang pertama menjadi yang terkemudian.

    64. Sementara kekayaan surat pengampunan dosa paling diterima karena membuat yang terakhir menjadi yang pertama.

    65. Oleh karena itu kekayaan Injil adalah jala, yang pada mulanya digunakan untuk menjala orang kaya.

    66. Kekayaan surat pengampunan dosa adalah jala yang sekarang digunakan untuk menjala kekayaan orang.

    67. Surat pengampunan dosa, yang dipromosikan secara jelas oleh para pengkhotbah sebagai kasih karunia terbesar, dipandang sungguh-sungguh seperti itu sepanjang berkaitan dengan meningkatnya keuntungan.

    68. Namun, dalam kenyataan, surat itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kasih karunia Allah dan kesalehan karena salib.

    69. Uskup dan imam terikat untuk menerima komisaris kepausan yang mengurusi surat pengampunan dengan segala kehormatannya.

    70. Namun, mereka masih terikat untuk melihatnya dengan segenap mata mereka dan memerhatikan dengan segenap telinga mereka supaya orang-orang ini tidak mengkhotbahkan keinginan mereka sendiri, namun mengkhotbahkan apa yang diperintahkan oleh Paus.

    71. Biarlah orang yang berbicara menentang kebenaran surat pengampunan dosa Paus terkucil dan terkutuk.

    72. Namun, pada sisi lain, orang yang mengeluarkan segenap kemampuannya untuk menentang hawa nafsu dan penye1ewengan kebebasan para pengkhotbah pengampunan, biarlah ia diberkati.

    73. Seperti halnya Paus secara adil menghardik orang yang menggunakan berbagai cara untuk merusak perdagangan surat pengampunan.

    74. Terlebih-lebih jika ia menghardik orang yang, dengan dalih surat pengampunan, menggunakannya sebagai alasan untuk merusak kasih kudus dan kebenaran.

    75. Berpikir bahwa sur at pengampunan Paus memiliki kuasa sedemikian sehingga mereka bisa membebaskan manusia bahkan jika – meskipun itu tidak mungkin – ia telah bersalah kepada Bunda Allah, merupakan kegilaan.

    76. Sebaliknya, kami meneguhkan bahwa surat pengampunan Paus tidak bisa menghapuskan dosa paling remeh sekalipun, sepanjang hal itu terkait dengan kesalahannya.

    77. Ungkapan yang mengatakan bahwa seandainya St. Petrus menjadi Paus sekarang, ia tidak bisa memberikan kasih karunia yang lebih besar, merupakan penghujatan kepada St. Petrus dan Paus.

    78. Kami sebaliknya meneguhkan bahwa Paus saat ini atau Paus lain mana pun memiliki kasih karunia yang lebih besar yang dapat digunakan menurut kehendaknya – yaitu, InjiI, kuasa, karunia kesembuhan, dan sebagaimana tertulis (1 Korintus XII.9.)

    79. Mengatakan bahwa salib yang dihiasi panji-panji kepausan merniliki kuasa yang sama dengan salib Kristus, merupakan penghujatan.

    80. Uskup, imam, dan teolog yang mengizinkan khotbah semacam itu beredar di antara umat, harus memberikan pertanggung-jawaban.

    81. Khotbah mengenai surat pengampunan dosa yang tidak terkontrol ini bukanlah hal yang mudah, bahkan juga bagi orang terpelajar, tidak bisa menyelamatkan Paus dari fitnah, atau, dalam semua peristiwa, pertanyaan kritis kaumawam.

    82. Misalnya: “Mengapa Paus tidak mengosongkan api penyucian demi kasih yang paling kudus, dan kebutuhan jiwa yang mendesak – ini menjadi yang paling benar dari semua alasan – jika ia menebus jumlah jiwa yang tidak terbatas demi hal yang paling hina, uang, untuk digunakan membangun Basilika – ini menjadi alasan yang paling sepele?”

    83. Sekali lagi: “Mengapa misa penguburan dan misa peringatan hari kematian masih berlanjut, dan mengapa Paus tidak mengembalikan, atau mengizinkan penarikan dana yang diwariskan untuk tujuan ini; karena hal ini merupakan kesalahan untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah ditebus?”

    84. Sekali lagi: “Apakah karena kesalehan yang baru kepada Allah dan Paus, maksudnya, demi uang, pejabat gereja mengizinkan orang yang tidak beriman dan musuh Allah untuk menebus jiwa-jiwa yang saleh dan mengasihi Allah dari api pencucian, namun tidak menebus jiwa yang saleh dan terkasih itu, berdasarkan kasih yang cuma-cuma, demi kebutuhannya jiwa-jiwa itu sendiri?”

    85. Sekali lagi: “Mengapa peraturan tentang penyesalan dosa, yang sudah lama dihapuskan dan mati dalam kenyataannya karena tidak digunakan, sekarang dipatuhi lagi dengan memberikan surat pengampunan dosa, seolah-olah peraturan-peraturan tersebut masih hidup dan berlaku?”

    86. Sekali lagi: “Mengapa Paus, yang kekayaannya saat ini jauh lebih banyak daripada orang yang paling kaya di antara orang kaya, tidak membangun Basilika St. Petrus dengan uangnya sendiri, sebaliknya dengan uang dari. orang-orang percaya yang miskin?”

    87. Sekali lagi: “Apa yang diampuni at au dianugerahkan Paus kepada orang-orang, yang dengan penyesalan yang dalam dan sempurna, merniliki hak untuk mendapatkan pengampunan dan berkat yang sempurna?

    88. Sekali lagi: “Berkat yang lebih besar apakah yang akan diterima gereja jika Paus, tidak satu kali, seperti yang ia lakukan sekarang, memberikan peng¬ampunan dosa dan berkat seratus kali sehari kepada setiap orang yang setia dalam iman?”

    89. Oleh karen a keselamatan jiwa, bukannya uang, yang dicari Paus melalui surat pengampunannya, mengapa ia menunda surat-surat dan pengampunan dosa yang diberikan sejak lama karena keduanya sama-sama manjur?

    90. Untuk menindas keberatan dan argumen kaum awam dengan kekuatan semata-mata dan tidak menyelesaikannya dengan memberikan penjelasan, berarti memberi kesempatan kepada gereja dan Paus untuk dicemooh musuh-rnusuh mereka dan membuat orang-orang Kristen tidak senang.

    91. jika, kemudian, pengampunan dikhotbahkan sesuai semangat dan pikiran Paus, sernua pertanyaan ini akan diselesaikan dengan mudah – tidak, bahkan tidak akan ada.

    92. Jadi, menyingkirlah, semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, “Damai, damai,” dan tidak ada damai!

    93. Diberkatilah semua nabi yang berkata kepada umat Kristus, “Salib, salib,” dan tidak ada salib!

    94. Orang-orang Kristen harus dinasihati untuk setia mengikuti Kristus Sang Kepala mereka melalui penderitaan, kematian, dan neraka.

    95. Dan dengan demikian yakin untuk memasuki surga melalui penganiayaan, bukannya melalui damai sejahtera yang palsu.

    PERNYATAAN

    Saya, Martin Luther, Doktor, dari Ordo Rahib di Wittenberg, ingin menyatakan di depan umum bahwa dalil tertentu menentang sur at pengampunan dosa Paus, sebagaimana mereka menyebutnya, te1ah saya cetuskan. Meskipun demikian, sampai saat ini, tidak ada aliran kita yang paling terkenal dan termasyhur, ataupun kekuatan sipil dan keimaman telah mengecam saya, tetapi seperti yang saya dengar, ada beberapa orang yang memiliki sikap tidak berpikir panjang dan lancang, yang berani mengatakan bahwa saya bidat, seolah-olah masalah ini sudah diamati dan dipelajari dengan teliti. Namun, menurut saya, seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya, demikian juga sekarang, saya memohon kepada semua orang dengan iman Kristus, agar menunjukkan kepada saya jalan yang lebih baik, jika jalan yang semacam itu sudah dinyatakan Allah kepadanya, atau paling tidak untuk memberikan pendapat mereka ten tang penilaian Allah dan gereja. Sebab saya tidak begitu terburu-buru untuk berharap bahwa pendapat saya semata yang lebih disukai daripada pendapat semua orang lain, atau tidak bodoh sehingga bersedia membiarkan firman Allah dijadikan dongeng yang direkayasa oleh penalaran manusia.

    Disalindari :

    John Foxe, Foxe’s Book of Martyrs, Kisah Para Martir tahun 35-2001, Andi, 2001, p. 327- 335

    Artikel terkait :

    KISAH PARA MARTIR, XII. Karya dan Penganiayaan Terhadap Martin Luther (1517-1546), di http://www.sarapanpagi.org/kisah-para-m … .html#p4520

    – MARTIN LUTHER, di http://www.sarapanpagi.org/martin-luther-vt69.html

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

TULIP (Yohanes Calvin)

TULIP 

  1. Pendahulaun

Sejarah pemikiran dogmatika Kristen mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perekembangan ini seiring dengan natur manusia untuk semakin memahami penciptaNya. Dalam mencapai tujuan tersebut tidak jarang ajaran yang sudah ada akan digantikan, dibaharui atau bahkan ditambahkan dengan ajaran-ajaran yang muncul belakangan. Anehnya ajaran yang bersumber dari satu sumber tersebut yaitu Alkitab, bisa “bertentangan” satu dengan yang lain. Akibat kondisi ini timbul perdebatan diantara para pencetus dan pengikut ajaran tersebut.

Salah satu ajaran yang menjadi perdebatan sepanjang sejarah adalah ajaran tentang keselamatan. Ada dua kelompok besar yang berdebat sengit tentang masalah ini. Kelompok pertama menekankan bahwa keselamatan itu adalah rahmat semata, sedangkan kelompok kedua ada kerjasama (andil) manusia dalam memperoleh keselamatan. Kelompok pertama ini dari kalangan Calvinist, sedangkan kelompok kedua dari kalangan Armenian. Jikalau kelompok pertama yakin bahwa keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang pilihan yakin bahwa keselamatan tidak akan hilang. Kelompok Armenius sebaliknya percaya bahwa keselamatan itu dapat hilang oleh karena usaha manusia didalamnya. Jika manusia tidak taat maka keselamatan itu dapat hilang. Manusia mampu untuk membuat keputusan menentang atau menolak Kristus.

 

  1. Sejarah Munculnya Sinode Dordrecht

Kemerdekaan yang diperoleh Belanda dari tangan Spanyol membawa perkembangan yang pesat bagi gereja Reformed. Dalam suasana yang relatif bebas itu juga terbawa pada perdebatan masalah-masalah teologis. Salah satu diantaranya terjadi di Universitas Leiden, Yakobus Arminius, menyerang ajaran predestinasi yang telah dirumuskan oleh Calvin dalam Kitab Institutio.[1]Akibatnya timbul perselisihan yang hebat, yang menyebabkan keretakan baik dalam gereja maupun dalam negara.

Kematian Arminius pada tahun 1609 tidak ‘mematikan’ pertikaian ini. Pertikaian tetap berlanjut. Arminius digantikan oleh Johannes Watenbogaert, seorang pendeta istana pangeran Mauritus.[2] Tahun 1610 Watenbogaert dan kawannya mempersembahkan sebuah karangan yang disebut “Remonstransi” kepada pemerintah propinsi Holland yang berisi pandangan-pandangan Arminian yang diakui kuasa negara atas Gereja. Sebagai balasan dari kaum Calvinis dikeluarkan tahun 1611 yang disebut “Kontra-remonstransi”, karangan pendeta kota Leiden Ds Hommius, yang sekarang menjadi kepala golongan “Kontra-Remonstran”.[3]

Pertentangan kedua kelompok ini semakin tajam terjadi oleh karena campur tangan dari pihak pemerintah. Kelompok remonstran yang lebih kecil didukung oleh Oldenbarneveldt pemimpin pemerintah Holland. Tujuannya adalah untuk mengalahkan semangat teokrasi kaum Calvinist. Akibatnya terjadi bentrok antara kelompok Arminian dan Calvinisme di beberapa kota. Kelompok Calvinist makin terpojok setelah Oldenbarneveldt menyewa regen pasukan-pasukan unutk menindas perlawanan kaum Calvinist. Mauritus yang tadinya netral kini memihak kepada kaum Kontra-remonstran sampai akhirnya mereka menang tahu 1617 dan Mauritus memperoleh kekuasaan dengan kekerasan.

Setelah mengalami kemenangan kelompok Kontra-remostran memanggil sinode yang bertemu di Dordrecht (Dort) sejak tahun 1618 dan 1619. Sinode juga diikuti penganut Calvinist dari, Jerman, Inggris, Swiss dan Jenewa. Dalam Sinode ini Remonstrasi ditolak secara bulat dan sinode menyusun jawaban yang disebut “kanon-kanon” atau “pasal-pasal” Dort.[4]

 

III. Hasil Keputusan Sidang Sinode Dordrecht[5]

Setelah bersidang selama satu tahun lamanya di Dordrech, sinode itu menghasilkan “pasal-pasal” pembelaan yang disebut Pasal-pasal atau Kanon-kanon Sidang Sinode Dordrech. Selengkapnya hasil keputusan itu sebagai berikut:

 

Pasal Ajaran Yang Pertama

Pemilihan dan Penolakan Ilahi

 

  1. Semua orang telah berdosa di dalam Adam, dan patut menerima hukuman, yaitu kutuk Allah dan kematian kekal. Oleh karena itu Allah tidak akan berbuat tidak adil terhadap siapapun, seandainya dia telah memutuskan untuk membiarkan segenap umat manusia dalam dosa dan kutuk serta menghukumnya karena dosa, sesuai dengan perkataan Sang Rasul, ‘Seluruh dunia jatuh kebawah hukuman Allah. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.’ (Roma 3:19-23). Dan upah dosa ialah maut.’ (Roma 6:23)

 

  1. Akan tetapi dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan, yaitu, bahwa Dia telah mengutus AnakNya yang tunggal kedalam dunia supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal.

 

  1. Maka agar manusia dihantar pada iman, Allah berkenan mengutus pewarta-pewarta kabar yang amat gembira itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan bilamanaa Dia menghendakiNya. Oleh pelayanan mereka itu manusia dipanggil untuk bertobat dan percaya kepada Kristus yang disalibkan itu. (Roma 10: 14-15).

 

  1. Adapun mereka yang tidak percaya kepada Injil itu, murka Allah tetap berada diatas mereka. Sebaliknya mereka yang menerimanya dan memeluk juruselamat Yesus dengan iman yang sejati dan hidup akan dilepaskan olehNya dari murka Allah dan kebinasaan serta dikarunia hidup yang kekal.

 

  1. Yang menjadi penyebab ketidakpercayan itu dan yang harus dipersalahkan sama sekali bukan Allah melainkan manusia, sama seperti dalam hal semua dosa lainnya. Sebaliknya iman kepada Yesus Kristus dan keselamatan olehNya adalah pemberian Allah yang cuma-cuma. (Ef. 2:8), (Fil 1:29).

 

  1. Kepada orang-orang tertentu Allah mengaruniakan iman dalam hidup ini, kepada orang lain tidak. Hal ini timbul dari keputusanNya yang kekal. (Kis 15:8) dan (Ef 1:11). Menurut keputusan itu hati orang pilihan dilunakkan dengan penuh rahmat dan ditundukkanNya untuk percaya, meskipun hati itu keras. Sebaliknya menurut keputusan yang sama, orang yang tidak dipilih dibiarkanNya dalam kejahatan dan kekerasan hati mereka sesuai dengan hukumanNya yang adil.

 

  1. Pemilihan ini adalah rencana Allah yang tidak berubah-ubah. Olehnya sebelum dunia dijadikan, dipilihNya sejumlah orang dari segenap umat manusia yang karena kesalahannya sendiri kehilangan keutuhan yang semula dan jatuh ke dalam dosa dan kebinasaan itu, agar mereka memperoleh keselamatan. Orang yang dipilih itu tidak lebih baik atau lebih layak dari orang lain, tetapi bersama dengan yang lain itu tergeletak dalam sengsara. Maka pemilihan mereka terjadi menurut perkenan kehendakNya yang sama sekali bebasa, hanya karena kasih karunia saja, dan berlangsung dalam Kristus, yang telah ditentukanNya dari kekal untuk menjadi pengantar dan kepala semua orang pilihan serta dasar keselamatan.

 

  1. Pemilihan itu bukan bermacam-macam, melainkan satu dan sama dalam hal semua orang yang hendak diselamatkan, baik dalam PL maupun dalam PB

 

  1. Pemilihan tersebut, telah terjadi bukan berdasarkan iman dan ketaatan iman, kesucian ataupun sifat dan pembawaan yang baik yang manapun, yang telah tampak terlebih dahulu, seakan-akan hal-hal itu menjadi sebab atau syarat yang seharusnya terdapat dalam diri manusia yang bakal dipilih, melainkan supaya menghasilkan iman, ketaatan iman, kekudusan, dan seterusnya. Pemilihan itu sumber segala hal yang menyelamatkan. (Ef 1:4).

 

  1. Yang menjadi alasan pemilihan yang hanya berdasarkan pemilihan yang berdasarkan rahmat ini hanyalah perkenan Allah. Perkenaan itu bukanlah keputusan untuk memilih dari semua syarat yang diberlakukan, sifat atau perbuatan manusia yang tertentu menjadi syarat keselamatan. Sebaliknya perkenan itu adalah keputusan untuk mengangkat orang-orang tertentu dari massa orang berdosa menjadi milikNya.

 

  1. Sebagaiman Allah sendiri berhikmat sempurna, tidak berubah-ubah, maha mengetahui dan mahakuasa, begitu pula pemilihan yang dilakukanNya tidak dapat ditiadakan dan dilakukan ulang, diubah, dibatalkan atau diputus, dan tidak mungkin juga orang-orang pilihan ditolak atau jumlah mereka dikurangi.

 

  1. Orang-orang pilihan yang diyakinkan mengenai pemilihan mereka yang kekal dan yang tak berubah-ubah, yaitu pemilihan untuk menerima keselamatan. Mereka diyakinkan tentangnya masing-masing pada waktunya, walau tingkatnya berbeda-beda dan kadarNya tidak sama.

 

  1. Kesadaran dan keyakinan akan pemilihan itu menyebabkan anak-anak Allah makin hari makin bertambah merendahkan diri dihadapan Allah, menyembah jurang kemurahanNya, menyucikan diri, dan membalas kasih Dia yang telah mengasihi mereka lebih dahulu, dengan cara mengasihiNya dengan kasih yang menyala-nyala. Maka ajaran pemilihan itu dan perenungan tentangnya sama sekali tidak membuat mereka menjadi malas melaksanakan perintah-perintah Allah, atau berlengah-lengah secara daging.

 

  1. Menurut rencana Allah yang penuh hikmat, ajaran tentang pemilihan ilahi itu telah diberitakan para Nabi, oleh Kristus sendiri dan oleh para rasul, baik dalam PL maupun daalam PB, dan sesudah itu diwariskan dan dituliskan di dalam Kitab-kitab Suci.

 

  1. Anugerah pemilihan kita, yang abadi dan yang dikaruniakan dengan cuma-cuma, terutama ditunjukkan dan dianjurkan kepada kita oleh kitab suci ketika disaksikan selanjutnya, bahwa tidak semua orang dipilih. Ada yang tidak dipilih atau dilewatkan Allah dalam pemilihanNya yang kekal.

 

16.Ada orang-orang yang belum merasakan dengan ampuh dalam dirinya iman yang hidup kepada Kristus atau keyakinan hati yang teguh, kedamaian hati nurani, pelaksanaan ketaatan bagaikan seorang anak, dan hal bermegah dalam Allah oleh Kristus, meskipun mereka memakai segala sarana yang menurut janji Allah, dipakaiNya untuk mengerjakan semua itu didalam diri kita.

 

  1. Tentang kehendak Allah harus kita tentukan pendapat hanya berdasarkan FirmanNya sendiri. Firman itu menyaksikan kepada kita, bahwa anak-anak orang percaya adalah kudus, bukan karena kodrat mereka, melainkan karena perjanjian rahmat yang mencakup mereka bersama orang tua mereka.

 

  1. Kepada mereka yang bersungut-sungut karena anugerah pemilihan yang hanya berdasarkan rahmat, dan karena kekerasan penolakan yang adil, kita hadapkan perkataan rasul ini (Rm 9:20).

 

 

Pasal Ajaran Yang Kedua

Kematian Kristus dan Penebusan Manusia Olehnya

 

  1. Allah tidak hanya mahamurah, tetapi juga mahaadil. Maka keadilanNya itu – demikian Dia telah menyatakan diri dalam FirmanNya- menuntut agar dosa-dosa yang telah kita perbuat terhadap keagunganNya yang tak terhingga itu sementara dan kekal, baik atas badan maupun atas jiwa. Kita tidak mungkin luput dari hukuman-hukuman itu, kecuali jika tuntutan-tuntutan keadilan Allah dipenuhi.

 

  1. Tetapi karena kita sendiri tidak sanggup menyediakan pelunasan dan melepaskan diri kita dari murka Allah, maka karena kasihNya yang tak terhingga Allah telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal menjadi jaminan bag kita Dia telah menjadi dosa dan kutuk diatas kayu salib karena kita dan sebaai ganti kita, untuk menyediakan pelunasan bagi kita.

 

  1. Kematian Anak Allah ini adalah korban dan pelunasan yang satu-satunya dan sempurna untuk dosa. Kematian itu tidak terbatas kekuatan dan nilainya, dan lebih dari cukup untuk mendamaikan dosa seluruh dunia.

 

  1. Kematian itu demikian kuat dan bernilai, karena pribadi yang telah mengalaminya itu bukan hanya manusia sejati dan benar-brnar kudus, melaikan juga Anak Allah yang tunggal, yang se-Zat dengan Bapa dan Roh Kudus dan bersama-sama mereka kekal dan tak terhingga sebagaimana seharusnya Dia yang menjadi Juruselamat kita.

 

  1. Selanjutnya janjil Injil ialah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus yang disalibkan itu tdak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal. Janji itu harus diberitakan dan dimaklumkan kepada semua bangsa dan semua orang yang menurut perkena Allah, menjadi alamat pemberitaan InjilNya, disertai perintah bertobat dan percaya, tanpa mengadakan pembedaan.

 

  1. Banyak orang yang dipanggil oleh Injil, tidak bertobat dan tidak percaya kepada Kristus. Sebaliknya, mereka binasa dalam ketidakpercayaan. Akan tetapi ini tidak terjadi oleh karena korban Kristus diatas kayu salib bercacat atau berkekurangan, tetapi lantaran kesalaan mereka sendiri.

 

  1. Akan tetapi, semua orang yang sungguh-sungguh percaya, dan oleh kematian Kristus dibebaskan dan diselamatkan dari dosa serta kebinasaan, menikmati anugerah ini hanya berdasarkan rahmat Allah. Rahmat itu dianugerahkan kepada mereka dari kekekalan di dalam Kristus, walaupun Allah tidak berkeharusan menganugerahkannya kepada seorang- pun.

 

  1. Sebab inilah keputusan yang berdaulat, kehendak yang penuh rahmat, dan maksud Allah Bapa, yaitu agar keampuhan yang menghidupkan dan menyelamatkan yang terdapat dalam kematian anakNya yang amat berharga itu menjangkau semua orang terpilih, untuk mengarunikan hanya kepada mereka saja iman yang membenarkan, dan oleh iman itu dengan tak tergagalkan mengantarkan mereka kepada keselamatan.

 

  1. Keputusan ini, yang berasal dari kasih Allah yang abadi terhadap orang pilihan, telah digenapi secara kuat sejak awal dunia hingga dewasa ini, dan alam mautpun tidak berhasil melawannya. Keputusan itu akan digenapi juga untuk seterusnya, sedemikin hingga orang-orang pilihan, masing-masing pada zamannya, akan dihimpun menjadi satu kumpulan, dan selalu akan ada gereja orang-orang percaya, yang berdasarkan darah Kristus.

 

 

 

 

 

Pasal Ajaran Yang Ketiga Dan Keempat

Kerusakan manusia, Pertobatan Kepada Allah Serta Cara Pertobatan Itu

 

  1. Pada mulanya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi perlengkapan yang serba indah: dalam akal budinya terdapat pengetahuan yang benar dan menyelamatkan tentang PenciptaNya serta tentang hal-hal rohani; dalam kehendak dan hatinya, kebenaran, dalam semua perasaan hatiNya,kemurnian. Maka ia sepenunya kudus. Tetapi oleh hasutan Iblis dan kehendak bebasnya sendiri ia telah menyimpang dari Allah dan membuang karunia-karunia ulung itu. Dan sebagai gantinya manusai telah mendapatkan bagi dirinya: kebutaan, kegelapan yang mengerikan, pertimbangan yang bebal dan jahat dalam akal budinya; kekejian, pemberontakan dan ketegaran dalam kehendak dan hatinya; lagipula ketidakmurnian dalam semua perasaan hatinya.

 

  1. Sama seperti keadaan manusia setelah ia jatuh, demikian pula keadaan anak-anaknya; manusia yang rusak memperanakkan anak-anak yang rusak. Dengan cara ini menurut hukuman Allah yang adil kerusakan menjalar dari Adam kepada anak cucunya- kecuali Kristus bukan – karena peniruan , sebagaiman dulu telah dikatakan oleh Kaum Pelagian, melainkan karena pembiakan kodrat yang rusak itu.

 

  1. Oleh karena itu, semua orang dikandung dalam dosa dan murka Allah sudah berada pada mereka sejak mereka lahir. Mereka tidak sanggup berbuat kebaikan apapun demi keselamatannya, tetapi mereka cenderung pada kejahatan, mereka mati di tengah dosa, dan menjadi hamba dosa. Mereka tidak mau dan tidak sanggup kembali kepada Allah dan membenahi kodrat mereka yang bejad ataupun menyiapkan diri untuk pembenahannya, tanpa karunia Roh Kudus yang melahirkan kebali.

 

  1. Memang, setelah manusia jatuh masih tinggal di dalamnya sisa terang kodrati. Berkat terang itu, ia tetap miliki pengetahuan sedikit tentang Allah, tentang alam dunia, tentang perbedaan apa yang bersusila dan yang aib, dan tampak berupaya seadanya untuk mengejar kebajikan serta ketertiban lahiriah. Akan tetapi, jagankan oleh terang kodrati itu memperoleh pengenalan yang menyelamatkan tentang Allah dan menjadi sanggup bertobat kepadanNya, menggunakan terang itu dengan tepat dalam kehidupan sehari-hari dan dalam urusan-urusan kemasyarakatanpun manusia tidak bisa.

 

  1. Apa yang berlaku terhadap terang kodrati itu, juga berlaku dalam hubungan ini terhadap Hukum Kesepuluh Perintah yang diberikan Allah melalui Musa khususnya kepada orang Yahudi. Sebab hukum itu memang menyingkapkan kebesaran dosa dan makin lama makin meyakinkan manusia akan kesalahannya, tetapi tidak menunjukkan obat penawarnya dan juga tidak memberikan kekuatan untuk luput dari sengsara itu karena hukum itu telah menjadi tidak berdaya oleh daging, dan membiarkan pelanggarnya tetap berada di bawah kutuk, maka tidak mungkin manusia memperoleh rahmat yang menyelamatkan melalui hukum itu.

 

  1. Maka apa yang tidak mungkin dilakukan oleh terang kodrati dan hukum Taurat, itulah yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus dan oleh Firman atau pelayanan pendamaian, yakni Injil Mesias. Allah telah menyelamatkan orang percaya baik dalam PL maupun dalam PB oleh Injil itu.

 

  1. Rahasia kehendakNya itu telah disingkapkan Allah kepada sejumlah kecil orang pada zaman PL. Sebaliknya, pada zaman PB Allah telah menyatakannya kepada lebih banyak orang. Sebab perbedaabn ini jaganlah dicari dalam hal ini, bahwa bangsa yang satu lebih layak ataupun memanfaatkan terang kodrati dengan lebih baik dengan dibandingkan bangsa lain, tetapi dalam perkenan Allah yang berdaulat dan dalam kasihNya yang diberikan dengan cuma-cuma.

 

  1. Akan tetapi, semua orang yang dipanggil oleh Injil, dipanggil dengan sungguh-sungguh. Sebab dalam FirmanNya Allah memperlihatkan sungguh-sungguh dan dengan sebenarnya apa yang berkenan kepadaNya. Dan dengan sungguh-sungguh juga, kepada semua orang yang datang kepadanNya dan percaya dijanjikanNya kesentosaan jiwa dan hidup yang kekal.

 

  1. Banyak orang yang dipanggil oleh pelayanan Injil tidak datang dan tidak ditobatkan. Kesalahannya tidak dapat ditimpakan kepada Injil, atau kepada Kristus yang ditawarkan oleh Injil, dan tidak juga kepada Allah, yang memanggil orang melalui Injil dan bahkan memberikan berbagai karunia kepada mereka yang dipanggilNya. Kesalahannya terletak dalam diri mereka; ada yang merasa aman dan tidak menerima Firman kehidupan itu; ada yang memang menerimanya, tetapi tidak mengizinkannya masuk kedalam hatinya, dan oleh sebab itu mundur lagi setelah sebentar bersukacita dalam iman yang sementara itu; ada yang menghimpit benih Firman diantara semak duri kekuatiran dan keriaan dunia dan tidak mengahasilkan buah.

 

  1. Orang-orang lain yang dipanggil oleh pelayan Injil, datang dan ditobatkan. Hal ini juga dipulangkan kepada manusia, seolah-olah kehendaknya bebas menyebabkan ia berbeda dari orang-orang lain, yang diperlengkapi karunia yang sama besar atau paling tidak cukup agar mereka percaya dan bertobat. Sebaliknya hal itu harus dipulangkan kepada Allah. Sebagaiman sejak semula orang-orang kepunyaannya telah dipilihnya dalam Kristus, demikian juga mereka dipanggilNya dengan ampuh dalam hidup ini. Dia mengaruniakan kepada mereka iman dan pertobatan, dan setelah melepaskan mereka dari kuasa kegelapan memindahkan mereka ke dalam kerajaan AnakNya. Maksudnya agar mereka memasyurkan perbuatan-perbuatan besar Dia, yang telah memanggil mereka keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib, dan supaya jangan mereka bermegah dalam diri mereka sendiri, melainkan di dalam Tuhan seperti yang disaksikan kitab-kitab para Rasul dimana-mana.

 

  1. Akan, tetapi bilamana Allah melaksanakan perkenanNya itu didalam orang pilihan, dan mengerjakan di dalam mereka pertobatan yang sejati, maka Dia tidak hanya membuat Injil diberitakan kepada mereka dan tidak hanya menerangi pikiran mereka oleh Roh sedemikian kuat, hingga mereka memahami dengan baik dan menilai hal-hal yang beasal dari Roh Kudus. Dia bahkan juga masuk kedalam batin manusia dengan keampuhan Roh Kudus yang sama itu, yang mengerjakan kelahiran kembali; hati yang tertutup dibukaNya, apa yang keras dilunakkanNya, apa yang tidak bersunat disunatiNya, dalam kehendak dituangkanNya sifat-sifat yang baru: kehendak yang tadiNya mati dihidupkanNya,yang jahat dijadikanNya baik, yang tidak bersedia dijadikanNya bersedia, yang melawan dijadikanNya taat. Dia menggerakkan dan menguatkan kehendak sedemikian, hingga kehendak itu, seperti pohon yang baik, sanggup menghasilkan buah berupa perbuatan-perbuatan baik.

 

  1. Inilah kelahiran kembali, pembaruan, pemciptaan baru, pembangkitan dari antara orang mati, dan karya menghidupkan, yang dimasyurkan dalam Alkitab dan yang dikerjakan oleh Allah dalam kita dan tanpa kita. Kelahiran kembali itu tidak terjadi dalam diri kita hanya melalui bunyi kata-kata pemberitaan, tidak juga oleh nasehat yang lemah lembut ataupun karya yang begitu rupa sehingga seolah Allah menyelesaikan karya itu maka manusia masih dapat menentukan apakah ia dilahirkan kembali atau tidak dan ditobatkan atau tidak. Sebaliknya itu merupakan karya adikodrati, yang amat kuat sekaligus amat lembut, ajaib, tersembunyi, dan tak terkatakan. Menurut kesaksian Alkitab daya karya itu tidak kalah besar dibandingkan dengan penciptaan atau pembangkitan orang mati. Olehnya semua orang yang menjadi tempat Allah bekerja dengan cara yang menakjubkan ini, pasti dilahirkan kembali dengan cara yang tak tergagalkan dan ampuh, serta benar-benar menjadi percaya. Lalu kehendak yang telah dibaharui itu tidak hanya dibaharui dan didorong Allah, tetapi setelah digerakkan Allah, maka kehendak itu sendiri juga bergerak. Oleh sebab itu, dikatakan juga dengan tepat bahwa, oleh karunia yang telah diterimanya manusai sendiri percaya dan bertobat.

 

  1. Cara karya ini tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh orang percaya selama hidup ini. Sementara itu mereka merasa tentram karena mengetahui dan merasa, bahwa oleh karunia Allah itu mereka percaya dengan hati dan mengasihi juruselamat mereka.

 

  1. Maka iman merupakan karunia Allah. Bukan karena iman itu ditawarkan Allah kepada manusia, agara manusia berbuat sekehendaknya, melainkan karena iman itu sesungguhnya diberikan, diilhamkan, dan dicurahkan kepada manusia. Bukan juga karena Allah hanya memberikan kemampuan untuk percaya, dan sesudah itu mengharapkan persetujuan atau percaya yang nyata dari kehendak manusia yang bebas, melainkan karena Dia yang mengerjakan baik kemauan maupun pekerjaan, bahkan mengerjakan semuanya di dalam semua orang, Dialah yang mengerjakan didalam manusia baik kemauan percaya maupun iman itu sendiri.

 

  1. Allah tidak berkeharusan memberikan karunia itu kepada seorangpun. Sebab, apakah keharusanNya kepada seorang yang tidak dapat terlebih dahulu memberikan kepadaNya sesuatu apapun yang wajib diganjar? Tambahan lagi, apakah gerangan keharusan Allah kepada seorang yang hanya memiliki dosa dan dusta? Jadi, barangsiapa menerima karunia ini, hanya kepada Allah ia berhutang syukur untuk selama-lamanya, dan hanya kepada Allah ia memang memberi syukur.

 

  1. Akan tetapi, manusia meskipun ia telah jatuh kedalam dosa, adalah tetap manusia, yang diperlengkapi akal dan kehendak. dan dosa yang telah menjalar kepada seluruh manusia, tidak memusnahkan kodrat manusia itu, tetapi merusakkannya dan mematikannya secara rohani. Begitu pula karunia ilahi, yakni kelahiran kembali itu juga tidak, bekerja didalam manusia seolah-olah ia adalah sebongkah kayu dan sebuah batu, dan karunia itu tidak memusnahkan kehendak manusia dan sifat-sifat kehendak itu, dan tidak memaksa manusia berlawanan dengan kehendaknya. Tetapi karunia ilahi itu menghidupkan kehendak secara rohani, menyembuhkannya, memperbaikinya dan menundukkan secara lemah lembut sekaligus kuat. Maka dimana dahulu kedegilan dan perlawanan daging merajalela, sekarang oleh Roh mulai berkuasa ketaatan yang rela dan tulus.

 

  1. Karya Allah yang maha kuasa, yang olehnya dia menciptakan hidup kodrati kita dan memeliharanya, tidak mencegah pemakaian sarana-sarana yang olehnya Allah dalam hikmat dan kebaikanNya yang tak terhingga ingin melaksanakan kekuatanNya itu, tetapi menuntut pemakaiannya. Demikian pula halnya kodrat adikodrati Allah yang tersebut diatas, yang olehnya kita dilahirkanNya kembali; karya ini seakan-akan tidak mencegah atau meniadakan pemakaian Injil yang telah ditentukan Allah yang berhikmat itu menjadi benih kelahiran kembali dan makanan bagi jiwa.

 

 

Pasal Ajaran Yang Kelima

Ketekunan Orang Kudus                                                                                                    

 

  1. Mereka yang oleh Allah, menurut rencanaNya, dipanggil ke persekutuan dengan AnakNya, Tuhan kita Yesus Kristus, dan yang dilahirkanNya kembali oleh Roh Kudus itu memang melepaskanNya dari kekauasaan dan perhambaan dosa. Tetapi selama hidup ini Dia tidak melepaskan mereka sama sekali dari daging dan dari tubuh dosa.

 

  1. Dari situlah timbul dosa-dosa yang setiap hari dilakukan akibat kelemahan, dan noda yang masih melekat para perbuatan-perbuatan orang kudus yang paling baikpun. Hal ini bagi mereka senantiasa menjadi alasan untuk merendahkan diri dihadapan Allah dan mencari perlindungan pada Kristus yang disalibkan itu. Oleh karena itu mereka juga kian lama kian mematikan daging dengan berdoa dalam Roh dan dengan latihan-latihan suci dalam hidup saleh, dan mereka sangat rindu akan tujuan, yaitu kesempurnaan. Mereka berbuat demikian sampai saat mereka dilepaskan dari tubuh maut lalu bersama dengan Anak Domba Allah akan memerintah di surga.

 

  1. Lantaran sisa-sisa dosa yang masih tinggal didalam mereka, dan juga oleh sebab godaan dunia dan Iblis, maka orang-orang yang telah bertobat itu tidak sanggup bertekun dalam kasih karunia, seandainya mereka dibiarkan berusaha dengan kekuatan sendiri. Tetapi Allah adalah setia. Dengan penuh rahmat diteguhkannya mereka dalam kasih karunia yang pernah diberikan kepada mereka, dan sampai akhirnya mereka dipeliharaNya didalamnya dengan kuat.

 

  1. Kuasa Allah yang olehnya orang yang benar-benar percaya diteguhkanNya dan dipeliharaNya dalam kasih karunia itu adalah begitu besar, sehingga tidak mungkin dikalahkan oleh daging. Namun bimbingan dan dorongan Allah terhadap orang yang telah bertobat itu tidak selalu bersifat begitu rupa, sehingga tidak mungkin dalam perbuatan-perbuatan yang tertentu, karena kesalahan mereka sendiri, mereka menyimpang dari bimbingan kasih karunia dan menuruti godaan keinginan-keinginan daging. Oleh sebab itu mereka harus senantiasa berjaga-jaga dan berdoa supaya mereka jangan dibawah kedalam pencobaan.

 

  1. Dengan dosa yang sedemikian berat itu mereka sangat membangkitkan murka Allah; mereka melakukan kesalahan yang patut diganjar hukuman mati; merka mendukakan Roh Kudus; untuk sementara waktu mereka menghentikan praktik kehidupan iman; mereka sangat melukai hati nurani mereka dan kadang-kadang untuk sementara waktu mereka tidak merasakan lagi kasih karunia. Hal ini berlangsung sampai mereka membalik oleh penyesalan yang sungguh-sungguh, dan wajah kebapaan Allah kembali menyinari mereka.

 

  1. Sebab Allah, yang kaya akan rahmat, sesuai dengan rencana pemilihan yang tidak berubah-ubah, tidak menjauhkan sama sekali Roh Kudus dari orang-orang milikNya, bahkan tidak juga apabila mereka telah jatuh ke dalam dosa dengan cara yang menyedihkan. Dan juga tidak membiarkan mereka tersandung sedemikian, hingga mereka kehilangan karunia pengangkatan menjadi Anak-anak Allah dan kedudukan sebagai orang yang dibenarkan, atau hingga mereka berbuat dosa yang mendatangkan maut, atau dosa yang menentang Roh Kudus, dan sama sekali ditinggalkan oleh Allah lalu menceburkan diri kedalam kebinasaan yang kekal.

 

7.Sebab, pertama-tama tiap-tiap kali mereka jatuh kedalam dosa dengan cara demikian, tetap dipeliharaNya didalam mereka benihNya yang tidak fana, yang olehnya mereka telah dilahirkan kembali, supaya benih itu tidak binasa atau terbuang. Selanjutnya sudah pasti mereka diperbaharuiNya dengan ampuh oleh Firman dan RohNya, sehingga bertobat. Maksudnya supaya mereka sungguh-sungguh berduka cita menurut kehndak Allah, karena dosa-dosa yang telah dilakukannya; oleh iman dan dengan hati yang patah dan remuk mereka memohon dan memperoleh pengampunan dalam darah Sang Pengantara; mereka merasakan kembali kasih karunia Allah, yang kini telah diperdamaikan dengan mereka; mereka menyembah kemurahan dan kesetiaaNya dan untuk selanjutnya meraka makin berusaha untuk mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.

 

  1. Maka, bukan karena jasa atau kekuatan mereka sendiri, melainkan karena belas kasihan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma itu mereka beroleh hal ini, yaitu bahwa mereka tidak sama sekali kehilangan iman dan kasih karunia, atau untuk selama-lamanya tinggal dalam kejatuhan mereka dan akan binasa. Sejauh tergantung pada mereka, hal itu mudah saja terjadi, bahkan tanpa ragu-ragu akan terjadi. Tetapi dari sudut Allah hal itu mustahil, sebab keputusanNya tidak dapat diubah, janjiNya tidak dapat diingkari dan panggilan menurut rencanaNya tidak dapat dicabut; begitu pula jasa doa syafaat, dan pemeliharaan Kristus tidak mungkin ditiadakan dan juga pemeteraiaan dangan Roh Kudus tidak dapat digagalkan atau dimusnahkan.

 

  1. Orang percaya sendiri boleh yakin akan pemeliharaan orang-orang pilihan demi keselamatan mereka dan akan ketekunan iman orang yang sunguh-sungguh percaya. Mereka memang yakin akan hal itu, menurut ukuran iman yang membuat mereka percaya dengan teguh bahwa mereka adalah anggota-anggota gereja yang sejati dan hidup, kini dan untuk selama-lamanya, dan bahwa mereka memiliki pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

 

  1. Jadi kepastian itu tidak timbul dari salah satu penyataan khusus, yang berlangsung tanpa atau diluar Firman, tetapi dari hal-hal berikut: Pertama, dari kepercayaan kepada janji-janji Allah yang telah dinyatakanNya dengan begitu berlimpah-limpah dalam FirmanNya demi penghiburan kita. Kemudian dari kesaksian Roh Kudus yang bersaksi bersama dengan Roh kita bahwa kita adalah anak dan ahli waris Allah. Akhirnya, dari upaya yang sungguh-sungguh dan suci untuk memelihara hati nurani yang tetap murni dan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik.

 

  1. Sementara itu Alkitab bersaksi bahwa orang percaya selama hidup harus berjuang melawan bermacam-macam kebimbangan daging. Mereka dibuat menghadapi berbagai pencobaan yang berat sehingga selalu merasakan keyakinan iman yang penuh dan kepastian tentang kekuatan ini. Tetapi Allah sumber segala penghiburan, tidak akan membiarkan mereka dicobai melampaui kekuatan mereka, sebab ditengah pencobaan Dia memberikan juga jalan keluar, dan oleh Roh Kudus Dia kembali merangsang didalam mereka kepastian tentang ketekunan.

 

  1. Akan tetapi kepastian tentang ketekunan itu sekali-kali tidak membawa orang yang benar-benar percaya itu kepada kesombongan dan ketidakacuhan menurut daging. Sebaliknya, ketekunan itu sunguh-sungguh menjadi akar kerendahan hati, keenganan seorang anak, kesalehan ynag sejati, kesabaran dalam segala perjuangan, doa-doa yang berapi, ketabahan dalam memikul salib dan dalam mengaku kebenaran, serta juga sukacita yang teguh di dalam Allah. Begitu pula perenungan anugerah itu merangsang mereka untuk dengan sunguh-sungguh dan tetap melakukan pengucapan syukur dan perbuatan baik. Hal itu nyata dari kesaksian-kesaksian Alkitab dan dari teladan orang kudus.

 

  1. Pada mereka yang dibangkitkan kembali sesudah jatuh kedalam dosa, kepercayaan dan ketekunan itu tidak juga menghasilkan kecerobohan dan kealpaan dalam kesalehan, tetapi ikhtiar yang lebih besar dalam mengikuti jalan-jalan Tuhan dengan saksama. Jalan-jalan itu telah dipersiapkan sebelumnya, supaya dengan menapakinya, mereka tetap memiliki kepastian tentang ketekunan mereka, dan supaya wajah Allah yang telah diperdamaikan dengan mereka tidak dipalingkan kembali dari mereka karena mereka telah menyalahgunakan kebaikanNya sebagai seorang Bapa, sehingga mereka jatuh kedalam siksaan jiwa yang lebih berat lagi. Sebab bagi mereka yang takut akan Allah, memandang wajahNya itu lebih manis daripada hidup, tetapi apabila Allah menyembunyikan wajahNya, maka bagi mereka hal itu lebih pahit daripada maut.

 

  1. Sebagaimana Allah telah berkenan memulai pekerjaan kasih karuniaNya itu didalam kita oleh pemberitaan Injil, begitu pula Dia memelihara, meneruskan dan menyelesaikan pekerjaan itu. CaraNya dengan mendengarkan, membaca dan merenungkan Injil, dan dengan nasehat-nasehat, ancaman-ancaman, janji-janji, serta juga dengan menggunakan sakramen-sakramen kudus.

 

  1. Ajaran tentang ketekunan orang yang sungguh-sungguh percaya dan kudus dan tentang kepastian tentang ketekunan itu, telah dinyatakan Allah dengan berlimpah-limpah dalam FirmanNya demi kemulaian namaNya dan demi penghiburan orang yang takut akan Dia, dan telah dimetraikanNya dalam hati orang percaya. Memang ajaran itu tidak dapat dipahami oleh daging, dibenci oleh Iblis diejek oleh dunia, disalahgunakan oleh mereka yang tidak memahaminya dan orang yang munafik, dan dibantah oleh para penyesat. Akan tetapi mempelai perempuan Kristus senantiasa amat mengasihinya dan tetap membelanya sebagai suatu harta yang tak terkira nilainya. Allah akan menjaga ia akan berbuat demikian untuk seterusnya. Tidak ada rencana yang dapat dilaksanakan untuk melawan Dia dan tidak ada suatu kuasapun yang dapat bertahan terhadap Dia. Hanya Allah ini, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus, patut menerima hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.

 

 

  1. Perbandingan Pandangan Ajaran Arminius dan Pandangan Ajaran Calvin Tentang “Lima Pokok”[6]

            Apa yang telah diputuskan dalam Sinode Dort terhadap penyimpangan Arminius, yang  dirancang  secara saksama, telah dinyatakan dalam bentuk acrostik (kumpulan huruf-hutuf  bermakna), yang membentuk kata TULIP. Baik Kelompok Arminian maupun Calvinist  memakai  istilah ini. Namun mereka memiliki pandangan yang mertolak belakang terhadap point-point dalam setiap penjelasan huruf-huruf tersebut, yang  sekaligus mewakili pendirian doktrin mereka tentang keselamatan mereka.[7]

Selengkapnya perbandingangan pandangan kaum Arminian dan Canvinist sebagai berikut:

 

PANDANGAN ARMINIUS PANDANGAN CALVIN
“Kehendak Bebas”

Kerusakan manusia sebagai akibat kejatuhan, tida total tetapi sebagian. Manusia belum kehilangan Indra untuk menentukan pribadi , dan juga kemapuan untuk bebas berkehendak dengan baik di mata Allah. Manusia adalah pelopor pertobatan dan Iman pada keselamatan sebab kehendak manusia dipandang oleh ajaran Arminius sebagai salah satu dari pembaharuan, jika manusia berkehendak secara bebas untuk bekerjasama denga Roh Kudus

“Kerusakan Total”(

Kerusakan manusia, sebagai akibat kejatuhan adalah total. Ia tidak memiliki kebebasan kehendak, karena ia diikat oleh Iblis yang menawan manusia menurut kehendaknya. Semua manusia yang dilahirkan kedalam dunia ini mati secara rohani dalam pelanggaran dan dosa sehingga kematian mereka secara roh dengan tidak dapat dihindari berakhir pada penguasa maut. Manusia rusak dalam arti bahwa ia mati, buta, tuli, bodoh dalam hal-hal yang berhubungan dengan Allah dan doperintah oleh Iblis melalui hatinya yang jahat dan jiwanya yang busuk.

   
Pemilihan Bersyarat” “Pemilihan Tak Bersyarat”
Pemiliha itu bersyarat  atas perbuatan, perbuatan baik manusia akan Pertobatan dan Iman dalam Kristus. Jika hal itu benar, maka pemilihan adalah didasarkan pada ketentuan Allah tentang siapa yang akan respon pada penawaran Injil dan akan melaksanakan kemapuan khusunya untuk membuat keputusan sendiri secara bebas, dan diselamatkan. Perbuatan-perbuatan baik manusia akan pertobatan dan Iman harus mendahului perbuatan baik Allah dan pembaharuan. Ia harus membuat keputusan untuk Kristus” dan ” mengizinkan Yesus masuk kedalam hatiNya”, karena Allah tidak akan memperkosa kehendak manusia dengan memberi kehidupan atau membuka hati, tanpa izin manusia. Pemilihan seluruhnya didasarkan pada kebebasan kehendak Allah dan rencanaNya terhadap mereka yang dipilihNya “dalam Kristus” sebelum bumi dijadikan. RencanaNya didasarkan pada tujuanNya, sebab tujuanNya adalah manifestasi dari kehendakNya yang sangat mulia. Karena manusia tidak mampu memberi hidup atas diriNya, membuka matanya sendiri, mengajarkan kebenaran spiritual pada dirinya, maka Allah harus memilih untuk mempunyai pengaruh atas kepentingan manusia Oleh sebab itu, pekerjaan Pembaharuan harus melalui Iman dan Pertobatan, dan merupakan pekerjaan Allah. Ia harus “membuka hati” dan membuat pilihanNya “mau melakukan” apa yang menyenagkan Dia, jika tidak, tak seorangpun akan percaya.
   
“Penebusan Universal” “Penebusan Yang Terbatas”
Penebusan adalah universal, karena allah mengasihi semua orang secara adil dan merata, dan Kristus mati untuk semua orang tanpa kecuali. Darah Kristus membuat penebusan untuk dosa dalam arti bahwa ini adalah dasar untuk menawarkan pengampunan kecuali kalau manusia menghendaki secara bebas untuk menerima pengampunan.[8] Pengikut ajaran Arminius menegaskan bahwa hal itu dicapai untuk semua umat manusia, tanpa kecuali. Penebusan hanyalah untuk orang-orang pilihan, karena Kritus hanya mati untuk mereka yang diberikn oleh bapa kepadaNya menjadi penggantiNya. Hanya orang kudus atau orang-orang pilihan yang dikatakan sebgai “kekasih Allah”, karena hanyamereka sendirilah objek-objek kasih penyelamatanNya. Pengikut ajaran Calvin beralasan bahwa jika Kristus mati untuk semua orang, maka semua orang akan diselamatkan. Jika hanya orang-orang pilihan yang diselamatkan, maka Kristus hanya mati untuk mereka saja. Meskipun benar bahwa darh Kristus sungguh-sungguh cukup berharga untuk menebus dosa semua orang, namun secara nyat hal ini hanya berguna bagi mreka yang diselamatkan oleh kasihNya yang tidak sepantasnya diterima manusia.
   
“Anugerah Yang Dapat Ditolak” “Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak”
Allah menghendaki bahwa semua orang akan diselamatkan, tetapi kehendakNya dapat ditolak karena masing-masing orang mempunyai kemapuan untuk membuat keputusan sendiri. Karen Allah mengasihi semua orang yang dipimpin oleh Roh KudusNya, mencari dan membawa mereka beriman kepada Kristus. Panggilan eksternal Injil adalah disertai dengan anugerah yang universal cukup, karena hal ini tidak mungkin didapati tidak ditolak oleh semua orang tetapi dapat ditolak oleh “kebebasan kehendak” manusia. Oleh karena merupakan kehendakAllah bahwa mereka diberikan Bapa  kepada AnakNya dalam kekekalan harus diselamatkan, Ia akan sungguh-sungguh bertindak dalam anugerah yang mulia dalam suatu cara bahwa orang-orang pilihan akan mendapatkan Kristus yang tidak dapat ditolak. Allah tidak memaksa orang-orang pilihan untuk percaya kepada AnakNyatetapi lebih dari itu, ia memberi mereka kehidupan. Pembaharuan (pekerjaan Allah harus mendahului pertobatan dan iman yang benar.
   
“Hidup Di luar Kasih Karunia” “Ketekunan Orang-orang Kudus”
Kesimpulan logis dari Arminianisme adalah bahwa karena eselamatan adalah hasil dari kemampuan manusia untuk membuat keputusan sendiri ketika ia melakukan kebebasan kehendaknya dalam memilih Kristus, maka manusia juga bertanggung jawab untuk mempertahankan diriNya agar tetap selamat dengan selalu beriman dan taat. Jika ia memutuskan untuk menentang Dia dan kehidupan yang kekal, setelah ia pernah menerima Kristus, atau jika ia merasa hidup secara kudus merupakan tanggung jawab yang terlalu besar dan ia menolaknya, ia pasti akan “hidup diluar kasih karunia” dan tidak berdaya Kesimpulan logis dari Calvinisme: karena “keselamatan adalah dari Allah”, dan sama sekali tidak ada bagian dari keselamatan yang bergantung pada suatu kondisi yang ditemukan pada orang-orang pilihan, tetapi sepenuhnya tergantung pada Allah yang telah menghendaki untuk menyelamatkan mereka yang diberikanNya kepada Anak TunggalNya, yaitu keselamatan yang tidak akan pernah hilang. Orang-orang kudus allah pasti akan bertekun karena Ia telah memberikan janjiNya kepada mereka bahwa tidak ada mahluk yang dapat menjauhkan mereka dari Dia (termasuk mereka sendiri). Kitaakan bertekun Ia menghendaki kita akan bertekun

 

 

TULIP

Total Depravity (Kerusakan total)

Unconditional Election (pemilihan tanpa syarat)

Limited Atonement ( Penebusan Yang Terbatas)

Irresistible Grace (Anugerah Yang tidak dapat ditolak)

Perseverance of the saint (Ketekunan Orang-orang Kudus).

 

  1. Kesimpulan.

Ketika Calvin berkhotbah dan mengajar, yang diajarkan dan dijelaskan adalah seluruh Firman Tuhan – dan hanya Firman Tuhan saja. Scriptura tota: Scriptura sola.[9]Apa yang diajarkan Calvin tidak ada sesuatu yang baru, dia hanya menjelaskan apa yang dikatakan firman Tuhan. Dalam hal ini termasuk mengenai siapa yang ditentukan untuk selamat  (dipilih) dan siapa yang akan binasa. penetapan itu berdasarkan kehendak Allah dalam hakekatnya yang Mahatahu, dan Mahakuasa.

Mengenai ada orang yang binasa apakah itu berte

ntangan dengan hakekat Allah? Jawabannya tidak. Oleh karena Allah dalam seluruh tindakannya selalu konsisiten dan apa yang dilakukannya itu tidak ada yang bertentangan satu dengan yang lain. Apa yang ditetapkan dalam kekekalan tidak pernah bergantung pada ciptaan dan tidak akan terpengaruh oleh kondisi ciptaan oleh katrena DIA adalah pencipta. (Roma 9:15 bd. Kisah 15:17c,18). Ketika orang-orang Armenian mencoba untuk “membela” Allah mereka jatuh dalam kesalahan oleh karena bagian Alkitab yang diambil untuk mendukung pendapatnya tidak dilihat dalan konteks whole Bible. Perdebatan dan pertentangan kaum Calvinist dan Arminian ini mendorong kaum Calvinist mengadakan sinode di Dordrecht untuk mengembalikan seluruh ajaran kepada apa yang dikatakan Alkitab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepustakaan

 

Berkhof H., Sejarah Gereja, trj: I.H. Enklaar,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.

 

End Th van den, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme,  Jakarta: BPK Gunung             Mulia, 2001.

 

Lane Tony, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Trj: Conny Item-Corpoty,  Jakarta: BPK Gunung             Mulia, 2001.

 

Palmer Edwin, Lima Pokok Calvinisme: trj: Elsye, Jakarta:Lembaga Revormed Injili          Indonesia, 1996.

 

Spencer Duane Edward, TULIP: Lima Poko Ajaran Calvin Dalam Terang Alkitab, trj:      Debora A.Sapulete, Lawang: STT Tabernakel, 2000.

                [1]Th van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 57

                [2]H. Brkhof, Sejarah Gereja, trj: I.H. Enklaar, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 210

                [3]Ibid, 211

                [4]Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Trj: Conny Item-Corpoty, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 157

                [5]Th Van den End, 58 – 90

                [6]Duane Edward Spencer, Lima Poko Ajaran Calvin Dalam Terang Alkitab, trj: Debora A.Sapulete (Lawang: STT Tabernakel, 2000), 71-85

                [7]Ibid, 8

                [8]Penebusan adalah istilah yang digunakan secara luas mencakup pelepasan, pengampunan, pendamaian, pembenaran dan lain-lain yang dicapai oleh Kristus di kayu Salib.

                [9]Edwin Palmer, Lima Pokok Calvinisme: trj: Elsye, (Jakarta:Lembaga Revormed Injili Indonesia, 1996), viii

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kontroversi Mengenai Trinitas (Tritunggal)

KONTROVERSI TRINITAS

1. Latar Belakang

Kontroversi Trinitas, yang menimbulkan pertentangan pendapatantara  Arius  dan  Athanasius  berakar  pada  masa  lampau.Seperti  diketahui  bahwa  para  Bapak  Gereja  dulu,  tidakmempunyai  konsepsi yang jelas tentang Trinitas. Sebagian diantara mereka membenarkan Logos sebagai “akal  nonmanusiawi”(impersonal   reason),  yang  menjadi  manusiawi  pada  saatpenciptaan,  sementara  yang  lain  memandang  Dia   sebagaimanusia  yang  ko-eternal  dengan  Bapak yang memiliki sifatesensi kekekalan, dan  sebagian  lagi  memandangnya  sebagaisuruhan (subordination) atau kedudukannya di bawah Bapak RohKudus  tidak  mendapat  tempat  penting  dalam   pembicaraanmereka.   Mereka  membicarakan  Dia  (Yesus  Kristus)  dalamkaitannya dengan pekerjaan penebusan jiwa dan hidup manusia.Sebagian  orang  memandang  Dia  sebagai “yang tunduk” bukanhanya kepada  Bapak  tetapi  juga  kepada  Anak.  Tertullianadalah   orang   pertama  yang  secara  gamblang  menyatakantri-personalitas Tuhan serta mempertahankan pendapat tentangkeesaan  substansial ketiga person tersebut. Namun dia belummampu menerangkan dengan jelas tentang doktrin Trinitas. Sementara itu muncullah aliran Monarkianisme yang menekankankeesaan  Tuhan  dan  sifat  ketuhanan Kristus, yang meliputipenyangkalan Trinitas (jadi Trinitas tidak diartikan sepertiyang  terkandung  dalam  arti kata tersebut). Tertullian danHippolytus  memperjuangkan  pandangan-pandangan  mereka   diBarat  sementara Origen menentangnya habis-habisan di Timur.Mereka  membela  kedudukan  kaum   trinitarian   sebagaimanadiperlihatkan  dalam keyakinan rasul (Kisah Rasul). Walaupundemikian, pandangan Origen tentang Trinitas tidak seluruhnyamemuaskan.  Dia  berkeyakinan  kuat  bahwa baik Bapak maupunanak  merupakan  hipostases  abadi  (kekal)  atau   personalsubsistence  di  dalam  Tuhan.  Sementara  dia  adalah orangpertama yang menerangkan hubungan Bapak dengan  anak  denganmenggunakan  ide  eternaI generation, dia menganggap hal inimeliputi subordinasi orang kedua  (second  person)  terhadaporang  pertama (first person) dalam kaitannya dengan esensi.Bapak berkomunikasi dengan  anak  dan  anak  adalah  sebagaispesies  sekunder  kekekalan,  yang  dinamakan Theos, tetapibukan Ho Theos. Bahkan anak kadang-kadang dipanggil  sebagaiTheos  Deuteros.  Ini  merupakan  cacat paling radikal dalamdoktrin Origen tentang Trinitas dan memberikan batu loncatanbagi  Arius.  Cacat  lain  yang  terdapat  dalam pendapatnyabahwa, penciptaan anak bukanlah perbuatan  perlu  (necessaryact)  dari  Bapak  tetapi  bersumber  pada kehendak-Nya yangberdaulat. Akan tetapi dia  tidak  melontarkan  ide  suksesitemporal.  Dalam  doktrinnya  tentang  Roh  Kudus  dia masihmengesampingkan representasi Kitab Injil.  Dia  bukan  nanyamenempatkan  Roh  Kudus  sebagai  “bawahan”  terhadap  anak,tetapi dia juga mengartikannya sebagai ciptaan anak.  Bahkansalah  satu  pernyataannya  berimplikasi  bahwa Dia hanyalahsebagai suata ciptaan belaka.

2. Hakikat Kontroversi

a. Arius dan Arianisme

Perselisihan pendapat terbesar di kalangan pemikir  Trinitasadalah      kontroversi      pandangan     Arius,     karenapandangan-pandangan “anti-trinitas” yang dilontarkan  Arius,seorang   presbyter  Alexandrux  yang  daya  debatnya  besarwalaupun jiwanya atau imannya diragukan. Ide  dominan  Ariusadalah asas monoteistis aliran Monarkianisme bahwa hanya adasatu Tuhan (tidak mempunyai anak). Ada yang tidak  mempunyaiasal  usul,  tanpa  keberadaan  sebelumnya.  Dia  membedakanantara Logos yang tetap ada di dalam Tuhan,  yang  merupakankekuatan  yang  kekal  dengan  Anak  atau  Logos  yang  padaakhirnya  berinkarnasi.  Anak  atau   Logos   terakhir   inidiciptakan  oleh  Bapak  yang  dalam pandangan Arius berartibahwa dia diciptakan. Dia diciptakan  sebelum  alam  semestaini  diciptakan,  dan dengan alasan ini berarti dia bukanlahesensi yang kekal. Dia hanyalah yang terbesar dan pertama diantara  ciptaan-ciptaan  lainnya  dan  melalui  dialah  alamsemesta ini diciptakan. Karena itu dia dapat diganti, tetapidia  dipilih  Tuhan  demi  keselamatan umat manusia, dan diadinamakan anak Tuhan.  Dalam  pengangkatannya  sebagai  anakdialah yang disembah oleh manusia. Dalam   mendukung   pandangan-pandangannya,  Arius  mencari;sejumlah ayat Alkitab yang memperlihatkan anak  berkedudukandi  bawah  atau  inferior terhadap Bapak seperti “Prov 8:22,Mateus  28:18,   Markus   13:32,   Lukas   18:19,   Johannes5:19;14:28,1 Korintus 15:28.”

b. Bantahan terhadap Arianisme Arius

mendapat  bantahan pertama dari bishop Alexander yangmeyakini sifat ketuhanan yang sesungguhnya dimiliki anak dandalam waktu yang sama mempertahankan doktrin anak kekal yangdiciptakan. Akan  tetapi  sesuai  dengan  perjalanan  waktu,penentangnya ternyata adalah uskup Alexandria sendiri, yakniAthanasius,  yang  dalam  sejarah  dikenal   sebagai   tokohkebenaran  yang  tegar,  kukuh,  dan tidak pernah ragu-ragu,Seeberg mengemukakan  tiga  kekuatan  atau  kelebihan  utamaAthanasius, yakni: 1.  Keteguhan dan keaslian atau kemurnian karakternya;2.  Landasannya yang pasti di atas mana dia susun konsepsi    tentang keesaan Tuhan;3.  Kebijaksanaannya dalam menerangkan kepada umatnya agar    mengakui hakikat dan makna Kristus. Dia berpendapat bahwa memandang Kristus sebagai ciptaan samadengan  menyangkal pandangan bahwa iman terhadap dia membawakeselamatan bagi umat manusia. Dia sangat menekankan keesaan Tuhan dan mau mengakui doktrinTrinitas   yang   tidak  membahayakan  konsep  keesaan  ini.Sementara bapak  dan  anak  sama-sama  memiliki  sifat  atauesensi kekekalan yang sama, sesungguhnya tidak ada pembagianatau pemisahan dalam The essential being of God, dan  adalahsalah  bila  disebutkan  Theos  Deuteros.  Tetapi di sampingmenekankan keesaan Tuhan,  dia  juga  mengakui  adanya  tigahipostases  dalam  Tuhan.  Dia  menolak untuk meyakini “Anakyang diciptakan sebelum yang lain diciptakan”  seperti  yangdianut   Arius   dan  mempertahankan  eksistensi  kekal  danindependen anak. Dalam waktu yang sama dia berpendapat bahwaketiga  hipostases  dalam  Tuhan  jangan dilihat sebagai halyang sendiri-sendiri, karena jika  demikian,  bisa  bermuarakepada   politeisme.   Menurut  dia,  keesaan  Tuhan  maupunperbedaan-perbedaan  dalam   keberadaan-Nya   paling   tepatdinyatakan  dengan  “keesaan esensi.” Ini berarti bahwa anakmempunyai substansi sama dengan substansi Bapak, tetapi jugaberarti  bahwa  keduanya  bisa  berbeda  dalam  aspek  lain,misalnya dalam personal subsistensinya. Seperti Origen,  diamengajarkan  bahwa anak adalah hasil penciptaan (begotten bygeneration), tetapi berbeda dari Origen, dia  menerangkannyapenciptaan  ini  merupakan tindakan kerahasiaan Tuhan, bukansebagai  tindakan   yang   semata-mata   bergantung   kepadakedaulatan Tuhan.

3. Dewan Nicaea Dewan   Nicaea

dibentuk   tahun   325   untuk   memecahkanpertentangan pandangan ini. Persoalan atau  kontroversi  inidiperjelas  agar  pembahasannya  lebih mudah. Pengikut Ariusmenolak pandangan  tentang  penciptaan  eternal  (penciptaanyang   bebas   dari  dimensi  waktu),  sementara  Athanasiusmempertahankannya.  Pengikut  Arius  mengatakan  bahwa  anakdiciptakan  dari  tidak ada, sementara Athanasius mengatakanbahwa dia  diciptakan  dari  esensi  Bapak.  Pengikut  Ariusberpendapat  bahwa anak tidak sama substansinya dengan Bapaksementara   Athanasius   berpendapat   bahwa   anak   adalahhomoousios dengan Bapak. Di samping kedua pihak yang bertentangan itu masih ada pihaktengah yang merupakan  mayoritas  yang  dipimpin  oleh  ahlisejarah  gereja,  yakni  Eusebius  dari  Caesarea,  dan jugadikenal sebagai pihak Origenistik dan landasan  pandangannyaadalah  asas-asas yang dikemukakan Origen. Pihak ini condongkepada pihak Arius dan menentang  doktrin  bahwa  anak  samasubstansinya dengan Bapak (homoousios). Pihak ini mengajukansuatu pernyataan yang  telah  diketengahkan  Eusebius,  yangmenyerahkan  segala  sesuatunya  kepada  pihak Alexander danAthanasius dengan satu pengecualian yakni doktrin  di  atas;dan  menyatakan  bahwa  istilah homoousios hendaknya digantidengan homoiousios; jadi mereka mengajarkan bahwa anak  samasubstansinya  dengan  Bapak. Setelah melalui perdebatan yangpanjang akhirnya pihak Athanasius  berhasil  memenangkannya.Dewan  Nicaea akhirnya mengeluarkan pernyataan: Kita percayakepada Tuhan Yang Esa, Bapak yang  Mahabisa,  Pencipta  yangtampak  maupun  tidak  tampak.  Dan  percaya pada satu tuhanYesus Kristus yang  sama  substansinya  (homoousios)  denganBapak  dan  seterusnya. Ini merupakan pernyataan yang tegas,dimana esensi anak dinyatakan identik dengan  esensi  Bapak;sama  tingginya  dengan Bapak serta mengakui Kristus sebagaiautotheos.          4. Akibat-akibatnya

a. Dampak negatif

keputusan tersebut Keputusan yang dihasiIkan Dewan Nicaea  tidak  menyelesaikankontroversi  Trinitas,  bahkan  ternyata merupakan awal darikontroversi tersebut. Penyelesaian yang diberlakukan  Gerejadengan   dukungan   kerajaan  tidaklah  memuaskan  dan  jugadiragukan  tidak  akan  bertahan  lama.  Hal  ini  berakibatpenentuan   keimanan   orang   Kristen   bergantung   kepadapandangannya atau kekuasaan kerajaan dan  bahkan  bergantungkepada   intrik-intrik   pengadilan.   Athanasius   sendiri,walaupun memenangkan perdebatan, tidak puas dengan cara ataumetode  pemecahan masalah kegerejaan atau kerohanian sepertiitu. Dia cenderung  berusaha  meyakinkan  para  penentangnyadengan  kekuatan  argumen-argumen  yang diajukan karena darikenyataan di atas  nyatalah  bahwa  pergantian  kaisar  atauraja,   perubahan   suasana,  bisa  mengubah  seluruh  aspekkontroversi tersebut. Pihak yang dimenangkan  sekarang  bisamenjadi pihak yang dikalahkan atau dipersalahkan di kemudianhari oleh kerajaan. Dan inilah  yang  sering  terjadi  dalamsejarah selanjutnya.

b.  Para penganut temporer semi-arianisme dalam Gereja Timur Figur sentral terbesar dalam  masalah  kontroversi  Trinitaspasca-Nicaea adalah Athanasius. Dia merupakan tokoh terbesarpada zaman tersebut; dia seorang  cendekiawan  yang  pintar,karakternya  teguh,  dan  teguh terhadap keyakinannya, sertarela mati atau  menderita  demi  kebenaran.  Gereja  semakincenderung   menerima   pandangan   Arianisme,  tetapi  masihdidominasi pandangan semi-arianisme, dan penguasa (kerajaan)biasanya  berpihak kepada pandangan kaum mayoritas, sehinggaakibatnya  timbullah  pernyataan   atau   desas-desus   UnusAthanasius   contra  orbem  yang  artinya  “Satu  Athanasiusmelawan dunia.” Lima kali hamba Tuhan ini  mendapat  hukumanpengasingan  serta mendapat perlakuan-perlakuan buruk, sertadikucilkan dari gereja. Tantangan terhadap Pernyataan Nicaea (Nicene Creed)  berasaldari  beberapa  pihak  yang  berbeda. Ujar Cunningham: “Parapengikut Arius yang  lebih  ekstrim  mengatakan  bahwa  anakadalah   heteroousios,   substansinya   tidak   sama  dengansubstansi Bapak; yang  lain  menyatakan  bahwa  anak  adalahanomoios,  tidak  seperti  Bapak,  dan  sebagian  lagi, yangbiasanya  dinamakan  semi-arianisme  menyatakan  bahwa:  diaadalah  homoiousios,  artinya  substansinya  mirip substansiBapak; tetapi  mereka  semuanya  menolak  fraseologi  Nicaeakarena  mereka  menentang  doktrin  Nicaea tentang ketuhanananak dan mereka melihat serta berkeyakinan bahwa  fraseologitersebut   secara  akurat  dan  tegas  menyatakan  hal  itu,walaupun mereka kadang-kadang  menambah-nambahkan  keberatanlain   terhadap   pemakaian   fraseologi   tersebut   (lihatHistorical Theology I halaman  290).  Aliran  semi-arianismemendapat  pengikut  di  daerah  Timur  wilayah  Gereja. Akantetapi,  daerah  Barat  mempunyai  pandangan  yang   berbedatentang  masalah  tersebut,  dan  mereka  setia kepada DewanNicaea. Hal ini terutama dapat  kita  lihat  dari  kenyataanbahwa  sementara  Gereja  Timur  didominasi  oleh  pandanganOrigen bahwa anak lebih rendah daripada Bapak, Gereja  Baratsebagian  besar  dipengaruhi oleh pandangan Tertullian sertamengembangkan suatu jenis teologi yang lebih  serasi  denganpandangan-pandangan yarg diperjuangkan oleh Athanasius. Akantetapi, di samping itu persaingan atau rivalitas antara Romadan Konstantinopel hendaknya diperhitungkan juga. Pada waktuAthanasius diusir dari Timur,  dia  diterima  dengan  tanganterbuka  di  Barat;  dan  Dewan Roma (341) dan Sardica (343)secara tanpa syarat mengesahkan doktrin  yang  diperjuangkanoleh Athanasius. Akan tetapi, kehadirannya di Barat diperlemah serta dihambatoleh naiknya posisi Marcellus dan Ancyra  dalam  tokoh-tokohteologi   Nicaea.  Dia  kembali  meyakini  perbedaan  antaraeternal Logos  dan  impersonal  Logos  yang  terdapat  dalamhakikat Tuhan, yang menyatakan diri di dalam bentuk kekuatankekal (divine energy) dalam pekerjaan penciptaan, dan  Logosmenjadi  personal  pada  saat  reinkarnasi; menyangkal bahwaistilah generation  (kelahiran)  dapat  diterapkan  terhadapLogos  yang  tidak  ada sebelumnya (pre-existent Logosi) dankarena itu membatasi  penggunaan  nama  “Anak  Tuhan”  hanyakepada  Logos yang berinkarnasi; dan berkeyakinan bahwa padaakhir masa hidup inkarnasinya,  Logos  akan  kembali  kepadahubungan  premundanenya  (premundane relation) dengan Bapak.Teorinya ini jelas membenarkan tindakan para  pengikut  ataupenganut  paham  Origenis  atau  Eusebius  dalam  menghadapipandangan  sabellianisme,  dan  karena  itu  juga  merupakanfaktor yang memperlebar perbedaan antara Barat (Roma) denganTimur (Konstantinopel). Ada berbagai usaha yang telah dilakukan untuk  menyelesaikanperbedaan  pendapat  atau  perselisihan  tersebut.  BerbagaiDewan  telah  mengadakan  persidangan  di  Antiokia;   yaitudewan-dewan yang mengakui definisi-definisi yang dikeluarkanDewan Nicaea,  walaupun  dengan  dua  pengecualian  penting.Mereka  mengakui  konsepsi  homoiousios  dan  kelahiran anaksebagai perbuatan kehendak Bapak. Hal ini, sudah tentu tidakmemuaskan  pihak  Barat.  Sinode-sinode dan Dewan-dewan lainmengikut, di mana pengikut Eusebius mencari pengakuan  Baratakan  deposisi  Athanasius, dan membentuk mazhab-mazhab lainsebagai perantara. Tetapi, semua usaha  ini  sia-sia  sampainaiknya   Constantius  sebagai  kaisar  tunggal  dan  denganberbagai taktik cerdik dalam menarik para  bishop  Barat  kegaris Eusebius pada Sinode di Arles dan Milan (355).

c. Pembalikan pasang Sekali  lagi  terbukti  bahwa  kemenangan  adalah  hal  yangberbahaya jika landasan  kemenangan  itu  adalah  keburukan.Ternyata  hal  serupa  merupakan  sinyal  atau pertanda bagikekacauan  pihak  anti-Nicene  (penentang  doktrin  Nicaea).Unsur-unsur heterogen yang membentuk pihak ini, dipersatukanoleh sikap menentang mereka terhadap pihak Nicene  (Nicaea).Tetapi,  segera  setelah  tekanan-tekanan  dari luar mereda,kelemahannya; yakni tidak  adanya  kesatuan  intern  menjadisemakin  nyata  dan  menonjol.  Penganut paham Arianisme dansemi-arianisme mulai berselisih, sementara kelompok terakhirini  sendiri  tidak  mampu bersatu. Pada Dewan Sirmium (357)ada   usaha   untuk   mempersatukan   semua   pihak   denganmengesampingkan  masalah-masalah  penggunaan istilah-istilahtertentu seperti ousia, homoousios, dan homoiousios,  denganmenyatakannya sebagai di luar jangkauan pengetahuan manusia.Tetapi perpecahan sudah  terlanjur  terjadi.  Para  penganutArianisme  sejati mulai memperlihatkan belangnya, dan merekamemaksa penganut semi-arianisme yang paling  konservatif  kedalam kamp Nicene. Sementara  itu  muncullah  suatu  pihak baru di Nicene, yangterdiri  atas  orang-orang  yang  merupakan   murid   MazhabOrigenis,  tetapi  cenderung  dikelompokkan sebagai pengikutAthanasius  dan  Nicene  Creed  (Pernyataan  Nicaea)  karenamereka  mempunyai  interpretasi  yang lebih sempurna tentangkebenaran. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Tiga Bersaudarayaitu:  Cappadocians,  Basil yang Agung, Gregory dari Nyssa,dan  Gregory   dari   Nazianzus.   Mereka   melihat   sumberkesalahpahaman   di   dalam  pemakaian  istilah  hipostases;istilah ini dianggap sinonim dengan  ousia  (esensi)  maupunprosopon   (person),   dan   karena   itu  mereka  membatasipenggunaan istilah ini hanya untuk arti personal subsistencedari  Bapak  dan  anak  (personal  subsistence of Father andSon). Tidak seperti Athanasius yang  mengambil  titik  tolakkeesaan  ousia  abadi  dari Tuhan (one divine ousia of God),mereka mencari titik tolak dari ketiga  hipostases  (person)dalam   ada-kekal   (divine   being),  dan  mereka  berusahamemasukkannya di dalam konsepsi ousia kekal atau ousia abadi(divine  ousia).  Gregory  memperbandingkan  hubungan ketigaperson dalam Godhead dengan ada-kekal dengan hubungan ketigaorang tersebut dan dengan humanitasnya.

 

Luis Berkof, diterjemahkan oleh: Toriq A. Hindun

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Eksposisi Kitab Roma dan Relevasinya bagi Hamba Tuhan

STRUKTUR ROMA 1:1-7

 

Tidak seperti surat Hellenis pada umumnya maupun surat-surat Paulus yang lain, pendahuluan surat Roma merupakan pendahuluan yang tergolong panjang. Bagian ini dapat dibagi menjadi 5 bagian:

 

Identitas pengirim (ay. 1)

Penjelasan tentang Injil yang diberitakan (ay. 2-4)

Penjelasan tentang tugas khusus (ay. 5-6)

Identitas penerima (ay. 7a)

Salam (ay. 7b)

 

Para sarjana biasanya mengusulkan dua alasan bagi pendahuluan yang tidak lazim ini:[1]

  1. Paulus ingin memperkenalkan diri dan ajarannya sedini mungkin kepada jemaat yang ia tidak pernah kunjungi atau dirikan (Moo, 40).
  2. Paulus ingin ‘membela diri’ sedini mungkin terhadap kesalahpahaman konsep tentang ajarannya yang mungkin sempat terdengar oleh jemaat di Roma (Murray).

FIGUR SEORANG HAMBA TUHAN (ROMA 1:1)

 

Dalam bagian ini Paulus memberikan 3 deskripsi penting tentang dirinya. Seperti kebiasaan Paulus di suratnya yang lain, deskripsi diri ini berkaitan dengan isi surat secara keseluruhan (band. terutama Gal 1:1, 10). Di ayat ini ia mendeskripsikan dirinya sebagai hamba Kristus Yesus, dipanggil menjadi rasul dan dikhususkan untuk pemberitaan Injil.

 

Hamba Tuhan yang memiliki dedikasi total (1a)

Ungkapan dou/loj Cristou/ VIhsou/ hanya dipakai Paulus di bagian ini dan Fil 1:1. Dalam konteks ini, mayoritas sarjana[2] menduga adanya makna sosiologis dalam ungkapan ini, yang menunjukkan dedikasi total seseorang kepada tuannya. Mengingat Paulus mengaitkan “hamba” dengan “Kristus Yesus”, latar belakang pemikiran di balik konsep ini berakar dalam konsep “hamba TUHAN” di PL. Kata kerja douleu,ein dalam LXX merupakan ekspresi umum untuk pelayanan kepada Allah dalam arti ‘total allegiance’ dan bukan hanya ‘isolated acts of worship’ (Cranfield, 50).

 

Beberapa sarjana yang meyakini adanya nuansa ‘otoritatif’ dalam ungkapan ini (merujuk pada tokoh-tokoh penting sebagai hamba TUHAN yang spesial, misalnya Musa [Yos 14:7; 2Raj 18:12], Yosua [Yos 24:29], Elia [2Raj 10:10], Nehemia [Neh 1:6]  dan terutama  Daud)  bahkan  tetap memberikan penekanan yang lebih pada aspek totalitas dedikasi. Moo mengatakan, “the phrase connotes total devotion, seggesting that the servant is completely at the disposal of his or her Lord” (40). Cranfield menulis, “the term expresses the total unconditional character of his belonging and dependence. The phrase is belongingness, total allegiance, correlative to the absolute ownership and authority denoted by ku,rioj used of Christ” (h. 50-51). Makna ini juga didukung oleh Gal 1:10 “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus”.

 

Hamba Tuhan yang memiliki otoritas (1b)

Deskripsi kedua yang dipakai Paulus adalah ‘terpanggil [sebagai] rasul’ (klhto.j avpo,stoloj). Istilah “rasul”[3] yang dipakai di sini bukan hanya dimaksudkan sebagai rujukan umum, tetapi Paulus ingin menunjukkan bahwa apa yang akan ia sampaikan bukan didasarkan pada hikmat dan kelayakan pribadi Paulus, tetapi melalui panggilan (pengutusan) khusus yang ia terima dari Kristus.[4] Beberapa sarjana bahkan melihat ungkapan ini dalam kaitan dengan otoritas Paulus yang bersumber dari panggilan Kristus untuk pendirian gereja (1Kor 9:1-2, Dunn, h. 9; Ef 2:20, Moo, h. 41).

 

Agumentasi yang mendukung  nuansa otoritas dalam kata avpo,stoloj antara lain:

  1. Pemakaian kata sifat j di depan avpo,stoloj. Paulus biasanya hanya menggunakan kata avpo,stoloj (tanpa klhto.j ), kecuali di 1Kor 1:1. Dengan memakai kata ini ia ingin menegaskan bahwa kerasulannya tidak didasarkan pada keinginan atau pilihan manusia, tetapi langsung bersumber dari Allah.[5]
  2. Paulus belum dikenal jemaat di Roma, sedangkan kerasulannya termasuk hal yang unik. Ia tidak termasuk dalam golongan 12 murid Tuhan Yesus. Ia tidak mewarisi langsung tradisi kehidupan Yesus (tidak memenuhi kriteria di Kis 1:21-22), sehingga ia hanya menerima tradisi dari para rasul (Gal 1:17). Ia bahkan telah menganiaya orang Kristen (Kis 7:58; 8:1; 9:1-2; 1Kor 15:9). Dengan kondisi latar belakang seperti ini, Paulus perlu menegaskan bahwa kerasulannya diterima langsung dari Tuhan Yesus (Kis 9:15-16).

 

Hamba Tuhan yang memiliki panggilan khusus (1c)

Deskripsi ketiga yang dipakai Paulus adalah ‘dikhususkan untuk [pemberitaan] Injil’ (avfwrisme,noj eivj euvagge,lion qeou/). Beberapa sarjana berpendapat bahwa avfwrisme,noj (dipisahkan) menerangkan kata avpo,stoloj, tetapi kata ini lebih baik dipahami dalam kedudukan sejajar dengan avpo,stoloj dan keduanya menerangkan Pau/loj.[6]

 

Beberapa sarjana berspekulasi tentang pemikiran Paulus di balik kata avfwrisme,noj. Meskipun kata kerja avforizw bisa merujuk pada ide pemisahan secara umum (Mat 13:49

Matt. 25:32; Luk 6:22; Kis 13:2; 19:9; 2Kor 6:17; Gal 1:15; 2:12), namun Paulus kemungkinan besar merujuk pada pengkhususan dirinya sejak dari kandungan.[7] Dalam Gal 1:15 Paulus menggunakan kata ini untuk panggilan Allah sejak dalam kandungan, sedangkan untuk panggilan kerasulannya di Damaskus ia memakai kata yang memiliki akar sama dengan klhto.j. Gal 1:15 “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih (avfori,saj) aku sejak kandungan ibuku dan memanggil (kale,saj) aku oleh kasih karunia-Nya”.

 

Terlepas dari benar tidaknya asumsi di atas, penekanan frase ‘dikhususkan untuk [pemberitaan] Injil’ terletak pada bagian terakhir (Injil), karena kata inilah yang kemudian dijelaskan Paulus dari ayat 2-4. Paulus bukan hanya menyadari panggilan Allah sebagai rasul, tetapi ia juga mengerti tugas/panggilan khusus yang ia terima dari Allah, yaitu pemberitaan Injil. Seorang rasul memang bisa menjabat sebagai pemimpin gereja (Yohanes, Yakobus, Petrus), tetapi Paulus sadar bahwa ia sejak dari kandungan sudah ditetapkan untuk memfokuskan diri pada pemberitaan Injil.

 

INJIL YANG BENAR (ROMA 1:2-4)

 

Setelah Paulus menjelaskan deskripsi dirinya, sekarang ia menjelaskan berita yang ia sampaikan. Ada berapa penjelasan tentang “Injil” (euvagge,lion) dalam konteks ini? Dengan menganggap bentuk genitif qeou/ (Allah) pada kata euvagge,lion qeou/ (ay. 1c) sebagai penjelasan terhadap euvagge,lion,[8] berarti ada 3 macam deskripsi tentang “Injil”.

[Dari] Allah (ay. 1c)

Dijanjikan sebelumnya melalui nabi-nabi dalam Kitab Suci (ay. 2).

Mengenai Yesus Yesus – Anak Allah (ay. 3-4).

 

 

Injil bersumber dari Allah sendiri (ay. 1c).

Terlepas dari pandangan bahwa genitif qeou/ di sini harus dipahami sebagai genitive of source (‘berasal dari Allah)[9] atau subjective genitive (‘dinyatakan oleh Allah’)[10], frase  euvagge,lion qeou/ tetap menegaskan keterlibatan Allah dalam penyataan Injil. Allah adalah sumber sekaligus inisitator penyataan kebenaran-Nya melalui Injil (1:19). Hal ini konsisten dengan penekanan surat Roma yang berfokus pada Allah. Penambahan genitif ini diperlukan untuk menjelaskan spesifikasi berita baik yang diberitakan Paulus, mengingat kata euvagge,lion (berita baik) merupakan kata yang sangat umum pada waktu itu.[11] Berita baik (euvagge,lion) ini bukan hanya sekedar berita baik yang biasa atau umum – seperti berita baik tentang kemenangan perang atau ulang tahun kaisar – tetapi berita ini sangat istimewa, karena dinyatakan oleh Allah dan tentang Allah sendiri.

 

 

 

Injil sudah dijanjikan sebelumnya dalam PL (ay. 2).

Ayat ini dimulai dengan kata ganti orang relatif (relative pronoun) yang menerangkan kata euvagge,lion di ayat 1c. Ayat ini merupakan introduksi bagi argumentasi Paulus selanjutnya yang banyak memakai ayat-ayat PL sebagai argumentasi (band. Rom 3:11-20; 4:1-25). Paulus perlu menegaskan hal ini untuk menunjukkan bahwa Injil bukanlah penemuan baru para rasul, bukan pula diberikan kepada orang-orang Yunani melulu sebagai akibat penolakan bangsa Yahudi terhadap Mesias. Pola keselamatan yang diterapkan Allah dalam PL dan PB adalah sama. Keselamatan melalui iman kepada Injil bukanlah perubahan strategi Allah karena kegagalan wahyu sebelumnya.[12]

 

 

 

 

 

 

Ada beberapa hal dalam teks ini yang menunjukkan bahwa Paulus memang ingin menekankan kontinuitas Injil dari PL sampai PB.

Pengulangan ide dalam kata kerja proephggei,lato (dijanjikan sebelumnya).

Selain di sini, kata proephggei,lato hanya dipakai di 2Kor 9:5. Penambahan kata depan pro di depan kata evpaggellomai merupakan pengulangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Melalui penambahan ini Paulus ingin menekankan urutan waktu antara janji Allah (dalam PL) dan penggenapannya (dalam PB).[13]

Pemakaian frase dia. tw/n profhtw/n auvtou/ (melalui nabi-nabi-Nya).

Mayoritas sarjana meyakini bahwa istilah ‘nabi-nabi’ di sini tidak hanya merujuk pada arti teknis kata tersebut (merujuk pada orang-orang tertentu yang berperan khusus sebagai nabi), tetapi seluruh penulis PL (Ibr 1:1). Musa (Kis 3:21-22) dan Daud (Kis 2:30) juga disebut sebagai nabi.

Pemakaian frase evn grafai/j a`gi,aij (dalam Kitab Suci).

Penambahan frase ‘dalam Kitab Suci’ pada frase ‘melalui nabi-nabi-Nya’ sebenarnya hanya berfungsi sebagai penekanan. Seperti sudah dijelaskan di atas, ‘nabi-nabi’ merujuk pada penulis PL secara umum, sehingga arti frase ‘melalui nabi-nabi-Nya’ tersebut sebenarnya sama dengan ‘dalam Kitab Suci’. Mayoritas sarjana meyakini bahwa Paulus tidak sedang memikirkan teks PL tertentu pada saat ia memakai istilah ‘Kitab Suci’.

 

Injil berfokus pada Yesus sebagai Anak Allah (ay. 3-4).

Terlepas dari perdebatan apakah ayat 3-4 menerangkan kata proephggeilato (dijanjikan sebelumnya)[14] di ayat 2 atau kata euvagge,lion di ayat 1c,[15] inti ayat 3-4 tetaplah sama: fokus Injil adalah pribadi Yesus sebagai Anak Allah.[16] Paulus kemungkinan besar hanya mengutip formula kredo Kristologis yang ada pada waktu itu. Pertama, bentuk paralelisme yang dipakai. Kedua, Paulus perlu memakai kredo ini sebagai dasar pijakan (common ground) dengan jemaat yang belum ia kenal atau mengenal dirinya. Ketiga, konsep ‘keturunan Daud’ hanya muncul sekali dalam tulisan Paulus (2Tim 2:8). Keempat, kata o`ri,zein tidak pernah dipakai oleh Paulus.[17]

 

 

 

 

 

Ayat 3-4 ditulis dalam bentuk paralelisme yang menerangkan kata tou/ ui`ou/ auvtou/ (Anak-Nya) di bagian awal ayat 3. Perhatikan struktur berikut ini (berdasarkan terjemahan literal):

 

3Mengenai Anak-Nya

yang telah datang dari keturunan Daud menurut daging

4yang telah dipilih sebagai Anak Allah menurut Roh kekudusan

sejak kebangkitan dari antara orang mati

Yesus Kristus Tuhan kita

 

Paralelisme di atas mencakup dua sisi dari kehidupan Yesus sebagai Anak Allah (menurut daging dan menurut Roh).

Yesus adalah Anak Allah dalam keadaan-Nya sebagai manusia.

“Menurut daging” (kata. sa,rka) dalam ayat 3 tidak menunjukkan natur manusiawi Yesus yang tercemar dosa (baca: kedagingan), meskipun sarx dalam tulisan Paulus sering merujuk pada arti ini (Rom 7:5; 8:8; 13:14; Gal 5:13-18). sarx bisa merujuk pada daging makhluk hidup secara fisik (1Kor 15:39), aspek jasmaniah manusia (Rom 4:1), suku/keturunan (Rom 11:14), dll. Jadi, sarx sendiri merupakan kata yang netral dan artinya sangat ditentukan oleh konteks pemakaian. Dalam konteks ini, kata. sa,rka (muncul 21 kali dalam tulisan Paulus) sebaiknya dipahami sebagai sinonim dari “sebagai manusia” dengan penekanan pada natur eksistensi tersebut yang bersifat sementara dan lemah.[18]

Yesus dipilih menjadi Anak Allah dalam kuasa sejak kebangkitan-Nya.

Mayoritas terjemahan mengartikan o`risqe,ntoj dengan ‘mendeklarasikan’ (KJV/NKJV, NIV, LAI:TB, dll) untuk menghindari kesan bahwa ayat ini mendukung pandangan bidat Adoptionist yang mempercayai Yesus baru diangkat sebagai Anak Allah pada saat kebangkitan (atau baptisan).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Usaha ini umumnya ditolak oleh para sarjana karena arti ini tidak ditemukan dalam literatur sebelum maupun pada masa PB. o`risqe,ntoj memang harus diterjemahkan ‘dipilih’,[19] namun ayat ini sama sekali tidak mendukung pandangan Adoptionist.

Ayat 3b dan 4a adalah penjelasan tentang “Anak Allah” di ayat 3a. “This is the Son who is ‘appointed’ Son”.[20]

Dalam Kis 13:33 (“telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini”), pemilihan Yesus sebagai Anak Allah pada saat kebangkitan dikaitkan dengan Mzm 2:7 (band. Ibr 1:5). Kutipan ini jelas mengindikasikan penahbisan Mesias dari keturunan Daud. Pernyataan ini tidak berkaitan dengan perubahan esensi/natur, tetapi perubahan status atau fungsi.[21] Ia sudah dinyatakan sebagai Mesias di bagian sebelumnya (bandingkan frase “dari keturunan Daud”), sekarang Ia dinyatakan sebagai Mesias sekaligus Tuhan yang berkuasa.

Frase “Anak Allah dalam kuasa[22] merupakan kontras yang sesuai dengan gambaran Anak Allah di ayat 3 (Anak Allah dalam eksistensi manusiawi-Nya yang tampak lemah dan miskin).[23] Seandainya Paulus ingin mengajarkan perubahan esensi dari manusia menjadi Anak Allah, ia tidak perlu menambahkan frase “dalam kuasa”. Tambahan ini justru untuk menunjukkan bahwa ayat 3 dan 4 sama-sama berbicara tentang Anak Allah, tetapi dalam keadaan-Nya yang berbeda.

Dalam tulisannya yang lain, Paulus secara eksplisit mengajarkan  kekekalan esensi Yesus sebagai Allah (band. Fil 2:6-7).

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS KERASULAN PAULUS (ROMA 1:5)

Setelah menjelaskan deskripsi diri (ay. 1) dan Injil yang ia sampaikan (ay. 2-4), Paulus sekarang menjelaskan tugas khusus yang ia terima dari Tuhan Yesus. Bagian ini dihubungan dengan bagian sebelumnya dengan menggunakan kata depan dia (‘melalui’) dan kata ganti orang relatif ou- yang merujuk pada Tuhan Yesus Kristus di ayat 4b. Hal ini menunjukkan bahwa Paulus menerima kasih karunia dan jabatan rasul melalui perantaraan Tuhan Yesus yang sudah bangkit dan berkuasa sebagai Tuhan. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan sebelum membahas deskripsi Paulus tentang tugas kerasulannya. Pertama, ungkapan “kami” di ayat 5 hanyalah sebuah gaya penulisan surat (editorial).[24] Paulus tidak sedang memikirkan orang Kristen pada umumnya[25] maupun rasul-rasul lain.[26] Gaya ini sangat mungkin dipilih karena nuansa formal dan otoritatif ayat 1-7 (bandingkan ayat 8 dst yang lebih pribadi dan memakai kata ganti “aku”).[27] Asumsi ini juga didukung oleh frase “di antara bangsa Yunani” (evn pa/sin toi/j e;qnesin) di ayat 5 yang secara khusus merujuk pada diri Paulus. Ia juga menulis surat ini atas namanya sendiri, sehingga ia tidak memiliki kepentingan untuk menyertakan rasul-rasul lain, apalagi penjelasan selanjutnya tidak berbicara tentang rasul-rasul lain sama sekali.[28] Kedua, kata sambung “dan” (kai.) dalam ayat ini berfungsi secara epexegetical.[29] Artinya, kai. di sini tidak menunjukkan dua hal yang berbeda, sebaliknya kata sesudah kai. menerangkan kata sebelum kai.. Berdasarkan fungsi kai. ini, frase ca,rin kai. avpostolh.n sebaiknya diterjemahkan “kasih karunia, yaitu jabatan kerasulan”.

 

Setelah menjelaskan mediator dalam panggilan kerasulannya (ay. 5a), Paulus kemudian memaparkan tiga aspek penting dalam panggilan tersebut. Tiga aspek yang menerangkan kerasulan Paulus tersebut dapat dilihat dari pemakaian tiga kata depan yang dipakai di ayat 5.

Tujuan: membawa kepada ketaatan iman (eivj u`pakoh.n pi,stewj, ay. 5b).

Area: di antara bangsa Yunani (evn pa/sin toi/j e;qnesin, ay. 5c).

Fokus: demi nama Tuhan Yesus Kristus (u`pe.r tou/ ovno,matoj auvtou/, ay. 5d).

 

 

 

 

 

Tujuan kerasulan Paulus: membawa kepada ketaatan iman (ay. 5b)

Tujuan ini dinyatakan melalui kata depan eivj, yang dalam konteks ini bisa berarti “membawa kepada” (RSV, NASB) atau “untuk” (NIV, KJV).  Frase u`pakoh.n pi,stewj (secara literal ‘ketaatan iman’) telah menimbulkan beragam interpretasi di kalangan sarjana. Menurut Cranfield, paling sedikit ada 7 macam interpretasi tentang frase ini.[30] Beragam interpretasi tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga:

Genitif pi,stewj sebagai objective genitive, sehingga diterjemahkan “kepada iman”. Mereka yang memegang pandangan inipun berbeda pendapat tentang definisi iman. Ada yang beranggapan ‘iman’ dalam arti seluruh doktrin/ajaran Kristen,[31] ada yang menganggap ‘iman’ itu sendiri sebagai bukti ketaatan kepada Allah, sedangkan yang lain menganggap ‘iman’ sebagai ‘otoritas iman’.

Genitif pi,stewj sebagai subjective genitive atau genitive of source, sehingga diterjemahkan “dihasilkan oleh iman” atau “bersumber dari iman”.

Genitif pi,stewj sebagai epexegetical genitive, sehingga diterjemahkan “yaitu/yang berisi iman”.

 

Mayoritas sarjana memegang alternatif ketiga. [32] Beberapa argumentasi penting diajukan untuk mendukung pandangan ini: ‘ketaatan’ dan ‘iman’ sering muncul dalam bentuk paralel (Rom 1:8 dan 16:19; 10:16a dan 10:16b; 11:23 dan 11:30, 31); frase ‘menaati Injil’ yang dipakai Paulus (Rom 10:16a; 2Tes 1:8; 3:14).

 

Pandangan di atas sebenarnya memiliki dua kelemahan. Seandainya ketaatan dan iman di sini artinya sama, mengapa Paulus menggunakan dua kata tersebut sekaligus?[33] Selain itu, pandangan ini tidak sesuai dengan gambaran pelayanan Paulus di surat ini (1:11-13) maupun pelayanan Paulus secara umum (Fil 2:12-13).[34] Pilihan yang paling bijak mungkin adalah memahami u`pakoh.n pi,stewj sebagai dua hal yang berbeda, tetapi tidak terpisahkan.[35] Iman tidak bisa dipisahkan dari ketaatan, karena objek iman kita adalah Yesus Kristus sebagai Tuhan (ay. 4b dan 7b). Ketaatan tidak bisa dipisahkan dari iman, karena ketaatan hanya bisa terwujud ketika seseorang memberikan hidupnya kepada Yesus Kristus dalam iman. Pandangan ini sekaligus bisa berfungsi sebagai benteng terhadap bahaya antinomianisme (yang hanya mementingkan kebebasan dalam Kristus melalui iman tetapi tanpa disertai ketaatan) maupun bahaya Yudaisme (yang mementingkan ketaatan sebagai syarat keselamatan dan menganggap iman saja tidak cukup untuk menyelamatkan).

 

Area kerasulan Paulus: di antara bangsa Yunani (ay. 5c)

Area kerasulan Paulus dinyatakan melalui penggunaan kata depan evn (‘dalam’ atau ‘di’) yang diikuti kata benda datif jamak. Ketika diikuti oleh kata benda jamak, kata depan evn biasanya diterjemahkan “di antara”. Perbedaan interpretasi biasanya berkaitan dengan arti kata toi/j e;qnesin dalam konteks ini. Sebagian versi Inggris menerjemahkan “bangsa-bangsa” (KJV, NKJV, RSV, LAI:TB), sedangkan sebagian yang lain menerjemahkan “bangsa-bangsa Yunani” (NIV, NASB). Secara literal bentuk jamak evqnh memang bisa menunjuk pada semua bangsa. Kata ini bisa menunjuk kepada bangsa Yahudi maupun bangsa lain (1Tim 3:16 dan mungkin Rom 4:17-18). Bagaimanapun, dalam konteks panggilan kerasulan Paulus, bentuk jamak evqnh seharusnya dimengerti sebagai bangsa-bangsa selain bangsa Yahudi,[36] yang biasanya disebut dengan istilah ‘bangsa-bangsa Yunani’ (Rom 15:16, 18; Gal 1:16; 2:1-11; Ef 3:1, 6, 8; 1Tes 2:16; 1Tim 2:7; 2Tim 4:17). Rujukan lain tentang arti ini dalam surat Roma bisa dilihat di 2:14, 24; 3:29[2x]; 9:24, 30; 11:11, 12, 13 [2x], 25; 15:9[2x], 10, 11, 12[2x], 16[2x], 18, 27; 16:4, 26. Berdasarkan statistik pemunculan kata evqnh di PB (162x di PB; 54 di antaranya di tulisan Paulus [di Roma 29x]; 43x di Kisah Rasul), Morris bahkan berani mengatakan bahwa Kisah Rasul menjelaskan pekerjaan misi yang sedang berlangsung untuk bangsa-bangsa Yunani, sedangkan surat Roma memberikan fondasi teologis bagi pekerjaan tersebut.[37] Seandainya bentuk jamak berarti “bangsa-bangsa”, maka frase “kamu termasuk di dalamnya” (evn oi-j) di ayat 6 menjadi tidak berguna sama sekali.[38]

 

Dengan menegaskan area kerasulannya di antara bangsa-bangsa Yunani (khususnya ayat 6 “kamu termasuk di dalamnya”), Paulus ingin menunjukkan kepada jemaat di Roma bahwa jemaat Roma – yang mayoritas adalah orang Yunani – termasuk dalam area kerjanya (band. ay. 11-13). Hal ini juga dipertegas dengan pemakaian kata “semua” (pa/sin) di depan “bangsa-bangsa Yunani” (toi/j e;qnesin), yang mengindikasikan luas/besarnya visi Paulus.[39] Ia berhutang kepada semua golongan dan segmen bangsa Yunani (Rom 1:14-15). Berdasarkan hal ini Paulus berani menyatakan kerinduannya untuk memberitakan Injil di Roma (1:14-15).

 

Penjelasan di atas tidak berarti bahwa Paulus tidak dipanggil untuk memberitakan Injil kepada bangsa Yahudi (band. Kis 9:15; 20:21). Paulus bahkan sering pergi ke synagoge lebih dahulu sebelum ia mengabarkan Injil di suatu kota. Frase di atas hanya menyatakan prioritas, kekhususan dan kejelasan panggilan Paulus.

 

 

Fokus kerasulan Paulus: demi nama-Nya (ay. 5d)

Fokus ini ditunjukkan melalui penggunaan kata depan u`pe.r, yang biasanya berarti “demi”. Kata ganti orang “nya” pada frase ‘nama-Nya” pasti merujuk pada Tuhan Yesus Kristus di ayat 4b. Dengan menyatakan hal ini Paulus ingin menegaskan bahwa fokus pelayanan-Nya bukan untuk keuntungan pribadi maupun keuntungan para petobat. Fokus pelayanan Paulus adalah nama Tuhan Yesus Kristus.

 

Pengertian “nama” (tou/ ovno,matoj) di sini bukan hanya sekedar panggilan atau label untuk membedakan seseorang dari orang lain. Dalam konteks berpikir bangsa Yahudi nama merupakan ekspresi dari seluruh kepribadian seseorang, karena itu Allah beberapa kali mengganti nama seseorang ketika Ia memberikan karakter baru kepada orang tersebut (Kej 17:5, 15; 32:28).  Para sarjana umumnya melihat pengertian “demi nama-Nya” di sini sebagai sinonim dari “demi kemuliaan Tuhan Yesus” (band. 1:21; 15:7).[40] Melalui hal ini Paulus ingin menunjukkan bahwa “ketaatan iman” (ay. 5b) yang menjadi tujuan kerasulannya akan mencapai puncaknya ketika kemuliaan Kristus semakin nyata di dunia. Sebagai kontras dengan situasi ketika nama Allah dihujat karena ketidaktaatan bangsa Yahudi (2:24), di sini Paulus menegaskan bahwa ketaatan bangsa Yunani akan membawa nama Allah (Kristus) dipermuliakan.[41]

 

 

IDENTITAS PENERIMA SURAT (ROMA 1:6-7A)

Setelah memaparkan identitas diri (ay. 1), inti berita yang disampaikan (ay. 2-4) dan tugas khusus kerasulannya (ay. 5), Paulus sekarang menyapa jemaat di Roma dengan beberapa frase yang menunjukkan identitas mereka. Bagian surat ini yang berisi ‘salam’ memang hanya ada di ayat 7a, tetapi identitas penerima surat ini dapat ditelusuri mulai ayat 6. Dengan menggabungkan informasi di ayat 6 dan 7a, identitas jemaat di Roma dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mereka [mayoritas] adalah bangsa Yunani (ay. 6a).
  2. Mereka dipanggil Kristus Yesus (ay. 6b).
  3. Mereka merupakan jemaat gereja-rumah (ay. 7).
  4. Mereka dikasihi Allah (ay. 7).
  5. Mereka terpanggil menjadi orang-orang kudus (ay. 7).

 

Mereka [mayoritas] adalah bangsa Yunani (ay. 6a)

Kata ganti orang relatif “di antara mereka” (evn oi-j) di awal ayat 6 secara gramatikal merujuk pada frase “di antara semua bangsa-bangsa Yunani” (evn pa/sin toi/j e;qnesin) di ayat 5b, karena keduanya memiliki jenis kelamin, kasus dan jumlah yang sama. Dengan demikian, ayat 6a bisa diterjemahkan “di antara mereka [adalah] kamu juga”.

 

Berbeda dengan sebagian sarjana yang menganggap frase ‘di antara mereka [adalah] kamu juga’ hanya sebagai indikasi bahwa jemaat di Roma tinggal di tengah-tengah bangsa Yunani,[42] frase ini tampaknya menunjukkan bahwa mayoritas jemaat di Roma adalah bangsa Yunani (1:13, 14-15; 11:13, 17-21).[43] Pertama, sebagaimana frase ‘di antara semua bangsa-bangsa Yunani’ di ayat 5b merujuk bangsa Yunani secara etnis, frase ini juga seharusnya dipahami dari sisi etnis, bukan geografis. Kedua, pengertian etnis di sini lebih sesuai dengan konteks Rom 1:1-16a. Ayat 13-15 (terutama ayat 15) secara eksplisit mengindikasikan bahwa alasan Paulus ingin memberitakan Injil di Roma adalah karena ia berhutang pada semua segmen masyarakat Yunani.

Mereka dipanggil Tuhan Yesus (ay. 6b)

Para penerjemah Alkitab berbeda pendapat tentang hubungan bagian ini (ay. 6b) dengan bagian sebelumnya (ay. 6a). Sebagian menganggap seluruh ayat 6 merupakan satu identifikasi (tanpa tanda koma di antara dua bagian tersebut), sehingga ayat ini diterjemahkan “di antara mereka kamu juga adalah dipanggil Yesus Kristus” (NIV, NASB). Sebagian yang lain menganggap bahwa di antara dua bagian tersebut seharusnya diberi tanda koma, sehingga terjemahan ayat 6 menjadi “di antara mereka adalah kamu juga, kamu dipanggil Yesus Kristus” (RSV). Para sarjana umumnya lebih memilih terjemahan terakhir,[44] sehingga ayat 6b harus dimengerti sebagai identifikasi lain tentang jemaat Roma. Dalam bagian ini Paulus ingin menunjukkan sesuatu yang lebih penting daripada sekedar aspek etnis, yaitu aspek spiritual. Jemaat di Roma adalah orang-orang yang dipanggil Yesus Kristus.[45]

 

 

 

Ada dua pokok penting sehubungan dengan frase panggilan ini:

  1. Mereka dipanggil berdasarkan anugerah.

Sebagaimana Paulus menerima anugerah kerasulan (ay. 5a) karena ia dipanggil Yesus Kristus (ay. 1b), penggunaan kata yang sama (klhtoi. ay. 6b; klhto.j ay. 1b) di sini juga mengindikasikan bahwa panggilan kepada jemaat di Roma ini juga merupakan suatu anugerah.[46] Pilihan bukan berada di tangan mereka, tetapi ditangan Allah (band. Yoh 15:16).

  1. Mereka dipanggil menjadi milik Yesus Kristus.

Para sarjana umumnya memperdebatkan fungsi genitif VIhsou/ Cristou/ di ayat ini. Seandainya genitif ini adalah subjective genitive atau genitive of agent, maka VIhsou/ Cristou/ di sini harus diterjemahkan “oleh Yesus Kristus”.[47] Di sisi lain, seandainya genitif ini adalah posessive genitive, maka terjemahannya menjadi “[menjadi] milik Yesus Kristus”.[48] Argumentasi kuat yang mendukung terjemahan terakhir adalah konsep Paulus bahwa yang memanggil orang berdosa adalah Allah, bukan Yesus Kristus (Rom 4:17; 8:30; 11:29; 1Kor 1:9; 2Tim 1:9). Allah memanggil orang berdosa ke dalam persekutuan dengan Anak-Nya (1Kor 1:9).

 

Mereka merupakan jemaat gereja-rumah (ay. 7)

Pendahuluan surat Paulus yang lain umumnya memakai frase ‘kepada jemaat di…”,   tetapi di sini Paulus tidak menggunakan kata “jemaat”. Ia hanya mengatakan “kepada semua di Roma”. Beberapa menganggap fenomena ini hanya sebagai variasi dalam surat Paulus, karena ia juga tidak memakai kata ini di Fil 1:1 dan Kol 1:2.[49] Fenomena ini lebih baik dilihat sebagai identifikasi lain tentang orang-orang Kristen di Roma. Absennya kata ‘jemaat’ di sini sangat mungkin mengindikasikan bahwa orang-orang Kristen di Roma beribadah di beberapa gereja-rumah.[50] Hal ini mungkin disebabkan jumlah mereka yang besar sehingga tidak bisa berkumpul bersama dalam satu tempat di sebuah tempat.[51]

 

 

 

 

 

 

 

Mereka dikasihi Allah (ay. 7)

Dalam bagian ini Paulus kembali menegaskan keutamaan Allah dalam proses keselamatan. Panggilan Allah kepada jemaat di Roma (ay. 6b) hanya bisa terjadi karena Allah mengasihi mereka. Yang paling penting bukanlah kasih mereka kepada Allah, tetapi kasih Allah kepada mereka (band. 1Yoh 4:10). Kasih Allah merupakan dasar eksistensi orang Kristen (band. 5:5, 8; 8:39).[52]

 

Mereka dipanggil menjadi orang-orang kudus (ay. 7)

Terjemahan LAI:TB ‘dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus’ sebenarnya tidak sesuai dengan teks Yunani. Dalam teks Yunani tidak ada kata ‘dan dijadikan’. Frase ‘dipanggil [oleh Allah]’ (klhtoi/j) memiliki latar belakang di PL (Yes 49:1; 50:2; 65:12; 66:4; Yer 7:13) dan Yudaisme (1QM 3:2; 4:9-11). Dalam literatur tersebut ‘dipanggil [oleh Allah]’ merujuk pada bangsa Israel secara komunal. Mereka adalah bangsa yang dipanggil secara khusus oleh Allah untuk menjadi umat-Nya. Ungkapan ini sangat mungkin terkait dengan frase klhth. a`gi,a di LXX (Kel 12:16; Im 23[10x], Bil 28:25).[53] Dengan mengaplikasikan ungkapan PL ini kepada orang-orang percaya dalam Kristus, Paulus sekali lagi menekankan kontinuitas karya keselamatan Allah dalam konteks sejarah keselamatan.[54] Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa orang percaya adalah Israel yang baru.

 

Berdasarkan latar belakang PL di atas – yang menerapkan ungkapan ‘dipanggil sebagai orang-orang kudus’ kepada bangsa Israel sebagai umat Allah – pengertian ‘orang-orang kudus’ di ayat ini harus dipahami dalam arti posisi, bukan tindakan atau pencapaian tingkat etika tertentu.[55] Orang Kristen disebut ‘orang-orang kudus’ karena sudah dikuduskan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah (1Kor 6:11). Makna ini juga didukung oleh bentuk jamak yang dipakai. Ungkapan ini berlaku untuk semua orang Kristen, bukan hanya individu-individu tertentu. Mereka telah ‘dipisahkan’ dari dunia (secara negatif) dan ‘dikhususkan’ untuk Allah (secara positif). Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa orang Kristen boleh hidup bebas dalam dosa (band. 6:17, 18, 22; 12:1-2). Dalam PL, status Israel sebagai umat Allah (umat yang kudus) merupakan dasar yang menuntut mereka hidup dalam kekudusan.

 

 

 

 

SALAM (ROMA 1:7B)

Salam yang dipakai Paulus berbeda dengan salam yang lazim dipakai dalam surat-surat pada waktu itu. Biasanya pengirim surat hanya memakai kata cai,rein yang berarti “salam” (lihat Kis 15:23; 23:26; Yak 1:1). Salam ini bisa dibagi menjadi tiga bagian:

 

Isi salam: anugerah dan damai

Sumber: Allah Bapa

Mediator : Tuhan Yesus Kristus

 

Anugerah. Perubahan dari cai,rein menjadi ca,rij dalam salam ini sangat signifikan, karena dalam PB kata ca,rij biasanya merujuk pada kasih Allah yang diberikan kepada manusia yang sebetulnya tidak layak diterima.[56] Kata ini muncul 24 kali dalam surat Roma (3:24; 4:4, 16; 5:2, 15[2x], 17, 20, 21; 6:1, 14, 15, 17; 7:25; 11:5, 6[3x]; 12:3, 6; 15:15; 16:20).

 

Damai.  Orang Yunani hanya memahami dalam arti ‘ketidakadaan perang’, namun dalam konteks ini arti tampaknya lebih mendalam. eivrh,nh juga muncul di Rom 2:10; 3:17; 5:1; 8:6; 14:17, 19; 15:13, 33; 16:20.  Kata ini memiliki arti yang beragam tergantung konteks. Kemungkinan besar  eivrh,nh merujuk pada perdamaian dengan Allah (Rom 5:1, 10, 11) atau berkat yang berasal dari perdamaian tersebut.[57]

 

Dengan menggabungkan dan Paulus tampaknya ingin menyampaikan salam yang lebih bermakna daripada salam yang umum. Bagi Paulus, damai (eivrh,nh) yang sesungguhnya (bukan hanya dalam arti absennya peperangan) hanya berasal dari anugerah (ca,rij) Bapa melalui karya Yesus Kristus.[58]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERHATIAN PAULUS TERHADAP JEMAAT DI ROMA (ROMA 1:8-16a)

Sebagaimana surat Hellenis pada umumnya, setelah menyampaikan salam Paulus melanjutkan dengan ucapan syukur dan doa untuk penerima surat. Dalam bagian ini Paulus menyatakan dengan jelas perhatiannya yang sungguh-sungguh terhadap jemaat di Roma. Perhatian ini perlu diungkapkan secara eksplisit, mengingat Paulus sebagai rasul untuk bangsa-bangsa Yunani tidak pernah mengunjungi kota Roma yang merupakan pusat dunia Yunani. Ia perlu menegaskan bahwa meskipun ia tidak pernah mengunjungi mereka, namun itu tidak berarti bahwa ia tidak memperhatikan mereka. Ia sangat rindu mengunjungi mereka, tetapi belum ada kesempatan. Struktur bagian ini dapat dibagi menjadi 3 bagian:

 

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam ucapan syukur (ay. 8)

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam kesungguhan doa (ay. 9-10)

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam motivasi kedatangan (ay. 11-16a)

 

 

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam ucapan syukur (ay. 8)

Paulus turut mengucap syukur atas eksistensi jemaat di kota Roma, meskipun jemaat tersebut tidak didirikan oleh Paulus. Ia memang tidak mau memberitakan Injil di tempat yang sudah dimulai oleh orang lain (15:20), namun itu tidak berarti bahwa ia tidak menaruh perhatian terhadap mereka. Ia mengucap syukur karena iman mereka telah dikabarkan ke seluruh dunia. Ucapan syukur ini mungkin terkait dengan keyakinan Paulus terhadap panggilannya untuk bangsa Yunani (1:5, 14-15) dan universalitas Injil (1:16b). Hal ini tidak berhubungan dengan keistimewaan iman mereka. Tidak ada indikasi bahwa iman mereka lebih kuat atau hebat daripada orang Kristen di tempat lain. Eksistensi iman mereka sendiri sudah cukup sebagai alasan untuk mengucap syukur (band. Ef 1:16; Kol 1:3; 1Tes 1:2; 2Tes 1:3; Fil 4).

 

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam kesungguhan doa (ay. 9-10)

Seperti surat Hellenis pada umumnya, setelah mengucapkan syukur, Paulus memanjatkan doa (petisi) kepada Allah. Yang unik dari bagian ini adalah usaha Paulus untuk menunjukkan kesungguhannya dalam berdoa. Ada beberapa indikasi yang menunjukkan kesungguhan doa Paulus:

 

Ia memanggil Allah sebagai saksi.

Paulus biasanya menggunakan “formula kesaksian” apabila ia ingin menekankan sesuatu yang penting (2Kor 1:23; 11:31; Gal 1:20; Fil 1:8; 1Tes 2:5, 10). Paulus di sini merasa perlu memanggil Allah sebagai saksi karena baik Paulus maupun jemaat di Roma tidak dapat membuktikan sendiri kesungguhan Paulus. Hanya Allah yang mengetahui kesungguhan doa Paulus.

Untuk menekankan “sumpah” ini, Paulus menjelaskan bahwa Allah – sebagai saksinya – adalah “yang kulayani dengan rohku dalam Injil Anak-Nya”. Ungkapan ini menunjukkan dedikasi dan kesungguhan Paulus dalam pelayanan.

 

Kata ‘kulayani’ (latreu,w) merupakan kata yang menunjukkan aspek vertikal penyembahan kepada Allah. Kata ini dalam LXX merujuk pada ibadah kepada Allah (Kel 7:16; 8:1; 20:5; Ul 5:9). Konotasi ini juga tersirat dalam pemakaian kata ini di Rom 1:25; Fil 3:3; 2Tim 1:3. Bentuk kata benda latrei,a di Rom 9:4 dan 12:1 juga mengindikasikan arti ini. Pemakaian kata di sini menunjukkan konsep Paulus terhadap pelayanannya: pelayanan bukan sekedar profesi, tetapi ibadah kepada Allah.

 

Kata ‘dalam rohku’ (evn tw/| pneu,mati, mou) merupakan ungkapan yang menunjukkan kesungguhan Paulus dari dalam. Apapun arti yang tepat dari ungkapan ini (lihat Cranfield, h. 76-77), intinya tetap sama: Paulus melayani Allah bukan dari fenomena luar saja, sebaliknya ia sungguh-sungguh melayani Allah dari dalam.

 

Ia selalu mengingat mereka.

Paulus menyatakan bahwa Allah adalah saksi bahwa ia selalu (avdialei,ptwj) mengingat jemaat Roma. Kalimat ini selanjutnya diterangkan dengan frase “selalu meminta di dalam doaku” (ay. 10a, pa,ntote evpi. tw/n proseucw/n mou deo,menoj). Bentuk participle deo,menoj (“meminta”) mengindikasikan bahwa frase ini bersifat sub-ordinate dan menerangkan frase sebelumnya. Dengan kata lain, frase ini menerangkan bahwa setiap kali Paulus mengingat mereka (ay. 9), ia selalu meminta dalam doa agar ia bisa mengunjungi mereka (ay. 10). Paulus tidak hanya selalu mengingat, tetapi ia juga selalu berdoa bagi mereka. Kesungguhan doa ini juga tampak dari penggunaan kata “selalu” sebanyak dua kali (avdialei,ptwj dan pa,ntote). Dua kata ini biasanya dipakai untuk menunjukkan tindakan yang sering dan teratur dilakukan.

 

Ia sangat berhasrat dengan isi doanya.

Hasrat Paulus yang dalam untuk mengunjungi jemaat di Roma – sebagai isi doanya di ayat 10b – terlihat dari penggunaan ungkapan h;dh pote. (LAI:TB ‘akhirnya’). Ungkapan ini dalam literatur Hellenis maupun PB (Fil 4:10) mengekspresikan perasaan bahwa telah ada cukup waktu untuk menunggu atau ketidaksabaran terhadap penundaan/penungguan tersebut. KJV secara tepat menerjemahkan h;dh pote. dengan “now at length”. Paulus sudah tidak tahan untuk melihat jemaat di Roma. Perasaan ini juga tampak dalam ayat-ayat berikutnya. Ia telah lama menunggu kesempatan tersebut (ay. 11). Ia secara khusus meminta jemaat di Roma untuk mengerti (ay. 13a) bahwa ia telah beberapa kali membuat rencana (proeqe,mhn) untuk merealisasikan hasrat tersebut (ay. 13b). Para sarjana berpendapat bahwa kata dasar proti,qemai di ayat 13b mengekspresikan sesuatu yang lebih daripada sekedar niat/keinginan (kontra LAI:TB ‘berniat’). Kata ini menunjukkan suatu kerinduan yang sudah teraplikasikan dalam suatu rencana (KJV ‘purposed’; NKJV, NIV, NASB ‘planned’). Rencana ini bukan hanya dibuat sekali, tetapi berulang kali (polla,kij, ay. 13b).

Semua ekspresi di atas perlu disampaikan kepada jemaat di Roma supaya mereka mengetahui bahwa ketidakdatangan Paulus ke Roma bukan disebabkan keengganan Paulus untuk datang. Ia sering menghadapi kendala (ay. 13b). Kendala yang dimaksud adalah tuntutan pekabaran Injil di daerah timur Mediteranian (15:19). Hal ini bagi Paulus menunjukkan bahwa Allah belum menghendaki ia untuk datang (band. ay. 10). Paulus memang sangat berhasrat untuk datang, tetapi ia menyerahkan semua ke dalam rencana Allah.

 

AP: Jika Kita mwndoakan suatu  tempat untuk dilayani dan Tuhan belum berikan itu mungkin satu saat Tuhan memberikan kesempatan u ke tempat itu.

 

Perhatian Paulus yang terekspresi dalam motivasi kedatangan (ay. 11-16)

Setelah mengungkapkan perhatian (ay. 8) dan kerinduannya untuk datang ke Roma (ay. 9-10), Paulus menjelaskan tujuan di balik rencana kedatangannya ke Roma. Menggalang dukungan dari jemaat Roma untuk misi ke Spanyol (15:24) mungkin merupakan salah satu tujuan kedatangan Paulus, tetapi itu bukan yang terpenting. Motivasi/tujuan yang terpenting dikemukakan Paulus secara eksplisit dan panjang lebar di bagian awal suratnya. Dari tiga tujuan yang disebutkan Paulus di bagian ini, semuanya mengindikasikan perhatian Paulus yang besar terhadap jemaat di Roma.

 

Tiga tujuan tersebut masing-masing adalah:

  1. Untuk membagikan karunia rohani (ay. 11-12).

Tujuan pertama dari kedatangan Paulus ke Roma dinyatakan dengan kata sambung i[na (‘supaya’, ay. 11). Paulus ingin membagikan karunia rohani (carisma pneumatikon) kepada jemaat di Roma. Penambahan ‘rohani’ pada kata ‘karunia’ hanya berfungsi sebagai penekanan, karena ide yang ingin disampaikan sudah tersirat dalam kata benda ‘karunia’. Paulus tidak perlu menyebut suatu karunia bersifat rohani, karena semua karunia berasal dari Roh Kudus, sehingga karunia tersebut dengan sendirinya bersifat rohani. Kata carisma secara sempit bisa merujuk pada sederetan karunia di Roma 12:6 (nubuat, administrasi, pengajaran, nasehat) atau 1Kor 12:1-11 (iman, bahasa roh, dsb). Secara luas, kata ini juga bisa ditujukan pada setiap orang Kristen (5:15; 1Pet 4:10). Dalam ayat 11 ini Paulus tampaknya tidak sedang memikirkan karunia tertentu yang spesifik. Ada dua argumentasi utama yang mendukung gagasan ini. Pertama, ia memakai partikel ti (‘suatu’) yang menunjukkan sesuatu yang tidak spesifik. Partikel ini dalam LAI:TB tidak diterjemahkan. Kedua, ia belum mengetahui keadaan rohani jemaat Roma secara spesifik – karena ia belum pernah mengunjungi mereka – sehingga ia tidak mengetahui karunia apa yang dibutuhkan mereka. Beberapa sarjana berspekulasi tentang identitas karunia ini. Berdasarkan keterbatasan informasi dari teks, carisma di sini sebaiknya dipahami sebagai apa saja yang dimiliki Paulus dari Roh Kudus – baik pandangan rohani, keahlian maupun karunia tertentu – yang bisa berguna bagi jemaat di Roma. Paulus akan mengetahui hal ini secara jelas setelah ia melihat keadaan mereka.

 

Pembagian karunia ini bukanlah tujuan akhir maupun hanya sekedar demonstrasi kehebatan Paulus, karunia selalu dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya, yaitu ‘pembangunan jemaat’ (1Kor 12:7). Tujuan pembagian karunia dalam bagian ini dinyatakan melalui kata depan eivj + infinitive. Tujuan akhir adalah supaya jemaat di Roma dikuatkan (sthricqh/nai). Tanpa bermaksud berbasa-basi Paulus menerangkan bahwa hal itu juga akan ‘menguatkan’ dia (ay. 12, band. 15:32). Penjelasan ini bukanlah suatu koreksi, seperti yang diduga sebagian sarjana. Paulus hanya ingin meminimalisasi kesan sombong yang mungkin akan tersirat dari pernyataannya di ayat 11, apalagi jemaat di Roma bukan hasil pelayanan Paulus dan belum mengenal Paulus. Kata sumparaklhqh/nai bisa berarti ‘bersama-sama dikuatkan’ (NIV, NASB, RSV, NKJV) atau ‘bersama-sama dihiburkan’ (KJV). Kedua alternatif di atas tetap menunjukkan hal yang sama: Paulus juga dikuatkan dalam hal tertentu melalui iman jemaat di Roma. Relasi mutual ini dipertegas Paulus dengan menggunakan frase u`mw/n te kai. evmou/ (‘baik milikmu dan milikku’) untuk menjelaskan frase avllhloij pistewj (‘iman masing-masing’). Penjelasan ini sebenarnya tidak diperlukan, tetapi Paulus justru menambahkan hal itu untuk menekankan relasi mutual tersebut. Penekanan ini mengindikasikan kesungguhan kalimat Paulus di ayat 12, sekaligus menyiratkan kerendahhatiannya.

 

  1. Untuk memiliki buah di antara mereka (ay. 13).

Paulus biasanya menggunakan kata ‘buah’ (karpo,j) secara figuratif untuk menunjuk pada tingkah laku orang Kristen (6:21, 22; Gal 5:22; Ef 5:9; Fil 1:11) atau hasil pelayanannya (Fil 1:22; 4:17). karpo di ayat 13 jelas merujuk pada arti yang terakhir. Paulus ingin menemukan buah pelayanannya di Roma, seperti yang ia telah lakukan di tempat lain. Berdasarkan penggunaan kata di Fil 1:22 dan 4:17, kata ini tampaknya bukan hanya berarti pertambahan jumlah petobat baru, tetapi juga menyangkut penguatan iman jemaat di Roma (band. 11b).

  1. Untuk memberitakan Injil (ay. 14-16a).

Mengikuti pendapat Cranfield (h. 86-87), ayat 16a “karena aku memiliki keyakinan yang kokoh dalam Injil” sebaiknya dihubungkan dengan bagian sebelumnya (ay. 14-15). Inti ayat 14-16a terletak pada kerinduan Paulus untuk memberitakan Injil di Roma (ay. 15). Bagian ini sekaligus menjadi alasan ke-3 di balik rencana kedatangan Paulus ke Roma.  Ayat 14 dan 16a menerangkan alasan mengapa Paulus sangat rindu mengabarkan Injil di Roma. Perhatikan struktur kalimat ayat 14-16a di bawah ini:

 

Aku berhutang             kepada orang-orang Hellenis maupun barbarian

kepada orang berhikmat maupun orang tidak terpelajar

 

itulah sebabnya, aku sangat rindu mengabarkan Injil kepadamu yang diam di Roma

 

 

 

karena aku memiliki keyakinan yang kokoh dalam Injil

 

Tujuan Paulus ini tampaknya berkontradiksi dengan prinsip yang selama ini dipegangnya, yaitu bahwa ia tidak mau membangun di atas pondasi yang sudah didirikan oleh orang lain (15:20 dan 2Kor 10:15-16). Beberapa sarjana mencoba memberikan solusi dengan mengartikan kata ‘menginjil’ (euvaggeli,zw) di sini tidak hanya merujuk pada pemberitaan untuk pertobatan, tetapi juga langkah-langkah pembangunan iman setelah pertobatan (ay. 11-13). Pendapat ini tetap tidak menghilangkan kesan “membangun di atas pondasi orang lain”. Solusi lain adalah dengan menganggap frase “kamu yang diam di Roma” sebagai representasi dari penduduk kota Roma lainnya. Dengan kata lain, frase ini menunjuk pada orang-orang Kristen dan orang-orang tidak percaya di Roma. Pendapat ini memiliki kelemahan, karena kata ganti “kamu” yang muncul di ayat 8-13 menunjuk pada orang-orang Kristen di Roma. Selain itu, seandainya pendapat di atas benar, Paulus pasti akan memakai frase “mereka yang diam di Roma”.

 

Solusi terbaik adalah menerima ayat ini secara literal (karena artinya sudah jelas), tetapi mengaji ulang pernyataan Paulus di 15:20 dan 2Kor 10:15-16. Pernyataan Paulus tersebut tidak bisa dianggap sebagai suatu peraturan baku. Pernyataan itu hanya merupakan suatu preferensi pribadi Paulus dan prioritas (bukan eksklusivitas) panggilan yang khusus dari Allah. Paulus diutus secara khusus untuk bangsa Yunani, tetapi ia selalu menyempatkan diri mengabarkan Injil kepada bangsa Yahudi lebih dahulu di sinagoge. Paulus juga tidak anti terhadap pekerjaan seseorang yang membangun di atas pondasi orang lain (1Kor 3:6-10). Selain itu, ia tidak pernah merencanakan kota Roma sebagai pusat misinya. Roma hanyalah tempat transit sebelum ia pergi ke Spanyol dan daerah sekitarnya. Kisah Rasul 28:29-31 mencatat bahwa Paulus ‘tidak keberatan’ tinggal di Roma selama dua tahun penuh. Berdasarkan pemaparan ini, tujuan Paulus memberitakan Injil di Roma harus dimengerti secara lebih luas: ia memang ingin membangun iman jemaat sekaligus memberitakan Injil kepada penduduk di Roma yang belum mendengar Injil.

 

Kerinduan Paulus untuk mengabarkan Injil di Roma bukan hanya sekedar keinginan yang biasa saja (lihat ayat 10-13, kontra LAI:TB). Kesungguhan keinginannya diungkapkan dalam frase to. katV evme. pro,qumon. Dalam KJV dan NKJV frase ini diterjemahkan “as much as in me”. Mayoritas sarjana dan penerjemah memilih “keinginanku yang dalam” (NRSV) atau “aku sangat ingin” (NIV, RSV). Pilihan yang paling tepat adalah “keinginan yang dalam”. Pertama, pemakaian kata sifat neuter (pro,qumon) sebagai substantif merupakan ciri khas Paulus (to. gnwsto.n, 1:19 dan ta. avo,rata, 1:20). Kata sifat to. pro,qumon di sini seharusnya diterjemahkan “keinginan yang dalam” (band. Mat 26:41//Mar 14:36; 1Pet 5:2; Louw-Nida; Friberg). Kedua, katV evme. (lit. ‘menurut aku’) merupakan ungkapan Hellenistik yang umum untuk ‘milikku’. Jadi, frase to. katV evme. pro,qumon sebaiknya diterjemahkan “keinginanku yang dalam adalah untuk…”.

 

Dalam bagian ini Paulus juga menjelaskan dua alasan bagi keinginannya yang dalam tersebut, seperti terlihat dalam bagan struktur ayat 14-16a di atas. Ada dua alasan di balik hasrat yang dalam untuk menginjil:

  1. Pemahaman terhadap tanggung jawab memberitakan Injil (ay. 14).

Paulus sangat menyadari bahwa ia dikhususkan untuk memberitakan Injil kepada bangsa Yunani (1:1, 5), sehingga ia berani mengatakan “celakalah aku kalau aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16b). Berangkat dari kesadaran bahwa pemberitaan Injil adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi, Paulus menganggap dirinya berhutang kepada semua orang yang belum mendengarkan Injil (band. ovfeile,thj di 8:12; Gal 5:3). Ia juga menegaskan tanggung jawabnya kepada semua lapisan masyarakat Yunani. Frase  {Ellhsi,n te kai. barba,roij menunjuk pada orang-orang Yunani yang berbudaya Romawi dan orang-orang Yunani lainnya, sedangkan sofoi/j te kai. avnoh,toij menunjuk pada orang-orang Yunani yang pandai/berpendidikan dan yang tidak berpendidikan formal.

 

  1. Keyakinan pada Injil yang diberitakan (ay. 16a).

Alasan kedua di balik hasrat Paulus yang dalam untuk memberitakan Injil di Roma adalah keyakinan pada Injil. Mayoritas sarjana menerjemahkan ayat 16a “karena aku tidak malu terhadap Injil” (band. LAI:TB “aku memiliki keyakinan yang kokoh”). Sikap malu terhadap Injil sangat mungkin terjadi pada orang percaya (Mar 8:38//Luk 9:26; 2Tim 1:8), karena tekanan dari dunia dan natur berita Injil yang merupakan kebodohan bagi pemikiran Yunani (1Kor 1:18). Berita Injil (Allah menjadi daging, Allah yang bisa ‘mati’, kebangkitan orang mati) bagi masyarakat Yunani merupakan sesuatu yang tidak masuk akal (Kis 17:32a).

 

 

 

TEMA SURAT: PEMBENARAN OLEH IMAN (ROMA 1:16b-17)

 

Terlepas dari minoritas sarjana yang menolak (misalnya Achtemeier), hampir semua sarjana setuju bahwa bagian ini merupakan tema surat Roma, yaitu dikaiosunh qeou (kebenaran Allah), yang menjadi dasar dan inti pembahasan di 1:18-8:39. Cranfield bahkan membagi 1:18-8:39 berdasarkan ayat 17 “orang yang benar melalui iman akan hidup”: 1:18-4:25 merupakan elaborasi ‘orang yang benar melalui iman’, sedangkan 5:1-8:39 tentang ‘akan hidup’. Pembagian Cranfield mungkin tidak konklusif dan masih bisa diperdebatkan, namun signifikansi bagian ini bagi surat Roma tetap sulit dibantah.

 

Relasi ayat 16b-17 dengan bagian sebelumnya ditunjukkan dengan kata sambung “karena” (gar). Ada tiga kata gar yang dipakai dalam ayat 15-17. Kata ini merupakan penjelasan tentang alasan bagi pernyataan sebelumnya. Alur pemikiran dalam bagian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Paulus sangat ingin memberitakan Injil di Roma (ay. 15)

 

 

Karena (gar) ia tidak malu terhadap Injil (ay. 16a)

 

 

Karena (gar) Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (ay. 16b)

Setiap orang percaya

Orang Yahudi dan Yunani

 

Karena (gar) di dalamnya nyata kebenaran Allah (ay. 17)

Seperti tertulis dalam Habakuk 2:4

 

Berkaitan dengan inti pembahasan ayat 16b-17 – yaitu dikaiosu,nh qeou/ – pandangan para sarjana tentang frase ini secara umum dapat dibagi menjadi tiga:

  1. Genitif qeou/ adalah genitive of possesion: “kebenaran milik Allah” à merujuk pada sifat Allah.
  2. Genitif qeou/ adalah genitive of source: “kebenaran dari Allah” à merujuk pada status yang diberikan Allah.
  3. Genitif qeou/ adalah genitive of subjective: “kebenaran yang ditunjukkan oleh Allah” à merujuk pada aktivitas Allah.

 

Pembahasan detail tentang isu ini merupakan sesuatu yang mustahil. Tiga faktor yang menentukan konklusi terhadap isu ini (konsep dikaiosu,nh qeou/ dalam PL, penggunaan dikaiosu,nh qeou/ dalam surat Roma dan konteks dekat) ternyata memberikan dukungan yang relatif seimbang untuk setiap alternatif. Kesulitan ini menjadi lebih rumit, karena pengertian kata dikaiosu,nh juga sangat bias. Beberapa sarjana menggabungkan dua atau tiga alternatif tersebut yang memang tidak dapat dipisahkan (Kasemann, Moo). Menimbang semua argumentasi yang ada, alternatif kedua tampaknya lebih masuk akal (Cranfield).

Ada beberapa argumentasi penting yang mendukung konklusi di atas:

  • Frase evk pi,stewj eivj pi,stin (dari iman kepada iman) yang menerangkan “kebenaran Allah” tidak sesuai dengan alternatif 1 dan 3.
  • Kutipan dari Habakuk 2:4 di ayat 17 lebih terfokus pada “orang yang benar/dibenarkan” daripada “aktivitas Allah yang membenarkan orang”.
  • Alternatif 2 lebih sesuai dengan konteks Roma 1-8. 1:18-4:25 membahas tentang “orang yang benar melalui iman” dan 5:1-8:39 tentang “bagaimana orang yang benar tersebut hidup”. Konsep dikaiosu,nh qeou/ sebagai “status kebenaran yang diberikan Allah” beberapa kali muncul dalam konteks ini (band. 2:13; 3:20, 28; 4:2, 13; 5:1, 9, 21; 8:10).

 

 

Seperti yang dilakukan Paulus di tempat lain, ia di sini juga menjelaskan bahwa Injil yang berisi kebenaran Allah melalui iman bukanlah ide yang baru. Ide ini didukung oleh Perjanjian Lama (ay. 17, band. 1:2; 3:21; 4:1-8, dll). Kutipan dari Habakuk 2:4 menimbulkan dua isu yang signifikan. Pertama, pemahaman Paulus tentang teks ini tampaknya berbeda dengan konteks mula-mula Habakuk 2:4. Konteks Habakuk 2:4 adalah jawaban Tuhan terhadap keluhan nabi tentang ‘ketidakadilan’ Allah. Teks tersebut membahas bagaimana orang yang sudah benar harus hidup dengan iman meskipun di tengah ‘ketidaksesuaian’ antara realita dan janji Allah. Dalam Roma 1:16a-17 Paulus tampaknya membicarakan tentang bagaimana orang dapat benar di hadapan Allah, dan karena itu ia akan hidup kekal. Perbedaan di atas sebenarnya bisa diharmonisasikan. Inti Habakuk 2:4 yang ingin dikutip oleh Paulus adalah bahwa iman memegang peranan penting dalam relasi dengan Allah (Moo, 78).

 

Kedua, kalimat o` de. di,kaioj evk pi,stewj zh,setai secara gramatikal bisa diterjemahkan dalam dua cara.

  • “Tetapi orang benar akan hidup oleh/melalui imannya” (KJV, NIV dan NASB).
  • “Tetapi orang yang benar melalui imannya akan hidup” (TEV, NEB).

Terlepas dari argumentasi bagi terjemahan 1 yang tidak konklusif (lihat Cranfield, 101-102), konteks Roma 1-8 tampaknya lebih mendukung terjemahan 2. Paulus sering menghubungkan antara ‘kebenaran’ dengan ‘iman’, dan sebagai hasilnya adalah ‘hidup kekal’. Rujukan penting yang mendukung antara lain 5:1 (Dikaiwqe,ntej ou=n evk pi,stewj), 4:11 (th/j dikaiosu,nhj th/j pi,stewj), 4:13 (dia. dikaiosu,nhj pi,stewj), 10:6 (h` de. evk pi,stewj dikaiosu,nh).

 

Berdasarkan pertimbangan sintaks ayat 14-17 dengan ayat 15 sebagai induk kalimat,  ayat 14-17 dapat dilihat sebagai keterangan/penjelasan tentang ‘memberitakan Injil’ di ayat 15 (lihat Stott, 59-65). Dengan kata lain, ayat 14-17 menjelaskan keyakinan Paulus terhadap Injil yang membuat ia begitu bersemangat dan tidak malu terhadap Injil.

 

  1. Injil adalah hutang kepada semua orang (ay. 14).

Paulus menganggap dirinya berhutang kepada semua orang Yunani karena ia meyakini bahwa Kristus telah mempercayakan Injil-Nya untuk diberikan kepada mereka melalui dirinya (1Kor 4:1; Gal 2:7; 1Tes 2:4; 1Tim 1:11; Tit 1:3). Adalah hak mereka untuk memiliki Injil Kristus, sehingga sebelum Paulus memberitakan (memberikan) Injil tersebut kepada mereka, ia adalah orang yang berhutang.

  1. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (ay. 16).

Ada banyak tantangan untuk menjadi malu terhadap Injil, tetapi satu alasan yang dapat mengatasi tantangan tersebut adalah keyakinan bahwa Injil tersebut berkuasa menyelamatkan. Ada beberapa pemikiran penting keselamatan yang diajarkan dalam ayat ini:

  1. Keselamatan ditentukan oleh kekuatan (kuasa) Allah. Fungsi genitif qeou/ sebagai genitive of possession dalam frase du,namij ga.r qeou/ (kekuatan Allah) mengindikasikan peranan sentral Allah dalam keselamatan. Keselamatan seseorang bukanlah ditentukan oleh kefasihan bicara pemberita Injil (band. 1Kor 2:1-5).
  2. Keselamatan diterima melalui iman. Berbeda dengan konsep Yahudi yang menekankan ketaatan kepada Taurat (perbuatan), Paulus di sini mengajarkan bahwa keselamatan melalui kuasa Allah tersebut diperuntukan ‘bagi yang percaya’ (tw/| pisteu,onti). Keutamaan iman dalam bagian ini juga dipertegas dengan frase evk pi,stewj eivj pi,stin (ay. 17 “dari iman kepada iman”) yang merupakan gaya bahasa retoris yang berarti “iman, dan hanya iman” (band. 2Kor 2:16, Barret, Cranfield, Moo).
  3. Keselamatan disediakan bagi semua orang. Berbeda dengan konsep Yahudi tentang eksklusivitas posisi mereka di hadapan Allah, Paulus menempatkan posisi bangsa Yahudi dalam posisi yang sebenarnya. Di satu sisi ia mengakui kelebihan bangsa Yahudi. Ia menggunakan kata prw/ton (pertama-tama) untuk menjelaskan kelebihan bangsa Yahudi dalam hal aplikasi janji Allah. Mereka adalah penerima janji yang pertama dan janji itu juga masih berlaku untuk mereka (11:29). Kelebihan lain disinggung Paulus di 3:2 dan 9:4-5, sedangkan posisi Israel dalam sejarah keselamatan akan dibahas Paulus secara khusus di pasal 9-11. Di sisi lain, dalam kaitan dengan keselamatan dari Allah melalui iman, bangsa Yahudi berdiri pada posisi yang sama dengan bangsa lain (3:22; 10:12). Keselamatan adalah untuk bangsa Yahudi dan Yunani. Frase VIoudaiw| te prw/ton kai. {Ellhni tidak boleh diartikan “setiap individu tanpa terkecuali” (universalisme), tetapi “siapa saja tanpa batasan kebangsaan”.

 

  1. Injil adalah pernyataan kebenaran Allah melalui iman (ay. 17).

Injil bukan hanya memberitakan keberdosaan manusia dan kebutuhan mereka untuk diselamatkan (1:18-3:20), tetapi juga menyatakan jalan keselamatan anugerah dari Allah, yaitu kebenaran melalui iman. Seandainya Allah membenarkan manusia berdasarkan perbuatan baik mereka, maka tidak ada seorangpun yang bisa benar di hadapan Allah, karena semua orang telah berbuat dosa (Rom 3:23). Pendeknya, Injil tidak hanya menunjukkan ketidakberdayaan manusia karena dosa, tetapi juga memberitakan harapan dalam iman.

 

ROMA 1:18-3:20 UNIVERSALITAS DOSA

 

Bukti bahwa 1:18-3:20 merupakan satu unit pemikiran dapat dilihat dari dua hal. Pertama, inclusio tentang keberdosaan manusia di 1:18 dan 3:20. Kutipan panjang dari PL di 3:9-18 dan 3:19-20 merupakan konklusi (klimaks) yang menyatakan keberdosaan semua manusia. Kedua, setelah memaparkan 1:18-3:20 Paulus kembali lagi ke tema surat (3:21 “kebenaran Allah telah dinyatakan”, band. 1:17). Struktur seperti ini menunjukkan bahwa 1:18-3:20 merupakan satu kesatuan yang berfungsi sebagai introduksi bagi pembahasan tentang “pembenaran melalui iman” di 3:21-32.

 

Ada dua alasan penting mengapa Paulus menghubungkan keberdosaan semua manusia (3:9-20) – baik bangsa Yunani (1:18-32) maupun bangsa Yahudi (2:1-3:8) – dengan pembenaran melalui iman. Pertama, universalitas dosa membuktikan bahwa manusia tidak mungkin dibenarkan Allah melalui perbuatan mereka. Kedua, universalitas dosa menunjukkan bahwa posisi semua manusia adalah sama di hadapan Allah, karena itu mereka semua mendapat akses yang sama dalam keselamatan (Rom 3:22-23).

 

ROMA 1:18-32  KEBERDOSAAN BANGSA YUNANI

 

Isu utama berkaitan dengan 1:18-32 adalah identitas golongan manusia yang dimaksud Paulus dalam bagian ini. Sebagian sarjana modern berpendapat bahwa Paulus memaksudkan bagian ini untuk semua orang (bukan hanya bangsa Yunani). Beberapa argumentasi yang dipakai untuk mendukung pandangan ini antara lain:

  • Objek murka Allah dalam bagian ini (ay. 18) adalah manusia (a;nqrwpoj), bukan bangsa Yunani (e;qnoj atau {Ellhn). Dua kata tersebut bahkan tidak muncul sama sekali dalam 1:18-32.

 

  • Penyembahan berhala di sini digambarkan melalui diskripsi PL tentang peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa (Kej 1-3): rujukan tentang penciptaan dunia (ay. 20); pembagian makhluk hidup ke dalam golongan burung, binatang dan binatang melata (ay. 23); rujuan tentang ‘gambar’ (ay. 23); rujuan tentang pengetahuan (ay. 19, 21) dan kebijaksanaan palsu manusia (ay. 22); penggantian kebenaran dari Allah dengan dusta (ay. 25).

 

  • Rujukan tentang berhala ‘binatang berkaki empat’ (ay. 23) mengingatkan pada dosa bangsa Israel di Keluaran 32-34 (band. Mzm 106:20 dan Yer 2:11).

 

  • Transisi dari 1:32 ke 2:1 akan lebih masuk akal jika golongan manusia yang dimaksud di 2:1-4 (bangsa Yahudi) telah termasuk dalam pembahasan sebelumnya (1:18-31).

 

Terlepas dari beberapa argumentasi di atas yang meyakinkan, pandangan tradisional yang menganggap bagian ini sebagai rujukan pada bangsa Yunani tetap lebih bisa diterima, meskipun bagian ini tidak secara eksklusif merujuk pada bangsa Yunani.

 

  • Bagian ini mengingatkan pada argumentasi apologetik Yahudi yang melecehkan praktek penyembahan berhala yang dilakukan bangsa kafir dan menganggapnya sebagai akar dari dosa perzinahan (band. 1:23-27 dan Keb. Sal pasal 12-15, lihat Moo, 97, note 18). Bangsa Yahudi sendiri merasa mendapat dispensasi dalam hukuman Allah atas dasar relasi spesial dengan Allah (Keb Sal pasal 15). Rasa superioritas Yahudi ini selanjutnya akan ditentang Paulus di pasal 2.

 

  • Pengetahuan yang dibahas di 1:18-32 hanya terbatas pada pengetahuan alami (melalui ciptaan). Hal ini sangat berbeda dengan pemaparan Paulus tentang bangsa Yahudi di pasal 2 yang banyak menyangkut isu tentang Taurat.

 

  • Struktur 1:18-3:20 lebih mendukung pendapat ini. 1:18-32 = keberdosaan bangsa Yunani, 2:2-3:8 = keberdosaan bangsa Yahudi, 3:9-20 = konklusi: keberdosaan semua manusia. Hal ini juga didukung oleh beberapa rujukan Paulus yang mengontraskan bangsa Yahudi (2:9-10; 3:9).

 

 

 

Struktur bagian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Murka Allah bagi manusia yang menindas kebenaran (ay. 18-20)

Penjelasan detail tentang menindas kebenaran (ay. 21-31)

Bagian ini dibagi menjadi tiga berdasarkan paralelisme antara tindakan manusia dan respon Allah. Respon Allah ini terlihat dari pengulangan frase “Allah menyerahkan mereka” yang muncul 3 kali (ay. 24, 26, 28).

Mereka mengganti kemuliaan Allah – Allah menyerahkan… (21-24)

Mereka mengganti kebenaran dengan dusta – Allah menyerahkan… (25-27)

Mereka tidak mau mengakui Allah – Allah menyerahkan…(28-31)

Konklusi (ay. 32)

 

Murka Allah bagi manusia yang menindas kebenaran (ay. 18-20)

Alur pemikiran Paulus dalam bagian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Murka Allah dinyatakan dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (18a)

 

Dosa di atas merupakan tindakan menindas [part. kateco,ntwn] kebenaran (18b)

 

 

Karena [dio,ti] Allah telah memberikan pengetahuan ttg diri-Nya (19-20a)

 

 

Karena itu [eivj to. + infinitif] mereka tidak dapat berdalih (20b)

 

Konsep tentang Allah yang murka seringkali dianggap kontradiktif dengan eksistensi Allah, sehingga menimbulkan kesulitan bagi sebagian orang. Filsafat Yunani menganggap Allah yang murka berkontradiksi  dengan keilahian-Nya. Marcion sengaja menghilangkan kata “Allah” dalam bagian ini. C. H. Dodd, salah satu penafsir modern, bahkan menganggap konsep ini sebagai sesuatu yang kuno. Ia melihat “murka Allah” di sini tidak lebih daripada sekedar realisasi hukum sebab-akibat yang sifatnya alamiah dan tidak terkait secara langsung dengan Allah.

 

Semua pendapat di atas justru berkontradiksi dengan ajaran Alkitab tentang Allah. Sifat Allah yang selalu benar membuat Ia tidak bisa mentolerir dosa sekecil apapun. Allah selalu meresponi dosa dengan murka (Kel 4:14; 15:7; 32:10-12; Ul 11:1; Yer 21:3-7). Respon ini tetap sejalan dengan sifat Allah yang pengasih, karena setelah menyatakan murka-Nya Ia memberikan anugerah supaya manusia bisa dibebaskan dari murka tersebut.

 

Ayat 18-20 memaparkan berbagai aspek dari penyataan murka Allah.

  1. Cara murka Allah dinyatakan (18a).
    1. Murka Allah dinyatakan dalam kekinian.

Alkitab sering mengajarkan bahwa murka Allah dinyatakan secara futuris pada jaman akhir (1Tes 1:10). Konsep ini juga sering disinggung Paulus di Rom 2:5, 8; 3:5; 4:15; 5:9; 9:22. Tense present pada kata VApokalu,ptetai (“sedang dinyatakan”, band. NIV ‘is being revealed) bagaimanapun mengindikasikan bahwa Paulus sedang memikirkan aspek kekinian dari penyataan murka Allah. Murka Allah memang akan dinyatakan secara total di jaman akhir, tetapi sekarang manusia juga bisa melihat antisipasi (gambaran nyata) murka tersebut dalam kehidupan sekarang.

 

  1. Murka Allah dinyatakan melalui tindakan dalam sejarah.

Kata avpokalu,ptw bukan hanya berarti penyataan (pemberitahuan) secara kognitif kepada pikiran manusia (kontra Barth), meskipun Paulus kadangkala memakai kata ini dalam arti kognitif (1Kor 2:10; 14:30; Ef 3:5). Penyataan ini juga bukan sekedar pemberitaan tentang murka dalam pemberitaan Injil (kontra Cranfield). Penggunaan kata avpokalu,ptw dalam surat Roma mendukung arti sebagai pemanifestasian tindakan dalam sejarah. Allah benar-benar menunjukkan murka-Nya dalam dunia. Ada dua argumentasi yang mendukung arti di atas:

 

  • Paralelisme penggunaan kata avpokaluptw di ayat 17 dan 18.

Penggunaan kata yang sama dalam dua ayat yang berurutan seperti ini mengindikasikan bahwa kata tersebut memiliki arti yang sama. Berdasarkan penggunaan tense perfect pada kata  pefane,rwtai di 3:21 (“sekarang kebenaran Allah tanpa hukum Taurat telah dinyatakan”) yang jelas merujuk pada karya penebusan Kristus di kayu salib (3:22-25) sebagai penyingkapan karya keselamatan Allah dalam sejarah, kata avpokalu,ptw di 1:17 sangat mungkin juga berarti penyataan kebenaran Allah dalam sejarah. Seandainya tafsiran di atas diterima, maka arti kata avpokalu,ptw di ayat 1:18 juga akan identik, yaitu penyataan dalam sejarah. Arti ini juga didukung oleh mayoritas penggunaan kata avpokalu,ptw dalam tulisan Paulus (Rom 2:5; 8:18, 19; 1Kor 1:7; Gal 1:16; 3:23; 2Tes 1:7; 2:3, 6, 8).

  • Konteks 1:18-32.

Konteks ayat 18-32 secara eksplisit mengindikasikan bahwa penyataan Allah yang bersifat kekinian diwujudkan dalam bentuk “Allah menyerahkan manusia pada jalan dosa yang dipilih dengan segala konsekuensinya” (ayat 24, 26, 28). Sikap Allah yang meninggalkan manusia berdosa pada keberdosaan mereka merupakan salah satu bentuk penghukuman Allah (band. Mzm 81:13; Hos 4:17; Kis 7:42; 14:16).

  1. Murka Allah dinyatakan dari surga.

Frase “dari surga” (avpV ouvranou/) bisa menerangkan kata “Allah”, sehingga terjemahan ayat 18a menjadi “murka Allah yang dari surga dinyatakan”. Bagaimanapun, semua sarjana dan penerjemah menganggap hal tersebut kurang lazim. Mereka umumnya melihat sebagai keterangan terhadap avpokalu,ptetai. Penambahan frase “dari surga” di sini mungkin dimaksudkan untuk menerangkan:

 

  • Kemuliaan murka Allah. Dalam arti ini, “dari surga” merujuk pada tempat Allah (Cranfield). Murka Allah merupakan konsekuensi logis dari kekudusannya. Seorang pribadi yang tidak marah terhadap suatu dosa/kejahatan adalah pribadi yang tidak kudus.
  • Jangkauan murka Allah. Murka Allah ditujukan pada segala sesuatu di bawah langit (Moo). Dalam arti ini, “dari surga” merujuk pada tempat yang tertinggi, tetapi tidak selalu berarti tempat Allah berdiam.

 

  1. Objek murka Allah (18b).

Preposisi evpi (“atas”) dalam ayat 18 menunjukkan objek dari murka. Murka ini ditujukan pada segala kefasikan dan kelaliman manusia (evpi. pa/san avse,beian kai. avdiki,an avnqrw,pwn). Para sarjana berbeda pendapat tentang arti kata avse,beian dan avdiki,an di sini. Beberapa menganggap dua istilah tersebut sebagai sinonim. Mayoritas sarjana umumnya melihat perbedaan makna dalam dua istilah ini. Pendapat mayoritas ini tampaknya lebih bisa diterima. Paulus memang kadangkala memakai dua kata tersebut dalam arti yang sama, tetapi fenomena tersebut tidak berarti bahwa setiap kali dua kata tersebut muncul maka artinya selalu sinonim. Selain itu, seandainya dua kata tersebut benar-benar identik, sulit dijelaskan mengapa Paulus tidak memilih salah satu saja.

Para sarjana yang menganggap dua kata tersebut tidak sinonim juga berbeda pendapat tentang perbedaan makna yang ada. Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, perbedaan makna dalam kata avse,beian dan avdiki,an sebaiknya dipahami sebagai “dosa yang bersifat religius” dan “dosa yang bersifat moral”.

  • Konteks 1:18-32 menunjukkan perkembangan konsep yang sama. Dosa religius terhadap Allah (ayat 19-27) akan berdampak pada dosa moral terhadap sesama (ayat 28-32).

 

  • Pemikiran ini juga sesuai dengan konsep Yudaisme di kitab Kebijaksanaan Salomo yang menjadi latarbelakang pemikiran Paulus di 1:18-32.

 

  • Pemikiran ini juga sesuai dengan komposisi Sepuluh Perintah (perintah 1-4 relasi dengan Allah, sedangkan perintah 5-10 relasi dengan sesama).

Apapun pendapat sarjana tentang perbedaan makna yang ada, inti ayat 18a adalah murka Allah dinyatakan atas segala macam bentuk dosa manusia. Inti ini dinyatakan dalam penambahan kata pa/san (“segala”) di depan kata avse,beian dan avdiki,an.

 

  1. Justifikasi bagi murka Allah (18c-20).

Komposisi ayat 18-20 mengindikasikan bahwa fokus pembahasan Paulus terletak pada justifikasi bagi penyataan murka Allah. Fokus ini dibahas mulai dari ayat 18b (lihat “menindas kebenaran”) sampai ayat 20 (lihat “mereka tidak dapat berdalih”). Dengan kata lain, ayat 18-20 sebenarnya hanya menerangkan “menindas kebenaran”. Fokus ini bahkan juga menjadi inti pembahasan seluruh ayat 18-32. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan frase seperti “sekalipun mereka mengenal Allah” (ay. 21), “menggantikan kebenaran Allah” (ay. 25), “mengakui Allah” (ay. 28). Pemikiran ini juga akan dipakai Paulus ketika ia membahas keberdosaan bangsa Yahudi (2:1, 18, 20). Bangsa Yahudi memiliki kebenaran melalui Taurat, tetapi mereka menindas kebenaran tersebut, sehingga mereka juga tidak bisa berdalih.

Semua dosa yang dibahas di bagian ini pada dasarnya adalah tindakan menindas kebenaran. Allah telah menyatakan diri-Nya melalui ciptaan. Wahyu umum ini seharusnya membuat manusia menyadari eksistensi Allah dan menyembah Dia. Sebaliknya, manusia justru menyembah ciptaan Allah (ay. 21-27). Mereka juga menggantikan tatanan alam yang ditetapkan Allah dalam bidang seksual dengan pilihan mereka sendiri (ay. 28-31). Semua ini membuat mereka tidak bisa berdalih.

 

Penjelasan detail tentang menindas kebenaran (ay. 21-31)

Seperti sudah disinggung sebelumnya, ayat 21-32 masih berpusat pada inti pembahasan di ayat 18b, yaitu tentang tindakan menindas kebenaran melalui ketidakbenaran (band. ay. 21, 25, 28). Relasi tersebut juga bisa dilihat dari penggunaan kata sambung dio,ti (“sebab”) di ayat 21 yang menerangkan alasan mengapa manusia tidak dapat berdalih (ay. 20).

 

Mereka mengganti kebenaran dengan berhala – Allah menyerahkan… (21-24)

Bagian ini terdiri dari dua bagian besar, yaitu diskripsi tentang dosa (ay. 21-23) dan konsekuensi dari dosa tersebut (ay. 24). Selanjutnya, ayat 21-23 dapat dibagi lagi menjadi dua bagian utama berdasarkan kata kerja participle yang memulai ayat 21 dan 22. Dua kata kerja participle tersebut diikuti oleh beberapa kata kerja dalam bentuk aorist indikatif.

 

Berdasarkan sintaks teks Yunani, struktur bagian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

 

à mereka tidak dapat berdalih (ay. 20)

 

 

sebab sekalipun mengenal (participle) Allah

 

mereka tidak memuliakan (Dia) sebagai Allah

atau

mengucap syukur (kepada-Nya)

 

sebaliknya,

 

mereka menjadi sia-sia dalam pikiran mereka

dan

hati mereka yang tidakberpenertian menjadi gelap

 

(sebab) sekalipun mengklaim (participle) sebagai orang berhikmat

 

mereka menjadi bodoh

dan

mereka mengganti kemuliaan Allah yang tidak fana

dengan gambaran yang mirip dengan

manusia yang tidak fana

burung-burung

hewan-hewan berkaki empat

hewan-hewan melata

 

Karena itu (Dio.), Allah menyerahkan mereka dalam hawa nafsu hati kepada kecemaran sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka

 

Inti ayat 21-23 adalah penyembahan berhala, seperti dijelaskan secara eksplisit di ayat 23. Dengan kata lain, ayat 21-23 sebenarnya memberikan penjelasan terhadap penyembahan berhala.

  1. Penyembahan berhala secara esensial adalah respon manusia yang salah terhadap wahyu Allah (ay. 21a).

Allah telah mengambil inisiatif untuk menyatakan diri-Nya yang tidak terlihat melalui ciptaan yang dapat dilihat (ay. 19-20), sehingga manusia bisa mengenal Dia (ay. 21). Pengenalan ini pasti bukan dalam pengertian pribadi (subjektif), karena pengetahuan pribadi hanya dimungkinkan bagi orang yang percaya (band. 1Kor 1:21; 2Kor 5:16; Gal 4:9; Fil 3:8, 10). Pengetahuan yang bersifat objektif ini meliputi penyataan tentang hikmat, kemahakuasaan dan kebaikan Allah.

Respon yang tepat dari wahyu ini seharusnya adalah memuliakan dan mengucap syukur kepada-Nya. Kenyataannya, manusia tidak mau meresponi dengan tepat, sehingga tindakan tersebut dikategorikan sebagai penyembahan berhala. Konsep ini juga terlihat dari peristiwa penyembahan anak lembu emas di Kel 32-34. Bangsa Israel tetap menyebut ‘Allah’ mereka sebagai Yahweh yang telah membebaskan mereka dari tanah Mesir (Kel 32:4-6), tetapi tindakan mereka tidak tepat, sehingga dikategorikan sebagai penyembahan berhala. Pendeknya, pengetahuan tentang Allah harus tercermin dalam praktek hidup. Kegagalan mengintegrasikan konsep Allah ke dalam kehidupan nyata pada dasarnya adalah penyembahan berhala.

  1. Penyembahan berhala adalah pikiran yang sia-sia (ay. 21b).

Frase ‘pikiran mereka menjadi sia-sia’ sangat mungkin merujuk pada penyembahan berhala, karena kata mataio,w biasanya dikaitkan dengan penyembahan berhala. Dari tujuh pemunculan kata kerja mataio,w di LXX, tiga di antaranya terkait dengan penyembahan berhala (2Sam 17:15; Yer 2:5; 51:17). Kata benda ma,taia juga dipakai beberapa kali untuk berhala. Perhatian Paulus tampaknya terletak pada aspek kognitif manusia: dialogismoi/j (“pemikiran”), avsu,netoj (“tidak berpengertian”) dan kardi,a (“hati”) yang merujuk pada seluruh aspek hidup manusia tetapi secara khusus merujuk pada sikap mental.

  1. Penyembahan berhala adalah tindakan yang bodoh (ay. 22-23).

Orang-orang yang menyembah berhala menyangka bahwa mereka berhikmat, tetapi mereka sebenarnya bodoh (Yer 10:14; 1Kor 1-3). Manusia lebih memilih ilusi (gambaran) daripada realita (eksistensi). Mereka lebih memilih yang fana (ciptaan) daripada yang tidak fana (Pencipta).

 

Kata sambung dio. (“karena itu”) di awal ayat 24 mengindikasikan konsekuensi dari tindakan manusia di ayat 21-23. Respon (baca: hukuman Allah) atas mereka adalah Ia menyerahkan (pare,dwken) mereka dalam hawa nafsu hati mereka terhadap kecemaran. Tindakan ini tidak berarti bahwa Allah menyebabkan mereka berbuat dosa (Yak 1:13). Hati mereka sudah penuh dengan hawa nafsu (evn tai/j evpiqumi,aij tw/n kardiw/n auvtw/n eivj avkaqarsi,an). Tindakan ini juga bukan hanya sekedar bentuk kepasifan Allah. Dari istilah yang dipakai dan konteks 1:18-32 terlihat bahwa Allah secara aktif menyerahkan mereka. Allah bukan hanya membiarkan sebuah kapal yang terserang angin ribut tenggelam, tetapi Ia juga memberi dorongan ke bawah supaya kapal tersebut tenggelam (Calvin, Moo). Pengertian ini juga lebih sesuai dengan kitab Kebijaksanaan yang menjadi latar belakang bagian ini. Kebijaksanaan 11:15-16 menulis “sebagai balasan terhadap pemikiran mereka [bangsa Yunani] yang bodoh dan fasik, yang menyesatkan mereka ke penyembahan ular-ulat yang tidak rasional dan binatang-binatang yang tidak layak, Engkau mengirim ke atas mereka sejumlah besar ciptaan-ciptaan yang tidak rasional untuk menghukum mereka, supaya mereka dapat belajar bahwa seseorang dihukum melalui hal-hal yang ia pakai untuk berdosa”.

 

Isu penting seputar hal ini terkait dengan pertanyaan apakah tindakan ini bersifat final (tidak mungkin ada kemungkinan keselamatan) atau reformatoris (bertujuan untuk menyadarkan). Pilihan pertama disiratkan dalam terjemahan “give them up” (ASV, KJV, RSV), sedangkan pilihan kedua dalam terjemahan “give them over” (NIV, NASB). PL berkali-kali menunjukkan bahwa tindakan Allah menyerahkan umat-Nya ke tangan musuh mereka atau dosa mereka hanyalah sebuah instrumen untuk mempertobatkan mereka (Yes 19:22). Hal ini juga sesuai dengan pemikiran Paulus di Gal 3:21-25. Selain itu, konsep tersebut didukung oleh penggunaan kata kerja paradido,nai di surat Roma (8:32; 4:25; 6:17). Jika pendapat ini benar, maka tindakan Allah menyerahkan mereka ke dalam keberdosaan yang lebih parah bertujuan untuk menyadarkan betapa mereka telah berdosa, sehingga mereka bisa berbalik pada Allah.

 

Mereka mengganti kebenaran dengan dusta – Allah menyerahkan… (25-27)

Beberapa versi menerjemahkan permulaan ayat 25 dengan kata sambung “karena” (RSV, JB, NEB dan LAI:TB). Terjemahan ini diambil dengan pertimbangan bahwa induk kalimat adalah “Allah menyerahkan mereka..” dan bahwa ayat 25 adalah alasan bagi tindakan Allah di ayat 24. Pendapat ini tampaknya kurang tepat. Ayat 25 sebaiknya dipahami sebagai bagian pemikiran baru (NIV). Pertama, ayat 23 sudah memberikan alasan bagi tindakan Allah yang menyerahkan orang berdosa, sehingga Paulus tidak perlu membahas ulang di ayat 25. Kedua, Paulus tidak memakai kata sambung ga.r atau dio,ti. Ketiga, kata oi[tinej di awal ayat 25 dipakai Paulus untuk menghubungkan satu kalimat yang independen dari bagian sebelumnya (Rom 1:32; 2:15; Gal 4:24; Fil 3:7).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Struktur ayat 25-27 dapat digambarkan sebagai berikut:

Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta

dan

[Mereka] menyembah

dan

[Mereka] melayani ciptaan daripada Pencipta

yang adalah terpuji selamanya

 

Karena itu (Dia.), Allah menyerahkan mereka ke dalam hawa nafsu yang memalukan

Karena wanita2x mereka menggantikan seksualitas yang wajar dengan yang tidak

dan

begitu juga laki-laki saling birahi satu sama lain

dengan meninggalkan (participle) seksualitas wajar dengan wanita2x

 

melakukan (participle) kemesuman laki-laki dengan laki-laki

dan

menerima (participle) dalam diri mereka balasan

yang setimpal dengan kesalahan mereka

Mereka tidak mau mengakui Allah – Allah menyerahkan…(28-31)

Mayoritas penerjemah umumnya mengartikan kata sambung kaqw.j secara causal, yaitu “sebab”. Terjemahan literal dari ayat 28a sebenarnya adalah “dan karena mereka tidak menganggap layak untuk memiliki Allah dalam pengetahuan mereka” (ASV, KJV). Penerjemah modern biasanya melihat frase di atas sebagai sebuah ungkapan yang berarti “tidak mau mengakui Allah”. Hukuman Allah atas tindakan ini adalah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang tidak layak dengan akibat mereka melakukan hal-hal yang tidak patut. Selanjutnya “hal-hal yang tidak patut” ini diterangkan dalam tiga kelompok: (1) di bawah kategori participle peplhrwme,nouj pa,sh| (“dipenuhi oleh berbagai…”, ay. 29a); (2) di bawah kategori kata sifat mestou.j (“penuh dengan”, ay. 29b); (3) kata sifat + kata benda akusatif (ay. 30-31).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Struktur ayat 28-31 dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Dan karena mereka tidak menganggap layak untuk mengakui Allah

 

 

Allah menyerahkan mereka kepada pikiran yang tidak layak

 

 

sehingga melakukan hal-hal yang tidak patut

 

 

Dipenuhi segala           kelaliman,

kejahatan,

keserakahan

dan

kebusukan

Penuh  kedengkian,

pembunuhan,

perselisihan,

tipu muslihat

dan

kefasikan

 

[adalah]           pengumpat,

pemfitnah,

pembenci Allah,

kurang ajar,

congkak,

sombong,

pandai dalam kejahatan,

tidak taat kepada orang tua

tidak berakal,

tidak setia,

tidak penyayang,

tidak mengenal belas kasihan

 

 

Konklusi (ay. 32)

Fungsi ayat ini sebagai konklusi bagi ayat 18-31 sangat kentara, karena Paulus mengulang fokus utama bagian ini – yaitu menindas kebenaran (ay. 18) – dengan frase “sebab sekalipun mereka mengetahui hukum Allah…”. Frase to dikaiwma tou/ qeou/ (“hukum Allah”) dalam surat Roma bisa merujuk pada perintah-perintah Musa (2:26), prinsip hidup Kristiani (8:4) dan kebenaran tindakan Kristus (5:16, 18). Dalam konteks ini Paulus tampaknya memikirkan semua prinsip moralitas dan religius yang umum.

Ayat ini menimbulkan kesulitan karena Paulus tampaknya menganggap tindakan menyetujui perbuatan dosa orang lain lebih berdosa daripada melakukan dosa (band. “bukan hanya melakukan, tetapi juga menyetujui mereka yang melakukannya”). Ada beberapa bukti bahwa menyetujui tindakan dosa memang lebih berdosa daripada melakukan dosa.

  • Orang yang melakukan dosa biasanya berada dalam tekanan atau cobaan yang kuat dalam situasi tertentu, sedangkan mereka yang menyetujui dosa tidak selalu menghadapi tekanan tersebut.
  • Mereka yang menyetujui dosa berarti memiliki mentalitas terhadap dosa yang memang sudah buruk.
  • Mereka yang menyetujui dosa memiliki potensi untuk mempengaruhi opini publik, sehingga semakin membuka peluang untuk tindakan dosa.

 

KEBERDOSAAN BANGSA YAHUDI (2:1-3:8)

 

Setelah menjelaskan bahwa bangsa Yunani berada dalam murka Allah dan mereka tidak dapat berdalih, Paulus di 2:1-3:8 mengubah target pembicaraan kepada bangsa Yahudi. Ia juga mengubah gaya penulisan mulai pasal 2. Kalau di 1:18-32 ia menyebut bangsa Yunani dengan kata ganti orang ketiga jamak (‘mereka’), mulai pasal 2 ia menggunakan orang kedua tunggal (‘kamu’/’engkau’). Gaya ini merupakan ciri khas diatribe yang biasa dipakai oleh seorang rabi atau filsuf pada waktu mempertahankan pendapat mereka.

 

Berikut ini adalah beberapa karakteristik diatribe:

  • Penggunaan dialog imajiner dengan musuh debat – yang biasanya menggunakan kata ganti orang kedua tunggal. Perlu diketahui, meskipun dialog ini bersifat imajiner, tetapi yang disampaikan bisa menyiratkan situasi nyata yang mungkin timbul.
  • Antisipasi sanggahan dari musuh debat imajiner.
  • Ungkapan ge,noito\ (LAI:TB menerjemahkan “sekali-kali tidak”, bandingkan Rom 3:4, 6, 31; 6:2, 15; 7:7, 13; 9:14; 11:1, 11; 1Kor 6:15; Gal 2:17; 3:21; 6:14).
  • Teguran atau sapaan keras kepada musuh debat, misalnya “engkau tidak dapat berdalih” (2:1), “Apakah engkau menyadari hal ini?” (2:3).

 

Dalam 2:1-3:8 Paulus mula-mula menjelaskan hubungan penghakiman Allah dan posisi bangsa Yahudi sebagai umat pilihan (2:1-16). Ia membuktikan bahwa bangsa Yahudi berada dalam posisi yang sama dengan bangsa lain di depan penghakiman Allah. Setelah itu ia menjelaskan keterbatasan sunat dan hukum Taurat dalam melepaskan bangsa Yahudi dari penghakiman Allah (2:17-29). Dua hal tersebut – sebagai tanda perjanjian – tidak menjamin bangsa Yahudi bebas dari hukuman Allah. Terakhir, Paulus membahas isu tentang kesetiaan Allah kepada bangsa Yahudi (3:1-8). Kalau perjanjian memang tidak menjamin keselamatan bangsa Yahudi, bagaimana Allah bisa disebut setia terhadap perjanjian-Nya?

 

BANGSA YAHUDI DAN PENGHAKIMAN ALLAH (2:1-16)

Ayat 1-16 hampir dapat dipastikan terdiri dari 3 bagian besar. Masing-masing bagian memiliki ciri penulisan yang berbeda. Ayat 1-5 menggunakan dialog imajiner dengan kata ganti orang kedua tunggal. Ayat 6-16 menggunakan kata ganti orang ketiga jamak. Mengingat ayat 6-11 membentuk gaya chiastic, dapat dipastikan bahwa ayat 6-16 terdiri dari dua bagian: ayat 6-11 dan 12-16.

 

Ayat 1-5 merupakan inti pembahasan Paulus dalam bagian ini, yaitu bahwa bangsa Yahudi tidak menerima perlakuan khusus dalam penghakiman Allah. Posisi mereka di hadapan penghakiman Allah adalah sama dengan posisi bangsa Yunani yang melakukan dosa di 1:18-32. Setelah itu Paulus memberikan argumentasi untuk pandangannya tersebut, yaitu bahwa penghakiman Allah bersifat tidak memandang bulu (ay. 6-11). Allah menghakimi manusia secara sama berdasarkan perbuatan mereka. Selanjutnya ia menjelaskan argumentasi tersebut. Orang yang memiliki Taurat akan binasa dengan Taurat dan mereka yang tidak memiliki juga akan binasa tanpa Taurat (ay. 12-16). Memiliki Taurat bukanlah jaminan dalam penghakiman, karena yang paling penting adalah melakukan Taurat (ay. 12-16). Bangsa Yunani pun sebenarnya memiliki ‘Taurat’ dalam hati mereka, yaitu hati nurani.

 

Struktur 2:1-16 dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Kritik terhadap asumsi Yahudi tentang dispensasi khusus penghakiman Allah (ay. 1-5)

 

 

Penghakiman adalah tanpa memandang bulu: berdasarkan perbuatan (ay. 6-11)

 

 

Yang terpenting adalah melakukan Taurat (ay. 12-16)

 

Kritik terhadap asumsi Yahudi (ay. 1-5)

Isu utama berkaitan dengan bagian ini adalah tentang identitas orang yang menganggap diri superior (menghakimi orang lain). Sebagian sarjana menduga Paulus ‘menyerang’ semua kaum moralis pada waktu itu, baik Yahudi maupun Yunani (Calvin, Barret, Stott). Mereka berpendapat bahwa topik tentang Yahudi baru muncul di ayat 17, sedangkan ayat 1-5 memakai sapaan ‘manusia’ (ay. 1, 3). Hal ini diperkuat dengan frase “siapapun engkau” (ay. 1).

 

Mayoritas sarjana umumnya menolak identifikasi di atas (Nygren, Cranfield, Murray, Dunn, Moo). Mereka berpendapat bahwa Paulus sudah memikirkan bangsa Yahudi sejak ayat pertama, meskipun hal itu baru eksplisit di ayat 17. Target utama Paulus di bagian ini adalah bangsa Yahudi, walaupun aplikasi inti pembahasan bisa diterapkan pada semua orang yang menganggap diri superior. Beberapa argumentasi yang mendukung pendapat ini antara lain:

  • Pembahasan di ayat 1-5 (terutama ayat 4) sangat sesuai dengan kitab Kebijaksanaan Salomo 12-15 yang melatarbelakangi pembahasan Paulus sejak 1:18. Dalam Keb Sal 12-15 bangsa Yahudi mengutuk perbuatan dosa bangsa Yunani (terutama penyembahan berhala yang diaanggap sebagai akar dari dosa seksual) dan menegaskan bahwa bangsa Yunani pantas mendapat hukuman Allah. Untuk bangsa Yahudi sendiri mereka beranggapan Allah memperlakukan mereka secara khusus. Superioritas ini sangat sesuai dengan inti ayat 1-5.
  • Ayat 6-11 dan 12-16 – yang membahas kesamaan kedudukan bangsa Yahudi dan Yunani – akan lebih masuk akal jikalau ayat 1-5 berbicara tentang bangsa Yahudi.
  • Ayat 17 sama sekali tidak mengindikasikan adanya perubahan target pembicaraan.

 

Kata sambung “karena itu” di 2:1 merujuk balik pada 1:18-20: murka Allah adalah atas semua manusia, karena mereka telah menindas kebenaran dengan kelaliman (Dunn, Moo). Sebagaimana bangsa Yunani yang memiliki wahyu umum telah menindas kebenaran, demikian juga bangsa Yahudi yang memiliki wahyu khusus. Ayat 1-5 secara konsisten menunjukkan bahwa bangsa Yahudi yang merasa lebih bermoral juga tidak lepas dari hukuman Allah (terutama ay. 1, 3, 5). Alur pemikiran Paulus tentang kesalahan asumsi bangsa Yahudi dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Mereka yang menghakimi orang lain tidak lepas dari murka Allah à karena mereka pada dasarnya menghakimi diri mereka sendiri à karena mereka juga melakukan dosa-dosa yang sama (ay. 1).
  • Padahal mereka juga tahu bahwa hukuman Allah atas orang berdosa adalah benar (ay. 2), tetapi mereka tetap melakukan dosa.
  • Hal ini disebabkan mereka menganggap bahwa mereka dapat melepaskan diri dari murka Allah karena posisi mereka sebagai umat Allah (ay. 3). Rasa aman ini adalah suatu kekeliruan.
  • Mereka yang merasa aman justru telah memandang rendah kemurahan Allah yang seharusnya dimaksudkan untuk menuntun pada pertobatan (ay. 4).
  • Dengan terus-menerus melakukan hal di atas, mereka sebenarnya sedang menimbun murka Allah pada hari penghakiman (ay. 5).

 

Ayat 1. Tuduhan Paulus bahwa bangsa Yahudi melakukan dosa-dosa yang sama telah menimbulkan persoalan. Para sarjana berbeda pendapat tentang jenis dosa yang dimaksud Paulus di sini. Bukankah bangsa Yahudi pasca pembuangan Babel relatif tidak pernah terlibat penyembahan berhala? Bukankah mereka juga tidak mempraktekkan pelanggaran seksualitas yang begitu bobrok? Mengapa Paulus menuduh mereka melakukan dosa-dosa yang sama di ayat 1:18-32? Barret berpendapat bahwa sikap menghakimi di sini pada dasarnya sama dengan penyembahan berhala, karena dengan berbuat demikian mereka telah mengambil hak prerogatif Allah (band. 1:23, 25). Dunn dan Moo memahami dosa-dosa di sini identik dengan di 1:29-31. Pandangan Barret cukup menarik, tetapi tidak sesuai dengan bentuk jamak ‘hal-hal itu’ (ta. auvta.). Pandangan Dunn dan Moo tidak sesuai dengan 2:21-22. Deretan dosa bangsa Yahudi yang disebut Paulus di 2:21-22 – misalnya mencuri, berzinah dan merampok rumah berhala – tidak terdapat dalam 1:29-31. Deretan dosa tersebut justru mengindikasikan bahwa bangsa Yahudi secara esensial melakukan dosa yang sama dengan apa yang dilakukan bangsa Yunani, walaupun bentuk pelanggaran tersebut sedikit berbeda (band. Cranfield).

 

Ayat 2. Frase oi;damen de. (LAI:TB “tetapi kita tahu”) mengindikasikan bahwa apa yang dikatakan di ayat 2 sama-sama diterima oleh dua pihak, karena Paulus biasanya memakai frase oi;damen de. atau oi;damen gar sebagai pijakan bersama (common ground) dengan pihak yang ia ajak bicara (Rom 3:19; 7:14; 8:22, 28; 2Kor 5:1; 1Tim 1:8). Hal ini menunjukkan bahwa orang Yahudi yang melakukan dosa-dosa di ayat 1 (dan 1:18-32) sebenarnya sudah mengetahui bahwa Allah akan menghukum setiap orang berdosa dan bahwa penghukuman Allah tersebut adalah adil (terjemahan LAI:TB “berlangsung secara jujur” kurang tepat, karena frase kata. avlh,qeian seharusnya diterjemahkan “sesuai kebenaran atau fakta” [dalam arti adil]).

 

Ayat 3. Pertanyaan retorik Paulus di ayat ini kesalahan konsep bangsa Yahudi tentang hukuman Allah. Ayat ini sekaligus menjelaskan mengapa mereka tetap melakukan dosa-dosa (ay. 1) padahal mereka sudah mengetahui bahwa Allah akan menghukum orang berdosa (ay. 2). Mereka berpikir bahwa mereka dapat melepaskan diri dari murka Allah karena posisi mereka sebagai umat pilihan. The Psalms of Solomon 15:8 menegaskan bahwa mereka yang tidak memegang tidak akan lepas dari hukuman Allah, tetapi ‘orang-orang benar’ akan diperkecualikan.

 

Ayat 4. Paulus menganggap konsep Yahudi di atas merupakan bentuk penghinaan terhadap kekayaan anugerah Allah. Dari tiga kata yang dipakai di sini (kemurahan, kesabaran, kelapangan hati – crhsto,thj avnoch, makroqumi,a), dua di antaranya muncul di Keb Sal 15:1-2. Setelah penulis Kebijaksanaan Salomo menjelaskan keberdosaan bangsa Yunani di pasal 12-14, ia mengatakan di pasal 15:1-2 “But thou, our God, art kind (crhsto) and true, patient (makroqumoj), and ruling all things in mercy. For even if we sin we are thine, knowing thy power; but we will not sin, because we know that we are accounted thine” (RSV). Konsep yang hampir sama dapat dilihat di Psalms of Solomon 9-10. Rasa aman yang palsu ini sebenarnya sudah lama ditentang oleh para nabi sebelum pembuangan. Paulus selanjutnya menjelaskan bahwa kemurahan Allah dimaksudkan untuk pertobatan. Konsep ini sebenarnya sudah ada di Keb Sal 11:23 “But thou art merciful to all, for thou canst do all things, and thou dost overlook men’s sins, that they may repent”.

 

Ayat 5. Paulus menegaskan bahwa sikap bangsa Yahudi di ayat 1-4 hanya akan menimbun murka Allah di hari penghakiman. Murka ini disebabkan kekerasan (sklhro,thta,) dan ketidakbertobatan (avmetano,hton) hati mereka. Penggunaan kata “menimbun” (qhsauri,zw) bersifat ironis, karena kata ini biasanya dipakai untuk hal-hal yang baik (Ams 1:18; Mat 6:20). Nuansa ironis ini sesuai dengan kontras antara rasa aman bangsa Yahudi dan kepastian hukuman mereka.

 

Penghakiman Allah adalah tanpa memandang bulu (ay. 6-11)

Ayat 6-16 merupakan argumentasi Paulus untuk membuktikan bahwa posisi bangsa Yahudi di hadapan penghakiman Allah adalah sama dengan bangsa lain. Pada bagian pertama (ay. 6-11) ia menjelaskan bahwa Allah menghakimi tanpa memandang bulu. Hal ini diulang sebanyak dua kali di ayat 6 dan 11. Tidak ada seorang pun yang diperlakukan berbeda dalam penghakiman Allah. Allah menghakimi bukan didasarkan pada faktor keturunan, kebangsaan, kultur maupun agama. Ia menghakimi semua manusia dengan kriteria yang sama, yaitu perbuatan mereka. Prinsip ini berlaku untuk bangsa Yahudi maupun bangsa Yunani (ay. 9 dan 10).

 

Struktur ayat 6-11 adalah chiastic, tetapi intinya terletak di awal dan akhir.

A  Allah membalas setiap orang menurut perbuatan-Nya (ay. 6)

B  Mereka yang melakukan kebaikan akan memperoleh hidup kekal (ay. 7)

C  Mereka yang berbuat jahat akan mengalami murka (ay. 8)

C’ Murka bagi yang berbuat jahat (ay. 9)

B’ Mereka yang berbuat baik akan menerima kemuliaan (ay. 10)

A’ Allah tidak memandang bulu (ay. 11)

 

 

 

 

 

 

 

Bagian ini secara sekilas berkontradiksi dengan ajaran Paulus yang menentang perbuatan baik sebagai syarat keselamatan (3:20). Paling tidak ada 10 pendapat yang berbeda untuk menjelaskan hal ini. Bapa-bapa gereja biasanya mengaplikasikan prinsip ini hanya pada orang-orang saleh, baik Yahudi maupun Yunani, sebelum kedatangan Kristus. Sebagian sarjana melihat adanya kemungkinan jalan keselamatan di luar Kristus. Sebagian menganggap bagian ini hanya sebagai pengandaian, jikalau Kristus tidak datang ke dalam dunia. Mayoritas sarjana modern sekarang melihat hal ini sebagai rujukan pada orang Kristen yang dimampukan untuk melakukan perbuatan baik melalui persatuan dengan Kristus.

 

Semua pandangan di atas tidak sesuai dengan konteks ayat 6-11. Bagian ini secara eksplisit memang mengajarkan keselamatan melalui perbuatan baik. Solusi yang paling tepat adalah dengan melihat hal ini apa adanya. Memang manusia bisa diselamatkan melalui perbuatan baik. Persoalannya adalah “siapa yang bisa memenuhi kriteria ini?”. Pembahasan Paulus selanjutnya menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa memenuhi prinsip ini (Hodge, Murray, Moo). Alasan bagi pandangan ini antara lain:

  • Pandangan ini lebih sesuai dengan inti 1:18-3:8, yaitu “menindas kebenaran”. Manusia seharusnya hidup sesuai dengan pengetahuan tentang Allah yang mereka terima – baik wahyu umum (bagi bangsa Yunani, 1:18-32) maupun wahyu khusus (bangsa Yahudi, 2:1-3:8), namun mereka justru menindas pengetahuan tersebut. Pengetahuan tersebut seharusnya membawa manusia pada relasi yang benar dengan Allah, namun mereka tidak mampu hidup menurut pengetahuan tersebut.
  • Berdasarkan fungsi 1:18-3:20 sebagai introduksi bagi doktrin pembenaran oleh iman, 2:6-11 (juga 2:12-16) memberikan justifikasi kuat bagi doktrin tersebut. Manusia seharusnya mampu berbuat benar dan dibenarkan, tetapi dosa dalam diri mereka (Rom 6 dan 7) menghalangi usaha tersebut. Sebagai konklusi, Paulus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi kriteria ini (3:9-20). Untuk itulah mereka memerlukan cara pembenaran oleh anugerah Allah melalui iman (mulai 3:21).
  • Pandangan ini konsisten dengan inti pembahasan di ayat 12-16.

 

Yang terpenting adalah melakukan Taurat (ay. 12-16)

Beberapa sarjana menganggap bagian ini berkaitan dengan bagian selanjutnya, bukan dengan ayat 1-11. Hal ini didasarkan pada kesamaan topik tentang Taurat dengan 2:25-29. Bagaimanapun, ayat 12-16 sebaiknya dipahami sebagai kelanjutan ayat 1-11.

  • Topik tentang “penghakiman terakhir” di ayat 16 membentuk inclusio dengan ay. 1-5.
  • Ayat 12-16 lebih tepat sebagai penjelasan ayat 6-11 daripada sebagai introduksi bagi ayat 17-29. Dalam bagian ini Paulus mengelaborasi prinsip penghakiman Allah berdasarkan perbuatan yang sudah dipaparkan di ayat 6-11.

 

Berdasarkan prinsip penghakiman yang didasarkan pada perbuatan (ay. 6-11), Paulus menyatakan bahwa bangsa Yahudi dan Yunani berada dalam posisi yang sama. Ayat 12 menjadi inti bagian ini: orang akan dihakimi berdasarkan pengetahuan tentang Allah yang mereka miliki, baik itu wahyu khusus maupun wahyu umum. Selanjutnya Paulus memberikan dua alasan (band. ga.r di ay. 13 dan 14) mengapa memiliki wahyu khusus (baca: Taurat) sebenarnya sama saja dengan memiliki wahyu umum. Pertama, yang terpenting adalah melakukan Taurat, bukan hanya mendengar (ay. 13). Konsep ini sebenarnya sangat umum bagi bangsa Yahudi (m. ‘Abot 1.17; Mat 7:24-27; Yak 1:19-27). Kedua, bangsa Yunani juga memiliki ‘Taurat’ dalam diri mereka, yaitu hati nurani (ay. 14-15). Pada ayat 16 Paulus menjelaskan bahwa penghakiman Allah meliputi hal-hal yang tersembunyi dalam hati manusia. Pernyataan ini penting karena bangsa Yunani akan dihakimi berdasarkan pengetahuan yang mereka terima, yaitu nilai moralitas dalam hati dan pikiran mereka.

 

KETERBATASAN PERJANJIAN (ROMA 2:17-29)

 

Gaya diatribe yang kembali dipakai dalam bagian ini mengindikasikan bahwa ayat 17-29 merupakan pemikiran yang baru. Relasi bagian ini dengan bagian sebelumnya yang tidak terlalu eksplisit telah menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan para sarjana. Pendapat yang paling memungkinkan adalah menghubungkan bagian ini dengan ayat 1-16 secara umum. Setelah menyatakan bahwa bangsa Yahudi juga berada dalam murka Allah (ay. 1-5) dan memberikan alasan untuk pernyataan tersebut (ay. 6-16), Paulus sekarang membahas hal yang lebih mendasar, yaitu status bangsa Yahudi sebagai umat perjanjian. Bukankah posisi ini cukup menjadi alasan bagi jaminan keselamatan bangsa Yahudi? Untuk menjawab isu ini, Paulus secara khusus membahas dua tanda perjanjian, yaitu Taurat (ay. 17-24) dan sunat (ay. 25-29). Ia membuktikan bahwa status khusus – yang ditandai dengan Taurat dan sunat – tidak membawa pengaruh apa-apa dalam penghakiman Allah.

 

KETERBATASAN TAURAT (ROMA 2:17-24)

 

Bagian ini terdiri dari dua bagian besar. Pertama, Paulus memaparkan hak-hak istimewa bangsa Yahudi, meskipun hal itu disampaikan dalam bahasa sindiran (ay. 17-20). Kedua, Paulus menunjukkan bahwa bangsa Yahudi justru telah melakukan perbuatan yang berkontradiksi dengan ‘kelebihan-kelebihan’ di atas (ay. 21-24).

 

Dalam ayat 17-20 Paulus menggunakan 6 kata kerja indikatif dan beberapa participle yang menerangkan sebagian kata kerja indikatif yang ada. Selanjutnya Paulus mengecam bangsa Yahudi dengan menggunakan 4 pertanyaan retorik di ayat 21-22. Terakhir, Paulus memberikan konklusi dari apa yang sudah dituduhkan (ay. 23-24). Berdasarkan fenomena ini, ayat 17-24 dapat dibagi sebagai berikut:

 

Jika kamu        menganggap diri Yahudi

bersandar kepada hukum Taurat

bermegah dalam Allah

mengetahui kehendak-Nya

mengetahui apa yang baik dan jahat

karena telah diajar dalam hukum Taurat

yakin bahwa kamu adalah       penuntun orang buta

terang bagi mereka yang dalam kegelapan

pendidik orang bodoh

pengajar orang yang belum dewasa

karena dalam Taurat kamu memiliki pengetahuan dan kebenaran

 

Jadi,     engkau yang mengajar orang lain à tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?

engkau yang melarang mencuri à mengapa engkau sendiri mencuri?

engkau yang melarang zinah à mengapa engkau sendiri berzinah?

engkau jijik dengan penyembahan berhala à mengapa engkau merampok kuil?

 

Konklusi: engkau bermegah dalam Taurat, tetapi engkau sendiri melanggarnya

 

 

Asumsi kelebihan bangsa Yahudi (ay. 17-20)

 

Menganggap diri Yahudi. Kata evponomazh| dalam PB hanya muncul di sini. Di LXX kata ini muncul sebanyak 36 kali dalam bentuk aktif. Bentuk middle-pasif di sini mungkin berarti “menyandang nama” (ASV), “disebut sebagai” (NKJV) atau “memanggil dirimu sebagai” (NIV, RSV, LAI:TB). Nama “Yahudi” pada waktu itu menunjukkan status khusus yang dinikmati bangsa Israel, sebagai perbedaan dengan bangsa-bangsa lain (band. 1:16; 2:9, 11). Jadi, frase su. VIoudai/oj evponoma,zh| mengindikasikan status keagamaan khusus yang dimiliki oleh mereka yang termasuk ke dalam umat perjanjian.

 

Bersandar pada Taurat. Memiliki Taurat merupakan berkat khusus dari Allah (3:2; 9:4), tetapi bersandar pada Taurat dalam penghakiman merupakan kesalahan besar. Menaati Taurat adalah baik, tetapi bukan melalui perbuatan, tetapi iman (band. 9:32). Moo (159-160) membandingkan sikap ini dengan teguran nabi Mikha di Mikha 3:11 “padahal mereka bersandar kepada TUHAN dengan berkata: “Bukankah TUHAN ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!”.

 

Bermegah dalam Allah. Bermegah tidak selalu berarti negatif (sombong), terutama jika dikaitkan dengan Allah/hal-hal rohani sebagai dasar kemegahan (Yer 9:23-24; 1Kor 1:31; 2Kor 10:7). Paulus sangat mungkin sedang memikirkan Psalms of Solomon 17:1 “Tuhan, engkau adalah raja kami selama-lamanya, karena dalam engkau, Ya Allah, jiwa kami bermegah”. Permasalahan di sini adalah pada dasar keyakinan yang salah. Bangsa Yahudi menganggap mereka perlu bermegah dalam Allah karena perbuatan mereka (band. 3:27; 4:2).

 

Mengetahui kehendak-Nya. Frase ginwskeij to qelhma secara literal berarti “engkau mengetahui kehendak itu”, tetapi terjemahan mayoritas EV’s “engkau mengetahui kehendak-Nya” juga bisa dibenarkan. Pemakaian artikel di depan kata kehendak (to qelhma) merupakan bentuk absolut yang umum bagi bangsa Yahudi untuk merujuk pada kehendak Allah (1QS 8:6; 9:23; 1Kor 16:12).

 

Mengetahui apa yang baik dan yang jahat. Frase dokima,zeij ta. diafe,ronta bisa ditafsirkan dalam beberapa cara. Hal ini terkait dengan arti kata dokima,zw dan diaferw yang memang beragam. dokimazw bisa berarti menyetujui, menguji, menyetujui, membuktikan, dll. diaferw dalam bentuk intransitif bisa berarti menjadi lebih layak, lebih superior atau berbeda.

  • dokimazeij ta diaferonta berarti “menyetujui hal-hal yang terbaik” (Murray, Moo).
  • dokimazeij ta diaferonta berarti “membedakan hal-hal yang berbeda [dari kehendak Allah]”. Dengan kata lain, “membedakan apa yang jahat dan yang baik (NEB, LAI:TB, Hodge).
  • dokimazeij ta diaferonta berarti “membedakan hal-hal yang sungguh-sungguh penting” (Kasemann, Cranfield, Dunn).

Pilihan yang lebih memungkinkan adalah poin (1) atau (3). Pilihan ini tersirat dalam mayoritas EV’s “approve things that are superior/excellent”. Apapun arti yang tepat dari dokima,zeij ta. diafe,ronta, frase ini tetap mengindikasikan kelebihan bangsa Yahudi daripada bangsa lain dalam hal mengenal kehendak Allah.

 

Bentuk participle pasif kathcou,menoj di frase kathcou,menoj evk tou/ no,mou harus dipahami sebagai participle of cause yang memberikan suatu alasan (LAI:TB “karena diajar dalam Taurat”). NEB menganggap frase ini hanya menerangkan dokima,zeij ta. diafe,ronta, tetapi hampir semua sarjana mengaitkan hal ini dengan ginw,skeij to. qe,lhma dan dokima,zeij ta. diafe,ronta.

 

Yakin bahwa mereka adalah penuntun bangsa-bangsa lain. Bangsa Yahudi menganggap diri mereka mengemban tugas untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada kebenaran melalui ketaatan kepada Taurat. Ungkapan “penuntun orang buta” dan  “terang bagi mereka yang dalam kegelapan” menyiratkan nuansa misi dalam ayat ini (band. Yes 42:6-7; 49:6; band. Mat 23:15). Ungkapan “pendidik orang bodoh” dan “pengajar orang yang belum dewasa” mungkin merujuk pada fase follow up setelah aktivitas misi.

 

Frase “karena engkau memiliki kegenapan pengetahuan dan kebenaran dalam Taurat” (e;conta th.n mo,rfwsin th/j gnw,sewj kai. th/j avlhqei,aj evn tw/| no,mw|) menerangkan alasan mengapa bangsa Yahudi memiliki keyakinan di ayat 19-20a. Frase ini juga berguna untuk menunjukkan bahwa dosa bangsa Yahudi di ayat 21-22 bisa dikategorikan sebagai “menindas kebenaran”, karena mereka sudah memiliki pengetahuan dan kebenaran.

 

 

 

Sanggahan terhadap asumsi sebelumnya (ay. 21-22)

 

Pertanyaan retorik pertama merupakan sanggahan inti. Hal ini selanjutnya diterangkan dengan tiga pertanyaan retorik lainnya. Dengan kata lain, tiga pertanyaan retorik terakhir merupakan contoh dari pertanyaan pertama. Bangsa Yahudi yang menganggap diri sebagai pengajar Taurat ternyata malah menjadi pelanggar Taurat (ay. 21).

 

Teguran Paulus di sini sebenarnya bukanlah ajaran yang baru (band. Mzm 50:16-21; ‘Abot R. Nat 29[8a]; Mat 23:3). Para rabi sendiri mengakui eksistensi para pengajar Taurat yang memiliki cara hidup berbeda dengan yang mereka ajarkan. Beberapa contoh yang mereka berikan bahkan sama dengan tuduhan Paulus di ayat 21-22. Keunikan konsep Paulus adalah bahwa ia mengaplikasikan hal ini pada semua bangsa Yahudi (bukan hanya pada pengajar Taurat). Hal ini tentu saja membawa permasalahan, karena tidak semua orang Yahudi melakukan dosa seperti yang dituduhkan. Solusi terhadap masalah ini adalah dengan menganggap Paulus sedang memikirkan pemahaman yang radikal (esensial) tentang Taurat (band. Mat 5:21-48). Dari perspektif ini, semua orang pasti patut dikategorikan sebagai pelanggar Taurat.

 

Isu utama bagian ini terkait dengan pengertian “merampok kuil” (i`erosulei/j). Ada tiga pandangan utama berkenaan dengan hal ini:

  • Mayoritas sarjana memahami i`erosulei/j sebagai rujukan pada sikap bangsa Yahudi yang semakin toleran terhadap penggunaan barang-barang curian dari kuil berhala (Godet, Murray, Kasemann, Dunn, Moo). Tindakan ini tentu saja berkontradiksi dengan sikap mereka yang menentang penyembahan berhala.
  • Sebagian mengaitkan dengan kelalaian bangsa Yahudi dalam membayar bea bait Allah. Pelanggaran ini bukanlah sesuatu yang asing pada waktu itu (Psalms of Solomon 8:11-13; T. Levi 14:5). Dengan tidak membayar bea, mereka sebenarnya telah merampok bait Allah (Hodge).
  • Sebagian melihat hal ini sebagai pelanggaran-pelanggaran umum terhadap hal-hal yang keramat (Calvin, Barret, Cranfield). Argumentasi yang biasa dipakai adalah tulisan Philo yang menyebut pembunuh sebagai i`erosuli,a, dalam arti ia telah mengambil milik Allah yang paling berharga (jiwa manusia). Catatan lain adalah 2Mak 13:6 dan Kis 19:37 yang memakai istilah tersebut tanpa mengaitkannya dengan pencurian barang-barang kuil.

Poin (1) terlihat membuat kontras yang sesuai dengan ayat 22b (mengecam penyembahan berhala tapi mengambil keuntungan di dalamnya), sedangkan poin (2) memiliki catatan historis yang mendukung. Bagaimanapun, dua tafsiran ini kurang sesuai dengan pemakaian yang umum dari kata i`erosulw. Pandangan terakhir tampaknya paling memungkinkan. Satu-satunya ‘kelemahan’ pandangan ini adalah bahwa arti i`erosulw di sini tidak membuat kontras yang sesuai dengan ayat 22. Sanggahan ini sebenarnya tidak terlalu tepat. Poin (3) tetap membuat kontras yang sesuai: sebagaimana bangsa Yahudi mengecam penyembahan berhala sebagai pelanggaran terhadap hal-hal yang sakral, mereka ternyata juga menjadi pelanggar yang sama, meskipun bentuk konkret pelanggaran tersebut berbeda. Pelanggaran mereka tetap dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap hal-hal yang sakral.

 

Konklusi: mereka yang mengagungkan Taurat ternyata justru telah memalukan nama Tuhan (ay. 23-24)

 

Mayoritas versi mengambil ayat 23 sebagai kalimat pertanyaan (LAI:TB, KJV, NASB, RSV, NIV). Ayat ini dianggap sebagai kelanjutan dari rangkaian pertanyaan retorik sebelumnya. Bagaimanapun, ayat 23 sebaiknya dipahami sebagai kalimat pernyataan (NA27, NEB, JB).

  • Konstruksi kalimat o]j + kata kerja indikatif berbeda dengan ayat 21-22 yang memakai konstruksi o` + participle.
  • Penjelasan di ayat 24 lebih masuk akal jikalau ayat 23 berupa kalimat pernyataan.

Perubahan sintaks di ayat 23-24 mengindikasikan bahwa bagian ini merupakan pemikiran baru. Bagian ini lebih tepat dianggap sebagai konklusi bagi ayat 17-22. Orang Yahudi yang bermegah atas Taurat dan menganggap diri sebagai penuntun bangsa-bangsa lain ternyata justru menjadi penyebab nama Allah dihujat oleh bangsa-bangsa lain. Mereka yang bermegah atas Allah dan Taurat justru telah menghina Allah dengan cara melanggar Taurat.

 

Untuk mendukung pernyataannya di ayat 23, Paulus mengutip Yes 52:5 sebagai alasan (band. ga.r). Apa yang dituduhkan di ayat 21-22 pada dasarnya sama dengan yang dilakukan bangsa Yehuda pada jaman Yesaya. Kemalangan bangsa Yehuda – sebagai akibat dari pelanggaran dan dosa mereka – telah menjadi bahan cemoohan bagi bangsa lain. Hal ini terkait dengan pola pikir kuno yang menganggap kemalangan suatu bangsa identik dengan ketidakberdayaan ‘allah’ yang disembah bangsa tersebut.

 

KETERBATASAN SUNAT (ROMA 2:25-29)

 

Dalam bagian ini Paulus membahas tanda perjanjian yang lain, yaitu sunat (band. Kej 17). Signifikansi praktek sunat pada jaman Paulus merupakan sesuatu yang sangat ditekankan. Penghinaan dan penganiayaan kepada bangsa Yahudi yang bersunat pada jaman pemerintahan Yunani justru telah menimbulkan loyalitas yang semakin besar terhadap praktek sunat. Bangsa lain yang ingin disebut sebagai proselit sejati dituntut untuk menyunatkan diri. Tulisan Yudaisme yang lebih kemudian bahkan mengklaim bahwa tidak ada orang bersunat yang akan pergi ke neraka.

 

Penjelasan Paulus di bagian ini secara esensial sama dengan yang di ayat  17-24, yaitu pentingnya perbuatan. Ia menjelaskan bahwa sunat tidak memiliki signifikansi apa-apa jika tidak disertai dengan ketaatan terhadap Taurat (ay. 25). Sebaliknya, bangsa lain yang secara fisik tidak bersunat bisa disebut sebagai orang yang bersunat apabila mereka melakukan tuntutan Taurat (ay. 26). Bangsa lain ini bahkan akan menjadi hakim atas mereka yang bersunat secara fisik tetapi tidak memenuhi tuntutan Taurat (ay. 27). Ayat 28-29 merupakan alasan (band. ga.r di ayat 28) bagi pandangan Paulus di ayat 25-27. Alur pemikiran Paulus dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Inti: sunat berguna jika disertai dengan ketaatan kepada Taurat (ay. 25a)

Implikasi (ay. 25b-27)

Bangsa  Yahudi yang melanggar Taurat tidak mendapat manfaat sunat (ay. 25b)

Bangsa lain yang menaati Taurat dianggap bersunat (ay. 26)

Bangsa lain yang menaati Taurat akan menghakimi bangsa Yahudi (ay. 27)

Argumentasi: Allah melihat yang tidak kelihatan (ay. 28-29)

Inti: sunat berguna jika disertai dengan ketaatan kepada Taurat (ay. 25a)

Para sarjana berbeda pendapat tentang maksud Paulus di ayat ini. Apakah Paulus sungguh-sungguh mengakui manfaat sunat? Apakah batasan ‘ketaatan kepada Taurat’ di sini? Pertanyaan pertama tidak terlalu sulit dijawab, karena pada bagian lain Paulus juga menegaskan kegunaan sunat (3:1-2). Berdasarkan konteks 2:17-29 dan 3:1-8, kegunaan sunat di sini harus dipahami dalam hubungan dengan penghakiman dan keselamatan. Sunat memang berguna dalam relasi dengan Allah, karena hal itu diperintahkan oleh Allah sebagai tanda perjanjian. Permasalahannya adalah kegunaan itu tidak bersifat magis. Sunat per se  tidak membawa manfaat, karena sunat sebenarnya adalah tanda seseorang menjadi umat Allah. Inti dari sunat adalah gaya hidup yang sesuai dengan status sebagai umat perjanjian. Dengan kata lain, sunat bukanlah substitusi bagi ketaatan kepada Allah.

 

Pertanyaan terakhir biasanya dipahami dalam dua cara.

  • Ketaatan di sini merujuk pada kesungguhan hati dan ketulusan motivasi dalam menaati Taurat (Murray, Cranfield).
  • Ketaatan di sini merujuk pada kesempurnaan hidup (Calvin, Hodge, Bruce, Moo).

 

Jika pandangan pertama benar, maka ayat ini mengajarkan kemungkinan kegunaan sunat dalam penghakiman jika itu disertai dengan kesungguhan hati. Pandangan ini didukung oleh konteks dekat 2:25-29. Pertama, Ayat 26-27 menyiratkan bahwa ketaatan kepada Taurat merupakan hal yang mungkin dicapai. Kedua, kesungguhan hati ini sesuai dengan ayat 28-29.

 

Bagaimanapun, pandangan kedua tampaknya lebih bisa diterima. Pertama, PL bukan hanya menuntut ketaatan yang sungguh-sungguh, tetapi ketaatan yang sempurna. Ul 27:26 “seluruh perkataan hukum ini”. Gal 3:10 “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.”” dan Gal 5:3 “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat”. Kedua, konteks selanjutnya menunjukkan bahwa baik bangsa Yahudi maupun Yunani tidak ada yang bisa mendapatkan manfaat dari konsep ini (3:9-20). Ketiga, pertanyaan bangsa Yahudi tentang manfaat sunat di 3:1 akan lebih masuk akal jikalau Paulus sebelumnya telah menentang kegunaan sunat.

 

Implikasi (ay. 25b-27)

Implikasi pertama terkait dengan bangsa Yahudi. Mengingat sunat – sebagai tanda perjanjian – hanya akan berguna jikalau disertai ketaatan yang sempurna, pelanggaran bangsa Yahudi (2:17-24) membuktikan bahwa sunat mereka tidak ada gunanya. Dengan demikian mereka sebenarnya bukanlah umat perjanjian (bukan orang Yahudi yang sejati), karena tanda perjanjian tersebut telah kehilangan maknanya.

 

Implikasi kedua dari ayat 25a adalah bahwa semua orang dari bangsa lain yang sanggup memenuhi tuntutan Taurat adalah bangsa Yahudi yang sejati. Meskipun mereka tidak sunat secara fisik, tetapi mereka memenuhi konsekuensi sunat, yaitu ketaatan.

 

Implikasi terakhir benar-benar pemikiran yang radikal. Bangsa Yahudi percaya bahwa orang benar akan menghakimi orang fasik (1Kor 6:2; 1Enoch 91:12; 98:12; Apoc. Abr 29:19-21; Wis 3:8), tetapi mereka selalu menempatkan diri mereka sendiri sebagai orang yang akan menghakimi, sedangkan bangsa lain sebagai orang fasik. Pandangan Paulus di sini sangat mungkin berakar dari ajaran Yesus (Mat 12:41-42; Luk 11:31-32). Penghakiman di sini bisa merujuk pada  status bangsa Yunani yang ditunjuk Allah sebagai hakim atas bangsa Yahudi, tetapi kemungkinan besar ayat ini berarti bahwa ketaatan bangsa Yunani sendiri telah menjadi hakim atas ketidaktaatan bangsa Yahudi.

 

Perdebatan para sarjana tentang ayat 27 biasanya terfokus pada fungsi preposisi dia. dalam frase dia. gra,mmatoj kai. peritomh/j (LAI:TB menerjemahkan “kamu yang memiliki hukum tertulis dan sunat”). Sebagian sarjana mengambil arti dia. yang lebih umum, yaitu ‘melalui’ (instrumental). Jika ini benar, maka ayat 27 diterjemahkan “…menghakimi engkau yang melalui hukum tertulis dan sunat adalah pelanggar hukum”. Terjemahan ini menunjukkan bahwa hukum tertulis dan sunat merupakan sarana/penyebab mereka menjadi pelanggar hukum. Mereka umumnya melihat ayat ini sebagai rujukan pada pemahaman tentang Taurat yang hanya sampai pada aktivitas ritual dan tindakan superficial. Dengan kata lain, dosa bangsa Yahudi di sini adalah kegagalan mereka dalam menaati Taurat secara sungguh-sungguh dalam hati mereka dan bukan hanya praktek keagamaan yang eksternal. Anggapan ini terkesan lebih sesuai dengan ayat 28-29.

 

Pandangan di atas tidak sesuai dengan inti pembicaraan Paulus di pasal 2. Tuduhan Paulus tidak terletak pada praktek keagamaan yang superficial, tetapi pada ketidakmampuan bangsa Yahudi dalam menaati Taurat. Berdasarkan pertimbangan ini mayoritas penerjemah mengambil dia. sebagai attendant circumstances yang berarti “dengan” (ASV) atau “bahkan” (NIV, NKJV). Jadi, ayat 27 seharusnya diterjemahkan “..menghakimi engkau yang walaupun dengan (memiliki) hukum tertulis dan sunat adalah pelanggar hukum”.

 

 

 

 

Argumentasi: Allah melihat yang tidak kelihatan (ay. 28-29)

Kata sambung gar mengindikasikan bahwa ayat 28-29 merupakan alasan bagi bagian sebelumnya. Ayat 28-29 berbentuk paralel:

A         Karena bukan orang Yahudi yang lahiriah yang disebut Yahudi

B         atau sunat lahiriah yang disebut sunat

A         tetapi orang yang batiniah yang disebut Yahudi

B         dan sunat yang dalam hati, dalam Roh, bukan menurut huruf, yang disebut sunat

 

Allah tidak melihat sesuatu secara superficial (dari segi eksternal). Perbuatan memang menjadi kriteria penghakiman Allah (ay. 6-11), tetapi perbuatan tersebut terkait dengan hati manusia yang paling dalam. Penekanan pada aspek batiniah di sini merupakan kritikan terhadap sikap bangsa Yahudi yang cenderung mengagungkan hal-hal yang lahiriah, misalnya hukum Taurat yang tertulis, sunat, kebangsaan, dll.

 

Pemikiran Paulus di sini sebenarnya bukan merupakan ajaran yang baru. PL berkali-kali menekankan perlunya sunat secara rohani (Ul 10:16; Yer 4:4). Tulisan Yahudi bahkan menyiratkan pengharapan bahwa Allah akan menyunatkan setiap hati bangsa Yahudi melalui Roh Kudus (Jub 1:23; Od Sol 11:2).

 

 

KESETIAAN ALLAH DAN PENGHAKIMAN BANGSA YAHUDI (ROM 3:1-8)

 

Para sarjana umumnya setuju bahwa bagian ini merupakan bagian surat Roma yang paling sulit dipahami.             Dodd mengkritik alur pemikiran Paulus di sini yang dianggap tidak sistematis dan terkesan tidak jelas. Inti perdebatan terkait dengan pembahasan Paulus di pasal 2 (terutama ayat 25-29) yang secara sekilas tampak bertentangan dengan 3:1-4a. Selain itu, identifikasi tentang rangkaian pertanyaan dalam bagian ini juga menjadi pokok perdebatan yang rumit. Para sarjana berbeda pendapat tentang pertanyaan mana yang berasal dari Paulus sendiri dan pertanyaan mana yang berasal dari musuh dialog imajinernya. Permasalahan ini diperparah dengan perbedaan pendapat tentang tanda baca di ayat 3.

 

Untuk memudahkan pemahaman, alur pemikiran Paulus dapat dijelaskan sebagai berikut:

P          Posisi bangsa Yahudi di depan murka Allah sama dengan bangsa-bangsa lain (2:17-29)

Y         Lalu, apakah kelebihan bangsa Yahudi sebagai umat Allah? (3:1)

P          Banyak sekali – kepada mereka dipercayakan Firman Allah (3:2)

P          Kenyataannya banyak orang Yahudi tidak setia; dapatkah itu membatalkan kesetiaan Allah? (3:3)

P          Tidak! Dosa manusia justru menunjukkan bahwa Allah benar (3:4)

P          Apakah hal itu berarti bahwa Allah tidak adil dalam menghukum manusia? (3:5)

P          Tidak! Allah adalah hakim dunia, sehingga Ia selalu adil (3:6)

Y         Sehubungan dengan ayat 4, mengapa manusia berdosa harus dihakimi? Bukankah sebaiknya kita berbuat dosa yang banyak? (3:7-8a)

P          Orang seperti ini pasti dihukum! (3:8b)

 

Ayat 1. Di pasal 2 Paulus menjelaskan bahwa posisi bangsa Yahudi di depan penghakiman Allah adalah sama dengan bangsa lain. Ia juga secara khusus menolak keistimewaan Taurat dan sunat dalam penghakiman. Pertanyaan wajar dari pihak bangsa Yahudi yang diantisipasi Paulus adalah “apakah bangsa Yahudi memiliki kelebihan dibanding bangsa lain?” dan “apakah sunat memiliki manfaat”? Pertanyaan ini sebenarnya berkaitan dengan kredibilitas janji-janji di PL dan kesetiaan Allah terhadap umat-Nya. PL berkali-kali menyatakan bahwa Allah telah memanggil bangsa Yahudi secara khusus sebagai umat-Nya dan menetapkan sunat sebagai tanda kepemilikan tersebut. Seandainya bangsa Yahudi tidak memiliki kekhususan (kelebihan) dibanding bangsa lain, hal itu bisa berarti PL tidak benar atau Allah tidak bisa dipercaya.

 

Ayat 2. Jawaban Paulus di ayat 2 tidak bertentangan dengan pembahasan di 2:17-29. Dalam konteks penghakiman bangsa Yahudi memang sama dengan bangsa lain, tetapi hal itu tidak berarti mereka tidak memiliki kelebihan apa-apa. Kelebihan bangsa Yahudi adalah “banyak dalam segala hal”, salah satunya adalah kepada mereka telah dipercayakan Firman Allah. Dalam bagian ini Paulus tidak melanjutkan daftar kelebihan yang lain, meskipun ia memakai ungkapan “pertama-tama” (prw/ton). Fenomena ini merupakan karakteristik Paulus (band. 1:8). Roma 9:4-6 memaparkan banyak kelebihan bangsa Yahudi yang sangat mungkin termasuk dalam ungkapan “banyak dalam segala hal” dalam bagian ini. Frase ta. lo,gia tou/ qeou/ telah ditafsirkan secara beragam, karena ungkapan tersebut dalam PL memang bisa berarti “penyataan Allah secara umum”. Berdasarkan konteks 3:1-8 sebaiknya dimengerti sebagai seluruh wahyu Allah di PL, terutama yang berhubungan dengan janji-janji Allah.

 

Ayat 3. Setelah menyebutkan kelebihan di ayat 2, Paulus menghubungkan hal itu dengan fakta bahwa sebagian bangsa Yahudi telah tidak setia. Kata hvpi,sthsa,n di sini bisa berarti “tidak percaya” (NIV, ASV, KJV, NKJV) atau “tidak setia” (RSV, LAI:TB). Terjemahan pertama didukung oleh arti umum avpisteu,w dan avpisti,a dalam PB dan surat Roma (4:20; 11:20, 23; band, Cranfield). Bagaimanapun, terjemahan kedua tampaknay lebih tepat.

  • Dosa utama bangsa Yahudi di PL, dalam kaitan dengan janji-janji Allah, bukanlah ketidakpercayaan, tetapi ketidaksetiaan.
  • Tuduhan Paulus terhadap bangsa Yahudi di pasal 2 berfokus pada kegagalan mereka dalam hidup sesuai dengan posisi sebagai umat Allah. Mereka tampaknya justru bersandar pada wahyu Allah di PL (meskipun pemahaman mereka salah). Dosa-dosa mereka merupakan bukti bahwa mereka tidak setia terhadap perjanjian.
  • Terjemahan “tidak setia” sesuai dengan ayat 3. Apakah “ketidaksetiaan” (faithlessness) bangsa Yahudi bisa membatalkan “kesetiaan” (faithfulness) Allah?
  • Terjemahan kedua membentuk permainan kata antara ayat 2 dan 3. Mereka dipercayakan (evpisteu,qhsan, “entrusted”) Firman Allah, tetapi mereka telah bertindak tidak setia (hvpi,sthsa,n, did not trust) – apakah ketidaksetiaan (avpisti,a) mereka bisa membatalkan kesetiaan (pi,stin) Allah?

 

Isu utama berkaitan dengan peletakan tanda tanya dalam ayat ini. Mayoritas EV’s memilih tanda tanya setelah kata “tidak setia” (hvpi,sthsa,n), sehingga ayat ini diterjemahkan “jadi bagaimana jika sebagian mereka tidak setia? Dapatkan ketidaksetiaan tersebut membatalkan kesetiaan Allah?”. Dengan mengambil pilihan ini, pertanyaan pertama merupakan sanggahan dari pihak Yahudi, sedangkan pertanyaan kedua adalah jawaban retorik Paulus. Bagaimanapun, mayoritas sarjana dan NA27 memilih peletakan tanda tanya setelah ti, ga,rÈ (“jadi bagaimana?”; LAI:TB) dan tanda koma setelah hvpi,sthsa,n. Jika pilihan ini diambil, seluruh ayat 3 merupakan pertanyaan Paulus sendiri. Ada beberapa alasan untuk mengambil bacaan ini:

  • Bacaan ini sesuai dengan karakteristik gaya diatribe Paulus yang cenderung menggunakan kalimat pertanyaan pendek (Moo).
  • Bentuk pertanyaan retorik yang mengharapkan jawaban negatif lebih cocok dianggap sebagai kontinuitas daripada kontras dengan ayat 2.
  • Penggunaan kata ganti “mereka” lebih cocok dikaitkan dengan Paulus. Seandainya pertanyaan ini adalah sanggahan dari pihak Yahudi, Paulus sangat mungkin akan memakai “kami” atau “aku” (band. ayat 7).

 

Ayat 4. Pertanyaan retorik di ayat 3 sebenarnya sudah menyiratkan jawaban negatif, tetapi Paulus ingin menekankan jawaban tersebut dengan menggunakan ungkapan mh. ge,noito\ (“sekali-kali tidak”). Ketidaksetiaan sebagian bangsa Yahudi tidak membatalkan kesetiaan Allah. Allah tetap “benar” (avlhqh,j) walaupun semua manusia adalah pembohong (yeu,sthj). Kata sifat “benar” jika dihubungkan dengan pribadi Allah biasanya berarti “Allah benar dalam kaitan dengan Firman-Nya”. Dengan kata lain, Allah setia atau dapat dipercaya. Berdasarkan hal ini, kebohongan manusia di sini (kutipan dari Mzm 116:11) juga harus dimengerti sebagai ketidakbisaan manusia untuk dipercaya. Penghukuman Allah atas sebagian orang Yahudi tetap membuktikan bahwa Allah adalah setia. Beberapa ayat PL secara eksplisit mengajarkan bahwa Allah benar sekalipun pada waktu Ia melakukan penghukuman (Neh 9:32-33; Mzm 54:7; 96:3; Rat 1:18; Pss Sol 2:18; 3:5; 4:8; 8:7). Perjanjian Allah mengandung dua sisi: berkat dan kutuk (Ul 11:26-28; 30;1, 19). Ketika ia menghukum, Ia tetap setia terhadap Firman-Nya.

 

Untuk mendukung jawaban di atas Paulus mengutip Mzm 51:6. Frase “supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu” di Mzm 51:6b bisa menerangkan tujuan pengakuan dosa Daud di ayat 5 maupun keberdosaan Daud di ayat 6a. Jika pilihan pertama benar, maka pengakuan Daud membuktikan bahwa penghukuman Allah atasnya adalah benar. Konteks Rom 3:5-8a dan kata sambung o[pwj (“supaya”) tampaknya lebih sesuai dengan kemungkinan kedua: keberdosaan Daud justru menunjukkan kebenaran Allah. Apapun pilihan yang benar Paulus dalam ayat ini hanya memberikan bukti bahwa penghukuman Allah atas Daud tetap menunjukkan kebenaran Allah.

 

Ayat 5. Jikalau keberdosaan Daud memanifestasikan sesuatu yang positif dari pihak Allah (ay. 4b), pertanyaan logis yang mungkin muncul berkaitan dengan keadilan Allah. Pertanyaan ini berasal dari Paulus sendiri, seperti terlihat dari alasan berikut:

  • Frase “apakah yang akan kita katakan?”.
  • Pertanyaan retorik yang mengharapkan jawaban negatif.
  • Frase “aku berkata sebagai manusia”.

Melalui pertanyaan retorik di ayat ini Paulus menegaskan bahwa Allah tetap adil ketika ia menghukum dosa manusia, meskipun dosa tersebut justru menunjukkan kebenaran Allah.

 

Ayat 6. Jawaban Paulus di sini kelihatan tidak memuaskan bagi pembaca modern. Jawaban ini tampaknya tidak memberikan penjelasan apa-apa tentang pertanyaan di ayat 5. Bagaimanapun, jawaban ini sebenarnya sangat mendasar. Paulus menggunakan sebuah axiom teologis yang dipercayai seluruh orang Yahudi. Allah adalah hakim seluruh bumi (Kej 18:25; Ul 32:4; Ay 8:3; 34:10; band. Ul 32:4). Seandainya Ia tidak adil, maka Ia tidak bisa menjadi hakim seluruh bumi.

 

Ayat 7-8a. Bagian ini merujuk balik pada ayat 4b. Para sarjana berbeda pendapat tentang ayat 8a. Apakah pertanyaan merupakan sanggahan dari pihak Yahudi atau jawaban Paulus?  Mempertimbangkan kata sambung “dan” (kai.) di ayat 8a, ayat ini harus dipahami sebagai sanggahan lain dari pihak Yahudi. Seandainya ini benar, maka ayat 8a seharusnya diterjemahkan seperti mayoritas EV’s (kontra LAI:TB): “dan mengapa tidak mengatakan (seperti kita sering dihujat dan mereka mengatakan kita mengajarkannya), ‘marilah berbuat yang jahat supaya yang baik timbul daripadanya?’”.

 

 

Kalimat yang berada dalam tanda kurung merupakan tambahan dan interupsi Paulus pada pertanyaan sanggahan pihak Yahudi. Jadi, sehubungan dengan ayat 4, ada dua sanggahan dari pihak Yahudi yang diantisipasi Paulus:

  1. Ayat 4b merupakan alasan untuk tidak dihukum, karena dosa justru membawa kebaikan bagi Allah (ay. 7).
  2. Ayat 4b merupakan alasan bagi gaya hidup antinomianisme (tanpa hukum, ay. 8a).

 

Ayat 8b. Terhadap dua sanggahan  di atas, Paulus tidak memberikan jawaban apa-apa. Ia hanya mengucapkan kalimat penghukuman atas orang tersebut, karena pemikiran tersebut merupakan “penghujatan” (band. kata kaqw.j blasfhmou,meqa = “seperti kita sering dihujat” di ayat 7a). Mereka menghujat Paulus mengajarkan antinomianisme, tetapi Paulus justru menganggap sanggahan mereka di ayat 7-8a tersebut sebagai penghujatan.

 

KONKLUSI: SEMUA MANUSIA BERDOSA (ROMA 3:9-20)

Ayat 9 mengembalikan pembahasan lagi – setelah tersisipi ayat 1-8 – pada keberdosaan bangsa Yahudi. Dengan menekankan kembali keberdosaan bangsa Yahudi dan menghubungkannya dengan keberdosaan bangsa Yunani, Paulus kembali pada 1:18 (murka Allah atas semua manusia). Ayat 9-20 merupakan konklusi dari semua pembahasan di 1:18-3:8. Strukitur 3:9-20 dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Konklusi: semua manusia berdosa (ay. 9)

Konfirmasi dari Kitab Suci (ay. 10-18)

Implikasi: semua berada dalam murka Allah dan tidak bisa membebaskan diri melalui perbuatan sendiri (ay. 19-20).

 

Ada beberapa aspek dosa yang ingin diajarkan Paulus melalui pengutipan beragam teks PL yang sebetulnya saling terpisah:

  1. Sifat dosa yang anti Allah.

Dosa bukan hanya ketidaksesuaian dengan kriteria moral. Dosa berlawanan langsung dengan natur Allah. Bagian ini dimulai dan diakhiri dengan rujukan tentang Allah (ay. 11 dan 18). Dosa pada dasarnya adalah penindasan kebenaran tentang Allah (1:18-20). Manusia tidak mencari Allah sama sekali (ay. 11//Rat 7:20). Keberdosaan mereka berakar dari penyangkalan terhadap eksistensi Allah (ay. 12//Mzm 14:1-4//53:1-4).

  1. Kekuatan dosa yang merasuk seluruh sisi kehidupan.

Ayat 13-17 menyebutkan berbagai bagian tubuh manusia yang terkait dengan dosa: tenggorokan, lidah, bibir, mulut, kaki, mata. Pikiran manusia pun dikontaminasi oleh dosa (ay. 11). Dalam istilah teologis ini disebut dengan ‘total depravity’ (kerusakan total’). Manusia memang bisa melakukan kebaikan dalam batas tertentu, tetapi kerusakan total yang mereka alami menghalangi mereka untuk berbuat baik seperti yang seharusnya.

  1. Jangkauan dosa yang mencakup semua manusia.

Universalitas dosa di sini diungkapkan dalam dua sisi. Secara negatif, “tidak ada seorang pun” yang benar, yang mencari Allah, dsb. Secara positif, “semua orang” telah menyeleweng, tidak berguna, dsb. Kata “semua” dalam PB memang tidak selalu merujuk pada setiap individu (misalnya 1Tim 2:2, 4) dan ditentukan oleh konteks, tetapi pernyataan secara negatif di atas jelas memberikan indikasi yang kuat bahwa “semua orang” di sini adalah “setiap orang”.

 

Ayat 19-20. Sebagian sarjana menemui kesulitan dalam mengharmonisasikan nuansa ke-Yahudian (ay. 19a) dan keuniversalitasan (ay. 19b) dalam ayat ini. Mengapa Paulus tampaknya lebih berfokus pada bangsa Yahudi di  ayat 19-20? Ada tiga jawaban bagi pertanyaan di atas:

Ayat-ayat PL yang dikutip di 3:10-18 pada konteks aslinya tidak merujuk langsung pada bangsa Israel, sehingga Paulus merasa perlu menegaskan lagi bahwa universalitas dosa di ayat 10-18 mencakup bangsa Yahudi juga (ay. 9).

Paulus menggunakan metode penafsiran rabi – dari yang utama ke yang kecil: apa yang benar pada hal-hal yang signifikan pasti berlaku untuk hal-hal yang kurang signifikan. Dengan kata lain, Paulus ingin menyatakan bahwa kalau bangsa Yahudi sebagai umat Allah saja tidak bebas dari murka Allah, apalagi bangsa-bangsa lain yang bukan umat Allah. Kalau bangsa Yahudi saja tidak bisa dibenarkan melalui perbuatan mereka menaati Taurat, apalagi bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki Taurat (Cranfield).

Penekanan utama dalam 1:18-3:20 bukan terletak pada keberdosaan bangsa Yunani (karena hal itu sudah bisa diasumsikan sebelumnya), tetapi pada keberdosaan bangsa Yahudi (Moo).

 

Ada dua implikasi yang ditarik Paulus dari ayat 9-18:

Semua manusia di dunia berada dalam murka Allah (ay. 19).

Tidak ada seorang pun yang mampu membenarkan diri di hadapan Allah melalui perbuatannya.

Implikasi tersebut penting bagi Paulus sebelum ia menjelaskan secara panjang lebar tentang pembenaran oleh iman (terutama 3:21-26). Pembenaran oleh iman merupakan satu-satunya cara manusia bisa dibenarkan di hadapan Allah, karena mereka semua telah dikuasai oleh dosa, sehingga tidak mungkin mengerjakan kebenaran mereka sendiri.

 

 

 

 

PEMBENARAN OLEH IMAN (ROMA 3:21-26)

 

Para sarjana umumnya menganggap bagian ini sebagai inti seluruh pembahasan dari 3:21-4:25, bahkan inti seluruh surat Roma. Bagian-bagian selanjutnya hanya merupakan elaborasi dari salah satu aspek inti ayat 21-26. Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang menunjukkan kekhususan bagian ini:

  • Pengulangan kata kunci. Dalam 6 ayat ini kata benda “kebenaran Allah” muncul sebanyak 4 kali (ay. 21, 22, 25, 16). Kata kerja “membenarkan” muncul 2 kali (ay. 24, 26) dan kata sifat “benar” muncul sekali (ay. 26).
  • Nuansa proklamatoris bagian ini.
  • Penekanan pada “tetapi sekarang” (Nuni de) yang diikuti oleh perfect.
  • Jumlah kata kerja yang minim dalam bagian ini (hanya ada 5 kata kerja finite).
  • Deretan prepositional phrase yang berurutan tanpa penggunaan kata sambung. Dalam ayat 25-26 terlihat …evn…eivj…dia….evn…proj…evn…eivj

 

Bagian ini terdiri dari 4 bagian besar:

Manifestasi pembenaran Allah (ay. 21-22a)

Alasan: semua manusia berdosa (ay. 22b-23)

Sumber: penebusan dan pendamaian Kristus (ay. 24-25a)

Tujuan: menunjukkan bahwa Allah adalah benar dalam penghakiman-Nya (ay. 25b-26)

 

Manifestasi pembenaran Allah (ay. 21-22a)

Frase “kebenaran Allah dinyatakan” di ayat 21 mengingatkan kembali pada tema surat Roma 1:17. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa 1:18-3:20 merupakan pendahuluan bagi tema ini. Para sarjana umumnya melihat ungkapan “tetapi sekarang” (ay. 21) sebagai kontras antara era lama (dominasi dosa, 1:18-3:20) dengan era keselamatan yang baru. Kebenaran Allah (status benar yang diberikan Allah) di sini bukanlah pemikiran baru. Konsep ini berhubungan dengan Perjanjian Lama (band. 3:21 dan 1:2). Ada 4 hal yang menjelaskan pembenaran Allah di bagian ini:

  1. Pembenaran Allah dinyatakan tanpa Taurat (ay. 21a).

Frase ‘tanpa hukum Taurat’ (cwrinomou) bisa menerangkan kebenaran Allah (“kebenaran Allah tanpa hukum Taurat dinyatakan…”, KJV, NIV) atau dinyatakan (“kebenaran Allah dinyatakan tanpa hukum Taurat”, RSV, ASV, NAB, LAI:TB). Pilihan kedua tampaknya lebih tepat, karena Paulus tidak sedang membandingkan dua macam pembenaran, tetapi mengajarkan cara pembenaran Allah dinyatakan. Para sarjana berbeda pendapat tentang arti frase “tanpa hukum Taurat”. Mayoritas menafsirkan frase ini dengan “tanpa melakukan hukum Taurat”, sehingga ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran Allah diperoleh manusia tanpa melakukan hukum Taurat (Calvin, Murray, Cranfield). Arti ini, bagaimanapun, kurang sesuai dengan ayat ini. Fokus ayat ini bukanlah bagaimana manusia bisa menerima pembenaran (dari sisi manusia), tetapi bagaimana pembenaran tersebut dinyatakan (dari sisi Allah). Hukum Taurat di sini harus dimengerti sebagai suatu sistem – suatu tahap dalam penyingkapan sejarah keselamatan – yang mencakup identitas bangsa Yahudi. Artinya, Allah menyatakan kebenaran-Nya terlepas dari semua parameter nasional dan religius yang ditentukan oleh hukum Taurat (Dunn, Moo).

  1. Pembenaran Allah disaksikan oleh kitab Taurat dan para nabi (ay. 21b).

Diskontinuitas karya Allah di ayat 21a tidak berarti bahwa Allah memberlakukan pola keselamatan yang berbeda antara PL dan PB. Pembenaran yang akan dibahas dalam ayat 21-26 merupakan konsep yang disaksikan oleh kitab Taurat dan para nabi. Frase ‘oleh kitab Taurat dan para nabi’ (u`po. tou/ no,mou kai. tw/n profhtw/n) merujuk pada seluruh bagian PL (Mat 5:17; 7:12; 11:13; 24:14; Luk 16:16; Yoh 1:45; Kis 13:15; 24:14; 28:24; 4Mak 18:10).

  1. Pembenaran Allah diberikan melalui iman dalam Yesus (ay. 22a).

Berbeda dengan bangsa Yahudi yang mencoba mendirikan kebenaran melalui ketaatan Taurat, pembenaran Allah di sini diperoleh melalui iman (dia. pi,stewj). Paulus seringkali menggunakan preposisi evk yang dihubungkan dengan “iman” (pi,stij) atau “percaya” (pisteu,w), tetapi ia juga beberapa kali memakai preposisi dia. (Rom 3:25, 30; 2Kor 5:7; Gal 2:16; 3:14, 26; Ef 2:8; 3:12, 17; Fil 3:9; Kol 2:12; 1Tes 3:7; 2Tim 3:15). Frase pembenaran oleh iman atau melalui iman sebenarnya merujuk pada hal yang sama: iman adalah alat/instrumen untuk menerima pembenaran, bukan agen/pribadi yang membenarkan. Untuk menghindari kerancuan, mungkin lebih baik menggunakan frase ‘melalui iman’.

 

Sejumlah sarjana mengusulkan interpretasi lain tentang dia. pi,stewj VIhsou/ Cristou/. Mereka berpendapat bahwa pi,stij di sini berarti kesetiaan (band. 3:3) dan genitif VIhsou/ Cristou sebagai genitive of possession atau genitive of subjective, sehingga ayat 22a diterjemahkan “kebenaran Allah melalui iman milik Yesus Kristus” atau “kebenaran Allah melalui kesetiaan yang ditunjukkan oleh Yesus”. Mereka berargumentasi bahwa kata pisti,j jika diikuti oleh genitif personal (merujuk pada pribadi), genitif tersebut biasanya berfungsi sebagai genitive of possession atau subjective genitive (band. 4:12 dan 16). Frase “bagi semua yang percaya” (ay. 22) juga dianggap pengulangan yang tidak diperlukan apabila pisti,j di sini merujuk pada iman manusia.

 

Bagaimanapun, terjemahan tradisional mungkin lebih bisa diterima. Bukti linguistik yang dipaparkan di atas sebenarnya tidak terlalu meyakinkan. Ada banyak contoh yang menunjukkan bahwa genitif nama ilahi yang mengikuti kata pisti,j justru berfungsi sebagai objective genitive (Mar 11:22; Kis 3:16; Yak 2:1; Wah 2:13; 14:12; juga Kol 2:12; Fil 1:27; 2Tes 2:13). Dengan kata lain, fungsi genitif yang mengikuti kata pisti,j harus ditentukan oleh konteks. Penggunaan kata pisti,j di 3:21-4:25 sendiri lebih mendukung pada  terjemahan tradisional (merujuk pada iman manusia).

 

  1. Pembenaran Allah diberikan kepada semua orang yang percaya (ay. 22a).

Dengan memahami pisti,j sebagai iman manusia, frase “bagi semua orang yang percaya” sebenarnya bukan merupakan pengulangan yang tidak memiliki arti. Penekanan frase ini bukan pada kata “percaya” tapi pada “bagi semua orang”, karena ide tentang “percaya” sudah termasuk dalam frase “melalui iman dalam Yesus Kristus”. Universalitas ini bukanlah universalisme, karena semua di sini dalam kategori “yang percaya”. Ide ini ditekankan Paulus beberapa kali (1:16; 10:4, 11-12) untuk menunjukkan bahwa pembenaran Allah bukan hanya eksklusif bagi bangsa Yahudi saja.

 

Alasan: semua manusia berdosa (ay. 22b-23)

Kata sambung “karena” (gar) di ayat 22b merupakan alasan yang menerangkan mengapa pembenaran disediakan bagi semua orang yang percaya. Posisi bangsa Yahudi dan Yunani adalah sama. Mereka tidak memiliki perbedaan apapun dalam konteks penghakiman (ay. 22b, band. 2:9; 3:9), karena mereka semua telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (ay. 23). Bentuk aorist pada kata h[marton (“telah berdosa”) bisa merujuk pada kesatuan dengan dan di dalam Adam (Dunn, 5:12), tetapi mayoritas sarjana berpendapat bahwa aorist di sini merupakan pengumpulan seluruh dosa semua orang di masa lampau ke satu waktu tertentu (Cranfield, Moo). Frase “kehilangan kemuliaan Allah” merupakan konsekuensi dari h[marton. Perubahan tense ke present dan keterangan pa,ntej (“semua”) mengindikasikan bahwa konsekuensi ini juga dialami oleh orang percaya sampai saat ini. Menurut pemahaman Yahudi, kemuliaan Allah ini adalah kemuliaan yang diberikan kepada manusia sebelum ia jatuh ke dalam dosa dan akan direstorasi kembali pada akhir jaman (Yes 35:2). Pemahaman ini mungkin yang sedang dimaksud Paulus di sini (5:2; 8:18, 21, 30). Moo melihat hal ini dalam kaitan dengan keserupaan dengan  Kristus (Rom 8:29-30; Fil 3:21).

 

Sumber: penebusan dan pendamaian Kristus (ay. 24-25a)

Bagian ini menjelaskan sumber pembenaran orang berdosa di ayat 23. Mengapa hanya beriman saja bisa membawa seseorang dinyatakan benar oleh Allah? Semua itu bersumber dari anugerah Allah. Penakanan pada hal ini terlihat dari pemakaian dwrea.n (“secara cuma-cuma”) dan th/| auvtou/ ca,riti (“oleh anugerah-Nya”). Ada dua aspek karya Yesus Kristus yang disinggung dalam bagian ini:

  1. Penebusan (avpolu,trwsij, ay. 24).

Kata avpolu,trwsij secara prinsip berarti pembebasan melalui pembayaran suatu harga. Pada abad ke-1 dan ke-2 SM kata ini dipakai untuk penebusan tawanan perang, budak atau penjahat. Dalam PL avpolu,trwsij dipakai untuk pembebasan budak (Im 25:47), pembebasan dari perbudakan di Mesir (Kel 15:13) atau Babel (Yes 43:1). Pandangan tradisional biasanya mengaitkan kata ini dengan penebusan manusia dari perbudakan dosa (band. ps. 6).

  1. Pendamaian (i`lasthrion, ay. 25a).

Konsep ini telah menimbulkan kesulitan bagi sebagian sarjana, karena ide tentang Allah yang disiratkan melelaui kata tersebut tidak berbeda dengan dewa kafir yang sedang marah dan meminta sesuatu sebagai bayaran pendamaian. Bagaimanapun, ada dua perbedaan mendasar antara konsep Allah dan dewa kafir. Pertama, kemarahan Allah merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dari naturnya yang mahakudus. Kedua, Allah sendiri yang berinisiatif mengadakan pendamaian (ay. 25a). Terlepas dari sanggahan yang sering dikemukakan, pandangan yang menghubungkan istilah ini dengan “tutup pendamaian” di ruang mahakudus (Im 16:2) tetap lebih masuk akal. 21 dari 27 pemunculan kata ini di LXX merujuk pada “tutup pendamaian”. Kata ini muncul di Ibr 9:5 dengan arti yang sama. Jikalau alusi ini benar, maka ayat 25 merupakan penggenapan dari tipologi di Im 16:2. Kalau duhulu tutup pendamaian tersebut tersembunyi dalam ruang maha kudus, sekarang Yesus ditampilkan (proe,qeto, band. mayoritas EV’s kontra LAI:TB) sebagai tutup pendamaian yang sejati.

 

Tujuan: menunjukkan bahwa Allah adalah benar dalam penghakiman-Nya (ay. 25b-26)

Hampir semua versi melihat prepositional phrase eivj e;ndeixin th/j dikaiosu,nhj auvtou/ (“untuk indikasi kebenaran-Nya”) menunjukkan tujuan dari pendamaian Kristus. Pendamaian Kristus menunjukkan kebenaran Allah. Apakah arti “kebenaran Allah” di sini? Para sarjana berbeda pendapat tentang arti frase ini. Menimbang kekuatan argumentasi masing-masing, pandangan tradisional yang mengambil “kebenaran Allah” di sini sebagai salah satu aspek sifat Allah (keadilan-Nya) tampaknya lebih bisa diterima.  Interpretasi lebih sesuai dengan ayat 25b: kesabaran Allah dalam membiarkan dosa-dosa yang terdahulu bisa menimbulkan kesan Allah tidak adil, karena keadilan-Nya seharusnya menuntut semua dosa tersebut ditindak. Kata “yang terdahulu” merujuk pada periode waktu sebelum salib (Kis 14:16; 17:30). Jadi, pendamaian yang dilakukan Kristus bertujuan untuk menunjukkan bahwa Allah adalah benar (adil) dan membenarkan orang berdosa (ay. 26).

 

 

 

 

 

 

SOLA FIDE (ROMA 3:27-31)

 

Bagian ini menjelaskan salah satu aspek pembenaran oleh iman di ayat 21-26, yaitu masalah iman. Tiga pertanyaan retorik yang dipakai dalam bagian ini sekaligus berfungsi sebagai indikator alur pemikiran Paulus.

 

Implikasi pembenaran oleh iman: manusia tidak bisa bermegah (ay. 27-28)

Argumentasi bagi pembenaran oleh iman: Allah adalah Allah semua orang (ay. 29-30)

Antisipasi: iman tidak membatalkan Taurat (ay. 31)

 

Implikasi: manusia tidak memiliki alasan untuk bermegah (ay. 27-28)

Setelah menjelaskan bahwa pembenaran hanya bisa dicapai melalui iman (ay. 21-22), Paulus sekarang menjelaskan implikasi dari konsep ini dalam kaitan dengan kemegahan manusia. Sikap memegahkan diri merupakan masalah semua manusia (band. 1:30), namun dalam bagian ini Paulus tampaknya memfokuskan pada orang Yahudi.

  • Paulus sebelumnya telah menyinggung tentang sikap orang Yahudi yang bermegah pada relasi khusus mereka dengan Allah (2:17) dan pada Taurat (2:23).
  • Ayat 27-31 menyiratkan usaha Paulus untuk menekankan lagi persamaan antara bangsa Yahudi dan Yunani.

 

Sebagian sarjana menganggap kemegahan yang dimaksud di sini adalah kemegahan bangsa Yahudi pada relasi khusus mereka dengan Allah sebagai umat perjanjian. Kemegahan seperti ini sekarang tidak berlaku lagi (salah), karena pembenaran Allah telah dinyatakan tanpa Taurat. Dengan kata lain, kemegahan tersebut dalam proses sejarah keselamatan sudah tidak berlaku lagi pasca penebusan Kristus. Bagaimanapun, pandangan ini tampaknya kurang tepat. Paulus tidak sedang membahas kemegahan dalam konteks sejarah keselamatan. Kemegahan tetap merupakan sesuatu yang salah di segala tahap sejarah keselamatan. Hal ini tampak dari uraian Paulus selanjutnya di pasal 4 yang menunjukkan bahwa Abraham juga tidak memiliki alasan untuk bermegah (4:1-8). Kemegahan yang dimaksud di sini adalah pikiran yang menganggap perbuatan manusia memiliki peranan dalam keselamatan. Memiliki dan melakukan Taurat bukanlah suatu kesalahan. Yang salah adalah perasaan telah berjasa dalam mencapai keselamatan. Perasaan (kemegahan) seperti ini selalu salah.

 

Para sarjana dan penerjemah berbeda pendapat tentang arti kata no,moj yang muncul dua kali dalam ayat 2. Paulus sebelumnya telah menggunakan kata no,moj sebagai rujukan pada Taurat, tetapi arti ini tampaknya tidak sesuai dengan konteks ayat 27-28.

ASV    Where then is the glorying? It is excluded. By what manner of law? of works? Nay: but by a law of faith.

NIV     Where, then, is boasting? It is excluded. On what principle? On that of observing the law? No, but on that of faith.

RSV    Then what becomes of our boasting? It is excluded. On what principle? On the principle of works? No, but on the principle of faith.

Pendapat yang lebih tepat adalah yang mengartikan no,moj secara umum, yaitu sebagai prinsip atau aturan (RSV). Inti jawaban terletak pada frase dia. poi,ou no,mouÈ. Seandainya di sini artinya Taurat, maka frase ini diterjemahkan “atas Taurat apa?”. Terjemahan ini jelas tidak sesuai dengan pembahasan di ayat 27-28.

 

Argumentasi bagi pembenaran oleh iman: Allah adalah Allah semua orang (ay. 29-30)

Paulus dalam 3:22b-23 telah menjelaskan bahwa kesamaan status bangsa Yahudi dan Yunani sebagai orang berdosa merupakan dasar bagi pembenaran oleh iman bagi semua orang. Dalam bagian ini ia memberikan alasan lain bagi doktrin ini. Pertanyaan retorik (memakai ouvci.) di ayat 29 mengindikasikan bahwa Paulus sedang memaparkan pandangan yang sudah diketahui dan pasti disetujui oleh bangsa Yahudi. Ia mulai dengan kepercayaan terhadap keesaan Allah (Ul 6:4). Kepercayaan ini mengimplikasikan bahwa tidak ada allah lain selain Yahweh. Yahweh adalah satu-satunya Allah bagi semua manusia. Konsep ini juga diyakini oleh bangsa Yahudi, meskipun mereka membedakan relasi Allah dengan bangsa Yahudi dan bangsa lain. Jikalau Allah adalah Allah semua bangsa – seperti diyakini oleh semua orang Yahudi – maka Ia juga akan menerapkan pola keselamatan yang sama kepada semua bangsa. Pola ini harus melewati batasan Taurat dan sunat, karena tidak semua bangsa memiliki dua hal tersebut.

 

Antisipasi: iman tidak membatalkan Taurat (ay. 31)

Setelah menegaskan beberapa kali bahwa iman bertolak belakang dengan perbuatan, Paulus mengantisipasi pertanyaan (kesalahpahaman) yang mungkin timbul berkaitan dengan relasi antara iman dan Taurat. Iman tidak membatalkan Taurat, tetapi, sebaliknya, meneguhkannya. Ungkapan ini menimbulkan pendapat beragam di kalangan sarjana berkaitan dengan fungsi no,moj di sini: menyaksikan? menyatakan kesalahan? atau menuntut ketaatan?

  • Sebagian sarjana melihat no,moj di sini sebagai sinonim dari seluruh PL (3:19, 21; 4:1-3). Dengan demikian, ‘iman meneguhkan no,moj‘ berarti pembenaran oleh iman meneguhkan kesaksian PL. Pandangan ini memiliki kelemahan mendasar. Seandainya Paulus ingin memakai no,moj dalam arti tersebut, ia pasti akan memakai ungkapan “Taurat dan kitab para nabi” (3:21) atau “Kitab Suci” (Gal 3:8).
  • Sebagian melihat no,moj dalam arti Taurat yang menunjukkan keberdosaan manusia (3:19; Gal 3:15-4:7). Dalam arti ini, pembenaran oleh iman tidak membatalkan Taurat. Taurat justru telah menyiapkan dasar bagi pembenaran oleh iman. Walaupun pandangan ini lebih baik daripada yang pertama, namun makna no,moj seperti ini tidak sesuai dengan konteks 3:27-30.
  • Sebagian melihat no,moj dalam arti tuntutan/perintah yang harus ditaati. Arti ini lebih sesuai dengan arti no,moj di ayat 28. Selain itu, arti ini membuat antisipasi Paulus di ayat 31 menjadi lebih masuk akal.

 

Permasalahan selanjutnya adalah batasan “iman meneguhkan Taurat” – sedangkan no,moj di sini berarti tuntutan-tuntutan Taurat. Apakah orang Kristen dituntut melakukan seluruh perintah Taurat? Beberapa sarjana setuju bahwa orang Kristen terikat pada tuntutan moral (bukan seremonial dan sipil) Taurat. Beberapa menganggap kasih sebagai pemenuhan Taurat (13:8-10; Mat 22:39-40). Paulus sangat mungkin menegaskan bahwa iman kepada Yesus merupakan pemenuhan tuntutan Taurat. Dalam Roma 8:4 ia mengajarkan bahwa mereka yang beriman kepada penebusan Yesus dan didiami oleh Roh Kudus telah memenuhi tuntutan Taurat (Yer 31:33-34?).

 

ABRAHAM DIBENARKAN KARENA IMAN (ROMA 4:1-25)

 

Bagian ini memiliki proposisi yang sama dengan 3:27-31, yaitu pembenaran oleh iman meniadakan kemegahan manusia (3:27 dan 4:1-2). Kesamaan tema inilah yang menghubungkan dua bagian tersebut. Ada dua tujuan utama Paulus dalam mengelaborasi hidup Abraham di pasal 4.

Tujuan polemis.

Bangsa Yahudi bukan hanya menganggap Abraham sebagai bapa mereka (Yes 51:1-2; m. Qidd. 4.14), tetapi juga sebagai model kualifikasi relasi Allah dengan umat-Nya. Abraham dianggap sempurna dalam seluruh perbuatannya (Jub 23:10), tidak berdosa (Pr. Man. 8) dan tidak ada orang lain seperti Abraham dalam kemuliaan (Sir 44:19; 1Mak 2:52; m. ‘Abot 5:3; Philo, On Abraham 52-54). Ia bahkan dianggap telah menaati Taurat dengan sempurna sebelum Taurat itu diberikan (M. Qidd. 4:14; Sir 44:19-21). Pendeknya, Paulus ingin membuktikan bahwa semua pandangan tersebut tidak sesuai dengan PL. Abraham bukan merupakan suatu perkecualian dalam prinsip “pembenaran oleh iman meniadakan kemegahan manusia” (3:27-28).

Tujuan teologis.

Paulus memiliki beberapa tujuan teologis dengan menampilkan Abraham di sini:

Untuk membuktikan bahwa berita yang ia sampaikan merupakan ajaran yang konsisten dengan dan bersumber dari PL (band. 1:2; 3:10-18, 21).

Untuk meletakkan dasar bagi inklusivitas Injil. Paulus bukan hanya membuktikan bahwa Abraham dibenarkan karena iman (4:1-8). Ia justru lebih menekankan implikasi konsep di atas bagi inklusivitas bangsa Yunani.

Abraham dibenarkan sebelum sunat à Abraham juga menjadi bapa bagi bangsa Yunani yang tidak bersunat (4:11-12).

Abraham diberi janji menjadi bapa banyak bangsa dan janji ini tidak didasarkan pada Taurat, melainkan iman à Abraham juga menjadi bapa semua orang yang memiliki iman seperti Abraham, meskipun mereka tidak memiliki Taurat (4:16).

 

Roma 4:1-25 terdiri dari 4 bagian besar:

Dasar: Abraham dibenarkan karena iman, bukan perbuatan (ay. 1-8)

Argumentasi (ay. 9-22)

            Abraham dibenarkan sebelum ia disunat (ay. 9-12)

Abraham dijanjikan menjadi bapa banyak bangsa bukan berdasarkan Taurat, tetapi iman (ay. 13-22)

Implikasi bagi orang Kristen (ay. 23-25)

 

Dasar: Abraham dibenarkan karena iman, bukan perbuatan (ay. 1-8)

Bagian ini dapat dibagi sebagai berikut:

Abraham termasuk dalam hukum iman di 3:26-27 (ay. 1-2)

Dasar: Abraham dibenarkan karena iman (ay. 3. Kejadian 15:6)

Implikasi ayat 3: pembenaran adalah anugerah, bukan upah (ay. 4-5)

Konfirmasi bagi ayat 3: Mazmur 32:1-2.

 

 

Ayat 1-2. Penambahan frase “menurut daging” di ayat 1 merupakan penegasan yang signifikan, karena di bagian selanjutnya Paulus membuktikan bahwa Abraham adalah bapa semua orang (bukan hanya bangsa Yahudi, ay. 12, 16-18). Abraham yang diagung-agungkan bangsa Yahudi sebagai model orang yang dibenarkan karena perbuatan ternyata juga termasuk dalam prinsip di 3:26-27. Ia tidak memiliki alasan apapun di hadapan Allah untuk bermegah (ay. 2).

 

Ayat 3. Kejadian 15:6 merupakan ayat yang dianggap sangat penting dalam kehidupan Abraham. Paulus memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Abraham dibenarkan pada saat ia percaya pada janji Allah di kejadian 15:5. Ada beberapa alasan mengapa Paulus mengutip teks PL dalam pasal ini.

  • Kejadian 15:6 merupakan ayat pertama yang memakai kata “percaya” (!m;a’).
  • Kejadian 15:6 merupakan ayat pertama dan salah satu ayat dari segelintir bagian PL yang menghubungkan “iman” dan “kebenaran”.
  • Kejadian 15:6 terkait dengan janji bahwa Abraham akan menjadi bapa bagi banyak bangsa (Kej 15:4). Kaitan inilah yang akan dielaborasi lebih lanjut dalam pasal 4.

 

Ayat 4-5. Ayat 4-5 berfungsi untuk menerangkan kata “diperhitungkan” (logi,zomai)  yang ada di ayat 3. Signifikansi kata ini terlihat dari pemunculan sebanyak 5 kali dalam ayat 3-8. Paulus membuat kontras antara hutang/hak (ovfei,lhma) dan hadiah (ca,rij). Orang yang bekerja menerima pahala sebagai haknya, karena ia telah berusaha mendapatkannya. Mengingat pembenaran orang berdosa diberikan melalui iman (tanpa perbuatan), maka pembenaran tersebut merupakan anugerah dari Allah (ay. 5).

 

Ayat 6-8. Bagian ini diyakini sebagai contoh aplikasi metode exegesis para rabi yang disebut dengan gezerah shewa: satu teks utama dibahas, lalu diperjelas atau diteguhkan dengan ayat lain yang memiliki kesamaan/paralel verbal. Walaupun dugaan ini benar, tetapi Paulus tidak sekedar mengabungkan Kej 15:6 dan Mzm 32:1-2 dengan paralelisme kata “diperhitungkan” (logi,zomai). Mzm 32:1-2 menghubungkan pengampunan dengan ‘tidak diperhitungkannya dosa’. Hal ini mengajarkan beberapa hal tentang pembenaran:

  • Pengampunan merupakan bagian integral dari pembenaran.
  • Pembenaran berkaitan dengan status (tidak diperhitngkan sebagai dosa), bukan transformasi moral. Yang berubah adalah relasi orang berdosa dengan Allah.

 

Abraham dibenarkan sebelum ia disunat (ay. 9-12)

Bagian ini memiliki tiga fungsi dalam pasal 4. Pertama, ayat 9-12 merupakan argumentasi Paulus yang pertama untuk membuktikan bahwa Abraham dibenarkan berdasarkan iman (band. 4:9b dan 4:3). Kedua, ayat 9-12 merupakan penjelasan tentang cakupan anugerah di ayat 6-8 (band. kata sambung ‘karena itu’ dan ‘berkat ini’). Ketiga, ayat 9-12 meletakkan dasar bagi inklusivitas bangsa Yahudi (band. ayat 11).

 

Pembahasan Paulus di sini disajikan secara induktif. Ia mulai dengan sebuah pertanyaan: apakah anugerah pembenaran untuk orang tak bersunat juga? (ay. 9). Selanjutnya ia menjelaskan beberapa hal tentang sunat Abraham (ay. 10-11a). Dari pembahasan ini ia menarik implikasi (ay. 11b-12). Untuk mempermudah, struktur ayat 9-12 dapat dibagi sebagai berikut:

Pertanyaan: apakah orang tak bersunat tercakup dalam anugerah pembenaran (9)

Dasar jawaban (10-11a)

Abraham dibenarkan sebelum ia disunat (10)

Sunat hanyalah meterai dari status benar yang ia peroleh sebelumnya (11)

Implikasi: yang penting adalah iman, bukan bersunat/tidak (11b-12)

 

 

Ayat 9. Terjemahan literal ayat 9a adalah “karena itu, apakah berkat ini (o` makarismo.j… ou-toj) atas (evpi.) orang bersunat atau juga atas (evpi.) orang yang tidak bersunat?”. Artikel di depan o` makarismo.j dan kata ganti ou-toj penunjuk mengindikasikan bahwa Paulus memaksudkan berkat di ayat 7-8. Ada kemungkinan Paulus mengenal tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa pengampunan di Mzm 32 hanya berlaku untuk bangsa Israel (Pesiq. R. 45, 185b).

 

Ayat 10-11a. Paulus mendasarkan argumentasinya pada faktor kronologis hidup Abraham. Bentuk pertanyaan yang dipakai mengindikasikan bahwa lawan debat Paulus duah mengetahui kronologi tersebut. Abraham dibenarkan di Kej 15:6, sedangkan ia disunat di Kej 17. Interval waktu antara dua teks tersebut diduga para rabi sekitar 29 tahun. Setelah mengingatkan bahwa Abraham disunat  setelah ia dibenarkan, Paulus selanjutnya menjelaskan hubungan antara sunat dan pembenaran. Apakah guna sunat dalam pembenaran Abraham? Jawaban Paulus berakar dari ucapan Allah di Kej 17:11 “itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu”. Sunat hanyalah meterai dari kebenaran oleh iman yang sudah diberikan Allah sebelum ia bersunat.

 

Ayat 11b-12.  Bagian ini merupakan implikasi dari ayat 10-11a. Karena Abraham dibenarkan melalui iman sebelum ia bersunat, maka ia juga menjadi bapa bagi orang-orang tidak bersunat yang beriman (ay. 11b). Karena Abraham disunat sebagai tanda ia sudah dibenarkan, maka ia juga menjadi bapa bagi orang-orang bersunat yang mengikuti langkah imannya (ay. 12). Dengan kata lain, yang paling penting adalah iman. Bagian ini merupakan konsep yang sangat penting. Bagi bangsa Yahudi, memiliki Abraham sebagai bapa secara jasmani (band. 4:1) merupakan sesuatu yang sangat eksklusif dan memberikan kemegahan spiritual. Para proselit bahkan dilarang memanggil Abraham sebagai bapa mereka (Barret). Di sini Paulus menginterpretasikan ulang konsep Yahudi tentang “ketrurunan Abraham”. Reinterpretasi ini juga sejalan dengan pemahaman Yohanes Pembaptis (Mat 3:9) dan Yesus (Luk 19:8-9; Yoh 8:33-40).

 

Abraham dijanjikan menjadi bapa banyak bangsa bukan berdasarkan Taurat, tetapi iman (ay. 13-22)

Tema bagian ini adalah janji Allah kepada Abraham. Kata benda ‘janji’ muncul 4 kali (ay. 13, 14, 16, 20), sedangkan kata kerjanya muncul sekali (ay. 14). Bagian ini merupakan argumentasi Paulus kedua untuk membuktikan bahwa Abraham dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan.

Ayat 13-22 dapat dibagi menjadi dua bagian besar:

Janji Abraham diberikan bukan berdasarkan Taurat (ay. 13-15)

Janji Abraham diberikan berdasarkan iman (ay. 16-22)

 

Ayat 13-15. Paulus perlu membahas posisi Taurat dalam topik di pasal 4, karena orang Yahudi mempercayai bahwa seseorang hanya bisa menjadi keturunan Abraham jikalau ia memikul kuk Taurat. Pembahasan tentang Taurat di sini berbeda dengan argumentasi Paulus di Gal 3. Di Gal 3:15-17 Paulus mendasarkan argumentasinya pada kronologi Taurat yang baru diberikan sekitar 430 tahun setelah Abraham. Dalam Rom 4:13-22 ia memakai pendekatan yang agak berbeda.

 

Tiga kata sambung ga.r (‘karena’) di masing-masing ayat memberikan alasan bagi pernyataan sebelumnya.

 

Orang bersunat/tidak menjadi keturunan Abraham melalui iman (9-12)

 

Karena (ga.r) janji kepada Abraham diberikan tidak melalui Taurat (13)

 

 

Karena (ga.r) kalau melalui Taurat, janji itu akan sia-sia (14)

 

 

Karena (ga.r) Taurat justru menimbulkan murka (15)

 

Janji di ayat 13 tentang menjadi ahli waris dunia tidak memiliki rujukan eksplisit di PL. Paulus tampaknya memang tidak memikirkan teks tertentu. Ia hanya menyarikan elemen-elemen penting janji Allah kepada Abraham: keturunan yang sangat besar (Kej 12:2; 13:16; 15:5; 17:4-6, 16-20; 22:17), memiliki tanah (Kej 13:15-17; 15:12-21; 17:8), sarana berkat bagi semua bangsa di muka bumi (Kej 12:3; 18:18; 22:18), terutama elemen kedua. Ada indikasi bahwa janji memiliki tanah selanjutnya dimengerti dalam pengertian mewarisi seluruh bumi (Yes 55:3-5; Sir 44:21; Jub 22:14; 32:19; 2 Apoc. Bar. 14:13; 51:3). Mengapa jika diberikan melalui Taurat maka iman menjadi sia-sia dan janji tersebut batal? Karena tidak ada seorangpun yang sanggup memenuhi tuntutan Taurat (ps. 2:1-3:8, terutama 19-20). Tidak ada seorang pun yang bisa memenuhi tuntutan Taurat, karena itu Taurat justru membawa murka (ay. 15). Ayat 15 tidak mengajarkan bahwa kalau tidak ada Taurat berarti tidak ada dosa.

Kata ‘pelanggaran’ (para,basij) berbeda dengan dosa. para,basij merujuk pada dosa khusus yang melibatkan tindakan melampaui batasan atau aturan (TDNT). Dengan kata lain, setiap pelanggaran adalah dosa, tetapi tidak setiap dosa adalah pelanggaran. Paulus hanya menyatakan tidak ada pelanggaran seandainya tidak ada Taurat.

Konsep murka di sini harus dimengerti dalam konteks “menindas kebenaran”, sehingga manusia tidak dapat berdalih (1:18-20; 2:1-5). Taurat membawa murka dalam arti eksistensi Taurat membuat orang tidak bisa berdalih pada penghakiman Allah. Eksistensi Taurat justru menjadi justifikasi bagi murka Allah.

Tanpa Taurat pun manusia telah berdosa (1:18-32). Taurat, sebagai wahyu khusus, justru memberikan konfirmasi lebih berat terhadap keberdosaan orang yang memilikinya.

 

Ayat 16-22. Setelah membahas dari segi negatif (janji tidak diberikan melalui Taurat), Paulus sekarang memaparkan sisi positif. Ayat 16a mengembalikan pembahasan lagi pada topik anugerah pembenaran melalui iman di ayat 1-8. Ayat 16-22 terdiri dari dua bagian penting:

Implikasi pemberian janji melalui iman (ay. 16-17)

Janji tersebut merupakan anugerah (ay. 16a)

Janji itu berlaku untuk semua orang yang beriman (ay. 16b-17a)

Diskripsi iman Abraham (ay. 17b-22)

 

Diskripsi tentang iman Abraham dijelaskan secara panjang lebar mulai ayat 17b-22 untuk memberikan penekanan pada fakta bahwa Abraham adalah bapa orang beriman. Ayat 17b-22 memaparkan beberapa aspek penting dari iman Abraham.

 

Objek iman (ay. 17)

Melalui dua bentuk participle yang ada, Paulus menjelaskan karakter Allah yang dipercayai oleh Abraham.

  1. Allah yang menghidupkan (zw|opoiou/ntoj) orang mati.

Konsep ini merupakan sesuatu yang umum dalam PL (Ul 32:39; 1Sam 2:6). Paulus mungkin sedang merujuk pada iman Abraham di Kej 22:5 “kami akan kembali”. Yang menarik tentang ayat ini adalah pada jaman Abraham belum ada satu contoh pun seorang mati yang bangkit kembali. Kasus pengangkatan Henokh (Kej 5:24) dalam hal ini sedikit berbeda.

  1. Allah yang memanggil (kalou/ntoj) yang tidak ada menjadi ada.

Frase ini bisa ditafsirkan dalam dua cara. Pertama, terkait dengan konteks Rom 4:17b-22 dan Kej 17, ‘memanggil’ di sini ditujukan pada keturunan-keturunan Abraham yang pada saat itu belum ada tetapi di hadapan Allah eksistensi mereka merupakan suatu yang pasti. Kedua, frase ini lebih bersifat umum yang merujuk balik pada kisah penciptaan. Kata kerja “memanggil” beberapa kali dikaitkan dengan Allah dalam konteks penciptaan (Yes 41:4; 48:13). Dalam istilah teologi, hal ini disebut creatio ex nihilo. Interpretasi pertama tampaknya lebih bisa diterima:

  • Interpretasi 1 lebih sesuai dengan konteks pembicaraan Paulus.
  • Frase kalou/ntoj ta. mh. o;nta w`j o;nta ( “memanggil hal-hal yang tidak ada seolah-olah [w`j] mereka ada”) merupakan sesuatu yang janggal jika dikaitkan dengan penciptaan.

 

 

 

Tantangan iman (ay. 18-19)

Inti ayat 17b-22 terletak pada iman Abraham yang tetap berharap sekalipun tidak ada alasan untuk berharap (ay. 18a; EV’s “in hope believed against hope”). Ketidakadaan alasan untuk berharap didasarkan pada keadaan fisik mereka ketika janji untuk menjadi bapa sejumlah besar bangsa diberikan (ay. 19b). Tubuh Abraham telah sangat lemah (lit. h;dh nenekrwme,non = “telah mati”; EV’s “as good as dead”), karena pada saat ia menerima janji tersebut ia berumur 95 tahun (Kej 17:1). Masalah yang lebih pelik bukanlah usia Abraham (faktanya ia masih bisa memiliki keturunan dari Hagar [Kej 16] dan Kethura [Kej 25]), tetapi kemandulan Sara. Paulus memakai istilah ‘mati’ (ne,krwsin) untuk kemandulan rahim. Istilah ini (juga tubuh Abraham yang telah mati di bagian sebelumnya) mungkin dimaksudkan sebagai kontras terhadap iman Abraham kepada Allah yang menghidupkan orang mati (ay. 17).

 

Kualitas iman (ay. 19-21)

Ada beberapa ungkapan yang dipakai untuk menunjukkan kualitas iman Abraham:

  1. Ia tidak lemah dalam iman (ay. 19).
  2. Ia tidak dibimbangkan oleh ketidakpercayaan (ay. 20a).
  3. Ia dikuatkan dalam iman (ay. 20b).

Frase terakhir ini selanjutnya diterangkan dengan memakai dua participle. Keduanya berfungsi sebagai hasil dari iman Abraham yang dikuatkan.

  • Memberi (j) kemuliaan pada Allah.
  • Diyakinkan secara penuh (j) bahwa Allah mampu melakukan apa yang Ia telah janjikan.

 

Pujian Paulus terhadap iman Abraham di atas, terutama ayat 20a, tampaknya berkontradiksi dengan Kej 17:17 “Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya”. Beberapa mencoba melihat tindakan itu bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan, tetapi kekaguman. Solusi ini justru bertentangan dengan Kej 17:18 dan 18:12-15. Yang lain berpendapat bahwa Paulus sedang memikirkan Kej 15. Solusi ini tetap tidak memuaskan. Ayat 19-20b jelas menunjukkan pertumbuhan iman Abraham sepanjang hidupnya. Solusi yang lebih tepat adalah melihat hal ini dari sisi permanensi waktu. Abraham memang pernah ragu dalam beberapa kesempatan, tetapi keraguan itu bukanlah sikap hati Abraham. Hal itu sifatnya tdiak permanen.

 

Implikasi bagi orang Kristen (ay. 23-25)

Paulus secara implisit sudah mengemukakan beberapa implikasi dari pembahasannya tentang Abraham di ayat 1-22. Bagaimanapun, ayat 23-25 merupakan konklusi dan implikasi eksplisit yang ingin ditekankan Paulus.

 

 

Posisi ayat 23-25 sebagai penutup diskusi di pasal 4 dapat dilihat dari beberapa hal:

  • Ayat 3 dan 22 membentuk sebuah inclusio.
  • Ayat 23 mengikat semua pembahasan dalam lingkup inclusio tersebut.
  • Identitas “kita” di ayat 24 berbeda dengan “kita” di ayat 1. Di ayat 1 Paulus memposisikan diri sebagai keturunan Abraham secara jasmani, sedangkan di ayat 24 ia memposisikan diri sebagai keturunan Abraham secara rohani.

 

Struktur teks ayat 23-25 dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Dan ini ditulis bukan hanya untuk dia

 

Tetapi juga untuk kita

 

yang akan diperhitungkan

yang percaya pada Dia

yang membangkitkan Yesus dari orang mati

 

 

yang diserahkan karena pelanggaran kita

yang dibangkitkan karena pembenaran kita

 

 

 

 

HIDUP SETELAH PEMBENARAN (ROMA 5-8)

 

Mayoritas sarjana menganggap pasal 5-8 merupakan satu pemikiran besar (major section) yang baru dengan 5:1 sebagai transisi.

  • Frase “kita yang telah dibenarkan karena iman” (5:1) merangkum semua pembahasan di 1:18-4:25.
  • Perubahan gaya mulai 5:1. 1:18-4:25 lebih banyak bernuansa perdebatan, terutama dengan orang Yahudi. Paulus sering memakai kata ganti “kamu” atau “mereka”. Fenomena ini berbeda dengan pasal 5-8. Paulus memakai kata ganti “kita”.
  • Perbedaan kata kunci/topik pembahasan antara 1:18-4:25 dengan 5:1-8:39.
    • Kata “iman” dan “percaya” muncul 33 kali di 1:18-4:25, tetapi kata tersebut hanya muncul 3 kali di 5:1-8:39. Dari tiga pemunculan tersebut, dua di antaranya merujuk balik ke 1:18-4:25.
    • Kata “kehidupan” atau “hidup” hanya muncul dua kali di 1:18-4:25, tetapi kata tersebut muncul 24 kali di 5:1-8:39.
  • Kesamaan beberapa kata kunci yang muncul di bagian awal pasal 5 (ay. 1-11) dan bagian akhir pasal 8 (ay. 18-39). Fenomena ini lebih meyakinkan jika dikaitkan pada fakta bahwa kata-kata tersebut hampir tidak ada (sangat jarang sekali) muncul di 5:12-8:17.
Kata kunci 5:1-11 5:12-8:17 8:18-39
Kasih Allah/Kristus 5:5, 8 8:35, 39
Membenarkan 5:1, 9 6:7 8:30(2x), 33
Kemuliaan 5:2 6:4 8:18, 21, 30
Pengharapan 5:2, 4, 5 8:20, 24(4x), 25
Penderitaan 5:3(2x) 8:35
Menyelamatkan 5:9, 10 8:24
Ketekunan 5:3, 4 8:25
  • Di bagian akhir pasal 5, 6, 7 dan 8 selalu ditemukan frase “melalui/dalam/oleh Yesus Kristus Tuhan kita” (5:21; 6:23; 7:25; 8:39). Fenomena ini akan tampak lebih signifikan jika dihubungkan dengan pemunculan frase ini sebanyak dua kali di 5:1-11 (ay. 2 dan 11).

 

Para sarjana mencoba mengusulkan satu topik yang bisa memayungi pasal 5-8. Cranfield menganggap bagian ini sebagai elaborasi lanjutan dari ayat 17 “orang yang benar oleh iman akan hidup”. 1:18-4:25 menjelaskan “orang yang benar oleh iman”, sedangkan 5:1-8:39 menjelaskan “akan hidup”. Bagian 5:1-8:39 diberi tema “Kehidupan yang dijanjikan bagi mereka yang dibenarkan oleh iman”. Pembagian ini bisa dibenarkan dari segi isi 1:18-4:25 dan 5:1-8:39, meskipun penggunaan kutipan PL di ayat 17 sebagai dasar masih bisa dipertanyakan.

 

Bagaimanapun, pembagian Cranfield masih bisa dibuat lebih spesifik. Fokus khusus dalam pembahasan pasal 5-8 adalah kepastian/jaminan keselamatan. Hal ini tampak dari 5:1-11 dan (terutama) 8:18-39. Orang yang sudah dibenarkan oleh iman memang masih mengalami berbagai tantangan, namun tantangan tersebut tidak akan membahayakan keselamatan orang percaya. Orang percaya tidak perlu kuatir tentang maut sebagai implikasi dosa Adam (pasal 5), dosa (pasal 6), Taurat (pasal 7) maupun penderitaan jaman ini (pasal 8).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HASIL PEMBENARAN: DAMAI (ROMA 5:1-11)

 

Para sarjana memiliki usulan tema yang berbeda untuk 5:1-11 (juga 5:12-21). Tema yang diusulkan sangat beragam dan kompleks. Konklusi yang pasti dalam hal tersebut tampaknya sulit dicapai. Secara umum dapat dikatakan bahwa para sarjana menyetujui 5:1-11 berbicara tentang hasil pembenaran, namun mereka belum mencapai konsensus tentang hasil spesifik yang dimaksud Paulus. Ada dua usulan yang sangat mungkin menjadi inti 5:1-11: damai dengan Allah (Cranfield) atau kepastian pengharapan (Moo). Alternatif pertama didukung dengan pemunculan ide ‘pendamaian’ di awal dan akhir 5:1-11. Alternatif kedua didukung oleh isi pembahasan ayat 2-10 yang berpusat pada pengharapan. Ayat 10 secara khusus menyiratkan maksud Paulus yang lebih dari sekedar ‘pendamaian’ dengan Allah. Selain itu, ide tentang kepastian pengharapan di 5:1-11 akan membuat inclusio yang indah dengan ide yang sama di 8:18-39. Walaupun dua ide tersebut saling terkait, namun ide tentang pengharapan tampaknya lebih mendominasi bagian ini.

 

Alur pemikiran ayat 1-11 dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hasil pembenaran (ay. 1-2)

Hidup damai dalam Allah (ay. 1)

Akses pada anugerah (ay. 2a)

Sukacita dalam pengharapan tentang kemuliaan Allah (ay. 2b)

Kepastian pengharapan (ay. 2b-10)

Inti: bermegah dalam pengharapan (ay. 2b)

Penderitaan bahkan  memimpin pada pengharapan (ay. 3-4)

Dasar pengharapan 1: kasih Allah yang besar (ay. 5-8)

Dasar pengharapan 2: pembenaran (ay. 9-10)

Rangkuman: kita bermegah dalam Allah (ay. 11)

 

Ayat 1-2. Frase dikaiwqentej [participle] oun evk pistewj (Es “being therefore justified by faith”) merupakan rangkuman dari pembahasan tentang pembenaran oleh iman di 1:18-4:25. Frase ini diikuti oleh tiga kata kerja indikatif yang menunjukkan hasil dari pembenaran tersebut, meskipun dari segi sintaks dua kata kerja terakhir posisinya tidak sepenting kata kerja pertama.

Orang percaya memiliki damai dengan Allah (ay. 1).

Arti kata “damai” (eivrhnh) bersumber dari pemakaian di LXX (terjemahan untuk ~Alv’). Tidak seperti penggunaan kata eivrhnh di literatur Yunani sekuler yang hanya mengindikasikan ketidakadaan perang atau pertikaian, eivrh,nh di LXX lebih bermakna positif: kemakmuran, kesejahteraan dan keselamatan orang benar. Yang lebih penting adalah penggunaan kata eivrh,nh oleh para nabi untuk menggambarkan keselamatan yang akan dilakukan Allah di akhir jaman (Yes 54:10; Yer 37:26; Yeh 34:25).

Ayat PL yang terpenting mungkin adalah Yes 52:7 (dikutip Paulus di 10:15): “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai (eivrh,nh) dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”. Dalam tulisan Paulus, kata eivrh,nh bukan hanya menyiratkan perasaan aman, meskipun hal itu tidak terpisahkan. eivrh,nh merujuk pada situasi eksternal manusia yang sifatnya objektif: orang percaya yang dulu adalah musuh Allah telah diperdamaikan dengan diri-Nya (ay. 10). Allah membawa orang percaya pada relasi yang baru dengan diri-Nya bahkan ketika mereka masih lemah dan berdosa (ay. 6-8).

Orang percaya memiliki akses ke anugerah (ay. 2a).

NASB menerjemahkan prosagwgh, (LAI:TB “jalan masuk”) dengan “introduksi”. Terjemahan ini menyiratkan proses masuk yang pertama (initial entry) tanpa menjelaskan kontinuitas proses tersebut. Bagaimanapun terjemahan mayoritas EV’s “akses” lebih bisa diterima. Penggunaan tense perfect pada kata “memiliki” (evsch,kamen; LAI:TB “beroleh”) mengindikasikan penekanan pada kontinuitas suatu tindakan. Di tempat lain Paulus juga menggunakan kata prosagwgh, untuk kondisi kekinian orang percaya (Ef 2:18; 3:12). Selain itu, bentuk kata kerja perfect pada frase evn h esthkamen (“di dalamnya kita berdiri”) juga mendukung ide kontinuitas.

Kata “anugerah” (ca,rij; LAI:TB “kasih karunia”) bisa merujuk pada pemberian Allah (11:5-6), tindakan Allah (5:15, 17), dll. Dalam ayat ini ca,rij tampaknya merujuk pada domain (state atau realm). Terjemahan ini didukung oleh frase “dalam kasih karunia kita berdiri” di ayat 2a. Orang percaya tidak lagi di bawah hukum (6:14, 16), tetapi di bawah kasih karunia (5:21). Dengan kata lain, hasil pembenaran oleh iman adalah orang percaya memiliki akses ke dimensi kehidupan yang penuh dengan kasih karunia/anugerah.

Orang percaya bersukacita dalam pengharapan tentang kemuliaan Allah (ay. 2b).

Memiliki kemuliaan Allah yang dulu kurang (3:23) memang baru akan dinikmati di masa yang akan datang, namun sukacita pengharapan tersebut bisa dirasakan sekarang (band. bentuk present kaucw,meqa).  Kata kauca,omai bisa diterjemahkan “bermegah” (LAI:TB, JB) maupun “bersukacita” (mayoritas EV’s). Berdasarkan kontras dengan penderitaan di ayat 3-4, terjemahan mayoritas EV’s tampaknya lebih tepat. Selain itu, ide sukacita memang sering dihubungkan dengan pengharapan (12:12; 15:13). Dalam pemahaman Paulus, pengharapan dalam Kristus lebih daripada sekedar angan-angan. Pengharapan menyiratkan antisipasi yang penuh keyakinan tentang apa yang belum terlihat (5:2-5[3x]; 4:18[2x]; 8:20, 24[3x]; 12:12; 15:4, 13[2x]). “Kemuliaan Allah” di sini memiliki arti yang sama dengan 3:23, yaitu kemuliaan mula-mula yang diberikan Allah kepada manusia sebelum mereka berdosa (band. 8:17, 18, 21, 30). Sikap bersukacita ini harus menjadi karakteristik orang yang sudah dibenarkan melalui iman.

 

Ayat 3-4. Paulus sangat mungkin sedang memikirkan (mengantisipasi) pandangan Yahudi pada waktu ia menulis ayat 3a (Moo). Orang Yahudi berpikir bahwa orang yang benar di mata Allah dapat dilihat dari kemakmuran, kesehatan dan keselamatan fisik orang tersebut (Ul 30; Mzm 73; Yoh 9:1-3). Konsep ini tentu saja akan tampak berkontradiksi dengan fakta bahwa orang yang sudah dibenarkan melalui iman ternyata masih mengalami penderitaan (8:17-30; 35-38). Paulus bukan hanya menegaskan bahwa penderitaan tidak akan menggagalkan pengharapan, tetapi ia juga melihat penderitaan sebagai alasan (objek) untuk bersukacita. Paulus menggunakan kata “penderitaan” (qli/yij) secara beragam dan luas (Rom 2:9; Ef 3:13; Kol 1:24; 2Tes 2:9), sehingga cakupan di sini tidak perlu dibatasi (band. 8:17-22; 35-38). Orang percaya bukan hanya harus bertahan dalam penderitaan, tetapi juga bersukacita dalam penderitaan.

 

Ayat 3b-4 memberikan alasan mengapa orang percaya harus bersukacita dalam penderitaan (lihat participle eivdotej = “kita tahu” yang menerangkan sebab). Konsep tentang penderitaan menimbulkan karakter yang saleh merupakan sesuatu yang umum bagi gereja mula-mula (Yak 1:2-4; 1Pet 1:6b-7; band. frase “kita tahu”). Ada tiga hasil positif jika penderitaan disikapi dengan benar (dengan bersukacita):

Ketekunan (upomonh,) tidak bersifat pasif maupun sementara (2:7; 8:25; 15:4, 5). upomonh, merupakan sikap hidup (komitmen) dalam segala situasi. Di tempat lain Paulus juga menghubungkan dengan sukacita (Kol 1:11) dan pengharapan (1Tes 1:3). Karakter ini harus menandai hidup seorang rasul maupun setiap orang percaya (2Kor 6:4; 2Kor 12:12; 2Tes 1:4; 1Tim 6:11; 2Tim 3:10). Paulus sangat mungkin sedang memikirkan ketekunan Yesus dalam menghadapi penderitaan yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang positif (pembenaran orang percaya; band. Rom 5:6-10; 2Tes 3:5).

  1. Karakter yang teruji.

Ketekunan akan menghasilkan dokimh, (LAI:TB “tahan uji”). Berdasarkan rumpun kata ini (dokimioj) dalam tulisan Paulus, dokimh, di sini lebih tepat dipahami sebagai karakter yang teruji (band. 2Kor 2:9; 8:2; 9:13; 13:3; Fil 2:22).

  1. Pengharapan yang semakin dikuatkan.

Rantai karakter ini berakhir pada pengharapan lagi. Orang yang berhasil meresponi penderitaan dengan baik – karena itu menghasilkan ketekunan dan karakter yang teruji – akan mendapati bahwa pengharapannya akan semakin dikuatkan. Kemampuan seseorang untuk tetap berharap di tengah situasi yang tanpa harapan justru akan menyebabkan pengharapan tersebut menjadi kuat (band. 4:18-19).

 

Ayat 5-8. Paulus menegaskan kepastian pengharapan dengan frase “pengharapan tidak mengecewakan”. Mayoritas EV’s menerjemahkan ouv kataiscu,nei dengan “tidak mengecewakan” (RSV, NIV, NASB), tetapi kata tersebut bisa diterjemahkan “tidak akan memalukan” (KJV, ASV). Keyakinan ini didasarkan pada konsep PL bahwa orang yang berharap kepada Allah tidak akan dipermalukan (Mzm 22:6; 25:3, 20; Yes 28:16[dikutip di 9:33 dan 10:11]).

Selanjutnya ia memberikan alasan (lihat oti yang berfungsi secara causal) mengapa pengharapan orang percaya tidak mengecewakan, yaitu natur kasih Allah yang besar.

  1. Kasih itu diberikan secara pribadi dan melimpah (ay. 5).

Keyakinan pengharapan tidak didasarkan pada persetujuan intelek terhadap kasih Allah maupun sekedar demonstrasi kasih Allah di kayu salib (meskipun itu penting). Keyakinan ini bersifat pribadi (subjektif) melalui karya Roh Kudus. Bentuk perfect evkkecutai (“dicurahkan”) menekankan kontinuitas hasil tindakan tersebut. Kontinuitas ini juga tampak dari pilihan preposisi evn (“dalam”), bukan eivj (“ke dalam”). Selain itu, penggunaan ungkapan “dicurahkan” mengindikasikan jumlah yang melimpah. Kasih Allah bukan hanya diberikan, tetapi dicurahkan (band. Rom 3:15; Tit 3:6). Ide tentang kasih Allah yang melimpah ini sesuai dengan penekanan Rom 5:6-8.

  1. Kasih itu diberikan kepada yang tidak layak menerima (ay. 6-8).

Kesatuan pemikiran ayat 6-8 terlihat dari penggunaan kata avpoqnhskw (“mati”) untuk mengakhiri setiap ayat. Penekanan ayat 6-8 terletak pada ketidaklayakan pihak yang menerima kasih Allah. Hal ini terlihat dari penggunaan frase “ketika kita masih lemah” (ay. 6) dan “ketika kita masih berdosa” (ay. 8). Inti yang ingin disampaikan Paulus terletak pada perbandingan antara kasih Allah dengan kasih manusia (ay. 7).

 

Argumentasi di ayat 7 “Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati” telah menimbulkan kebingungan di antara para sarjana. Beberapa bahkan menganggap ayat 7b sebagai koreksi Paulus terhadap ayat 7a, namun Tertius (16:22) lupa menghapus bagian pertama. Inti permasalahan sebenarnya terletak pada arti kata keterangan molij (LAI:TB “tidak mudah”) dan kata sambung gar (LAI:TB “tetapi”). Kata molij biasanya memang menyiratkan kesulitan dalam mencapai sesuatu (Luk 9:39; Kis 14:18; 27:7-8, 16; 1Pet 4:18), namun arti molij yang tersirat di sini adalah betapa jarangnya tindakan tersebut dilakukan (ASV, KJV, NIV; band. BAGD). Berkaitan dengan penggunaan kata gar, kata ini bisa memiliki arti “walaupun” apabila kata tersebut diulang dalam satu kalimat dengan arti yang sama (NIV, NASB, RSV; band. BAGD). Jika dua penjelasan di atas diterima, maka ayat 7 seharusnya diterjemahkan “sebab sangat jarang seorang mau mati untuk orang yang benar, walaupun untuk orang yang baik seorang bersedia mati”. Orang mungkin bersedia mati untuk orang yang baik (berbuat baik kepadanya [Cranfield]) karena kebaikan orang tersebut telah menjadi ikatan emosional yang kuat. Fenomena ini juga disinggung dalam beberapa literatur Yunani waktu itu (lihat Cranfield). Situasi akan menjadi semakin langka bagi seorang yang bersedia mati untuk orang yang benar, karena kebenaran orang tersebut belum tentu memberikan ikatan emosional maupun keuntungan pribadi. Kasih Allah adalah luar biasa dan sangat langka, karena Kristus mati untuk orang berdosa. Kalau mati untuk orang benar saja sudah langka, apalagi mati untuk orang yang tidak benar.

 

Ayat 9-10. Bagian ini memberikan dasar yang lain bagi kepastian pengharapan orang percaya. Argumentasi yang dipakai merupakan aplikasi metode eksegese para rabi qal wayyOmer (“ringan dan berat”): apa yang benar untuk hal-hal yang prinsip akan berlaku juga untuk hal-hal yang kurang penting. Hal ini terlihat dari pengulangan kata pollw mallon (“lebih-lebih lagi”; EV’s “much more”) di ayat 9 dan 10. Inisitif Allah untuk membenarkan dan mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui kematian Anak-Nya pada saat mereka masih berdosa merupakan dasar yang kuat bahwa orang percaya tidak akan mengalami murka Allah di penghakiman terakhir. Allah telah melakukan hal yang sangat luar biasa, karena itu Ia juga akan melakukan hal-hal lain yang lebih mudah daripada apa yang sudah Ia lakukan.

 

Ayat 11. Bagian ini merangkum beberapa kata kunci yang dipakai di ayat 1-10: “bersukacita/bermegah” (ay. 2-3), “mendamaikan” (ay. 1b, 10) dan “melalui Tuhan kita Yesus Kristus” (ay. 1, 2, 6-8, 9, 10). Ayat ini bukan hanya memberikan rangkuman, tetapi juga menambahkan ide baru yang lain. Hal ini tampak dari frase ouv monon de, (LAI:TB “bukan hanya ini saja”) di awal ayat 11. Para sarjana berbeda pendapat tentang rujukan frase ini. Berdasarkan penggunaan kalimat transisi ouv monon de, dalam tulisan Paulus (5:3; 8:23; 9:10; 2Kor 7:7; 8:19; 1Tim 5:13),  frase ini tampaknya merujuk pada kalimat sebelumnya, yaitu tentang keselamatan (ay. 10). Dengan demikian ayat 11 dapat diparafrasekan sebagai berikut “bukan hanya kita akan diselamatkan, tetapi juga bersukacita/bermegah….”. Objek sukacita kali ini sifat-Nya lebih luas, yaitu bersukacita dalam Allah oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Kehidupan orang yang sudah didamaikan dengan Allah harus ditandai dengan sukacita atas semua yang telah dilakukan Allah.

 

 

 

 

ADAM DAN KRISTUS (ROMA 5:12-21)

 

Seperti pembahasan sebelumnya, para sarjana berbeda pendapat tentang inti 5:12-21 dan hubungan bagian tersebut dengan 5:1-11. Di antara semua usulan yang ada, tema “kuasa ketaatan Kristus mengalahkan ketidaktaatan Adam” tampaknya lebih bisa diterima. Hal ini tampak dari formula perbandingan yang muncul secara konsisten dalam bagian ini: “sebagaimana…demikian juga” atau “sebagaimana…lebih lagi” (ay. 12, 15-17, 18, 19, 21). Fokus ayat 12-21 bukanlah penjelasan tentang dosa asal. Paulus bahkan lebih tertarik dengan akibat dosa Adam (maut) daripada dengan dosa itu sendiri (band. ayat 15-18). Hal ini sesuai dengan inti perbandingan: akibat dosa Adam dan akibat kebenaran Kristus.

 

Isu yang lebih kompleks adalah tentang relasi antara ayat 12-21 dengan ayat 1-11. Dua bagian tersebut dihubungkan dengan frase transisional dia. tou/to (“karena hal itu”), tetapi rujukan dari frase ini masih diperdebatkan. Solusi yang lebih tepat adalah mengaitkan frase ini dengan seluruh pembahasan di ayat 1-11 dan melihat ayat 12-21 sebagai penjelasan bagi ayat 1-11. Ayat 12-21 memberikan alasan mengapa pengharapan orang percaya begitu pasti: karena ketaatan Kristus menjamin keselamatan semua yang berada di dalam Dia. Secara lebih spesifik, ayat 12-21 menjelaskan bagaimana pembenaran, pendamaian dan keselamatan orang percaya  terkait dengan Yesus Kristus (ay. 9-10).

 

Struktur ayat 12-21 agak sulit dijelaskan, karena Paulus memulai dengan perbandingan (ay. 12 “sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang), tetapi ia tidak pernah melanjutkan perbandingan tersebut. Sebaliknya, ia mengelaborasi topik dosa di ayat 12b-14. Perbandingan yang sesungguhnya baru muncul di ayat 18-19. Ayat 15-17 juga lebih banyak membahas tentang superioritas (bukan hanya perbandingan) Kristus atas Adam. Untuk memudahkan pemahaman tanpa melanggar struktur teks yang ada, ayat 12-21 dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Akibat ketidaktaatan Adam (ay. 12-14)

Superioritas hasil ketaatan Kristus atas ketidaktaatan Adam (ay. 15-17)

Inti perbandingan dinyatakan ulang (ay. 18-19)

Antisipasi: posisi Taurat (ay. 20-21)

 

Ayat 12-14. Ada dua karakteristik dosa dalam bagian ini yang muncul secara konsisten di surat Roma.

  • Dosa dalam bentuk tunggal. Dari pemunculan 64 kali, 42 di antaranya ditemukan di 5:12-8:13 dalam bentuk tunggal.
  • Dosa sebagai sesuatu yang aktif: dosa masuk ke dalam dunia (ay. 12), memerintah (ay. 5:20; juga 6:13, 14), ditaati (6:16-17), memberikan upah (6:23), menggunakan kesempatan (7:8, 11), menipu dan membunuh (7:11, 13). Hal ini merupakan gaya bahasa personifikasi.

Pernyataan Paulus bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang dan melalui dosa maut juga menyebar ke semua orang merupakan kebenaran yang juga diyakini oleh orang Yahudi (Kej 2-3). Maut di sini sebaiknya dimengerti sebagai kematian fisik dan spiritual. Kematian fisik merupakan manifestasi eksternal, sedangkan kematian spiritual merupakan manifestasi internal, tetapi keduanya berujung pada kematian kekal.

 

Isu utama dalam ayat 12 adalah arti “semua berdosa”. Apakah semua orang berdosa pada dirinya sendiri? Hanya meniru dosa Adam? Atau ada relasi khusus antara dosa Adam dan keberdosaan semua manusia? Ayat 18-19 jelas menunjukkan adanya kaitan antara dosa Adam dan dosa semua orang. Kaitan ini lebih daripada sekedar proses imitasi. Beberapa sarjana melihat kaitan dosa Adam dan keberdosaan semua manusia pada tahap kerusakan natur saja. Natur manusia yang sudah rusak akibat dosa menyebabkan manusia pada akhirnya juga berdosa. Dosa Adam bukanlah penyebab langsung dari keberdosaan manusia. Pandangan ini memiliki sisi-sisi kebenaran tertentu, tetapi belum cukup untuk menggambarkan pandangan Paulus di ayat 12-21. Pembahasan  di ayat 12-21 langsung mengaitkan dosa Adam dengan kematian/penghukuman semua orang. Dosa Adam identik dengan dosa semua manusia, karena semua manusia telah berdosa di dalam dan dengan Adam. Dasar argumentasi ini berakar pada konsep Yahudi tentang corporate solidarity: apa yang dilakukan satu orang mempengaruhi kelompok yang diwakilinya, begitu juga sebaliknya (band. Yos 7). Dengan kata lain, dosa Adam mempengaruhi status dan natur keberdosaan semua manusia.

 

Di ayat 13-14 Paulus tidak melanjutkan kalimat perbandingan di awal ayat 12. Sebaliknya, ia memberikan penjelasan tentang universalitas dosa, bahkan sebelum jaman Musa. Topik ini akan dibahas lagi di ayat 20-21. Mengapa Paulus tidak melanjutkan kalimat perbandingan di ayat 12, sebaliknya ia menyinggung masalah Taurat? Paulus tampaknya mengantisipasi pertanyaan yang mungkin muncul dalam relasi antara dosa dan Taurat. Ia sebelumnya telah menjelaskan bahwa orang mengenal dosa melalui Taurat (3:19-20) dan tanpa Taurat tidak akan ada pelanggaran (4:15). Dua teks di atas bisa menimbulkan kesalahpahaman bahwa sebelum Taurat dosa tidak ada. Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahpahaman orang Yahudi tentang relasi tersebut, Paulus menjelaskan tiga kebenaran yang saling terkait:

  • Sebelum Taurat diberikan melalui Musa, dosa telah menguasai semua manusia (ay. 13a).
  • Tanpa Taurat dosa tidak akan diperhitungkan (ay. 13b). Kata dasar evlloge,w dalam PB hanya muncul di ayat 13, 14 dan Fil 1:18. Kata ini tidak muncul sama sekali di LXX. evlloge,w diambil dari istilah perdagangan yang merujuk pada tindakan yang spesifik dan teliti dalam pembukuan. Berdasarkan arti ini, ayat 13b tidak mengajarkan bahwa dosa baru dianggap dosa setelah Taurat. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan bahwa dosa baru bisa diperhitungkan secara detail dan eksplisit pada setiap orang ketika seseorang secara sadar dan tahu telah melanggar suatu perintah khusus. Pendeknya, eksistensi Taurat merupakan tolak ukur tingkah laku manusia dan justifikasi hukuman Allah atas dosa manusia, tetapi hal itu tidak berarti bahwa sebelum Taurat tidak ada dosa.
  • Maut telah menguasai manusia sebelum ada Taurat (ay. 14). Ayat ini berfungsi sebagai bukti/argumentasi bagi ayat 13a (eksistensi maut sebagai upah dosa [Kej 2:17; Rom 3:23] membuktikan eksistensi dosa) sekaligus antisipasi terhadap kesalahpahaman yang mungkin timbul dari ayat 13b (tidak diperhitungkan tidak berarti tidak dihukum). Untuk mempertegas hal tersebut Paulus menjelaskan bahwa maut juga memerintah atas mereka yang berdosa dengan cara yang berbeda dengan Adam. Frase ini berguna untuk menunjukkan bahwa orang lain yang tidak mendapat perintah langsung dari Allah seperti Adam (band. Kej 2:17-18) juga menerima hukuman atas dosa mereka.

 

Ayat 15-17. Frase “Adam — yang adalah gambaran Dia yang akan datang” di bagian akhir ayat 14 merupakan transisi bagi ayat 15-17. Ayat 15-17 lebih tepat disebut sebagai kontras daripada komparasi. Ungkapan “tidak seperti” dan “lebih lagi” di ayat 15-17 mengindikasikan superioritas Kristus atas Adam.

 

Inti kontras terletak pada hasil tindakan Adam dan Kristus: anugerah Allah sebagai hasil ketaatan Kristus tidak sebanding dengan maut sebagai hasil ketidaktaatan Adam (ay. 15). Di ayat 16-17 Paulus selanjutnya menjelaskan mengapa anugerah Allah tidak berimbangan dengan maut.

  • Tindakan Adam menghasilkan sesuatu yang negatif (penghukuman), sedangkan tindakan Kristus menghasilkan yang positif (pembenaran). Lihat ayat 16.
  • Jumlah dosa yang diperhitungkan dalam penghukuman adalah satu (dosa Adam), sedangkan pembenaran Kristus mencakup akumulasi dosa seluruh masa. Lihat ayat 16.
  • Hasil tindakan Kristus (hidup) telah membalikkan hasil tindakan Adam (maut). Lihat ayat 17.

 

 

Poin yang ingin disampaikan Paulus dalam bagian ini adalah sebagaimana maut merupakan kepastian bagi mereka yang berada dalam Adam, terlebih lagi pembenaran merupakan sesuatu yang pasti bagi mereka yang berada dalam Kristus (band. ayat 1-11).

 

Ayat 18-19.  Pada bagian ini Paulus baru melanjutkan ide perbandingan di awal ayat 12. Ayat 18-19 bisa disebut sebagai inti atau rangkuman dari ayat 12-17. Isu utama dalam bagian ini terletak pada aplikasi jangkauan pembenaran. Bagian ini tampaknya mengajarkan universalitas pembenaran Kristus (band. “semua orang” di ayat 18-19). Jika pembenaran memang universal, hal itu akan berkontradiksi dengan pernyataan Paulus di tempat lain yang mengajarkan bahwa pembenaran hanya atas mereka yang beriman. Sebaliknya, jika pembenaran bersifat eksklusif (terbatas), komparasi antara hasil tindakan Adam dan Kristus tidak bersifat paralel. Mengapa hasil tindakan Adam (maut) bersifat universal, sedangkan tindakan Kristus tidak?

 

Terkait dengan pertanyaan pertama, pembenaran Kristus tidak diperuntukkan bagi semua orang. Ada dua argumentasi bagi hal ini:

  • Kata “semua” dalam PB tidak selalu merujuk pada “setiap individu atau setiap hal”. “Semua” harus dimengerti dalam kategori tertentu. Cakupan kata ini ditentukan oleh konteks (band. ay. 17; 8:32; 12:17, 18; 14:2; 16:19; Kis 2:17; 19:10; 1Tim 2:2, 4; juga Yoh 12:19).
  • Paulus di tempat lain juga mengajarkan hukuman bagi mereka yang tidak percaya (2:12; 2Tes 1:8-9).

 

Terkait dengan pertanyaan kedua, ada beberapa alternatif yang telah diusulkan.

  • Ayat 18-19 memang mengajarkan universalisme.
  • Pembenaran Kristus memang untuk semua orang, tetapi hanya dalam batas tawaran atau kuasanya saja.
  • Ayat 18-19 merupakan salah satu paradoks yang tidak mungkin dimengerti sekarang ini.

Alternatif (1) tidak sesuai dengan teologi Paulus secara umum. Alternatif (2) terlalu dipengaruhi pemikiran teologi sitematik, tidak sesuai dengan konteks ayat 12-21 dan secara esensial tidak menjawab permasalahan. Alternatif (3) juga tidak memberikan jawaban yang meyakinkan.

 

 

 

 

 

 

Tanpa bermaksud menyederhanakan permasalahan ini, ada tiga hal yang mungkin bisa dijadikan pedoman:

Suatu komparasi tidak dimaksudkan sebagai perbandingan setiap detail. Ada poin khusus (utama) yang ingin disampaikan dalam sebuah komparasi. Dalam konteks ayat 12-21, inti perbandingan terletak pada kepastian hasil tindakan Adam dan Kristus. Pembenaran dan pengharapan di ayat 1-11 merupakan sesuatu yang pasti, karena dijamin karya Kristus sebagai representasi orang percaya. Ayat 12-21 tidak membahas tentang jangkauan dari dosa asal maupun memberikan penjelasan tentang cara dosa asal ditransmisikan. Dengan kata lain, isu tentang jangkauan hasil tindakan Adam dan Kristus sebaiknya dijawab berdasarkan konteks Alkitab secara umum (bukan terbatas pada konteks ini).

Perbedaan antara jalur “biologis” untuk transmisi dosa Adam dan jalur “iman” untuk pembenaran Kristus tidak perlu dibesar-besarkan. Hal tersebut merupakan suatu kewajaran, karena semua manusia tidak bisa dikaitkan dengan Kristus secara biologis. Dalam kasus Adam, jalur iman juga tidak akan mungkin, karena orang cenderung tidak mau menerima (mempercayai) keberdosaan mereka dalam Adam.

Penjelasan Paulus di ayat 18-19 merupakan penjelasan yang paling rasional dibandingkan dengan alternatif lain. Kaitan antara pembenaran dan karya Kristus hanya memberikan beberapa kemungkinan:

Tidak ada kaitan sama sekali antara pembenaran dan karya Kristus. Kemungkinan ini sangat tidak mungkin.

Ada kaitan dan secara otomatis (semua orang dibenarkan melalui karya Kristus, terlepas dari iman mereka). Kemungkinan ini juga sangat tidak mungkin.

Ada kaitan, tetapi secara imani. Kemungkinan ini paling konsisten dengan ajaran seluruh PB.

 

Ayat 20-21. Sebagaimana di ayat 13-14, Paulus di ayat 20-21 juga menyinggung relasi antara Taurat dan dosa. Kategorisasi manusia ke dalam Adam dan Kristus bagi orang Yahudi bisa menimbulkan kesan simplifikasi. Mereka pasti akan menanyakan kedudukan mereka yang khusus dalam sejarah keselamatan, terutama berkaitan dengan Taurat Musa. Terhadap pertanyaan ini Paulus menjawab bahwa Taurat tidak mengubah situasi manusia yang disebabkan oleh tindakan Adam. Sebaliknya, tujuan Taurat diberikan justru supaya pelanggaran bertambah banyak (ay. 20a). Calvin memahami frase ini dalam konteks Taurat memberikan pemahaman tentang dosa kepada manusia. Penjelasan ini belum mampu menerangkan ide “semakin banyak”.

 

Arti yang paling mungkin adalah dengan melihat tujuan Taurat sebagai sarana untuk mengintensifkan keseriusan dosa. Dosa menjadi semakin serius ketika Taurat diberikan, karena penerima Taurat akan dituntut lebih. Mereka telah diberi wahyu khusus tetapi tetap melanggar, sehingga pelanggaran mereka menjadi lebih serius.

 

Seperti sikap Paulus tentang Taurat di tempat lain (3:26-31), ia juga menyikapi Taurat secara positif. Dalam kaitan dengan dosa dan penghakiman Taurat memang tidak berguna, tetapi hal itu tidak berarti Taurat tidak memiliki manfaat sama sekali. Keseriusan dosa yang ditunjukkan melalui Taurat justru telah menjadi sarana untuk melihat anugerah Allah yang lebih besar daripada dosa tersebut (ay. 20b). Kesadaran tentang keseriusan yang telah ditumbuhkan oleh Taurat seharusnya membawa orang Yahudi semakin bisa memahami keseriusan anugerah Allah.

 

KEMENANGAN ATAS KUASA DOSA (ROM 6:1-23)

 

Relasi bagian ini dengan bagian sebelumnya terlihat jelas dari ayat 1 “apakah kita bertekun supaya kasih karunia melimpah?”. Pertanyaan ini jelas merupakan kontinuitas pemikiran (antisipasi) dari 5:20-21.  Selain itu, 5:12-21 dan 6:1-23 menyinggung masalah yang sama, yaitu dosa. Kalau di bagian sebelumnya orang percaya dibebaskan dari hukuman dosa, pasal 6 membahas kebebasan orang percaya dari kuasa dosa. Meminjam istilah teologi sistematik, pasal 5 tentang pembenaran, sedangkan pasal 6 tentang pengudusan, meskipun ide tentang Roh Kudus yang memampukan orang percaya baru muncul di pasal 8.

 

Beberapa sarjana membagi pasal 6 menjadi ayat 1-11 dan 12-23. Pembagian ini didasarkan pada perubahan mood dari indikatif (ayat 1-11) ke imperatif (ayat 12-23). Bagaimanapun pembagian ini memiliki beberapa kelemahan:

  • Ayat 12 jelas lebih terkait dengan bagian sebelumnya daripada sesudahnya.
  • Pertanyaan ti, ou=nÈ (“Jadi, bagaimana?”) di ayat 15 jelas mengindikasikan pemikiran baru (3:1; 3:9; 4:1; 6:1; 6:15).
  • Pembagian ayat 1-14 dan 15-23 membuat dua perikop ini memiliki topik yang paralel: ayat 1-14 membahas kebebasan dari dosa dari sisi negatif (menjauhi dosa) dan ayat 15-23 dari sisi positif (mendedikasikan hidup kepada kebenaran).
  • Ayat 14b merupakan jawaban yang tepat untuk pertanyaan di ayat 1 (inclusio).

 

Struktur ayat 1-14 dapat dijelaskan sebagai berikut:

Orang percaya tidak boleh bertekun dalam dosa (ay. 1-2a)

Alasan: orang percaya telah mati dalam dosa (ay. 2b)

Cara: melalui baptisan orang percaya dipersatukan dalam karya Kristus (ay. 3-5)

Penjelasan:     Orang percaya telah mati untuk dosa (ay. 6-7)

Orang percaya hidup dengan Kristus (ay. 8-10)

Konklusi: orang percaya mati bagi dosa, hidup bagi Allah (ay. 11)

Konsekuensi (ay. 12-13)

Tidak membiarkan dosa menguasai hidup (ay. 12)

Memakai hidup untuk kebenaran (ay. 13)

Kepastian: dosa tidak akan menguasai lagi (ay. 14)

 

Ayat 1-2a. Pertanyaan di ayat ini dikemukakan oleh Paulus untuk mengantisipasi kesalahpahaman yang mungkin timbul dari pernyataan Paulus di 5:20 (di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah). Bahaya ini akan semakin tampak apabila dikaitkan dengan fakta bahwa anugerah yang melimpah tersebut bahkan sudah diberikan pada saat orang percaya dahulu hidup dalam domain Taurat yang meningkatkan keseriusan dosa mereka. Kalau pada jaman Taurat saja anugerah Allah sudah melimpah, apalagi sekarang ketika orang percaya hidup dalam anugerah (band. 5:2). Eksistensi dosa yang banyak memang membawa pada kesadaran tentang kasih karunia Allah yang melimpah, tetapi bukan sebaliknya. Orang percaya tidak boleh dengan sengaja melakukan dosa yang banyak dengan tujuan bisa merasakan anugerah yang besar (band. 3:7-8).

 

Ayat 2b. Paulus memberikan alasan bagi larangan di ayat sebelumnya. Alasan ini disampaikan dalam bentuk pertanyaan (lit. “bagaimana kita – yang telah mati untuk dosa – akan hidup di dalamnya?”). Alasan bagi larangan ini adalah pemisahan total dari kuasa dosa (“kita telah mati untuk dosa”). Metafora “mati” yang dipakai di sini selain berguna untuk menghubungkannya dengan kematian Kristus (ay. 4-5) juga untuk menggambarkan pemisahan yang total. Penekanan pada ide kematian total juga terlihat dari rujukan tentang penguburan Yesus di ayat 4a (yang sebenarnya hanya berfungsi untuk menekankan kesungguhan kematian) dan frase “sekali untuk selamanya” di ayat 10.

 

Ayat 3-5. Bagian ini memberikan penjelasan bagaimana kematian untuk dosa di ayat 2b terjadi. Kematian tersebut terkait dengan sakramen baptisan sebagai simbol pertobatan. Paulus di ayat ini menjelaskan sesuatu yang sudah dimengerti dengan baik oleh jemaat Roma (band. “apakah kamu tidak tahu?”) bahwa baptisan merupakan tanda pertobatan, sedangkan pertobatan sendiri merupakan titik balik orang percaya mati untuk dosa. Paulus sedang menerangkan relasi antara baptisan orang percaya dengan karya Kristus Yesus. Baptisan – sebagai tanda pertobatan – merupakan sarana (band. dia. tou/ bapti,smatoj = “melalui baptisan” di ayat 4) orang percaya berada dalam persekutuan dengan karya Kristus: kematian, penguburan dan kebangkitan. Persekutuan ini dimungkinkan karena adanya persekutuan yang lebih mendasar seperti telah dijelaskan oleh Paulus di 5:12-21. Kebenaran di atas bukan hanya dalam batas analogi (ilustrasi), tetapi benar-benar melibatkan partisipasi. Pertobatan orang percaya – yang ditunjukkan melalui baptisan – membuat mereka mengalami kuasa penebusan Kristus (band. Fil 3:10-11). Dengan demikian, kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya memberikan keteladanan, tetapi, lebih jauh daripada itu, memberikan kuasa yang menghidupkan orang berdosa ke dalam hidup yang baru, yang tidak dikuasai oleh dosa.

 

Ayat 6-7.  Bagian ini menjelaskan bagian pertama dari persekutuan dengan karya Kristus, yaitu kematian. Frase “manusia lama” di sini tidak merujuk pada natur keberdosaan (band. Ef 4:22-24; Kol 3:9-11). Natur keberdosaan tetap ada dalam diri orang percaya. “Manusia lama” merujuk pada seluruh eksistensi seseorang dalam arti relasional: semua manusia dalam relasi dengan Adam yang dikuasai oleh kuasa dosa (5:12-21). Penyaliban manusia lama ini bertujuan untuk menghilangkan kuasa tubuh dosa (i[na katarghqh/| to. sw/ma th/j a`marti,aj). Kata sw/ma di sini merujuk pada seluruh hidup seseorang (band. ayat 12-13), sehingga to. sw/ma th/j a`marti,aj merujuk pada seluruh eksistensi manusia dalam kejatuhannya dalam Adam. Eksistensi tersebut sebelumnya dikuasai oleh dosa dalam seluruh aspeknya (band. 3:10-19). Tujuan akhir dari hal ini adalah supaya orang percaya tidak lagi melayani (douleu,ein) dosa. Ayat 7 merupakan kebenaran umum (maxim) yang menjelaskan (band. ga.r) hubungan antara kematian dan kebebasan. Seseorang yang sudah mati akan terbebas dari semua hal yang mengikatnya. Hal ini juga terlihat dalam tulisan rabi Yahudi “ketika seorang mati ia terbebas dari tuntutan memenuhi Taurat”. Orang percaya yang sudah mati dalam Kristus akan dibebaskan dari ikatan dosa yang sebelumnya menguasainya.

 

Ayat 8-10. Bagian ini menjelaskan bagian kedua dari persekutuan dengan karya Kristus, yaitu kebangkitan. Sebagaimana kematian dan kebangkitan Kristus merupakan peristiwa yang tidak terpisahkan, demikian juga persekutuan orang percaya dalam karya tersebut. Orang percaya yang sudah mati dalam Kristus pasti akan hidup dengan Dia. Bentuk future “akan hidup” memang sedikit banyak merujuk pada peristiwa eskhatologis (pada waktu orang percaya meninggal atau saat parousia), tetapi hal itu sudah dinikmati pada kehidupan sekarang (ay. 4b, 11, 13). Kepercayaan pada konsekuensi ini didasarkan pada pemahaman (band. participle eivdo,tej = “karena kita tahu”) bahwa Kristus – setelah dibangkitkan – tidak mati lagi. Maut tidak berkuasa lagi atas-Nya. Kristus adalah yang sulung dari orang-orang yang bangkit (1Kor 15:23).

Sebagaimana Kristus menang atas semua kekuatan ‘era yang lama’ (dosa, Taurat dan maut), demikian juga orang percaya yang dipersekutukan dengan kebangkitan Kristus akan tetap hidup. Ayat 10 menegaskan bagian terakhir dari ayat 9 “maut tidak berkuasa lagi atas-Nya”. Kristus hanya mati satu kali untuk selamanya dan setelah itu Ia hidup untuk Allah. Hal ini menunjukkan kemenangan sekaligus pemisahan total dari kematian.

 

Ayat 11. Kata ou[twj (“dengan cara [yang sama] ini”) mengindikasikan ayat ini sebagai rangkuman dari apa yang sudah dijelaskan di ayat 2b-10. Sebagaimana Kristus mati untuk dosa (ay. 10), demikian juga orang percaya yang mati dengan Kristus harus mempertimbangkan (logi,zomai) diri mereka sebagai orang yang telah mati untuk dosa (ay. 4a, 5a, 6, 8a). Sebagaimana kematian Kristus terjadi satu kali dan selanjutnya diikuti oleh kebangkitan dan hidup untuk melayani Allah (ay. 10), demikian juga orang percaya berpartisipasi dalam kehidupan yang dibangkitkan (ay. 4b, 5b, 8b). Jadi, logika pemikiran di ayat 2b-10 dapat digambarkan sebagai berikut:

Kristus telah mati untuk dosa sekali dan hidup terus-menerus bagi Allah

Orang percaya – melalui baptisan-pertobatan – bersekutu dengan karya Kristus

Karena itu, orang percaya juga mati untuk dosa sekali dan hidup untuk Allah

Bentuk present pada kata kerja imperatif logi,zesqe (“pertimbangkanlah”) menyiratkan bahwa konsep ini harus terus-menerus dimiliki oleh orang percaya.

 

Ayat 12-13. Paulus pada bagian ini menarik dua konsekuensi dari seluruh pembahasan ayat 2b-10 yang telah dirangkum di ayat 10. Konsekuensi ini diutarakan dalam bentuk negatif (ay. 12-13a) dan positif (ay. 13b).

  1. Tidak membiarkan dosa menguasai dalam tubuh yang fana (ay. 12).

Kata “menguasai” (basileu,w) di sini bisa berarti menguasai atau menjadi seperti raja (1Kor 4:8). Kata “tubuh” (sw/ma) bisa berarti “tubuh secara fisik”. Hal ini didukung oleh kata “fana” (ay. 12), “hawa nafsu” (ay. 12) dan “anggota-anggota” (ay. 13a). Bagaimanapun, sw/ma di sini tampaknya lebih merujuk pada seluruh eksistensi seseorang. Pertama, kata “tubuhmu” sinonim dengan “dirimu” (ay. 13b). Kedua, pengaruh dosa bukan hanya pada aspek fisik, tetapi juga seluruh eksistensi manusia. Ketiga, interpretasi ini konsisten dengan arti sw/ma di ayat 6. Penambahan kata sifat qnhto,j (fana) pada kata sw/ma mengindikasikan kelemahan dan ketidaksempurnaan yang menjadi ciri khas era yang lama (band. 8:11; 1Kor 15:53, 54; 2Kor 4:11; 5:4). Kehidupan orang percaya memang tidak lagi “tubuh dosa” (6:6) maupun “tubuh kematian” (7:24), tetapi masih tetap “tubuh fana”. Hal ini akan berubah pada waktu orang percaya ditebus secara penuh (8:23; band. 1Kor 15:53).

Tujuan dari tindakan di atas adalah supaya orang percaya tidak mengikuti keinginannya. Kata evpiqumi,a bisa berarti netral (“keinginan”, Fil 1:23; 1Tes 2:17), tetapi dalam konteks ini artinya lebih negatif (“hawa nafsu”, 1:24; 7:7, 8; 13:14; Gal 5:16, 24; Ef 2:3; 4:22). Mengingat sw/ma di bagian awal berarti seluruh eksistensi manusia,  hawa nafsu di sini tidak boleh dibatasi pada keinginan fisik saja. Kata ini mencakup pikiran dan keinginan hati yang berdosa (band. 7:7-8).

  1. Tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh sebagai senjata ketidakbenaran (ay. 13a).

Istilah “anggota-anggota tubuh” tidak merujuk pada bagian fisik tubuh. Paulus memakai ungkapan ini sebagai rujukan pada kapasitas natural manusia (band. 7:5, 23). Istilah pari,sthmi (LAI:TB “menyerahkan”) seharusnya diartikan secara lebih aktif, yaitu “memberikan diri dalam pelayanan kepada seseorang”. Genitif avdiki,aj pada frase o[pla avdiki,aj sebaiknya dipahami sebagai objective genitive, sehingga frase ini diterjemahkan “senjata-senjata untuk tujuan ketidakbenaran”. Dosa sudah tidak menjadi tuan lagi, sehingga tidak perlu dilayani.

  1. Menyerahkan diri kepada Allah sebagai senjata kebenaran (ay. 13b).

Secara positif orang percaya harus menyerahkan diri kepada Allah dan menyerahkan anggota-anggota tubuh menjadi senjata kebenaran. Dasar untuk dua hal ini adalah karena orang percaya sudah dihidupkan dari antara orang-orang mati. Hal ini sekaligus juga sebagai syarat untuk mampu melakukan konsekuensi di ayat 12-13.

 

Ayat 14. Bentuk imperatif di ayat 12-13 diikuti oleh indikatif di ayat ini. Kata sambung ga.r (“sebab”) menerangkan alasan atau dasar bagi perintah di bagian sebelumnya. Pernyataan “sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa” bukan sebuah perintah (kontra Fitzmyer), janji (kontra Lloyd-Jones) maupun janji bersyarat (kontra Dodd). Hal ini merupakan dasar (jaminan) bagi orang percaya. Terlepas dari kekuatiran terhadap “tubuh fana” yang masih bisa dipengaruhi oleh dosa, ada jaminan yang memampukan orang percaya tetap optimis. Mereka memang masih mungkin jatuh ke dalam dosa, tetapi mereka tidak mungkin hidup dikuasai dosa lagi.

 

Kata ga.r kedua dalam ayat ini menjelaskan mengapa orang percaya tidak akan dikuasai dosa lagi, yaitu karena mereka tidak hidup lagi di bawah Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Kontras antara no,moj dan ca,rij di sini mewakili dua realitas: era lama dan baru. Taurat memiliki fungsi menghasilkan dan mengintensifkan dosa (3:20; 4:15; 5:13-14; band. 1Kor 15:56). Kecuali seseorang dibebaskan dari situasi ini, ia selamanya akan terkungkung dalam dosa. Frase ini secara esensial terkait dengan 5:20-21 (“hubungan antara Taurat dan kasih karunia”) dan membentuk inclusio dengan 6:1.

Jadi, pertanyaan “apakah kita bertekun dalam dosa karena kita hidup dalam kasih karunia?” (ay. 1) dijawab Paulus dengan “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (ay. 14).

 

DUA PERHAMBAAN (ROM 6:15-23)

 

Inti bagian ini tidak terletak pada kebebasan orang Kristen dari dosa, tetapi lebih pada perhambaan orang Kristen kepada Allah.

  • Kata “hamba” atau “menghambakan diri” muncul 8 kali. Statistik ini diperjelas dengan munculnya kata yang berhubungan dengan ketaatan sebanyak 3 kali.
  • Kebebasan dari dosa sudah dibahas di ayat 1-14.
  • Ayat 15-23 merupakan antisipasi terhadap kesalahpahaman yang mungkin timbul dari pernyataan Paulus di ayat 14b (band. ayat 1 “Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia?”). Sebagai sebuah antisipasi, bagian ini tidak mungkin menekankan poin kebebasan lagi.

 

Apa yang disampaikan Paulus di ayat 15-23 (juga 1-14) bisa menjadi respon yang seimbang terhadap bahaya legalisme (yang terlalu mengikat orang dengan Taurat) dan antinomianisme (yang menolak semua keterikatan moral). Orang percaya tidak terikat dengan Taurat lagi (dalam arti kutuk Taurat dan tuntutan Taurat untuk keselamatan), namun hal ini tidak berarti bahwa mereka bebas berbuat semau mereka. Pada saat orang percaya dibebaskan dari perbudakan dosa, mereka pada saat yang sama menjadi budak Allah. Inti pemikiran ini bersumber dari konteks penjualan budak yang berkembang waktu itu. Sesuai aturan perdagangan budak waktu itu, ada dua kondisi (persyaratan) yang memungkinkan seorang budak bebas dari kuasa tuannya:

Jika budak tersebut dibeli oleh tuan lain.

Jika budak tersebut meninggal dunia.

Dua ide ada dalam pikiran Paulus ketika ia memakai metafora dari dunia perbudakan. Orang percaya telah mati untuk dosa dan itu berarti pembebasan dari budak dosa. Mengingat pembebasan ini dilakukan oleh Allah, mereka sekarang menjadi budak Allah.

Struktur bagian ini adalah sebagai berikut:

Pertanyaan: apakah kita berbuat dosa karena di bawah kasih karunia? TIDAK! (ay. 15)

Argumentasi: (ay. 16-18).

Konsekuensi dosa: perhambaan dosa menuju pada kematian (ay. 16)

Dasar: orang percaya adalah hamba kebenaran (ay. 17-18)

Konsekuensi: menyerahkan anggota-anggota tubuh kepada kebenaran (ay. 19)

Alasan bagi konsekuensi: orang percaya adalah hamba kebenaran (ay. 20-23)

 

Ayat 15. Bagian ini merupakan antisipasi terhadap kesalahpahaman yang mungkin timbul dari cara berpikir Yahudi. Jika orang percaya tidak lagi berada di bawah Taurat (yang dipahami orang Yahudi sebagai satu-satunya pedoman hidup sebelum adanya PB), maka hal ini memberikan kesempatan untuk berbuat dosa. Pertanyaan retorik di sini memiliki banyak kesamaan dengan ayat 1: dimulai dengan Ti, ou=n;  isinya berkisar masalah kasih karunia; jawaban tegas mh. ge,noito; diikuti penjelasan panjang di ayat 2-14 dan 16-23.

 

Ayat 16. Bagian ini merupakan argumentasi pertama bagi jawaban mh. ge,noito di ayat 15. Paulus memfokuskan pada konsekuensi kesalahpahaman di ayat 15. Frase “tidakkah kamu tahu” (ouvk oi;date) menyiratkan bahwa jemaat di Roma sebenarnya sudah mengetahui apa yang disampaikan di ayat ini. Paulus mungkin merujuk pada kultur perbudakan waktu itu: orang-orang menyerahkan diri sebagai budak dengan pertimbangan finansial. Keputusan ini membawa konsekuensi, yaitu ketaatan mutlak pada yang objek penyerahan dirinya. Kemungkinan lain adalah Paulus sedang memikirkan proses kebalikannya: kebiasaan menaati seseorang menjadikan orang yang menaati tersebut sebagai budak. Struktur kalimat dan konteks ayat 15-23 tampaknya lebih mendukung kemungkinan terakhir.

 

Alkitab secara konsisten hanya memberi dua pilihan: dosa atau ketaatan. Tidak ada kehidupan manusia yang netral. Orang yang terus-menerus menyerahkan diri (band. bentuk present pari,sthmi) kepada dosa untuk menaatinya adalah hamba dosa. Yoh 8:34 “sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa”. Perhambaan dosa bukan hanya masalah legal, tetapi juga masalah praktek hidup. Orang percaya memang sudah dibebaskan dari perhambaan dosa secara legal dan subjektif melalui persekutuan dengan kematian-kebangkitan Kristus (ay. 1-14), tetapi dalam praktek hidup sehari-hari orang percaya tetap harus bergumul untuk tidak lagi hidup seperti hamba dosa.

 

Konsekuensi perbuatan dosa bukan hanya pada fakta perhambaan saja (kehilangan kebebasan), tetapi juga pada akibat (lihat dua eivj dalam ayat ini) yang ditimbulkan dari ketaatan tersebut. Orang yang terus berbuat dosa akan mengalami kematian. qa,natoj di sini sangat mungkin merujuk pada kematian kekal. Kematian ini pasti melibatkan kematian spiritual di masa kini dan kematian fisik, tetapi penekanan terletak pada kematian kekal.

 

 

 

 

 

 

Ayat 17-18. Argumentasi dalam bagian ini lebih difokuskan pada fakta yang telah terjadi. Ekspresi ca,rij de. tw/| qew/| (“syukur kepada Allah”) dan bentuk tense imperfect h=te (“adalah”) pada kalimat “kamu [dahulu] adalah hamba dosa” menunjukkan bahwa orang percaya di Roma tidak berada dalam perhambaan dosa yang mengakibatkan kematian kekal. Sebaliknya, Paulus menggambarkan situasi orang percaya dengan dua kata kerja indikatif aorist di ayat 17 dan 18.

  1. Mereka telah menaati pola pengajaran (ay. 17).

Bentuk aorist u`phkou,sate (“telah menaati”) kemungkinan merujuk pada waktu pertobatan. Yang menarik dalam ayat 17 adalah kata paredo,qhte (“diteruskan”). Objek dalam bentuk orang kedua jamak pasif pada kata paredo,qhte bukanlah pola pengajaran, tetapi jemaat di Roma. Mengikuti mayoritas EV’s, ayat 17b seharusnya diterjemahkan “tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang kepadanya kamu telah diteruskan” (kontra LAI:TB “pengajaran yang telah diteruskan kepadamu”). Paulus biasanya menjadikan pengajaran (tradisi Kristen) sebagai objek kata kerja pasif paradi,dwmi (1Kor 11:2, 23; 15:3), tetapi di sini ia secara sengaja menjadikan penerima surat sebagai objek. Paulus ingin menyampaikan sesuatu: menjadi orang Kristen berarti diletakkan dibawah otoritas tradisi pengajaran. Ketaatan kepada pengajaran merupakan karakteristik orang Kristen.

  1. Mereka telah dijadikan hamba kebenaran (ay. 18).

Ayat 18 seharusnya diterjemahkan “dan ketika dibebaskan (participle evleuqerwqe,ntej) dari dosa, kamu dijadikan hamba kebenaran” (mayoritas EV’s; kontra NIV dan LAI:TB). Pernyataan ini merupakan suatu paradoks yang bersumber dari konsep penjualan budak waktu itu. Seorang budak yang dibeli akan bebas dari tuannya, tetapi pada saat yang sama ia dijadikan budak orang yang membelinya.

 

Ayat 19. Frase “Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu” (ay. 19a) merupakan break yang menjelaskan metafora perbudakan di ayat 18 atau 19. h` avsqe,neia th/j sarko.j (lit. “kelemahan daging”) mungkin menunjukkan ketidakpekaan terhadap hal-hal spiritual, sehubungan dengan natur keberdosaan mereka. Kelemahan ini terkait dengan segi kognitif. Dengan kata lain, penggunaan metafora perbudakan dipakai Paulus untuk mempermudah pemahaman mereka. Frase di atas tidak dimaksudkan terutama sebagai teguran, tetapi sebagai penjelasan mengapa Paulus menggunakan metafora perbudakan. Metafora ini bisa  menimbulkan kesan degradasi diri, ketakutan yang berlebih, eksploitasi, dll., yang merupakan ciri khas orang yang hidup dalam perbudakan. Hal ini tidak berarti bahwa Paulus ‘menyesal’ dengan metafora yang telah dipakai, karena dalam ayat 19 dan 22 ia kembali meneruskan metafora ini. Paulus hanya ingin meminimalisasi kesan negatif yang mungkin muncul. Poin analogi yang ingin diambil Paulus terletak pada ketaatan mutlak seorang budak (tidak termasuk perasaan takut, tereksploitasi, dsb) dan otoritas penuh dari tuan.

Perintah dalam ayat ini  mirip dengan ayat 13. Sebagaimana mereka dulu menyerahkan hidup sebagai hamba kecemaran dan kefasikan, demikian juga – dengan semangat yang sama – mereka harus menyerahkan diri sebagai hamba ketaatan (band. w[sper…ou[twj = “sebagaimana…dengan cara yang sama”). Perbandingan ini menunjukkan dedikasi yang penuh dan terus meningkat. Ide peningkatan disiratkan dalam gaya retoris th/| avnomi,a| eivj th.n avnomi,an yang dipakai untuk menggambarkan kehidupan yang lama (band. RSV “to greater and greater iniquity”; NIV “to ever-increasing wickedness”; NASB “to lawlessness, resulting in further lawlessness”). Demikian juga dalam kehidupan Kristiani. Menyerahkan diri sebagai hamba kebenaran akan membawa pada pengudusan. Akhiran moj pada suatu kata benda biasanya menyiratkan kualitas aktif dari kata benda tersebut, sehingga a`giasmo,j di sini sebaiknya dimengerti sebagai proses menjadi kudus (band. 1Tes 4:3, 4, 7; 1Tim 2:15). Semakin orang percaya menyerahkan diri mereka untuk menaati kebenaran, mereka akan menjadi semakin kudus.

 

Ayat 20-23. Bagian ini memberikan dasar atau alasan bagi perintah di ayat 19 (band. ga.r di awal ayat 20). Secara esensial pemikiran Paulus di sini sama dengan di ayat 17-28, namun argumentasi di ayat 20-23 jauh lebih lengkap, karena menggabungkan ide di ayat 17-18 dan 19. Penekanan Paulus terletak pada hasil (buah) dari dua macam kehidupan tersebut (ayat 21-23; band. ayat 19). Di ayat 20-23 Paulus membuat kontras antara kehidupan lama dalam perbudakan dosa (ay. 20-21) dan kehidupan baru dalam pelayanan kepada Allah (ay. 22-23). Kontras ini terlihat dari ayat 20a “waktu kamu hamba dosa” dan ayat 22a “tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa”.

 

Karakteristik hidup yang lama (ay. 20-21)

  1. Menjadi budak dosa (ay. 20a).

Paulus kembali memakai metafora perbudakan untuk menggambarkan kekuatan dosa dalam hidup manusia. Dosa bukan hanya terbatas pada apa yang dilakukan manusia, tetapi apa yang menguasai manusia untuk melakukan hal tersebut. Manusia benar-benar berada dalam kuasa mutlak dosa. Manusia selalu menuruti keinginan dosa sebagai tuan mereka.

  1. Bebas dari kebenaran (ay. 20b).

Paulus mengakui bahwa orang yang berada di luar Kristus memiliki semacam “kebebasan”, yaitu bebas dari kebenaran. Datif th/| dikaiosu,nh| lebih ke arah dative of respect, sehingga seharusnya diterjemahkan “dalam kaitan dengan kebenaran” (ASV, NASB, RSV; kontra KJV, NIV, LAI:TB). “Kebenaran” di sini merujuk pada kebenaran secara etis/moral (bukan status benar). Orang di luar Kristus memang memiliki pengetahuan tentang baik dan benar (1:18-32; 2:14-15), tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk memilih dan melakukan yang benar, karena semua berada di bawah dosa (3:9).

Dalam istilah teologi, kebebasan yang dimiliki mereka hanyalah kebebasan untuk berbuat dosa. Kebebasan semacam ini hanyalah kebebasan yang semu, karena mereka justru terikat dengan dosa yang mereka lakukan.

  1. Hanya menghasilkan rasa malu (ay. 21a).

Ada dua macam kemungkinan penerjemahan ayat 21. Inti permasalahan terletak pada peletakan tanda tanya: setelah kata to,te atau evpaiscu,nesqe.

  • “Karena itu, buah apakah yang lalu kamu miliki, yang sekarang kamu merasa malu? Karena akhir dari semuanya ini adalah maut” (mayoritas EV’s; UBS3).
  • “Karena itu, buah apakah yang lalu kamu miliki? Itu adalah atasnya kamu sekarang merasa malu. Karena akhir dari semuanya ini adalah maut” (NEB, NJB, UBS4 dan NA27).

Alternatif terakhir tampaknya lebih tepat, karena terjemahan (2) memberikan pernyataan yang eksplisit tentang buah hidup dalam dosa, yaitu rasa malu. Hal ini akan membuat kontras yang ideal dengan hasil hidup dalam Allah di ayat 22, yaitu pengudusan. Setelah mengenal prinsip kekristenan, jemaat di Roma melihat balik ke kehidupan mereka yang lama dan menemukan bahwa buah dari kehidupan tersebut hanyalah kefasikan yang – dalam terang Firman Tuhan – hanya menghasilkan rasa malu. Perasaan malu (bukan bangga) terhadap dosa ini seharusnya menjadi ciri orang Kristen yang sejati.

  1. Berakibat pada kematian (ay. 21b).

Seperti bagian sebelumnya, Paulus kembali mengingatkan akibat akhir dari kehidupan dalam dosa, yaitu kematian kekal.

 

Karakteristik hidup orang yang bebas dari dosa (ay. 22-23)

  1. Dibebaskan dari dosa (ay. 22a).
  2. Menjadi hamba Allah (ay. 22b).
  3. Menghasilkan pengudusan (ay. 22c).
  4. Berakibat pada kehidupan kekal (ay. 22d-23).

 

Ayat 23 bukan hanya memberikan penjelasan tambahan bagi ayat 22d, tetapi juga menjadi klimaks pembahasan di pasal 6. Kontras antara maut dan kehidupan kekal terletak pada bagaimana dua hal tersebut dicapai. Maut adalah upah (ovyw,nion), sedangkan kehidupan kekal adalah pemberian (ca,risma) Allah. Maut adalah sesuatu yang diusahakan oleh manusia (manusia layak menerimanya sebagai hasil usaha mereka), sedangkan kehidupan kekal adalah murni pemberian Allah (manusia sebenarnya tidak layak menerimanya). Kata ovyw,nion bisa dipakai untuk pembayaran uang dalam segala sisi kehidupan, tetapi kata ini biasanya digunakan secara khusus untuk pembayaran upah pada tentara (LS). Arti ini juga didukung oleh LXX (1Esdras 4:56; 1Mak 3:28; 14:32) dan PB (Luk 3:14; 1Kor 9:7). Arti ini sesuai dengan gambaran kemiliteran yang dipakai di bagian sebelumnya (band. istilah “senjata-senjata” di ay. 13).

Ayat 23 semakin melengkapi kontras antara kehidupan lama dan baru: tuan (dosa à Allah), akibat (maut à kehidupan kekal), cara (diusahakan à cuma-cuma).

 

BEBAS DARI TAURAT (ROM 7:1-25)

Dalam bagian ini Paulus membahas hubungan status pembenaran dengan Taurat. Kaitan antara bagian ini dengan bagian-bagian sebelumnya terletak pada beberapa poin:

  • Pasal ini merupakan elaborasi detail yang mencakup beberapa pembahasan singkat tentang Taurat di bagian sebelumnya (3:19-20, 27-28; 4:13-15; 5:13-14, 20).
  • Pasal 7:1-6 membentuk paralelisme yang kuat dengan 6:15-23.

Pasal 6:15-23  mati untuk dosa à bebas dari dosa à dosa tidak menguasai lagi

Pasal 7:1-6  mati untuk Taurat à bebas dari Taurat à Taurat tidak menguasai lagi

  • Pasal ini terkait dengan pernyataan Paulus di 6:14 dan 15 (tidak di bawah Taurat berarti kesempatan untuk berbuat dosa?). Dengan kata lain, kalau di 6:15-23 Paulus lebih memfokuskan pada sisi dosanya, sekarang ia memfokuskan pada Taurat. Ia ingin menjelaskan secara panjang lebar arti “tidak hidup di bawah Taurat”.

 

Paulus mula-mula –melalui metafora pernikahan – memberikan argumentasi bahwa orang percaya telah dibebaskan dari Taurat (ay. 1-6). Metafora ini dilengkapi dengan beberapa catatan “negatif” tentang Taurat dalam kaitan dengan dosa. Pernyataan ini pasti akan menimbulkan pertanyaan tentang posisi Taurat dalam sejarah keselamatan, yaitu “apakah Taurat pada dirinya sendiri adalah berdosa, padahal Taurat itu pemberian Allah?” (ay. 7). Pertanyaan kedua adalah “seandainya Taurat itu baik (ay. 7-12), mengapa hal itu mendatangkan kematian?” (ay. 13).

 

MATI UNTUK TAURAT (ROMA 7:1-6)

 

Berbeda dengan pembagian perikop LAI:TB, ayat 1-6 seharusnya menjadi satu kesatuan pemikiran dan ayat 7-12 perikop lain yang terpisah. Ayat 1-6 memaparkan inti pembahasan Paulus, sedangkan ayat 7-12 merupakan antisipasi terhadap kemungkinan kesalahpahaman yang mungkin timbul. Sebagaimana Paulus menggunakan metafora perhambaan untuk menjelaskan relasi orang percaya dengan dosa, di pasal 7 ia juga memakai metafora untuk menggambarkan relasi orang percaya dengan Taurat, yaitu metafora hukum perkawinan.

 

 

 

 

 

Struktur ayat 1-6 adalah sebagai berikut:

Prinsip umum: hukum mengikat seseorang hanya selama ia hidup (ay. 1)

Contoh: hukum perkawinan (ay. 2-3)

Aplikasi metafora: mati untuk Taurat dan menjalin hubungan dengan Yesus (ay. 4)

Signifikansi transfer relasi (ay. 5-6)

 

Ayat 1. Ungkapan “apakah kamu tidak tahu” (“H avgnoei/te) mengindikasikan bahwa isi pernyataan Paulus sudah dimengerti oleh penerima surat. Ia hanya memakai prinsip umum pada waktu itu. Beberapa sarjana menganggap o` no,moj di sini sebagai hukum Romawi, hukum secara umum atau hukum Taurat. Ada beberapa alasan untuk mengambil alternatif terakhir:

  • Penggunaan no,moj di bagian-bagian sebelumnya merujuk pada Taurat.
  • Pasal 7 merupakan elaborasi pertanyaan di 6:15, sedangkan no,moj di 6:15 merujuk pada Taurat.
  • Inti 7:1 paralel dengan beberapa tulisan para rabi (meskipun pentarikhan tulisan-tulisan tersebut agak terlambat), misalnya Shabb. 30a, Shabb. 151b bar, Str-B, 3.232, yang menyatakan bahwa jika seseorang mati, ia bebas dari ikatan Taurat.
  • Contoh hukum perkawinan di ayat 2-3 lebih bernuansa Yahudi (Taurat), misalnya ungkapan “seorang istri” ( “seorang wanita yang berada di bawah suami” (h` u[pandroj gunh., band. Bil 5:29).

Bagaimanapun, rujukan pada Taurat ini tidak berarti bahwa Paulus hanya menujukan pasal 7 kepada jemaat Yahudi. Mereka yang berkultur non-Yahudi pasti juga sudah memahami hal ini, karena yang disampaikan Paulus sifatnya sangat umum.

 

Ayat 2-3. Untuk memperjelas poin yang ingin disampaikan, Paulus memberikan satu contoh aplikasi dari prinsip umum di ayat 1. Ia memakai hukum perkawinan: seorang istri terikat pada hukum perkawinan hanya selama suaminya hidup; jika suaminya meninggal, ia bebas dari ikatan perkawinan dan bebas memilih laki-laki lain sebagai suami. Implikasinya, jika seorang istri menikah lagi sebelum suaminya meninggal, ia telah berbuat zinah. Poin yang ingin disampaikan Paulus sebenarnya sudah jelas, tetapi analogi dari metafora ini dengan aplikasinya di ayat 4 tampak tidak sesuai. Dalam metafora ini yang meninggal adalah suami dan istri boleh menikah dengan laki-laki lain. Dalam aplikasi di ayat 4 – jika dipadankan secara detail – yang meninggal adalah istri (baca: orang percaya) dan istri yang meninggal tersebut  menjalin relasi dengan pihak lain (Yesus Kristus).

 

 

 

 

 

Permasalahan ini dapat dipecahkan dalam dua cara:

  • Dari prinsip hermeneutika metafora/simbol. Suatu metafora biasanya hanya menyampaikan satu poin utama. Dalam metafora ini intinya terletak pada kebebasan yang dimiliki seseorang (entah itu suami atau istri) jika pasangannya meninggal.
  • Dari rujukan ayat 4. Ayat 4 bukan hanya aplikasi dari ayat 2-3, tetapi ayat pertama juga. Sebagaimana ayat 2-3 menjelaskan lebih lanjut tentang prinsip umum di ayat 1, demikian juga ayat 4 merupakan aplikasi dari ayat 1-3. Asumsi ini didukung dengan pemakaian kata sambung w[ste di ayat 4 (bukan ou[twj).

 

Ayat 4. Kata sambung “sebab itu” (w[ste) menunjukkan Paulus sedang menarik konklusi atau aplikasi dari ayat 2-3. “Mati bagi Taurat” di sini identik dengan “tidak berada di bawah Taurat” di 6:14-15. Hal ini tidak hanya menjelaskan kebebasan dari hukuman Taurat, tetapi – yang lebih penting – dari ‘kuasa’ Taurat sebagai representasi era lama yang merangsang dosa. Ada dua argumentasi yang mendukung asumsi ini:

Mati bagi dosa di pasal 6 – sebagai paralel dengan mati bagi Taurat – tidak membahas kebebasan dari hukuman dosa (maut), tetapi kuasa dosa.

Pasal 7:7-25 lebih memfokuskan pada hubungan antara dosa dan Taurat yang menghasilkan dosa. Bagian ini membahas ‘akibat’ Taurat (bukan hukuman Taurat).

Orang percaya telah mati bagi Taurat, sehingga semua ikatan dengan Taurat telah terputus. Ada tiga aspek dari kematian bagi Taurat di ayat 4:

Cara: melalui tubuh Kristus.

sw,ma tou/ Cristou/ di sini tidak merujuk pada gereja (band. 1Kor 12). Orang percaya tidak mati bagi Taurat melalui koorperasi dengan orang percaya yang lain. sw,matoj tou/ Cristou/ merujuk pada kematian Yesus. Persekutuan dengan kematian Kristus ini sesuai dengan 6:3-5. Orang percaya memiliki relasi (persekutuan) objektif dengan apa yang dilakukan Yesus di kayu salib (band. 5:12-21).

Konsekuensi: menjadi milik Kristus.

Struktur eivj to. + infinitif dalam ayat ini lebih mengindikasikan hasil daripada tujuan. Setelah orang percaya mati bagi Taurat melalui penebusan Kristus, mereka terikat dengan Yesus. Penambahan frase “kepada Dia yang dibangkitkan dari antara orang mati” (tw/| evk nekrw/n evgerqe,nti) mengindikasikan bahwa relasi yang baru dengan Kristus ini adalah sesuatu yang permanen (band. 6:9-10).

Tujuan: menghasilkan buah bagi Allah.

Beberapa sarjana memahami “menghasilkan buah” (karpofore,w) sebagai ungkapan lain dari melahirkan (Barret, Sanday & Headlam, Fitzmyer), tetapi dugaan ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan mendasar adalah penggunaan datif tw/| qew/| (bagi Allah).

Seandainya “menghasilkan buah” = “melahirkan” seharusnya dipakai datif tw/| cristw/| (bagi Kristus), karena orang percaya digambarkan memiliki ikatan dengan Kristus. karpofore,w di sini pasti merujuk pada arti buah secara umum seperti di 6:21-22.

 

Ayat 5-6. Seperti dalam 6:20-22, Paulus di 7:5-6 juga memuat kontras antara kehidupan lama dan baru. Dalam bagian ini ia menjelaskan mengapa kematian bagi Taurat merupakans esuatu yang penting. Penjelasan ini tercermin dari kontras yang dipaparkan. Kata sa,rx (“daging”) di ayat 5 tidak merujuk pada natur keberdosaan/kedagingan manusia (kontra NIV). “Hidup di dalam daging” berarti hidup yang dikuasai oleh prinsip dan nilai manusiawi. Paulus menggambarkan sa,rx sebagai kekuatan lain dari era lama. Tidak heran sa,rx di pasal 7-8 selalu dikontraskan  dengan Roh Kudus sebagai kekuatan dalam kehidupan di era baru. Taurat merangsang (lit. “membangkitkan”) hawa nafsu dosa bekerja dalam diri manusia. Taurat bukan hanya menyatakan dosa (3:20), mengubah dosa menjadi pelanggaran (5:20), tetapi juga terlibat dalam menghasilkan dosa.  Standard ilahi yang dinyatakan dalam Taurat merangsang natur keberdosaan manusia untuk secara sengaja melawan standard tersebut. Bentuk imperfect evnhrgei/to (“dibangkitkan”) merujuk pada tindakan yang dilakukan terus-menerus pada masa lampau. Semua proses ini terjadi dalam “anggota-anggota tubuh” (me,loj, band. 6:13, 19) – suatu frase yang merujuk pada seluruh aspek kehidupan manusia: pikiran, perasaan, kehendak dan fisik. Hasil dari semuanya ini adalah kematian (maut, band. 6:21, 23).

 

Berbeda dengan kehidupan lama di bawah Taurat – yang menghasilkan dosa dan kematian (ay. 5) – kehidupan yang baru di luar Taurat membuat orang percaya sekarang melayani dalam keadaan yang baru menurut Roh, bukan dalam keadaan yang lama dalam huruf hukum Taurat. Ayat 6b secara literal diterjemahkan “dalam kebaruan Roh dan kelamaan huruf”. Bentuk genitif pneu,matoj (Roh) dan gra,mmatoj (huruf) bisa berfungsi secara epexegetical à “dalam kebaruan, [yaitu] Roh dan bukan dalam kelamaan, [yaitu] huruf”. Genitif di ayat ini bisa juga berfungsi secara subjective “dalam kebaruan yang dihasilkan oleh Roh dan bukan dalam kelamaan yang dihasilkan oleh huruf”. Perbedaan makna di antara dua pilihan tersebut tidak terlalu mendasar. Isu yang lebih penting adalah makna kontras “Roh” dan “huruf” di sini. Beberapa memahami kontras ini sebagai “tuntutan internal versus tuntutan eksternal”, “Roh versus penggunaan Taurat secara legalistik”, dsb. Berdasarkan pemakaian kontras “Roh” vs “huruf” di 2:27-29 dan 2Kor 3:6, kontras ini tampaknya antara perjanjian yang baru dengan yang lama. Interpretasi ini didukung oleh kontras “ketika…sekarang” di ayat 5-6 dan penggunaan kontras “lama-baru” dalam tulisan Paulus (2Kor 3:14; 5:17; Ef 4:22-24). Jadi, ayat ini mengajarkan bahwa kematian bagi Taurat membawa orang percaya melayani Allah dalam keadaan (era) yang baru yang berkaitan dengan Roh. Relasi antara karya Roh Kudus dan status orang percaya dalam era yang baru akan dibahas secara lebih mendetail di pasal 8. Di 7:7-25 Paulus lebih terfokus pada penjelasan tentang bagaimana orang di luar Kristus melayani dalam keadaan lama oleh hukum Taurat.

 

HUKUM TAURAT DAN DOSA (ROMA 7:7-25)

 

Sebagai antisipasi terhadap kesalahpahaman tentang ayat 5-6, Paulus membuktikan bahwa Taurat pada dirinya sendiri adalah kudus. Taurat adalah milik Allah (ay. 22), baik (ay. 12, 17), kudus (ay. 12), adil (ay. 12) dan rohani (ay. 14). Penyebab utama bukanlah Taurat, tetapi dosa (ayat 7-12) dan kedagingan manusia (ay. 13-25). Hal ini bukan berarti Paulus menarik kembali pernyataannya di ayat 5-6. Ia tetap menghubungkan eksistensi Taurat dengan dosa. Taurat telah menjadi instrumen yang dipakai oleh dosa dan kedagingan manusia untuk mengeksploitasi semua tindakan kejahatan. Ide pemikiran di balik gagasan ini mungkin berasal dari Kejadian 2-3. Ular (Iblis) justru telah menggunakan perintah Allah yang baik (Kej 2:16-17) untuk menjatuhkan manusia.

 

Dalam bagian ini (ayat 7-25) ada dua isu utama yang biasanya diperdebatkan. Pertama, apakah identitas dan maksud Paulus menggunakan kata ganti orang “aku” di ayat 7-25? Apakah ia sekedar menceritakan pengalaman pribadi? Mewakili manusia pada umumnya? Inti permasalahan biasanya dikaitkan dengan arti ayat 9-10 “Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.”. Kedua, apakah “aku” di ayat 13-25 adalah Paulus sebelum atau sesudah bertobat? Pertanyaan kedua akan dibahas secara khusus dalam bagian selanjutnya. Bagian ini hanya mencoba menjelaskan pertanyaan pertama.

 

Ada beberapa interpretasi utama terkait dengan hal ini:

“Aku” adalah pengalaman pribadi Paulus. Pengalaman ini dituliskan karena unik dan mewakili pengalaman setiap manusia.

“Aku” adalah Adam.

“Aku” adalah bangsa Israel.

“Aku” tidak merujuk pada siapa-siapa. Penggunaan kata ganti “aku” hanya sekedar gaya retoris.

Mayoritas sarjana umumnya menyetujui bahwa “aku” adalah Paulus sendiri, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kapasitas Paulus sebagai “aku”. Paulus pasti tidak sedang menceritakan pengalamannya per se, sebab hal itu tidak akan memiliki nilai argumentatif sama sekali bagi pandangan Paulus di ayat 7-25. Ia kemungkinan sedang menceritakan pengalamannya sebagai representasi semua orang (atau Israel secara khusus).

 

HUKUM TAURAT YANG BAIK VS DOSA (ROMA 7:7-12)

 

Ayat 7-12 seharusnya merupakan satu perikop baru (kontra LAI:TB):

  • Pertanyaan “Ti, ou=n” ( “Jadi bagaimana…?”) di ayat 7 selalu dipakai Paulus untuk memulai suatu perikop yang baru (band. 3:1; 3:9; 4:1; 6:1; 6:15).
  • Ayat 7 membentuk inclusio dengan ayat 12. Pertanyaan “apakah hukum Taurat dosa?” dijawab dengan “hukum Taurat itu kudus dan benar”.

 

Struktur ayat 7-12 dapat dibagi sebagai berikut:

Taurat bukan merupakan dosa (ay. 7a)

Taurat berperanan dalam tindakan dosa (ay. 7b-8)

Akibat: dosa hidup, manusia mati (ay. 9-11)

Konklusi: Taurat adalah kudus, benar dan baik (ay. 12).

 

Ayat 7a. Pernyataan Paulus di ayat 5-6 bisa menimbulkan kesan bahwa hukum Taurat bersifat negatif (dosa). Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahpahaman tentang hal ini Paulus menyatakan bahwa hukum Taurat pada dirinya sendiri adalah benar dan kudus. Pernyataan positif di atas tidak berarti bahwa tidak ada kaitan langsung antara Taurat dan dosa.

 

Ayat 7b-8. Dalam bagian ini Paulus menjelaskan ‘peranan’ Taurat dalam menghasilkan dosa. Kata avlla. (LAI:TB “tetapi”) sebaiknya dimengerti secara restrictive “walaupun”. Taurat bukan hanya memberitahu bahwa suatu tindakan adalah dosa (pelanggaran, 4:15; 5:13-14), tetapi juga menyebabkan manusia ‘mengenal’ dosa. “Mengenal” di sini bukan hanya secara kognitif, tetapi juga pengalaman. Setelah Taurat diberikan manusia menjadi semakin memahami (merasakan langsung) keberdosaan dosa. Dosa menjadi bekerja (ay. 8) dan hidup (ay. 9-10). Pengambilan contoh dari genelarisasi perintah ke-10  bersumber dari pemikiran Yahudi yang menganggap “keinginan” merupakan akar semua dosa (4Mak 2:6; Yak 1:15; Philo), sehingga perintah “jangan mengingini” dianggap sebagai rangkuman semua perintah yang ada. Paulus selanjutnya menjelaskan bagaimana manusia bisa mengenal keberdosaan dosa dalam kaitan dengan Taurat:

  1. Taurat membuat manusia paham tentang arti “mengingini” (ay. 7b).

Frase ini tidak berarti bahwa sebelum Taurat manusia tidak tahu arti keinginan. Ini menunjukkan bahwa setelah ada Taurat manusia baru menyadari natur sesungguhnya dari “keinginan”. Keinginan merupakan suatu kekuatan yang selalu ingin memberontak terhadap Allah.

  1. Taurat memberi kesempatan dosa untuk membangkitkan rupa-rupa keinginan (ay. 8).

 

 

 

Setelah perintah Allah – sebagai pedoman bagi manusia – diberikan, dosa justru memanfaatkan hal itu untuk membangkitkan hal-hal yang bertentangan dengan perintah tersebut. Dosa, sebagaimana digambarkan di pasal 6, adalah suatu kuasa dalam era lama yang memang selalu berusaha membawa manusia melawan Allah. Sebagaimana pemikiran etika umum, sebuah larangan justru memotivasi orang untuk melanggar guna mengetahui alasan di balik pelarangan tersebut.

 

Ayat 9-11. Penjelasan di atas membuktikan ketidakmampuan manusia melakukan Taurat. Taurat diberikan dengan maksud yang baik, yaitu supaya  manusia dapat hidup, namun kekuatan dosa dalam diri manusia justru menghasilkan hal yang sebaliknya: bukan manusia yang hidup, tetapi dosa yang justru hidup. Dosa telah menipu dan membunuh manusia.

 

Ayat 12. Ayat ini merupakan konklusi bagi seluruh perikop atau penjelasan bagi ayat 7a. Taurat tidak dosa. Sebaliknya, Taurat adalah kudus (karena berasal dari Allah yang kudus), benar (tidak ada salah) dan baik (tujuannya untuk hidup manusia). Permasalahan bukan terletak pada Taurat, tetapi pada dosa dalam diri manusia.

 

HUKUM TAURAT YANG BAIK VS EGO (ROMA 7:13-25)

 

Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, bagian ini menimbulkan banyak perdebatan seputar identitas “aku”. Secara umum dapat dibagi menjadi dua: Paulus sebelum bertobat atau sesudah bertobat. Solusi terhadap pertanyaan ini sebenarnya tidak mempengaruhi inti ayat 13-25. Bagaimanapun, identifikasi ini tetap diperlukan.

 

Argumentasi yang mendukung “aku” sebagai Paulus yang belum bertobat:

  • Relasi yang kuat antara “aku” dan “daging” (ay. 14, 18, 25) mendukung asumsi bahwa Paulus sedang menjelaskan keadaan orang yang belum bertobat (band. 7:5).
  • “Aku” dalam bagian ini berjuang dengan usaha sendiri (terutama ay. 25) tanpa bantuan dari Roh Kudus.
  • “Aku” berada di bawah kuasa dosa (ay. 14b), sedangkan orang percaya telah dibebaskan dari situasi tersebut (6:2, 6, 11, 18-22).
  • Perjuangan yang gagal di ayat 15-20 membuat “aku” menjadi tawanan hukum dosa (ay. 23), padahal orang percaya sudah dibebaskan dari hukum dosa (8:2).
  • Orang percaya memang masih bergumul dengan dosa (6:12-13; 13:12-14; Gal 5:17), tetapi yang digambarkan di 7:14-25 bukan hanya pergumulan, sebaliknya sebuah kekalahan dari dosa.
  • “Aku” di sini bergumul dengan kebutuhan untuk memenuhi tuntutan Taurat, padahal Paulus sudah mengajarkan bahwa orang percaya bebas dari tuntutan Taurat (6:14; 7:4-6).

 

Argumentasi yang mendukung “aku” sebagai Paulus yang sudah bertobat:

  • Sebagaimana ayat 7-12, “aku” di sini pasti merujuk pada Paulus. Pergantian tense dari bentuk lampau (ay. 7-12) ke bentuk kekinian (present) di ayat 13-25 menunjukkan bahwa Paulus sedang memaparkan pengalamannya sebagai orang Kristen.
  • Orang yang belum bertobat tidak mencari Allah (3:11) dan tidak tunduk pada hukum Allah (8:7), sedangkan “aku” mencintai hukum Allah (ay. 22), berusaha untuk menaatinya (ay. 15-20) dan melayaninya (ay. 25).
  • Pikiran orang yang belum bertobat biasanya digambarkan secara negatif oleh Paulus (1:28; Ef 4:17; Kol 2:18; 1Tim 6:5; 2Tim 3:8; Tit 2:15), sedangkan pikiran “aku” dalam konteks ini sifatnya positif (ay. 22, 25).
  • Hanya orang percaya yang memiliki ‘manusia batiniah’ (e;sw a;nqrwpoj, ay. 22). Paulus juga menggunakan istilah ini di 2Kor 4:16 dan Ef 3:16 untuk orang percaya.
  • Konklusi bagian ini (ay. 25b) – setelah penyebutan pelepasan oleh Tuhan Yesus (ay. 25a) – tetap menyebut perbedaan antara akal budi (melayani hukum Allah) dan tubuh insani (melayani hukum dosa).

 

Masing-masing argumentasi di atas sama-sama kuat, namun alternatif pertama tampaknya lebih bisa diterima. Berikut ini adalah kemungkinan jawaban bagi sanggahan para sarjana yang menganggap “aku” sebagai orang percaya:

  • Bentuk present mungkin dipakai Paulus untuk menggambarkan suatu situasi yang benar secara umum atau Paulus sedang mewakili pengalaman bangsa Yahudi lain yang hidup dalam Taurat.
  • Mencintai hukum Allah dalam pikiran Paulus tidak selalu merujuk pada sifat orang percaya. Orang Yahudi yang tidak percaya pun juga disebut “giat bagi Allah” (10:2). Solusi ini sekaligus menjawab keberatan (3) di atas.
  • Penggunaan istilah “manusia batiniah” harus dipahami dalam konteks antropologis, bukan soteriologis. Dalam 2Kor 4:16 “manusia batiniah” dikontraskan dengan “manusia lahiriah” dan keduanya dimiliki oleh orang percaya. Ef 3:16 “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu” tampaknya juga merujuk pada satu elemen tertentu dalam diri manusia (sebagai kontras dengan elemen lain yang sifatnya material).
  • Ayat 25b merupakan bantahan paling serius terhadap identifikasi “aku” sebagai orang yang belum bertobat, karena orang yang sudah dibebaskan oleh Yesus Kristus (ay. 25a) ternyata masih menghadapi pengalaman kegagalan yang sama (ay. 25b).

Beberapa sarjana menganggap ayat 25b sebagai tambahan saja (Kasemann) atau meletakkan ayat 25b setelah ayat 23 (Dodd). Solusi terhadap hal ini (meskipun tidak konklusif) adalah dengan melihat ayat 25a sebagai antisipasi (belum terjadi) dari apa yang akan dialami oleh orang yang dibebaskan Yesus Kristus. Jadi, ayat 25a bisa dianggap sebagai break yang akan dijelaskan panjang lebar di pasal 8. Ayat 25b sendiri merupakan konklusi dari seluruh pembahasan di ayat 13-24. Posisi sebagai konklusi ini harus dibedakan dari posisi sebagai konsekuensi/situasi akhir.

 

Struktur ayat 13-25 dapat dijelaskan sebagai berikut:

Taurat yang baik tidak menjadi kematian (ay. 13a)

Alasan: dosa yang menghasilkan kematian melalui Taurat (ay. 13b-14)

Tujuan: menyatakan dosa yang sesungguhnya dan menjadikan dosa lebih berdosa lagi  (ay. 13b)

Cara: melalui kedagingan manusia yang terjual di bawah kuasa dosa (ay. 14)

Akibat dari kedagingan yang terjual di bawah dosa (ay. 15-20)

Konklusi: (ay. 21-23)

Ungkapan keputusasaan (ay. 24)

Break: jalan keluar à Tuhan Yesus (ay. 25a)

Konklusi: akali budi melayani hukum Allah, tetapi kedagingan melayani dosa (ay. 25b)

 

Ayat 13a. Pertanyaan di ayat ini merupakan antisipasi terhadap kemungkinan kesalahpahaman tentang pernyataan Paulus di ayat 7-12. Kalau memang Taurat itu baik (ay. 7, 12) – tetapi justru menghasilkan kematian – apakah itu berarti bahwa Taurat yang baik tersebut menjadi kematian bagi manusia? Jawaban Paulus adalah tegas: TIDAK! Ia selanjutnya menjelaskan jawaban ini di ayat 13b-25. Pertanyaan ini sebenarnya mirip dengan isu di ayat 7-12, namun perbedaannya terletak pada dua hal:

  • Ayat 7-12 lebih terfokus pada aspek eksternal antara dosa dan Taurat, sedangkan ayat 13-25 pada aspek internal antara dosa dan kedagingan manusia.
  • Ayat 13-25 relatif lebih detail daripada penjelasan di ayat 7-12.

 

Ayat 13b-14. Struktur kalimat Yunani di ayat 13b agak rancu, karena tidak memiliki kata kerja pada induk kalimat. Secara literal (tanpa penambahan kata kerja pada induk kalimat) ayat 13b diterjemahkan “tetapi dosa, supaya terlihat sebagai dosa, melalui yang baik mengerjakan (participle katergazome,nh) kematian dalam aku, supaya  dosa itu menjadi semakin berdosa melalui perintah itu”. Mayoritas penerjemah atau penafsir biasanya mengasumsikan adanya kata kerja finite stative sebelum participle katergazome,nh atau menganggap katergazome,nh sebagai kata kerja utama. Terlepas dari alternatif tersebut, arti kalimat ini sebenarnya sudah cukup jelas: dosa menghasilkan kematian melalui sesuatu yang baik (Taurat). Dua anak kalimat  i[na (“supaya”) + kata kerja subjunctive menunjukkan tujuan tindakan di induk kalimat.

  1. Supaya dosa dinyatakan sebagai dosa.

Melalui Taurat seseorang memahami kesalahan yang ia lakukan adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, karena Taurat berasal dari Allah. Suatu tindakan bukan hanya salah secara moral, tetapi secara teologis.

  1. Supaya dosa menjadi semakin berdosa.

Taurat bukan hanya menyatakan bahwa suatu tindakan dosa, tetapi Taurat juga menjadikan dosa menjadi semakin berdosa. Frase kaqV u`perbolh.n a`martwlo.j oleh mayoritas EV’s diterjemahkan “berdosa secara luar biasa” (ASV, NKJV) atau “berdosa melewati ukuran” (RSV). Frase ini berarti bahwa melalui Taurat dosa telah menjadi tindakan pemberontakan yang disengaja  untuk melawan Allah (band. 4:15; 5:13-14; 5:20).

Ayat 14 dimulai dengan kata sambung gar (“sebab”) yang menerangkan ayat 13b: bagaimana sesuatu yang baik bisa digunakan untuk mendatangkan kematian? Paulus kembali menegaskan bahwa Taurat adalah baik. Kali ini ia memakai istilah “rohani” (pneumatikoj). pneumatikoj berfungsi untuk menunjukkan asal/sumber Taurat, yaitu dari Allah sendiri (band. 1Kor 10:3-4 dan tulisan para rabi yang menyatakan kitab-kitab kanonik diucapkan oleh Roh Kudus). Selain itu, pneumatikoj membuat kontras dengan “aku” (evgw.) di ayat 14b. Deskripsi tentang orang yang belum bertobat:

  1. Bersifat kedagingan (sarkinoj).

Deskripsi ini sebenarnya tidak selalu merujuk pada orang yang belum bertobat. Paulus pernah mengaplikasikan hal ini untuk orang percaya (1Kor 3:1). Bagaimanapun, sifat ini pasti juga dimiliki oleh orang yang tidak percaya. Berdasarkan kontras antara kata pneumatikoj dan sarkinoj di 1Kor 3:1-3,  sarkinoj di sini tampaknya merujuk pada manusia yang dikuasai oleh prinsip-prinsip duniawi (kefanaan).

  1. Terjual di bawah dosa (peprame,noj u`po. th.n a`marti,an).

Deskripsi ini merupakan penjelasan lanjut tentang poin sebelumnya. Orang yang belum bertobat berada dalam situasi terjual (participle peprame,noj) di bawah dosa.  Kata dasar pipra,skw dipakai 24 kali di LXX, 11 di antaranya merujuk pada penjualan budak (band. Mat 18:25). Tense perfect yang dipakai dalam peprame,noj juga mungkin menunjukkan keberdosaan di dalam Adam yang masih memiliki akibat sampai sekarang. Istilah ini jelas mengindikasikan hal yang sama dengan metafora perhambaan di pasal 6. Yang diindikasikan dalam frase ini adalah otoritas dosa atas seseorang. Orang yang dikuasai dosa tidak memiliki keinginan lain kecuali menuruti kehendak dosa.

 

Ayat 15-20. Bagian ini merupakan penjelasan subjektif yang menerangkan akibat dari sifat kedagingan dan situasi terjual di bawah dosa (ay. 14). Paulus memulai dengan pernyataan “aku tidak tahu apa yang aku lakukan”. Kata “tidak tahu” (ouv ginw,skw) lebih tepat dipahami sebagai “tidak menyetujui” (Cranfield, Moo, BAGD, band. KJV),  meskipun arti umum ginw,skw memang “mengetahui”. Arti ini juga didukung oleh anak kalimat selanjutnya. Paulus melakukan apa yang justru ia benci, padahal keinginannya melakukan yang baik. Ada pertentangan antara “keinginan” (sifatnya positif) dan “ketidakmampuan” (sifatnya negatif). Situasi ini membuktikan dua hal:

  1. Bahwa Taurat adalah baik.

Artinya, eksistensi konflik antara yang baik dan yang jahat dalam diri manusia membuktikan bahwa Taurat adalah baik (diingini oleh elemen yang baik dalam diri manusia).

  1. Bahwa dosa begitu menguasai manusia.

Inti ayat 17-20 terletak pada eksistensi dosa yang menjadi penyebab ketidakmampuan manusia melakukan apa yang baik (ay. 17, 20). Pernyataan ini mirip dengan ajaran para rabi yang menyebut yeser (keinginan) yang jahat sebagai penyebab dosa. Para rabi mengajarkan bahwa yeser tersebut harus dilawan dengan Taurat atau yeser yang baik. Perbedaan esensial dengan teologi Paulus terletak pada solusi untuk melawan yeser yang baik: Paulus mengajarkan bahwa solusi hanya ada dalam Tuhan Yesus (ay. 25a). Eksistensi dosa menyebabkan tidak ada yang baik dalam diri (“evn th/| sarki,”) Paulus. Sarx di sini sebaiknya dipahami sebagai elemen dalam diri manusia yang sifatnya material (sebagai kontras dengan keinginan/pikiran). Ini tidak berarti bahwa Paulus mengadopsi dualisme Yunani yang menganggap tubuh secara fisik sebagai kejahatan. Ini juga tidak berarti bahwa orang yang belum bertobat tidak memiliki kebaikan sama sekali (band. 2:14-15). Gambar Allah dalam diri mereka tidak hilang (Kej 9:6; Yak 3:9). Yesus pun mengakui bahwa bangsa-bangsa lain memiliki kebaikan (Mat 5:46f; 7:11). Terjemahan LAI:TB di ayat 18b “Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” bisa menimbulkan kesan kontradiktif dengan ayat 15-16, karena terjemahan tersebut seakan-akan menyatakan bahwa kehendak yang dimiliki Paulus bukanlah kehendak untuk melakukan apa yang baik. Ayat 18b secara literal seharusnya diterjemahkan “sebab keinginan [itu] ada padaku, tetapi kelakuan [itu] tidak ada”. Eksistensi dosa menyebabkan Paulus tidak mampu melakukan apa yang ia tahu seharusnya ia lakukan.

 

 

 

 

 

Ayat 21-23. Kata sambung a;ra (“demikianlah”) di ayat 21 mengindikasikan bahwa bagian ini merupakan konklusi dari ayat 14-20. no,moj di ayat 21 – mengikuti mayoritas EV’s – sebaiknya diterjemahkan secara umum, yaitu “prinsip” (band. 2;12). Prinsip tersebut adalah: keinginan berbuat baik dalam diri manusia tidak bisa terealisasi karena eksistensi dosa yang menguasai bagian lain dari diri manusia. Penggunaan istilah ini menyiratkan situasi permanen yang sulit diubah, yaitu ketidakberdayaan manusia melakukan apa yang dikehendaki/dipikirkan karena dosa (band. “hukum dosa” di ayat 23). Prinsip ini akan terus berlaku dan membuat manusia putus asa (ay. 24). Ada pertentangan antara hukum akal budi (yang berorientasi pada hukum Taurat) dan hukum lain (yang berorientasi pada dosa). Kekuatan “hukum lain” ini digambarkan dengan ungkapan militer “berjuang” (avntistrateu,omai) yang merupakan hapax legomena.

 

Ayat 24. Situasi di ayat 14-23 membawa orang yang belum bertobat pada puncak keputusasaan. Ungkapan “celaka” (talai,pwroj) dalam LXX dan PB biasanya dipakai untuk kesengsaraan yang berhubungan dengan penghakiman Allah (Yes 47:11; Yer 6:7; 15:8; 20:8; 51:56; Amos 5:9; Mik 2:4; Yoel 1:15; Zef 1:15; Yak 5:1; Wah 3:17). Pertanyaan “siapa” (bukan “apa”) di sini penting sebagai kontras terhadap konsep para rabi yang menganggap Taurat dan yeser yang baik sebagai solusi. Kekuatan dosa yang beroperasi dalam tubuh manusia – yang hanya membawa pada kematian (band. “tubuh kematian”) – hanya bisa dibebaskan oleh Tuhan Yesus (ay. 25a).

 

Ayat 25a. Ungkapan “syukur kepada Allah oleh  Yesus Kristus Tuhan kita” menjelaskan solusi yang telah disediakan. Solusi tersebut bersumber dari Allah, tetapi dikerjakan oleh Tuhan Yesus.

 

Ayat 25b. Bagian ini merupakan konklusi bagi semua pembahasan di ayat 13-25a. Pertentangan konstan antara akal budi (dan keinginan) melawan daging yang dikuasai dosa akan terus menjadi fenomena orang-orang yang belum bertobat. Bagi orang percaya sendiri, situasi ini tidak perlu menjadi momok, karena Paulus sendiri sudah mengantisipasi kelepasan dari situasi ini melalui Yesus Kristus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ROH KUDUS DALAM HIDUP ORANG PERCAYA (ROMA 8:1-39)

 

Fenomena yang menarik dalam pasal 8 adalah munculnya kata pneu/ma sebanyak 21 kali. Semua (paling tidak 19 kali) pemunculan tersebut  merujuk pada Roh (Kudus). Statistik ini sangat penting, mengingat Roh Kudus hanya muncul 7 kali di pasal 1-7 dan 8 kali di pasal 9-16. Pasal ini adalah pasal yang paling banyak memuat kata Roh Kudus dibanding dengan pasal lain di PB (Cranfield), bahkan mengalahkan 1Kor 12 (Moo). Pemunculan pneu/ma di pasal 8 memang tidak terdistribusi secara konsisten dan seimbang (15 kali di ayat 1-17, tetapi hanya 5 kali di ayat 18-39), namun statistik ini cukup untuk memberikan indikasi bahwa tema pasal ini terkait dengan Roh Kudus. Secara umum tema pasal ini adalah karya Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Secara lebih khusus, temanya adalah karya Roh Kudus dalam menjamin keselamatan orang percaya.

 

LAI:TB membagi pasal ini menjadi 3 perikop: ayat 1-17, 18-30 dan 31-39. NIV juga membagi menjadi 3, tetapi dengan pengaturan yang berbeda: ayat 1-17, 18-27, 28-39. Mayoritas sarjana membagi pasal ini menjadi 4 perikop: ayat 1-11, 12-17, 18-30 dan 31-39 (Kasemann, Cranfield, Dunn). Bagian yang masih diperdebatkan oleh beberapa sarjana lain adalah perikop pertama. Mereka mengusulkan perikop pertama berakhir sampai ayat 13. Mereka yang menganggap ayat 12 sebagi permulaan perikop ke-2 biasanya mendasarkan argumentasi pada penggunaan :Ara ou=n (LAI:TB “jadi”). Bagaimanapun, ada beberapa alasan penting mengapa perikop ke-1 sebaiknya diakhiri dengan ayat 13 (Fitzmyer, Moo):

  • Mayoritas penggunaan :Ara ou=n dalam surat Roma bukan terletak pada awal perikop (5:18; 7:3, 25; 9:16, 18; 14:12, 19). Pemakaian tersebut bahkan menunjukkan bahwa :Ara ou=n seringkali dipakai sebagai konklusi/implikasi/konsekuensi dari apa yang sudah disampaikan sebelumnya.
  • Ayat 12-13 masih membahas topik pertentangan daging melawan Roh yang sedang dibahas di ayat 1-11, sedangkan ayat 14-17 tidak membicarakan tentang pertentangan tersebut.
  • Ayat 12-13 lebih cocok jika berfungsi sebagai konklusi/konsekuensi dari pembahasan di ayat 1-11.

 

Jika argumentasi di atas diterima, struktur pasal 8 dapat dibagi sebagai berikut:

Roh yang menghidupkan (ayat 1-13)

Roh yang mengadopsi (ayat 14-17)

Jaminan di tengah penderitaan yang sementara (ayat 18-30)

Konklusi ayat 1-30 dan semua pembahasan mulai 1:18 (ayat 31-39)

 

 

 

ROH YANG MENGHIDUPKAN (ROMA 8:1-13)

Kata atau ide yang dominan dalam bagian ini adalah “hidup” atau “kehidupan” (Moo). Kata benda zwh, muncul 3 kali (ay. 2, 6, 10), sedangkan kata kerja sebanyak 2 kali (ayat 12-13).

Ayat 1-13 terdiri dari beberapa bagian:

Situasi baru orang percaya: tidak ada penghukuman (ay. 1)

Alasan: karya Roh Kudus bagi orang percaya (ay. 2-11)

Roh mengaplikasikan karya penebusan Kristus (ay. 2-4)

Roh memimpin hidup yang berfokus pada Allah (ay. 5-9)

Roh menjamin kebangkitan tubuh orang percaya (ay. 10-11)

Konklusi (ay. 12-13)

 

Ayat 1. Kata sambung “demikianlah” (a;ra) merangkum semua pembahasan yang ada di pasal 5-7. Sebelumnya Paulus telah mengajarkan jaminan keselamatan (pengharapan) (5:1-11) dan dasar objektif dari jaminan tersebut, yaitu karya penebusan Kristus  (5:12-21). Ia juga telah mempertahankan jaminan tersebut dalam kaitan dengan dosa (ps. 6) dan Taurat (ps. 7). Di sini ia merangkum semua pembahasan tersebut dalam satu kalimat: sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang berada dalam Kristus. “Sekarang” (nu/n) di sini merujuk pada transfer dari era lama ke era baru (3:21; 5:9; 6:19, 22; 7:6). Ketidakadaan penghukuman ini ditekankan Paulus melalui dua cara:

  • Ia memakai katan, yang secara literal berarti “tidak satupun”.
  • Ia meletakkan n di awal kalimat.

 

Ayat 2-4. Kata sambung ga.r (“karena”, dalam LAI:TB tidak diterjemahkan) di awal ayat 2 menerangkan alasan bagi ayat 1. Bagian ini merupakan dasar mengapa tidak ada penghukuman. Ada satu kata di ayat 2 yang tidak diterjemahkan di LAI:TB, yaitu kata o` no,moj (“hukum”) yang terletak sebelum frase Roh yang memberi hidup. Secara literal ayat 2 diterjemahkan “karena hukum Roh yang menghidupkan melalui Kristus Yesus telah memerdekakan kamu dari hukum dosa dan hukum maut”. Beberapa sarjana memahami o` no,moj sebagai rujukan pada Taurat (Barth, Dunn). Mereka berpendapat bahwa melalui pekerjaan Roh Kudus di era yang baru, Taurat benar-benar telah ditempatkan pada posisi dan fungsinya yang semula, yaitu memberi hidup. Bagaimanapun, o` no,moj lebih tepat dimengerti sebagai “prinsip” (mayoritas sarjana).

  • Yang memenuhi tuntutan Taurat bukanlah orang percaya, tetapi Yesus (ay. 3).
  • Asumsi di atas bertentangan dengan bagian lain surat Roma yang mengajarkan pembenaran Allah di luar Taurat (3:21; Gal 2;15-3:14) dan pembenaran hanya melalui iman – bukan Taurat (4:12-15; Gal 3:15-18).
  • o` no,moj dibandingkan dengan “hukum dosa dan hukum maut” yang menyiratkan suatu prinsip atau kekuatan (band. 7:21-25).

Dengan menggunakan frase “hukum Roh yang menghidupkan” (o` no,moj tou/ pneu,matoj th/j zwh/j) Paulus ingin menekankan pada aspek otoritas dan kuasa Roh Kudus yang membebaskan orang percaya dari era lama ke dalam era baru. Pembebasan dari “hukum dosa dan maut” ini menyangkut pembebasan dari kuasa dosa (ay. 1) dan juga hukuman dosa (ay. 5-10). Ada perbedaan terjemahan tentang kata ganti yang dipakai di ayat ini. Mayoritas EV’s mengambil “aku”, sedangkan LAI:TB “kamu”. Perbedaan ini terkait dengan faktor tekstual. UBS2 dan mayoritas EV’s mengambil bacaan me (“aku”). Bagaimanapun, UBS3,4, NA26,27 dan mayoritas sarjana lebih memilih bacaan se (“kamu”).

  • Kombinasi a dan B tampaknya lebih meyakinkan daripada A, D dan MT.
  • Pengubahan se ke me lebih bisa diterima dengan asumsi penyalin ingin menyamakan bagian ini dengan pasal 7:7-25 yang memakai kata ganti “aku”.

 

Ayat 3 mengaitkan karya Roh Kudus dengan karya penebusan Kristus. Apa yang tidak mampu dilakukan Taurat telah dilakukan oleh Allah, yaitu menjamin kehidupan eskhatologis (Hodge, Barret). Ketidakmampuan Taurat disebabkan oleh kelemahan daging (band. 7:13-25). Allah mengambil inisiatif untuk mengirimkan Anak-Nya sendiri sebagai solusi:

  1. Yesus datang dalam keserupaan dengan daging yang dikuasai dosa.

Bidat docetisme memahami ayat ini sebagai keserupaan secara superfisial (secara natur sebenarnya tidak sama). Pandangan ini bertentangan dengan teologi PB (Gal 4:4), meskipun makna superfisial o`moi,wma juga dipakai di Rom 1:23. Pada ekstrem yang lain, beberapa sarjana berspekulasi bahwa Yesus sungguh-sungguh mengambil kedagingan manusia yang berdosa. Penggunaan kata o`moi,wma jelas mengindikasikan kehati-hatian Paulus supaya penerima tidak terjebak pada dua ekstrem di atas. Seandainya ia setuju dengan ekstrem kedua, ia tidak perlu menambahkan kata ini. Penggunaan o`moi,wma di 5:14 dan 6:5 menunjukkan adanya kesamaan sekaligus perbedaan. Paulus ingin menegaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh masuk ke dalam kondisi manusia, tetapi ia tidak berada dalam tawanan daging yang bersifat negatif (band. 7:5; 8:8-9).

  1. Yesus datang sebagai kurban dosa.

Ada satu frase lagi yang menerangkan inkarnasi Kristus, yaitu kai. peri. a`marti,aj (lit. “dan untuk dosa”). LAI:TB menggabungkan kai. peri. a`marti,aj dengan frase sebelumnya, sehingga diterjemahkan “yang serupa dengan daging yang dikuasai oleh dosa karena dosa”. Penggunaan kata sambung kai. lebih mendukung jika kai. peri. a`marti,aj dianggap sejajar dengan prepositional phrase sebelumnya (evn o`moiw,mati sarko.j a`marti,aj). Dengan demikian, kai. peri. a`marti,aj merupakan keterangan lebih lanjut tentang inkarnasi Kristus. Data lexical mendukung asumsi bahwa peri. a`marti,aj merujuk pada kurban penghapus dosa.

44 dari 54 penggunaan peri. a`marti,aj di LXX merujuk pada kurban dosa. Arti ini juga didukung oleh PB (Ibr 10:6, 8; 13:11). Makna ini terlihat jelas dalam terjemahan NIV dan NASB.

  1. Yesus datang sebagai objek realisasi penghukuman Allah.

Para sarjana berbeda pendapat tentang arti frase “Allah menghukum dosa dalam daging”. Mayoritas melihat sa,rx (“daging”) sebagai representasi dosa, sehingga frase di atas dimengerti sebagai tindakan Allah menghancurkan kuasa dosa. Melihat frase sebelumnya (“dalam keserupaan dengan daging yang berdosa”), evn th/| sarki, di sini sebaiknya dimengerti sebagai rujukan pada manusia Kristus. Kristus telah dibuat menjadi berdosa karena kita (2Kor 5:21) dan Ia telah menggantikan hukuman dosa bagi kita (3:25; Gal 3:13).

 

Ayat 4 menyatakan tujuan (band. i[na = “supaya”) Allah mengirim Anak-Nya, yaitu tuntutan yang benar dari Taurat digenapi (LAI:TB menerjemahkan to. dikai,wma hanya dengan “tuntutan”, kontra mayoritas EV’s dan sarjana). Beberapa melihat kasih orang Kristen sebagai penggenapan tuntutan Taurat (band. 13:8-10; Gal 5:14). Sebagian menghubungkan dengan pimpinan Roh Kudus yang memampukan orang percaya memenuhi tuntutan Taurat melalui kehidupan yang benar (Murray, Cranfield, Morris). Bagaimanapun, frase ini lebih tepat dimengerti sebagai apa yang telah dilakukan Kristus untuk orang percaya daripada apa yang dilakukan orang percaya. Tuntutan Taurat adalah ketaatan yang sempurna (Yak 2:10) dan realita kehidupan orang percaya tampaknya tidak pernah mencapai titik tersebut (meskipun secara teoritis mungkin). Selain itu, bentuk pasif “digenapi” dan konteks ayat 2-4 tampaknya juga mendukung. Kristus telah memenuhi tuntutan Taurat melalui hidupnya yang tanpa dosa. Ia juga memenuhi kutuk Taurat dengan cara menggantikan hukuman orang percaya. Berdasarkan persekutuan dengan karya Kristuslah orang percaya memenuhi tuntutan Taurat. Hal ini tidak berarti bahwa kebenaran tersebut tidak terkait dengan kehidupan orang percaya. Orang percaya yang telah memenuhi tuntutan Taurat melalui persekutuan dengan Kristus juga harus menunjukkan tanda/bukti realita tersebut dengan cara hidup dalam Roh, bukan dalam daging. Roh memberikan kuasa yang baru dan karya Kristus sudah menghancurkan kuasa dosa, sehingga orang percaya tidak lagi kalah dalam pergumulan dengan dosa.

 

Ayat 5-9. Bagian ini menerangkan bagian terakhir dari ayat 4 sekaligus menjelaskan karya Roh Kudus yang lain dalam kehidupan orang percaya. Perpindahan status dari era lama ke baru harus diikuti oleh kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kontras antara daging dan Roh dalam bagian ini mengindikasikan kebutuhan mutlak orang percaya terhadap pimpinan Roh. Ayat 5-8 tidak berarti orang percaya ada kemungkinan berada dalam daging. Kehidupan dalam daging yang dielaborasi di sini hanya untuk menunjukkan kemustahilan bagi seseorang yang dalam daging untuk diselamatkan.

  1. Orang yang berada dalam daging selalu memikirkan hal-hal kedagingan (ay. 5).

Memikirkan di sini bukan hanya masalah pengetahuan (kognitif), tetapi lebih ke arah cara berpikir. Makna ini tersirat dari arti kata kerja frone,w dan tense present yang dipakai.

  1. Orang yang berada dalam daging pasti akan menerima maut (ay. 6).

Hubungan antara dagin/dosa dengan maut sudah sering diajarkan sebelumnya. Maut di sini lebih bersifat eskhatologis (band. ayat 1).

  1. Orang yang berada dalam daging merupakan seteru Allah (ay. 7).

Allah tidak pernah memberi jalan tengah. Orang yang dalam daging adalah musuh Allah, karena mereka selalu tidak tunduk pada hukum Allah. Bagi Paulus, orang yang belum pindah ke era baru tidak mungkin tunduk pada Allah. Mereka mengalami apa yang disebut kerusakan total (total depravity).

  1. Orang yang berada dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah (ay. 8).

Bagian ini merupakan konsekuensi selanjutnya dari poin 1-3. Orang yang selalu memikirkan perkara-perkara daging yang berujung pada maut dan yang menjadi seteru Allah pasti tidak akan berkenan kepada Allah.

Ayat 9 dimulai dengan kata “tetapi kamu” (u`mei/j de.) yang menyiratkan penekanan pada kontras antara situasi di ayat 5-8 dan 9. Orang percaya berada di dalam Roh, karena (ei;per bisa berarti “jika” atau “karena” – tergantung pada konteksnya) Roh Allah tinggal dalam diri mereka. Kata “tinggal” (oivke,w) yang dipakai di sini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengasumsikan ide permanensi Roh Kudus – meskipun ide tersebut didukung seluruh PB – karena  kata juga dipakai untuk dosa (kontra Moo, band. 7:17, 20).

 

Ayat 10-11. Bagian ini merujuk pada karya Roh Kudus secara futuris. Tubuh (sw/ma) jelas merujuk pada tubuh secara fisik yang bisa mengalami kematian (band. “tubuh yang fana” dan “membangkitkan” di ayat 11). Kematian fisik ini memang merupakan bagian dari hukuman dosa yang juga akan dialami oleh orang percaya (band. “karena dosa” di ayat 10). Di pihak lain, Roh (pneu/ma) adalah kehidupan karena kebenaran. Mayoritas EV’s (juga LAI:TB) menganggap pneu/ma sebagai roh manusia, namun pneu/ma di sini sebaiknya dipahami sebagai Roh Kudus (KJV/NKJV, NRSV).

  • pneu/ma yang muncul di ayat 2-9 selalu merujuk pada Roh Kudus.
  • Ayat 11 juga masih membicarakan apa yang dilakukan Roh Kudus.

Roh Kudus yang membangkitkan Yesus dari kematian adalah Roh yang sama yang akan membangkitkan tubuh orang percaya dan mereka bisa menikmati hidup kekal.

 

Ayat 12-13. Kata sambung “demikian sekarang” (:Ara ou=n) mengindikasikan konsekuensi/konklusi dari ayat 1-11. Orang percaya adalah orang yang berhutang [secara implisit] kepada Roh, karena karya Roh Kudus bagi orang percaya di ayat 1-11. Hutang ini membuat mereka terikat untuk mengikuti keinginan Roh. Perkataan Paulus di ayat 12 bukan berarti membuka kemungkinan bagi orang percaya untuk kembali pada hidup yang dikuasai daging. Perkataan ini juga bukan berarti tidak memiliki keseriusan. Transfer relaita dari era lama ke baru memang menjamin kehidupan kekal, tetapi hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari pergumulan untuk mematikan dosa melalui kekuatan Roh Kudus. Berdasarkan penekanan konstan pasal 8 pada karya Roh Kudus, yang dipentingkan di ayat 13 juga adalah karya Roh Kudus. Mematikan dosa anggota-anggota tubuh hanya bisa dilakukan melalui Roh Kudus.

 

ROH KUDUS YANG MENGADOPSI (ROMA 8:14-17)

 

Inti perikop ini adalah status orang percaya sebagai anak-anak Allah. Tema ini begitu mendominasi, sehingga bagian ini layak dikategorikan sebagai satu kesatuan pemikiran. Hal ini tidak berarti bahwa ayat 14-17 tidak memiliki kaitan sama sekali dengan ayat 1-13. Kedua bagian sama-sama mengajarkan peranan vital Roh Kudus. Keduanya juga sama-sama berorientasi pada kepastian eskhatologis (ay. 1 dan 17). Selain itu, rujukan tentang “dipimpin oleh Roh Kudus” di ayat 14 jelas berhubungan dengan pembahasan di bagian sebelumnya.

 

Alur pemikiran dalam bagian ini adalah sebagai berikut:

Tanda anak-anak Allah: dipimpin oleh Roh Allah (ay. 14)

Alasan (ay. 15-16)

Roh Allah menjadikan orang percaya sebagai anak-anak Allah (ay. 15)

Roh Allah menyaksikan bahwa orang percaya adalah anak-anak Allah (ay. 16)

Implikasi: orang percaya berhak menerima janji-janji Allah (ay. 17)

 

Ayat 14. Kata sambung “karena” (ga.r, dalam LAI:TB tidak diterjemahkan) menghubungkan ayat 14 dengan ayat 13b. Kepastian hidup kekal memang terkait dengan tindakan orang percaya mematikan dosa (ayat 12-13), tetapi bukan itu yang menjadi inti. Sebagaimana ayat 1-11 yang menekankan karya Roh Kudus sebagai jaminan pengharapan eskhatologis, ayat 14-16 memfokuskan karya Roh Kudus dalam kaitan dengan status orang percaya sebagai anak-anak Allah. Paulus memulai dengan tanda/bukti seseorang menjadi anak-anak Allah, yaitu ia harus dipimpin oleh Roh Allah. Pimpinan Roh Kudus dalam ayat ini bukan hanya menunjuk pada pengalaman pengudusan, tetapi juga pada perubahan status. Dipimpin Roh Kudus merupakan kontras terhadap dipimpin/di bawah dosa-Taurat (band. ayat 5-10 dan Gal 5:18). Penggunaan istilah anak-anak Allah sangat mungkin berasal dari konsep PL. Ungkapan itu biasanya dipakai untuk Israel (Kel 4:22; Ul 14:1; Yes 43:6; Yer 3:19; 31:9; Hos 11:1). Allah sering disebut sebagai bapa Israel (Ul 32:6; Yes 64:8).

 

Ayat 15. Kata sambung “sebab” (ga.r) memberikan keterangan tambahan tentang ayat 14. Frase “Roh yang menjadikan kamu anak-anak Allah” (LAI:TB) dalam bahasa Yunaninya terdiri dari dua kata, yaitu pneu/ma ui`oqesi,aj (lit. “Roh adopsi”). Ungkapan ini jelas merujuk pada Roh Kudus (ay. 14, 23; Gal 4:6). Roh ini dikontraskan dengan “roh perbudakan (pneu/ma doulei,aj). Ungkapan ini tidak menunjuk pada roh manusia atau roh lain.  Penggunaan pneu/ma doulei,aj hanya sekedar gaya retoris. Tidak seperti roh perbudakan yang menyebabkan ketakutan (karena kesadaran tentang eksistensi dan konsekuensi dosa, 3:20; 7:7-13), Roh adopsi memberikan keberanian bagi orang percaya untuk memanggil Allah sebagai Abba.

 

Ayat 16. Roh Kudus bukan hanya menjadikan dan memberikan keberanian, tetapi Ia juga memberikan  keyakinan dalam roh (pneu/ma) orang percaya. Roh Kudus bersaksi bersama dengan roh orang percaya secara terus menerus (band. tense present di summarturei/). Keyakinan ini terjadi dalam diri orang percaya yang paling dalam, sebagaimana disiratkan oleh pemakaian pneu/ma (roh manusia).

 

Ayat 17. Dalam bagian ini Paulus menarik implikasi dari karya Roh Kudus di ayat 15-16. Fokus dalam ayat ini bukan pada aspek kekinian, tetapi futuris. Dengan menjadi anak angkat, orang percaya juga menjadi ahli waris yang berhak atas janji-janji Allah. Metafora ini sesuai dengan hukum Romawi yang menyatakan bahwa anak angkat berhak memiliki warisan sebagaimana anak kandung. Jaminan ini merupakan sesuatu yang pasti, terlepas dari situasi yang dihadapi oleh orang percaya sekarang (penderitaan). Sebagaimana Kristus sebagai dasar adopsi telah menderita, orang percaya juga harus mengikuti jejak-Nya (band. Fil 1:29; 3:10; 2Kor 1:5). Inilah syarat (band. ei;per = “jika”) menerima janji-janji bersama dengan Kristus dan dimuliakan bersama Dia.

 

PENGHARAPAN KEMULIAAN DI TENGAH PENDERITAAN (ROMA 8:18-30)

 

Kaitan antara bagian ini dengan bagian sebelumnya terletak pada:

  • Ide tentang penderitaan di ayat 17.
  • Rujukan tentang status sebagai anak-anak Allah (ay. 19, 21).
  • Ide tentang kepastian pengharapan eskhatologis.

Elaborasi tentang topik penderitaan yang dihadapi anak-anak Allah merupakan sesuatu yang penting, karena penderitaan yang dialami anak-anak Allah tampaknya berkontradiksi dengan status mereka. Selain itu, semua penderitaan yang terjadi pasti menimbulkan kekuatiran apakah hal tersebut bisa ‘membahayakan’ pengharapan kemuliaan orang percaya.

 

 

Struktur perikop ini adalah sebagai berikut:

Inti: kepastian pengharapan kemuliaan di tengah penderitaan (ay. 18)

Situasi penantian kemuliaan: semua makhluk sama-sama mengeluh (ay. 19-25)

Intervensi ilahi sebagai jaminan dalam masa penantian (ayat 26-30)

Roh Kudus membantu menyampaikan keluhan kepada Allah (ay. 26-27)

Allah membuat segala sesuatu bekerja untuk kebaikan orang pilihan (ay. 28-30)

 

Ayat 18. Ayat ini mengajarkan konsep yang benar tentang cara pandang terhadap penderitaan. Orang percaya perlu mengubah perspektif mereka. Mengarahkan diri pada kemuliaan eskhatologis merupakan cara untuk menyadari bahwa penderitaan yang ada sekarang adalah terlalu kecil. Ayat ini tidak bermaksud untuk mengecilkan permasalahan. Ayat ini hanya menempatkan penderitaan pada porsi yang sebenarnya. Mempertimbangkan deskripsi di ayat 19-25, penderitaan di sini bukan hanya terbatas pada penderitaan Kristiani (misalnya penganiayaan dan pergumulan dengan dosa), tetapi sifatnya lebih makro – mencakup semua makhluk.

 

Ayat 19-25. Bagian ini menerangkan keadaan semua mahkluk selama masa penantian. Kata kti,sij (lit. “ciptaan”) yang dipakai merujuk pada semua manusia, tetapi tidak mencakup ciptaan lain (tumbuhan, binatang, benda), karena di sini tampaknya merujuk  pada pribadi yang bisa merindukan dan mengeluh. Ada dua keadaan secara umum:

  1. Semua makhluk menanti dengan sangat rindu (ay. 19).

Secara literal ayat 19 seharusnya diterjemahkan “pengharapan yang sangat (h` avpokaradoki,a) dari semua makhkluk menunggu  dengan sangat rindu (avpekde,cetai) penyataan anak-anak Allah”. Kata avpokaradoki,a secara etimologis berasal dari tiga kata: avpo = “dari”, kara = “kepala” dan de,comai = “meregangkan”. Paduan kata ini menyiratkan sikap orang yang sedang melongokkan kepala untuk melihat sesuatu. Orang percaya memang sudah menjadi anak-anak Allah (ay. 14-17), tetapi secara penuh hal itu akan dinyatakan nanti. Hal ini juga dinantikan oleh orang-orang lain, karena mereka telah ditaklukkan pada kesia-siaan oleh Allah. Mereka memiliki alasan untuk menantikan ini karena Allah menaklukkannya pada kesia-siaan dalam pengharapan (evfV e`lpi,di).

  1. Semua makhluk mengeluh dan merasakan sakit (ay. 22-23).

Penantian di atas bukanlah sesuatu yang mengenakkan, karena mereka menanti sambil bersama-sama mengeluh (sustena,zei) dan merasakan sakit (sunwdi,nei). Kata biasanya dipakai untuk sakit waktu melahirkan anak, sehingga gambaran di sini mirip dengan Yoh 16:20b-22. Orang percaya yang menerima “buah sulung” (avparch,) Roh juga mengalami perasaan yang sama. avparch, dalam PL dipakai sebagai tanda berkat awal yang akan diikuti oleh berkat-berkat selanjutnya. Pemakaian avparch, di sini merujuk pada karya Roh Kudus yang sudah diterima oleh orang percaya (ay. 2-11, 14-17), tetapi pemenuhan sempurna dari pemberian tersebut baru akan diberikan di kemudian hari. Ayat 24-25 menjelaskan sikap lain yang harus dimiliki oleh orang percaya, yaitu memiliki pengharapan (ay. 24) dan sabar (ay. 25). Apa yang diharapkan memang belum terlihat, tetapi itu justru jadi alasan untuk terus berharap.

 

Ayat 26-27. Bagian ini menjelaskan intervensi ilahi bagi orang percaya supaya mereka tetap bisa memiliki pengharapan dan sabar. Roh Kudus membantu orang percaya dalam kelemahan mereka. Kelemahan ini mungkin bersifat umum (semua kelemahan sebagai karakter dasar manusia sebagai mahkluk), tetapi terutama soal memahami kehendak Allah. Frase to. ga.r ti, proseuxw,meqa kaqo. dei/ ouvk oi;damen menyiratkan ketidaktahuan tentang isi doa (NIV, NKJV), bukan cara berdoa (mayoritas EV’s dan LAI:TB). Seandainya Paulus ingin memaksudkan cara berdoa, ia pasti akan menambahkan preposisi kata, di depan ti,. Selain itu, doa syafaat Roh Kudus dengan keluhan yang tidak terucapkan juga mendukung bahwa Ia hanya membantu dalam hal isi doa yang benar, yang seringkali orang percaya gagal untuk memahaminya. Roh Kudus tidak membantu orang percaya dalam hal cara berdoa, tetapi lebih ke arah isi doa. Jadi, ayat ini pasti bukan rujukan pada bahasa roh (kontra Kasemann). Situasi rumit yang dialami – ditambah dengan kelemahan sebagai manusia – seringkali menyebabkan orang percaya sulit mencari kehendak Allah yang pasti. Mereka kadang meminta sesuatu yang salah. Doa syafaat Roh Kudus ini pasti efektif, karena Ia berdoa sesuai dengan rencana Allah (ay. 27).

 

Ayat 28-30. Ayat 28 menjelaskan intervensi ilahi yang lain yang menjamin pengharapan orang percaya di tengah penderitaan, sedangkan ayat 29-30 menerangkan alasan bagi intervensi tersebut dari sisi ilahi. Struktur kalimat Yunani di ayat 28  telah menimbulkan 3 pandangan berbeda. Kesulitan ini berhubungan dengan identifikasi subjek untuk kata kerja “bekerja bersama-sama” (sunergei/).

  • Allah sebagai subjek.

Pemunculan kata qeo.n (bentuk akusatif dari qeo,j) dan bentuk tunggal sunergei memang memungkinkan untuk mengasumsikan Allah sebagai subjek. Jika Allah sebagai subjek, maka “segala sesuatu” (pa,nta) berfungsi sebagai direct object (“Allah menyebabkan segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikan”, NASB) atau sebagai accusative of respect (“dalam segala sesuatu Allah bekerja bersama untuk kebaikan”, NIV, NRSV). Ada dua keberatan serius terhadap usulan ini. Pertama, kata kerja sunergei tidak pernah mengambil kata benda bentuk akusatif (objek langsung). Kedua, jika usulan itu diterima dan ayat 28 diterjemahkan secara literal sesuai struktur kalimat Yunani, maka hasil terjemahan menjadi “kita tahu sekarang bahwa bagi orang yang mengasihi Allah, Allah bekerja bersama-sama…”. Pengulangan “Allah” (meskipun yang terakhir hanya tersirat) merupakan tata bahasa yang tidak lazim dalam bahasa Yunani, karena tidak ada objek participle yang juga berfungsi sebagai subjek dalam induk kalimat.

  • Roh Kudus sebagai subjek.

Usulan ini didasarkan pada ayat 26-27 yang memakai Roh Kudus sebagai subjek. Usulan ini juga memiliki kelemahan serius. Pertama, subjek di ayat 29-30 jelas adalah Allah. Kedua, ayat 28 jelas memulai pemikiran baru yang berbeda dengan ayat 26-27.

  • Segala sesuatu sebagai subjek.

Terjemahan ini merupakan terjemahan yang paling wajar (KJV), karena pa,nta memang bisa berbentuk nominatif (sebagai subjek). Terjemahan ini juga mengambil sunergei sebagai kata kerja intransitif, seperti  pemakaian umum kata tersebut di PB. Beberapa orang menolak terjemahan ini dengan dasar pa,nta berbentuk jamak sedangkan sunergei berbentuk tunggal. Bantahan ini tidak bisa diterima, karena mayoritas subjek yang berjenis kelamin neuter memang mengambil kata kerja tunggal. Satu-satunya kesulitan dengan terjemahan ini terkait dengan fenomena bahwa sunergei biasanya dikaitkan dengan subjek yang personal.

 

Ada dua deskripsi tentang orang-orang yang kepadanya segala sesuatu – melalui providensi Allah – mengerjakan kebaikan:

  1. Mereka yang mengasihi Allah (ay. 28).

Kriteria ini dilihat dari sisi manusianya. Segala sesuatu akan mengerjakan kebaikan hanya bagi mereka yang mengasihi Allah.

  1. Mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (ay. 29-30).

Sisi manusiawi di atas hanya bisa terjadi jikalau ada inisiatif dari pihak Allah dahulu. Allah memanggil orang percaya, sehingga mereka mampu mengasihi Allah. Fakta menarik tentang ayat 29-30 adalah bentuk lampau yang dipakai untuk kata kerja “dipilih” – “ditentukan” – “dipanggil” – “dibenarkan” – “dimuliakan”, meskipun pemuliaan tersebut belum terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Allah semua rencana-Nya adalah sesuatu yang pasti. Kepastian pemuliaan ini membentuk inclusio dengan ayat 18.

 

KONKLUSI: JAMINAN KESELAMATAN (ROMA 8:31-39)

 

Penggunaan di ayat 31 mengindikasikan permulaan perikop yang baru. Selain itu, gaya bahasa dalam perikop ini – yang banyak menggunakan kalimat interogatif – jelas berbeda dengan bagian sebelumnya. Bagian ini memiliki dua fungsi: sebagai konklusi pasal 8 dan konklusi semua pembahasan dari 1:18-8:30 (atau paling tidak pasal 5-8). Tema yang ditekankan tetap “kepastian keselamatan/pengharapan”. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bagian ini banyak menyinggung konsep yang ada di 5:1-11, sehingga bisa dikatakan sebagai inclusio bagi pasal 5-8.

 

Struktur perikop ini dapat dibagi sebagai berikut:

Inti: Allah di pihak orang percaya (ay. 31-32).

Implikasi (ay. 33-39)

Tidak ada yang mendakwa mereka (ay. 33a)

Tidak ada menghukum mereka (ay. 33b-34)

Tidak ada yang memisahkan mereka dari kasih Kristus (ay. 35-39)

 

Ayat 31-32. Paulus merangkumkan semua pembahasan sebelumnya (band. “jadi apakah yang akan kita katakan tentang semuanya ini?”) dengan kalimat “Allah di pihak kita”. Fakta ini merupakan jaminan bahwa tidak ada yang dapat melawan orang-orang percaya. Perlawanan pasti ada (ay. 35-39), tetapi hal itu tidak akan dapat menggagalkan jaminan keselamatan/pengharapan orang percaya. Untuk menegaskan hal ini Paulus memakai metode eksegese para rabi qal wayyOmer (“ringan dan berat”): apa yang benar untuk hal-hal yang prinsip akan berlaku juga untuk hal-hal yang kurang penting. Allah telah melakukan hal yang paling besar dan sulit, yaitu menyerahkan Anak-Nya sendiri, Ia pasti akan memberikan segala sesuatu bersama-sama dengan Kristus. Penekanan pada hal ini terlihat dari penggunaan kata ge (“bahkan”, LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini) dan penempatan tou/ ivdi,ou (“sendiri”) di bagian awal kalimat. “Segala sesuatu” dalam konteks ini sebaiknya dibatasi pada segala hal yang diperlukan untuk keselamatan, meskipun secata teologis kalimat ini juga bisa mencakup setiap hal.

 

Ayat 33a. Ada beberapa alternatif untuk peletakan tanda baca di ayat ini. Dari sekian alternatif, pilihan NASB tampaknya lebih bisa diterima. Ayat 33a diterjemahkan “siapakah yang akan mendakwa orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka” (kontra LAI:TB yang memakai tanda tanya setelah kata “mereka”. Bentuk future dari kata “mendakwa” (evgkale,sei, kontra LAI:TB “menggugat”) merujuk pada penghakiman terakhir. Kata ini sangat bernuansa legal (band. Kis 19:38, 40; 23:29, 38; 26:2, 7). Fokus yang bersifat futuris ini bukan berarti tidak memiliki relevansi dengan kehidupan orang percaya sekarang. Iblis terus menerus mendakwa orang percaya (Wah 12:10). Selain itu, perasaan berdosa yang berlebihan juga sering mengikis perasaan aman dalam Allah. Jaminan tidak adanya dakwaan didasarkan pada dua hal:

  1. Yang didakwa adalah orang-orang pilihan Allah.

Pertanyaan Paulus di sini sifatnya retoris dan sudah menjadi jawaban bagi pertanyaan itu sendiri. Orang-orang yang dipilih oleh Allah pasti dijamin keselamatan eskhatologisnya (ay. 29-30).

 

 

 

 

  1. Yang membenarkan orang percaya adalah Allah sendiri.

Frase ini memberikan jaminan lain. Allah adalah yang membenarkan orang-orang pilihan. Kalau Allah saja – sebagai bojek pemberontakan manusia – mau membenarkan orang-orang berdosa, maka siapapun tidak punya hak untuk mendakwa mereka.

 

Ayat 33b-34. Implikasi kedua adalah tidak ada ylxaopl;;’

 

mang akan menghukum orang-orang pilihan Allah. Allah atau makhluk lain tidak mungkin akan menghukum mereka, karena apa yang telah dilakukan Kristus untuk mereka.

  1. Kristus telah mati: menanggung hukuman dosa mereka.
  2. Kristus bangkit: menghancurkan kuasa maut sebagai upah dosa.
  3. Kristus duduk di sebelah kanan Allah (Mzm 110:1): menaklukkan semua kekuatan yang berusaha menggagalkan keselamatan orang percaya.
  4. Kristus berdoa syafaat: mengharapkan hal yang baik dari Allah untuk orang percaya (Ibr 7:25).

 

Ayat 35-39. Implikasi terakhir adalah tidak ada yang memisahkan orang percaya dari kasih Kristus. Tantangan memang ada dan melimpah, baik tantangan fisik (ay. 35-36) maupun non fisik (ay. 38-39), baik tantangan sekarang maupun yang akan datang (ay. 38), baik tantangan dari atas maupun dari bawah (ay. 39). Jangkauan tantangan yang dituliskan Paulus cukup untuk mewakili semua jenis tantangan yang mungkin dihadapi oleh orang percaya, namun tidak ada satu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Kristus. Alasannya adalah karena orang percaya lebih daripada pemenang melalui Kristus. Ungkapan “lebih daripada pemenang” di sini mungkin menunjukkan bahwa orang percaya tidak hanya tidak bisa dikalahkan oleh tantangan, tetapi semua tantangan tersebut justru mendatangkan kebaikan bagi mereka (ay. 28; 5:3-4).

 

[1] Untuk penjelasan lain, lihat Kasemann, 3.

[2] Lihat Cranfield, Moo, Dunn. Kasemann menolak nuansa kerendahhatian di balik ungkapan ini. Sebaliknya, ia mengusulkan nuansa heroik, karena ungkapan ‘hamba TUHAN’ di PL menunjukkan jabatan khusus yang menunjukkan otoritas (h. 5).

[3] Kata avpo,stoloj dalam PB kadangkala dipakai secara umum (merujuk pada utusan/yang diutus, band. Yoh 13:16; 2Kor 8:23; Fil 2:25), tetapi kata ini seringkali dipakai dalam arti teknis. Dalama pengertian ini, secara sempit merujuk pada 12 murid Tuhan Yesus dan secara lebih luas pada beberapa orang yang dikategorikan sebagai rasul, misalnya Barnabas dan Paulus (Kis 14:14), Andronikus dan Yunias (Rom 16:7).

[4] Cranfield, h. 52.

[5] Cranfield, h. 51; Kasemann, 6; Sanday, h. 4-5; Moule, h. 49.

[6] Cranfield, h. 53; McClain, h. 35-37. Untuk penjelasan, lihat Cranfield, h. 53, n. 1.

[7] Kasemann, h. 6; Cranfield, h. 53; Dunn, h. 22; Bruce, h. 71.

[8] Cranfield, h. 55, 57.

[9] Cranfield, h. 55; Murray, h. ?; Dunn, h. 40; Morris, h. 40.

[10] Moo, h. 43; Kasemann, h. 8.

[11] Arthur, h. 9.

[12] Arthur, h. 11.

[13] Moo, h. 44; Cranfield, h. 55, n. 3.

[14] Lihat Shedd, h. 8; Moule, h. 50.

[15] Lihat Cranfield, h. 57; Morris, h. 41-42; Barret, h. 18. RSV menerjemahkan ayat 3: “the gospel concerning his Son…”.

[16] Moo, h. 44.

[17] Lihat Cranfield, h. 57; Moo, h. 45.

[18] Moo, h. 47; Cranfield, h. 60; Barret, h. 18-19; Morris, h. 44.

[19] Cranfield, h. 61-62; Moo, h. 47-48. Bandingkan pemunculan kata ini di Luk 22:22; Kis 2:23; 10:42; 11:29; 17:26, 31; Ibr 4:7.

[20] Moo, h. 48.

[21] Moo, h. 48.

[22] Beberapa sarjana menafsirkan “dalam kuasa” sebagai penjelasan bagi “dipilih”, bukan “Anak Allah” (Hodge, band. NIV “was declared with power to be the Son of God”). Mayoritas sarjana modern umumnya menganggap “dalam kuasa” sebagai keterangan bagi “Anak Allah”. Berdasarkan analogi dari 2Kor 13:4 “Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah”, ‘dengan kuasa’ lebih tepat dilihat sebagai penjelasan tentang ‘Anak Allah’ (Morris, h. 45). Kontras ini juga sesuai dengan kontras di Rom 1:3-4.

[23] Cranfield, h. 62.

[24] Moo, h. 51.

[25] Kontra Barret, h. 21.

[26] Kontra Sanday, h. 10.

[27] Cranfield, h. 65.

[28] Morris, h. 48.

[29] Moo, h. 51; Cranfield, h. 65-66; Dunn, h. 17; Bruce, h. 74. Kontra Barret, h. 21.

[30] h. 66. (1) ketaatan kepada iman dalam arti seluruh doktrin Kristen; (2) ketaatan kepada otoritas iman; (3) ketaatan kepada kesetiaan Allah yang dinyatakan dalam Injil; (4) ketaatan yang dihasilkan oleh iman; (5) ketaatan yang dituntut oleh iman; (6) ketaatan yang beriman; (7) ketaatan yang berisi iman.

[31] Arthur, h. 24, menulis, “the idea is that of the faith, referring to the whole teaching of Scriptures, especially the New Testament”.

[32] Cranfield, h. 66; Murray, h. 13.

[33] Morris, h. 50.

[34] Moo, h. 52.

[35] Morris, h. 50; Moo, h. 52; Barret, h. 21.

[36] Moo, h. 53; Barret, h. 21-22; Sanday, h. 11; Murray, h. 14.

[37] Morris, h. 51, n. 82.

[38] Cranfield, h. 67.

[39] Morris, h. 51.

[40] Cranfield, h. 67; Moo, h. 53;

[41] Dunn, h. 18.

[42] Cranfield, h. 68.

[43] Moo, h. 54; Barret, h. 22; Sanday, h. 12; Morris, h. 51; Dunn, h. 19.

[44] Cranfield, h. 67; Moo, h. 53; Morris, h. 51.

[45] Kata ‘panggilan’ dalam surat kiriman harus dipahami dalam konteks ‘panggilan efektif’ (meminjam istilah dari teologi sistematik, band. Rom 8:28: 11:29; 1Kor 1:24; Yud 1). Ini bukan sekedar ‘tawaran’ (bandingkan kontras antara ‘panggilan’ dan ‘pilihan’ di kitab-kitab Injil). Lihat, Moule, h. 52.

[46] Murray, h. 14; Morris, h. 51-52; Moo, h. 54.

[47] Cranfield, h. 68.

[48] Murray, h. 14-15; Sanday, h. 12; Barret, h. 22; Morris, h. 52; Dunn, h. 19; Moo, h. 54; lihat juga NIV, RSV/NRSV; LAI:TB.

[49] Murray, h. 15; band. Moo, h. 54.

[50] Moo, h. 54.

[51] Dunn, h. 19.

[52] Cranfield, h. 69; Moo, h. 55; Morris, h. 52.

[53] Moo, h. 54, n. 84; Sanday, h. 12-13. Untuk sanggahan terhadap pandangan ini, lihat Cranfield, h. 70.

[54] Lihat, Moo, h. 54-55.

[55] Morris, h. 53; Barret, h. 22; Kasemann, h. 16; Moo, h. 55.

[56] Cranfield, h. 71.

[57] Cranfield, h. 72.

[58] Morris, h. 54.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Doktrin Roh Kudus Pandangan Saksi Yehova

DOKTRIN TENTANG ROH KUDUS

 

Ada 3 hal yang salah yang dipercayai oleh orang-orang Saksi Yehovah tentang Roh Kudus, yaitu:

  1. A) Roh Kudus adalah kuasa / tenaga aktif Allah.
  2. B) Roh Kudus bukanlah seorang pribadi.
  3. C) Roh Kudus bukan Allah.
  4. D) Roh Kudus adalah kuasa / tenaga aktif Allah:

Kutipan dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’ hal 20:

“‘Roh Kudus’ yang digunakan dalam Alkitab menyatakan bahwa ini adalah suatu kekuatan atau tenaga yang dikendalikan yang digunakan oleh Allah Yehuwa untuk melaksanakan berbagai maksud-tujuanNya. Sampai taraf tertentu, ini dapat disamakan dengan listrik, tenaga yang dapat digunakan untuk melakukan beragam fungsi”.

Ayat-ayat Kitab Suci yang mereka pakai sebagai dasar:

1) Kej 1:2 – Orang Saksi Yehovah mengatakan bahwa “disini, Roh Allah adalah tenaga aktifNya yang bekerja untuk membentuk bumi” (‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 20).

Bantahan:

Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah kuasa Allah. Mengapa tidak ditafsirkan bahwa Roh Kudus juga menciptakan alam semesta bersama-sama dengan Allah?

2) Bil 11:7 – ‘Sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka’.

Bantahan:

Bil 11:17 versi Kitab Suci Indonesia ini salah terjemahan! Kata ‘sebagian’ itu seharusnya tidak ada.

NIV menterjemahkan: “……I will take of the Spirit that is on you and put the Spirit on them” (= Aku akan mengambil Roh yang ada padamu dan menaruh Roh itu pada mereka).

3) Hak 14:6 – ‘Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya … tanpa apa-apa di tangannya’.

Orang Saksi Yehovah menggunakan terjemahan dari Today’s English Version (TEV) yang mengatakan: “Suddenly the power of the LORD made Samson strong” (= Tiba-tiba kuasa TUHAN membuat Simson kuat).

Orang Saksi Yehovah lalu berkata: “Apakah suatu pribadi ilahi benar-benar memasuki atau berkuasa atas Simson, menggunakan tubuhnya untuk melakukan apa yang ia lakukan? Tidak, ini benar-benar ‘kuasa TUHAN (yang) membuat Simson kuat'” (‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 21).

Bantahan:

Terjemahan TEV / Good News Bible ini justru salah, tapi yang salah ini yang justru dipilih oleh orang-orang Saksi Yehovah. Dalam ayat ini terjemahan Kitab Suci Indonesia adalah benar. Perhatikan juga ter-jemahan NIV: “The Spirit of the LORD came upon him in power” (= Roh TUHAN datang pada dia dalam kuasa).

Jadi ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa yang memasuki dan menguasai Simson adalah ‘Roh TUHAN’, bukan sekedar ‘kuasa TUHAN’! Dan Roh TUHAN itu maha kuasa sehingga dengan mudah Ia bisa men-jadikan Simson sangat kuat.

4) Luk 5:17 – ‘Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyem-buhkan orang sakit’.

Orang Saksi Yehovah memakai ayat ini sebagai dasar untuk mengatakan: “Tenaga aktif dari Allah ini memungkinkan Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati” (‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 21).

Bantahan:

Perhatikan terjemahan NIV dan NASB di bawah ini:

NIV: “And the power of the Lord was present for him to heal the sick” (= Dan kekuatan / kuasa Tuhan hadir / ada bagi Dia untuk menyembuhkan orang sakit).

NASB: “And the power of the Lord was present for Him to perform healing” (= Dan kekuatan / kuasa Tuhan hadir / ada bagi Dia untuk melakukan penyembuhan).

Jadi, ayat ini memang menunjukkan adanya ‘kuasa Tuhan’ tetapi ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah kuasa Tuhan! Roh Kudus ada dalam diri Yesus dan karena itu dengan sendirinya kuasa Allah juga ada di dalam Yesus.

Serangan terhadap doktrin Saksi Yehovah ini:

1) Kitab Suci membedakan antara ‘Roh Kudus / Roh Allah’ dengan ‘kuasa Allah’.

  • Luk 1:35 – ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau’.
  • Kis 10:38 – ‘mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa‘.

Bahwa kedua istilah itu dibedakan seperti itu, menunjukkan bahwa kedua istilah itu tidak identik!

2) Dalam Alkitab ada istilah ‘kuasa Roh’ atau ‘kekuatan Roh’.

Misalnya:

  • Luk 4:14 – ‘kuasa Roh’.
  • Ro 15:13 – ‘kekuatan Roh Kudus’.
  • 1Kor 2:4 – ‘kekuatan Roh’.

Sebetulnya istilah-istilah ini sudah jelas membuktikan bahwa ‘Roh Kudus’ bukanlah ‘kuasa Tuhan / Allah’. Kalau ‘Roh Kudus’ adalah ‘kuasa Allah’, maka ‘kuasa Roh Kudus’ adalah ‘kuasa dari kuasa Allah’. Ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal! Bagaimana suatu kuasa bisa mempunyai kuasa?

Anehnya, orang Saksi Yehovah percaya bahwa Roh Kudus, yang adalah kuasa Allah itu, ternyata bisa memberi kuasa. Ini terlihat dalam buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’ hal 21, karena di sana dikatakan:

  • “Roh Allah dapat juga memberikan ‘kekuatan yang melimpah-limpah (‘melebihi yang normal’, NW)’ kepada mereka yang melayani Dia”.
  • “Roh Allah juga memberi kuasa kepada murid-murid Yesus untuk mela-kukan hal-hal yang bersifat mujijat”.
  • “Jadi roh kudus memberi Yesus dan hamba-hamba Allah yang lain kuasa untuk melakukan apa yang biasanya tidak dapat dilakukan oleh manusia”.

Pertanyaannya adalah: kalau memang orang-orang Saksi Yehovah percaya bahwa Roh Allah / Roh Kudus itu adalah ‘kuasa Allah’, bagaimana mereka bisa percaya bahwa ‘Roh Kudus / kuasa Allah’ itu bisa memberi kuasa? Kalau Roh Kudus itu adalah seorang Pribadi / Allah sendiri (seperti yang dipercaya oleh orang kristen), maka jelas bahwa Ia bisa memberi kuasa. Tetapi kalau Roh Kudus itu adalah kuasa Allah, seperti yang dipercaya oleh orang Saksi Yehovah, maka Ia tidak mungkin bisa memberi kuasa / kekuatan!

  1. B) Roh Kudus tidak berpribadi:

Dasar Kitab Suci orang-orang Saksi Yehovah:

1) Penggambaran Roh Kudus sebagai person / pribadi dalam Kitab Suci hanyalah suatu personifikasi, dan itu tidak menunjukkan Roh Kudus sebagai seorang person / pribadi.

Mereka juga mengutip kata-kata dari seorang yang mereka sebut seorang teolog yang bernama Edmund Fortman (Catatan: ini jelas adalah seorang Teolog sesat!) dalam bukunya yang berjudul ‘The Triune God’ sebagai berikut:

“Walaupun roh ini sering dipersonifikasikan, tampak jelas sekali bahwa para penulis kitab-kitab suci (dari Kitab-Kitab Ibrani) tidak pernah meng-anggap atau menyatakan bahwa roh ini adalah suatu pribadi tersendiri” (‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 21).

Mereka menambahkan lagi bahwa dalam Kitab Suci ada banyak hal-hal lain yang dipersonifikasikan / dipribadikan, seperti:

  • Hikmat, yang dalam Luk 7:35 dikatakan mempunyai anak.

Untuk ini perhatikan Luk 7:35 versi NIV: “But wisdom is proved right by all her children (= tetapi hikmat dibuktikan benar oleh semua anak-anaknya).

  • Dosa / kematian dikatakan berkuasa.

Misalnya: Kej 4:7 Ro 5:14,21.

Ini tidak menunjukkan bahwa hikmat, dosa dan kematian adalah pribadi-pribadi. Jadi, bahwa Kitab Suci mempersonifikasikan Roh Kudus, itu tidak berarti bahwa Roh Kudus adalah seorang pribadi.

Bantahan:

Dalam Kitab Suci memang ada personifikasi, dimana sesuatu yang sebetulnya bukan person / pribadi digambarkan sebagai person / pribadi. Kalau Kitab Suci di tempat tertentu mempersonifikasikan sesuatu, maka dalam bagian-bagian lain dalam Kitab Suci tidak selalu hal itu diper-sonifikasikan. Tapi Roh Kudus selalu digambarkan sebagai seorang person / pribadi. Ini menunjukkan bahwa hal itu bukanlah personifikasi, tetapi merupakan penggambaran yang sebenarnya. Dan ini menunjukkan bahwa Roh Kudus betul-betul adalah person / pribadi.

2) Dalam Mat 3:11, Roh Kudus disejajarkan dengan air dan api, sedangkan air dan api bukanlah seseorang yang berpribadi.

Bantahan:

Perlu diingat bahwa Mat 3:11 bukanlah suatu penyejajaran! Sebaliknya, Mat 3:11 justru mengkontraskan ‘baptisan Roh Kudus’ (yang dilakukan oleh Yesus) dengan ‘baptisan air’ (yang dilakukan oleh Yohanes Pem-baptis)!

Sedangkan ‘baptisan api’ bisa diartikan 2 macam:

  1. a) Ada yang mengartikan baptisan api sebagai penyucian.

Kalau dipilih arti ini, maka Mat 3:11 berarti: Yohanes hanya bisa mem-baptis dengan air, tetapi Yesus bisa memberi Roh Kudus dan menyu-cikan.

  1. b) Ada yang mengartikan baptisan api sebagai hukuman.

Kalau dipilih arti ini, maka Mat 3:11 berarti: Yohanes hanya mem-baptis dengan air, dan ia tidak bisa membedakan orang-orang yang ia baptis. Tetapi Yesus bisa membedakan. Orang yang percaya / yang bertobat sungguh-sungguh Ia baptis dengan Roh Kudus (artinya: diberi Roh Kudus), sedangkan orang yang tidak percaya / tidak bertobat dengan sungguh-sungguh Ia baptis dengan api (artinya: Ia hukum).

Saya berpendapat bahwa arti ini lebih cocok dengan kontexnya (baca Mat 3:10 dan Mat 3:12, dimana api jelas menunjuk pada hukuman).

Yang manapun arti yang saudara ambil, ayat ini tetap tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan pribadi!

3) Roh Kudus dimasukkan dalam daftar sifat-sifat (2Kor 6:6).

Bantahan:

  1. a) 2Kor 6:6 tidak meletakkan Roh Kudus dalam daftar sifat-sifat.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan 2Kor 6:6 disini:

“… dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik”.

Perhatikan bahwa disitu ada kata ‘pengetahuan’ yang jelas juga bukan merupakan sifat. Karena itu jelas bahwa ayat ini bukan daftar sifat!

Catatan:

Kalau saudara mau lebih jelas lagi, bacalah dalam Kitab Suci mulai 2Kor 6:4 sampai 2Kor 6:7, maka saudara akan menjumpai lebih banyak lagi hal-hal yang bukan merupakan sifat!

  1. b) Kalau orang-orang Saksi Yehovah menafsirkan 2Kor 6:6 itu sebagai daftar sifat, itu akan bertentangan dengan ajaran mereka sendiri, karena mereka mempercayai Roh Kudus sebagai ‘kuasa Allah’, bukan sebagai sifat!

4) Roh Kudus dibandingkan dengan anggur (Ef 5:18).

Bantahan:

Ef 5:18 tidak membandingkan Roh Kudus dengan anggur. Sebaliknya, Ef 5:18 justru mengkontraskan orang yang mabuk (dikuasai oleh pengaruh anggur) dengan orang yang penuh Roh Kudus (dikuasai oleh Roh Kudus). Kita dilarang untuk mabuk / dikuasai anggur, tetapi sebaliknya diharuskan untuk dipenuhi / dikuasai oleh Roh Kudus. Jadi jelaslah bahwa ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan seorang pribadi!

5) Kitab Suci menggambarkan Roh Kudus sebagai air, api, angin, dsb, dan semua itu merupakan hal-hal yang tidak berpribadi. Jadi, Roh Kudus juga bukan pribadi.

Bantahan:

Sekalipun Kitab Suci menggunakan air, api, dan angin untuk menggambarkan Roh Kudus, tetapi air, api, dan angin itu bukanlah Roh Kudus / tidak sama dengan Roh Kudus! Itu hanya simbol / lambang dari Roh Kudus!

Yesus juga berkata: ‘Akulah pintu’ (Yoh 10:9), ‘Akulah jalan’ (Yoh 14:6), sedangkan ‘pintu’ maupun ‘jalan’ bukanlah seorang pribadi. Tetapi itu tidak menunjukkan bahwa Yesus bukan pribadi!

Juga dalam Perjanjian Lama, Allah / Yahweh sering digambarkan dengan hal-hal yang tidak berpribadi, seperti ‘perisai’ (Maz 28:7), ‘gunung batu’ (Maz 62:3a), ‘kota benteng’ (Maz 62:3b), dsb. Tetapi semua itu tidak menunjukkan bahwa Allah / YAHWEH itu tidak berpribadi.

6) Dalam Mat 10:19-20 dan Kis 4:24-25, sekalipun memang dikatakan bahwa Roh Kudus itu berbicara, tetapi Roh Kudus berbicara melalui manusia / malaikat.

Bantahan:

Dalam Mat 10:19-20 Roh Kudus memang dikatakan bisa berbicara melalui manusia. Demikian juga dalam Kis 4:24-25 dikatakan bahwa Roh Kudus berbicara dengan perantaraan Daud.

Kalau ini dijadikan dasar untuk berkata bahwa Roh Kudus itu bukan pribadi, ini betul-betul suatu ketololan yang menggelikan, karena:

  • Allah / YAHWEH juga berbicara kepada Firaun melalui Musa (Kel 6:27,28), tetapi itu tidak membuktikan bahwa Allah / YAHWEH itu tidak berpribadi.
  • Setan juga bisa berbicara melalui manusia (Mark 5:7,9,10), tetapi itu tidak membuktikan setan bukanlah seorang pribadi!

Disamping itu perlu diperhatikan bahwa:

  1. a) Roh Kudus bisa dan pernah berbicara langsung (Kis 8:29 Kis 13:2).
  2. b) Kalau Roh Kudus adalah ‘kuasa / tenaga Allah’, Ia justru tidak bisa berbicara melalui manusia / melalui apapun juga. Dimana dan kapan saudara pernah mendengar ada suatu kuasa / tenaga bisa berbicara melalui manusia?

7) Dalam Yoh 14:17 kata ganti orang yang ditujukan kepada Roh Kudus seharusnya bukan ‘him’, tetapi ‘it’ (ini bisa terlihat dari bahasa Yunani-nya). Ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan pribadi.

Untuk jelasnya, saya akan mengutip buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’ yang berbunyi sebagai berikut:

“Yesus menyebut roh kudus sebagai ‘seorang Penolong’, dan ia berkata bahwa roh ini akan mengajar, membimbing dan berbicara (Yohanes 14:16,26; 16:13). Kata Yunani yang ia gunakan untuk penolong (parakletos) adalah kata yang berjenis laki-laki atau maskulin. Jadi ketika Yesus menyatakan apa yang akan dilakukan penolong itu, ia menggunakan kata ganti nama pribadi laki-laki (Yohanes 16:7,8). Sebaliknya, bila kata Yunani yang berjenis netral untuk roh (pneuma) digunakan, kata ganti yang netral ‘it’ dalam bahasa Inggris itulah yang yang digunakan.

Kebanyakan penerjemah yang menganut Tritunggal menyembunyikan fakta ini, seperti diakui oleh New American Bible Katolik berkenaan Yoha-nes 14:17: “Kata Yunani untuk ‘Roh’ ialah berjenis netral, dan walaupun kita menggunakan kata ganti nama pribadi dalam bahasa Inggris (‘he’, ‘his’, ‘him’), kebanyakan MSS (manuskrip) Yunani menggunakan kata (bahasa Inggris) ‘it'”.

Jadi bila Alkitab menggunakan kata ganti nama pribadi berjenis laki-laki sehubungan dengan parakletos dalam Yoh 16:7,8, hal ini sesuai dengan peraturan tatabahasa, bukan menyatakan suatu doktrin” (hal 22).

Bantahan:

Yoh 14:17 memang kalau dilihat dari bahasa Yunaninya menggunakan kata yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Inggris menjadi ‘it’. Mengapa memakai ‘it’? Karena itu memang sesuai dengan grammar / tatabahasa bahasa Yunani! Kata ‘it’ itu menunjuk kepada kata ‘Roh / Spirit / PNEUMA’ yang dalam bahasa Yunaninya mempunyai jenis kelamin netral. (Catatan: dalam bahasa Yunani setiap benda mempunyai jenis kelamin. Bisa masculine / laki-laki, feminine / perempuan, atau neuter / netral).

Kalau dipersoalkan bahwa untuk ‘Roh’ digunakan kata benda berjenis kelamin netral, maka perlu diingat bahwa:

  • Dalam Yoh 4:24 dikatakan bahwa ‘Allah adalah Roh’, dan disinipun kata ‘Roh’ itu berjenis kelamin netral! Apakah ini menunjukkan bahwa Allah itu adalah ‘sesuatu’, bukan ‘seseorang’?
  • Juga dalam Luk 23:46 Yesus berkata: ‘Ya Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu‘. Ini adalah terjemahan yang salah! NIV menterjemahkan: ‘Father, into your hands I commit my spirit (= Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan rohKu). Di sini kembali digunakan kata ‘roh’ (PNEUMA) yang berjenis kelamin netral. Apakah ini menunjukkan bahwa Yesus itu bukan seorang pribadi, atau bahwa Yesus itu bukan laki-laki tetapi wadam / banci?

Dalam Yoh 16:7 Roh Kudus disebut PARAKLETOS (= Penghibur). Kata ini mempunyai jenis kelamin masculine / laki-laki, sehingga lalu dalam ayat itu digunakan kata ganti orang AUTON (= him).

Jelaslah bahwa kata ‘it’ dalam Yoh 14:17 itu tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ‘sesuatu’ bukan ‘seseorang’. Dalam hal ini saya setuju dengan bagian terakhir dari kutipan di atas yang berbunyi: “hal ini sesuai dengan peraturan tatabahasa, bukan menya-takan suatu doktrin”.

Bukti-bukti kepribadian Roh Kudus:

1) Sebutan yang digunakan terhadap Roh Kudus menunjukkan bahwa Ia adalah seorang pribadi.

Dalam Yoh 14:16, Yoh 14:26, Yoh 15:26, dan Yoh 16:7, Roh Kudus disebut sebagai ‘Penolong / Penghibur’. Dalam bahasa Yunani, semua ayat ini menggunakan istilah yang sama yaitu PARAKLETOS.

Penggunaan istilah ini untuk Roh Kudus menunjukkan bahwa Ia adalah seorang Pribadi.

Perlu juga diketahui bahwa istilah PARAKLETOS ini juga digunakan terhadap Yesus Kristus dalam 1Yoh 2:1 (Kitab Suci Indonesia menterje-mahkan ‘Pengantara’). Lalu Yoh 14:16 menyebut Roh Kudus sebagai ‘PARAKLETOS (= Penolong) yang lain‘.

Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain (= another)’, yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.

W.E. Vine dalam ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’ mengatakan sebagai berikut:

“ALLOS … denotes another of the same sort; HETEROS … denotes another of a different sort” (= ALLOS … menunjuk pada ‘yang lain’ dari jenis yang sama; HETEROS … menunjuk pada ‘yang lain’ dari jenis yang berbeda).

Illustrasi:

Saya mempunyai satu gelas Aqua. Kalau saya menginginkan satu gelas Aqua ‘yang lain’, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki minuman ‘yang lain’, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan HETEROS, bukan ALLOS.

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘yang lain’ dalam Yoh 14:16 bukanlah HETEROS, tetapi ALLOS. Andaikata yang digunakan adalah HETEROS, maka itu akan menunjukkan adanya perbedaan sifat antara Yesus dan Roh Kudus, sehingga bisa saja Yesus adalah Allah dan merupakan seorang yang berpribadi, sedangkan Roh Kudus bukan. Atau bahwa Yesus itu mahakuasa, sedangkan Roh Kudus tidak. Tetapi karena kata Yunani yang digunakan adalah ALLOS, ini menunjukkan bahwa Roh Kudus, sekalipun adalah PARAKLETOS ‘yang lain’ dari pada Yesus, tetapi mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Yesus.

Karena itu dalam komentarnya tentang ayat ini William Hendriksen, seorang penafsir Reformed, mengatakan:

“He is another Helper, not a different Helper. The word another indicates one like myself, who will take my place, do my work. Hence, if Jesus is a person, the Holy Spirit must also be a person” (= Ia adalah Penolong yang lain, bukan Penolong yang berbeda. Kata yang lain menunjukkan seseorang seperti aku sendiri, yang akan mengambil tempatku, melakukan pekerjaanku. Jadi, jika Yesus adalah seorang pribadi, Roh Kudus harus juga adalah seorang pribadi).

William Hendriksen bahkan melanjutkan dengan berkata:

“For the same reason, if Jesus is divine, the Spirit, too, must be divine” (= dengan alasan yang sama, jika Yesus bersifat ilahi / adalah Allah, Roh juga harus bersifat ilahi / adalah Allah).

2) Roh Kudus mempunyai ciri-ciri seorang pribadi, yaitu adanya:

  1. a) Pikiran.

Yoh 14:26 mengatakan bahwa fungsi Roh Kudus adalah mengajar dan mengingatkan orang percaya akan Firman Tuhan. Bahwa Ia bisa mengajar / mengingatkan, menunjukkan bahwa Ia mempunyai pikiran.

  1. b) Perasaan.

Ef 4:30 mengatakan bahwa kita tidak boleh mendukakan Roh Kudus. Yes 63:10 juga berbicara tentang orang-orang yang mendukakan Roh Kudus. Ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai pera-saan.

  1. c) Kehendak.

1Kor 12:11 mengatakan: “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya“.

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai kehendak.

3) Kitab Suci juga menyatakan bahwa Roh Kudus melakukan hal-hal seperti:

  • mengajar (Luk 12:12 Yoh 14:26).
  • mengingatkan (Yoh 14:26).
  • bersaksi (Yoh 15:26 Ro 8:16).
  • menginsafkan dunia (Yoh 16:8).
  • berkata dan memerintah (Kis 8:29 Kis 13:2).
  • memutuskan (Kis 15:28).
  • membangkitkan Yesus, menghidupkan (Ro 8:11).
  • menyelidiki, tahu apa yang ada dalam diri Allah (1Kor 2:10-11).

Hal-hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh ‘seseorang yang berpribadi’, bukan oleh ‘sesuatu yang tidak berpribadi’!

  1. C) Roh Kudus bukan Allah:

Bahwa orang Saksi Yehovah mempercayai Roh Kudus hanya sebagai kuasa / tenaga Allah yang tidak berpribadi, menunjukkan bahwa mereka tidak mempercayai Roh Kudus sebagai Allah / pribadi ketiga dari Allah Tritunggal.

Ini juga terlihat jelas dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, yang dalam hal 22 berkata:

“Berbagai sumber mengakui bahwa Alkitab tidak mendukung gagasan bahwa roh kudus adalah pribadi ketiga dari suatu Tritunggal” (hal 22).

Mereka juga memberikan beberapa kutipan yang mendukung pandangan mereka tersebut. Kutipan-kutipan itu mereka ambil dari:

The Catholic Encyclopedia.

Teolog Katolik Fortman.

New Catholic Encyclopedia.

A Catholic Dictionary.

Catatan:

  • Adalah sesuatu yang menarik bahwa semua kutipan itu diambil dari golongan Katolik!
  • Salah satu cara yang sering digunakan oleh literatur Saksi Yehovah dalam meyakinkan orang lain adalah dengan memberikan banyak sekali kutipan dari orang / buku sesat yang mendukung pandangan mereka. Begitu banyaknya kutipan yang mereka gunakan sehingga:
    • saudara bisa merasa aneh bahwa banyak orang / buku itu bisa salah / sesat semua.
    • saudara bisa merasa diri tolol kalau saudara tidak menyetujui begitu banyak orang / buku itu.

Menghadapi hal seperti ini ingatlah bahwa kebenaran bukanlah persoalan demokrasi, seakan-akan yang banyak itu pasti benar!

Lalu dalam buku yang sama dalam hal 23 dikatakan:

“Roh kudus tidak setara dengan Allah tetapi selalu dipakai olehNya dan lebih rendah daripada Dia”.

Bantahan:

Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah, dan hal ini bisa saudara lihat di bawah ini.

Bukti-bukti keilahian Roh Kudus:

1) Kitab Suci menggunakan sebutan Roh Kudus dan Allah / Tuhan (ADONAI) / TUHAN (Yahweh) secara interchangeable (= bisa dibolak-balik).

Contoh:

  1. a) Bandingkan Yes 6:8-10 dengan Kis 28:25-27:

Yes 6:8-10 – “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ‘Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?’. Maka sahutku: ‘Ini aku, utuslah aku!’. Kemudian firmanNya: ‘Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya lalu berbalik dan menjadi sembuh'”.

Kis 28:25-27 – “Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan perkataan yang satu ini: ‘Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya: Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka'”.

Kalau kita membandingkan 2 bagian Kitab Suci di atas, maka jelas terlihat bahwa apa yang dikatakan Paulus dalam Kis 28:25-27 itu ia kutip dari Yes 6:8-10. Tetapi dalam Yes 6:8-10 itu dikatakan bahwa itu adalah ‘suara Tuhan‘ kepada nabi Yesaya, sedangkan dalam Kis 28:25-27 itu Paulus berkata bahwa ‘firman itu disampaikan oleh Roh Kudus‘ dengan perantaraan nabi Yesaya. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan sendiri!

  1. b) Bandingkan Ibr 3:7-11 dengan Maz 95:7b-11 dan Kel 17:1-7:

Ibr 3:7-11 – “Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan ber-kata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalanKu, sehingga Aku bersumpah dalam murkaKu: Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu'”.

Karena kata-kata dalam Ibr 3:7-11 ini merupakan kata-kata Roh Kudus, maka kata-kata ‘mencobai Aku’ berarti ‘mencobai Roh Kudus’.

Kalau sekarang kita melihat dalam Maz 95:7b-11, yang hampir-hampir identik dengan Ibr 3:7-11 tadi, maka bisa kita dapatkan dari Maz 95:8 bahwa itu adalah peristiwa yang terjadi di Masa dan Meriba. Dan peristiwa Masa dan Meriba itu diceritakan dalam Kel 17:1-7. Sekarang perhatikan Kel 17:7 yang berbunyi:

“Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: ‘Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?'”.

Jadi disini dipakai istilah ‘mencobai TUHAN (YAHWEH)’, padahal tadi dalam Ibr 3:7-11 dikatakan bahwa mereka ‘mencobai Roh Kudus’. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah TUHAN (YAHWEH)!

  1. c) Bandingkan Ibr 10:15-17 dengan Yer 31:33-34.

Ibr 10:15-17 – “Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah Ia berfirman: ‘Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,’ Ia berfirman pula: ‘Aku akan menaruh hukumKu di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.'”

Yer 31:33-34 – “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka”.

Jelas terlihat bahwa Ibr 10:16-17 merupakan kutipan sebagian (tidak seluruhnya) dari Yer 31:33,34. Tetapi dalam Yer 31 dikatakan bahwa kata-kata itu diucapkan oleh TUHAN / Yahweh (perhatikan kata-kata ‘firman TUHAN’ dalam Yer 31:31,32c,34b). Sedangkan dalam Ibr 10:15-17 dikatakan bahwa itu merupakan ‘kesaksian / firman Roh Kudus’ (Ibr 10:15b,16b).

Disamping itu, dalam Yer 31 itu, yang mengadakan perjanjian, yang menaruh Taurat dalam batin umatNya, dan yang mengampuni / tidak mengingat dosa umatNya, adalah TUHAN / Yahweh sendiri. Sedangkan dalam Ibr 10:15-17, yang mengadakan perjanjian, yang menaruh hukum dalam hati, dan yang mengampuni / tidak mengingat dosa, adalah Roh Kudus.

Juga perlu diperhatikan bahwa Roh Kudus dikatakan ‘tidak mengingat dosa’. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.

Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah TUHAN / Yahweh sendiri!

  1. d) Sekarang mari kita melihat pada Kis 5:3-4,9 yang berbunyi sebagai berikut:

“Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah. … Kata Petrus: ‘Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?'”.

Perhatikan bahwa kalau dalam Kis 5:3 Petrus berkata bahwa Ananias ‘mendustai Roh Kudus‘, maka dalam Kis 5:4 Petrus berkata bahwa Ananias ‘mendustai Allah‘. Lalu dalam Kis 5:9 Petrus berkata bahwa mereka ‘mencobai Roh Tuhan‘. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah!

  1. e) Dalam 1Kor 3:16 Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah ‘bait Allah‘ (= rumah Allah), tetapi anehnya ia melanjutkan dengan kata-kata ‘dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu’. Kalau memang tubuh kita adalah bait / rumah Allah, maka itu seharusnya berarti bahwa Allahlah yang tinggal di dalam tubuh kita. Tetapi Paulus mengatakan Roh Allah (= Roh Kudus) yang tinggal di dalam kita.

Dan kalau kita melihat dalam 1Kor 6:19 maka di sana Paulus berkata bahwa tubuh kita adalah ‘bait Roh Kudus‘.

Semua ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah Allah!

  1. f) Dengan cara yang sama, kalau kita membandingkan Yes 40:13 dengan Yes 40:14 maka bisa kita simpulkan bahwa ‘Roh TUHAN’ dalam Yes 40:13 itu adalah ‘TUHAN’ dalam Yes 40:14.

2) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai sifat-sifat Allah seperti:

  1. a) Kekal (Ibr 9:14).
  2. b) Mahaada (Maz 139:7-10).
  3. c) Mahatahu (1Kor 2:10-11 Yes 40:13).

1Kor 2:10-11 yang menunjukkan bahwa Roh Kudus itu tahu apa yang ada dalam diri Allah, jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus itu maha-tahu!

  1. d) Mahakuasa (Mat 12:28).
  2. e) Suci.

Ini terlihat dari sebutan ‘kudus’, dan juga terlihat dari Ef 4:30 yang menunjukkan bahwa dosa kita mendukakan Roh Kudus.

3) Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Roh Kudus melakukan pekerjaan-pekerjaan ilahi seperti:

  1. a) Penciptaan (Kej 1:2 Ayub 33:4).
  2. b) Melahirbarukan (Yoh 3:5-6 Tit 3:5).
  3. c) Membangkitkan Yesus (Ro 8:11).

4) Nama Roh Kudus ditempatkan dalam posisi yang sejajar dengan nama Bapa dan Anak, seperti dalam Mat 28:19 dan 2Kor 13:13.

Perlu saudara ingat bahwa dalam Mat 28:19 nama Bapa, Anak dan Roh Kudus disejajarkan bukan dalam sembarang peristiwa, tetapi dalam formula baptisan. Adalah aneh, bahkan tidak masuk akal, kalau Yesus memerintahkan supaya seseorang dibaptis dalam nama Bapa (yang adalah Allah), Anak (yang juga adalah Allah), dan Roh Kudus (yang bukan Allah, bahkan bukan pribadi).

Demikian juga dalam 2Kor 13:13 Paulus menyejajarkan Yesus, Allah (Bapa) dan Roh Kudus, bukan dalam peristiwa sembarangan, tetapi pada saat ia memberi berkat kepada gereja Korintus.

Karena itu bisa disimpulkan bahwa dalam 2 ayat tersebut, penyejajaran Bapa, Anak dan Roh Kudus menunjukkan bahwa 3 pribadi itu setingkat! Dan ini membuktikan bahwa Roh Kudus adalah Allah sendiri!

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pandangan ETIKA Kristen Terhadap HIV/AIDS

  1. PENGERTIAN HIV/ AIDS
  2. HIV

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak, kemudian merusaknya tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa. Manusia yang terkena virus HIV, tidak langsung menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahun-tahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan.

Sasaran utama virus HIV adalah subpopulasi sel limfosit yang disebut sel T4 penolong (TT4 Helper Cells) yang sangat penting untuk pertahanan tubuh terhadap penyakit. HIV menginveksi   sel dan membunuh sel T4 penolong, sehingga menyebabkan hilangnya komunikasi antar sel. Penelitian yang mendalam baik secara etimologi maupun laboratorium menunjukkan bahwa hanya darah, semen (air mani) dan sekresi vagina dan ASI dianggap penting dalam penularan HIV..Namun tidak semua cairan dalam tubuh manusia memiliki HIV. Ada juga yang tidak berpotensial yaitu cairan keringat, air liur, air mata.Para ahli percaya bahwa infeksi virus ini akan terjadi seumur hidup.

  1. AIDS

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala yang didapatkan dari penurunan kekebalan tubuh akibat kerusakan system imun yang disebabkan oleh infeksi HIV.

  1. SEJARAH AIDS

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana.

Penyakit ini sudah lama ada hanya saja belum disadari oleh para ilmuwan bahwa kasus–kasus yang ditemukan adalah kasus AIDS. Baru pada tahun 1981 Amerika Serikat melaporkan kasus–kasus penyakit infeksi yang jarang terjadi ditemukan dikalangan homoseksual, yang kemudian dirumuskan sebagai penyakit Gay Related Immune Deficiency (GRID), yakni penurunan kekebalan tubuh yang dihubungkan dengan kaum gay/homoseksual.

Kemudian pada tahun 1982, CD–USA (Centers for Disease Control) Amerika Serikat untuk pertama kali membuat definisi AIDS. Sejak saat itulah survailans AIDS dimulai. Pada tahun 1984 Gallo dan kawan–kawan dari National Institute of Health, Bethesda, Amerika Serikat menemukan HTLV III ( Human T Lymphotropic Virus type III) sebagai sebab kelainan ini. Pada tahun 1985 ditemukan Antigen untuk melakukan tes ELISA, suatu tes untuk mengetahui terinfeksi virus itu atau tidaknya seseorang. Pada tahun 1986, International Commintte on Taxonomi of Viruses, memutuskan nama penyebab penyakit AIDS adalah HIV sebagai pengganti nama LAV dan HTLV III. 15 April 1987, Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan. Seorang wisatawan berusia 44 tahun asal Belanda, Edward Hop, meninggal di Rumah Sakit Sanglah, Bali. Kematian lelaki asing itu disebabkan AIDS. Hingga akhir 1987, ada enam orang yang didiagnosis HIV positif, dua di antara mereka mengidap AIDS. Sejak ditemukan tahun 1978, secara kumulatif jumlah kasus AIDS di Indonesia sampai dengan 30 September 2009 sebanyak 18.442 kasus. jumlah ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.

  1. CARA PENULARAN

Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

  1. Secara Kontak Seksual

Ano-Genital Cara hubungan seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari pengidap HIV. Ora-Genital Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua, termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV. Genito-Genital / Heteroseksual Penularan secara heteroseksual ini merupakan tingkat penularan ketiga, hubungan suami istri yang mengidap HIV, resiko penularannya, berbeda-beda antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.

 

  1. Secara Non seksual

Penularan secara non seksual ini dapat terjadi melalui Transmisi Parental Penggunaan jarum dan alat tusuk lain (alat tindik, tatto) yang telah terkontaminasi, terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama. Penularan parental lainnya, melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV positif, mengandung resiko yang sangat tinggi. Transmisi (penularan, penyebaran penyakit) Transplasental(pemindahan jaringan tubuh) Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak, mempunyai resiko sebesar 50%. Disamping cara penularan yang telah disebutkan di atas ada transmisi yang belum terbukti, antara lain: ASI, Saliva/Air liur, Air mata, Hubungan sosial dengan orang serumah, Gigitan serangga.

 

  1. GEJALA

Terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu Gejala awal stadium infeksi yaitu : Demam, Kelemahan, Nyeri sendi menyerupai influenza/, Nyeri tenggorok, Pembesaran kelenjaran getah bening. Gejala kedua Stadium tanpa gejala Stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV. Gejala ketiga stadium ARC Demam lebih dari 38°C secara berkala atau terus Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan Pembesaran kelenjar getah bening Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik Keringat malam. Gejala ke empat AIDS Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening. Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti teksoplasmosis dsb. Gejala kelima gangguan susunan saraf

Lupa ingatan, Kesadaran menurun, Perubahan Kepribadian, Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak, Kelumpuhan Umumnya penderita AIDS sangat kurus, sangat lemah dan menderita infeksi. Penderita AIDS selalu meninggal pada waktu singkat (rata-rata 1-2 tahun) akan tetapi beberapa penderita dapat hidup sampai 3 atau 4 tahun

  1. PENCEGAHAN
  2. SECARA MEDIS

Pemerintah maupun lembaga masyarakat telah banyak melakukan terobosan-terobosan untuk mencegah penyebaran HIV AIDS. Beberapa membuahkan hasil, namun tetap saja penularan melalui hubungan seks menjadi peringkat atas yang sulit dihindari. Berikut ini beberapa tips yang bisa diikuti atau anjurkan bagi lingkungan untuk menghambat penularan HIV AIDS.

  1. Save sex, hendaklah Anda setia pada pasangan Anda dan lakukan hubungan seksual yang patut.
  2. Menghindari seks bebas, baik dengan pekerja seks komersial dan berganti-ganti pasangan.
  3. Jika pasangan anda sudah terbukti mengidap HIV AIDS, dalam melakukan hubungan seksual sebaiknya menggunakan kondom(bagi suami istri).
  4. Penularan HIV AIDS melalui transfusi darah menempati peringkat kedua. Jadi sebisa mungkin hindari melakukan transfusi darah.
  5. Hindari penggunaan obat-obat terlarang, penggunaan alat suntik bersama, tattoo, dan tindik.
  6. Bagi seorang ibu yang mengidap HIV AIDS, sebaiknya tidak hamil, untuk menghambat penularan ke bayi yang akan dilahirkan.

 

 

 

  1. PENGOBATAN MEDIS

Sampai saat ini belum ditemukan obat bagi penderita HIV AIDS. Hanya saja telah tersedia obat untuk menghambat bekerjanya virus HIV. Pada orang yang sehat, sel-sel T penolong merangsang atau mengaktifkan sistem kekebalan untuk menyerang infeksi. HIV khususnya mengincar sel-sel T penolong ini. Ia menggunakan sel-sel itu untuk memperbanyak dirinya (replikasi), melemahkan dan menghancurkan sel-sel T penolong hingga sistem kekebalan merosot drastis. Obat anti-retrovirus (ARV) menghambat proses replikasi ini. Saat ini ada empat jenis utama ARV yang diresepkan. Analog nukleosida dan analog nonnukleosida mencegah HIV menggandakan diri ke dalam DNA seseorang. Inhibitor protease membuat enzim protease tertentu dalam sel yang terinfeksi tidak dapat menggandakan virus itu dan menghasilkan lebih banyak HIV. Inhibitor fusi bertujuan mencegah HIV memasuki sel. Dengan menghambat replikasi HIV, ARV dapat memperlambat perkembangan dari infeksi HIV menjadi AIDS, yang disebut stadium akhir penyakit HIV. Namun untuk penggunaan Obat anti-retrovirus ini tidak semua cocok untuk penderita HIV, maka sebaiknya di konsultasikan terlebih dahulu kedokter. Selain obat ARV, bagi Anda penderita HIV juga dapat mencoba pengobatan herbal, salah satu herbal yang dapat membantu menghambat perkembangan HIV adalah Sarang Semut. Kandungan flavonoid yang terdapat dalam Sarang Semut telah terbukti dapat merangsang perkembangan antibodi dan flavonoid ini berperan langsung sebagai antibiotik. Dengan mengganggu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri dan virus termasuk virus HIV AIDS. Namun perlu kami beritahukan bahwa Sarang Semut adalah salah satu obat yang bersifat herbal. Dalam penyembuhan suatu penyakit tentu akan membutuhkan waktu tidak secara instan.

 

 

 

 

 

  1. PENDERITA HIV/AIDS DITINJAU DARI PERSFEKTIF ETIKA KRISTEN

HIV/AIDS, terkadang banyak pendapat yang langsung bersifat menghakimi dari orang Kristen. Menurut mereka para penderita terkena penyakit yang mematikan disebabkan oleh tindakan mereka yang melanggar perintah Allah ( Kel. 20 :14). Allah adalah kudus dan Dia menginginkan manusia hidup kudus. Oleh sebab itu menurut mereka menjaga kekudusan perkawinan sangatlah penting. Pendapat ini sedemikian berakar kuat didalam diri sebagian orang Kristen, sehingga banyak diantara mereka yang sama sekali tidak mau mempedulikan para penderita. Dipihak lain ada orang Kristen yang berjiwa sosial, sangat memperdulikan akan para penderita. Dengan menerapkan hukum kasih, mereka berusaha untuk menjadi berkat bagi orang lain. Mengadakan penyuluhan dan seminar bagi masyarakat mengenai bahayanya penyakit ini. memberikan perhatian bagi yang sudah terinveksi, tanpa takut terjangkit oleh virus mematikan ini?

 

Menekankan tentang kekudusan Allah itu adalah hal yang sangat penting dalam kekristenan, Firman Allah mengatakan “Kuduslah kamu sebab Aku kudus”, oleh sebab itu perkawinan adalah hal yang sangat kudus. Melakukan seks bebas adalah hal yang bertentangan dengan kehendak Allah (kel. 20:14). Salah satu penyebaran virus ini adalah melalui hubungan seksual. Oleh sebab itu jagalah kekudusan hidup.

Prinsip yang harus diterapkan sebagai umat percaya adalah prinsip yang sudah dilakukan oleh sang guru agung kita yaitu Tuhan Yesus. Selama pelayanannya di bumi, Tuhan Yesus selalu memperhatikan orang –orang yang sudah terbuang dikalangan masyarakat marginal. Dia menunjukan kasihnya dengan menyembuhkan mereka, dan memberikan pemulihan kerohanian.(luk. 17 :11-19).

  1. PENCEGAHAN MENURUT AGAMA KRISTEN

Bagi mereka yang belum terkena inveksi dari virus mematikan ini, sebagai hamba Tuhan, kita harus mengadakan penyuluhan, pembinaan kepada masyarakat, dengan menekankan tentang kekudusan hidup berdasarkan firman Tuhan. Didalam 1 Tesalonika 4 :1-12 memberikan suatu pedoman untuk menjaga kekudusan hidup, dan Amsal 5:1-23 memberikan penjelasan yang sangat mendetail salah satu dampak dari hubungan perzinahan, yang merupakan salah satu cara penularan virus ini.

Bagi yang sudah terinveksi, hal yang bisa dilakukan adalah, pemulihan kerohanian bagi mereka, beritakan Injil kepada mereka sehingga walaupun tubuh mereka tidak mungkin disembuhkan lagi tetapi yang terpenting jiwa mereka bisa dipulihkan dan bertobat percaya kepada Yesus. (Kisa Para rasul 4: 12) Karena kesehatan rohani lebih penting daripada kesehatan jasmani. Orang yang sudah terinveksi penyakit ini hanya mengalami penyesalan dan keputusasaan yang mendalam selama mereka masih hidup, tidak bisa lagi berbuat apa-apa, bagaikan burung yang terkena jerat, bagi mereka kehidupan didunia tidak ada artinya lagi, tinggal menunggu saatnya untuk mati. disanalah para hamba Tuhan hadir , membawa suatu harapan baru didalam Kristus, yang lebih berharga dari kehidupan yang sangat singkat didunia ini.

 

  1. PANDANGAN SAYA

Etika kristen ( salah satu cabang ilmu teologi praktika) menekankan tentang kepedulian berupa tindakan lansung tanpa mempermasalahkan mengapa dia terinveksi virus yang mematikan ini. pada waktu Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta, (Mat. 8:1-4 ; Mrk.1:40-45 ;Luk. 5::12-26) dia tidak menanyakan mengapa mereka terkena penyakit, tetapi tindakan yang dilakukan adalah menyembuhkan mereka. Kita mungkin tidak bisa menyembuhkan mereka secara fisik tetapi yang bisa disembuhkan adalah kerohanian mereka, dengan mengubah paradigm mereka dan memberikan arahan dan bimbingan mengenai gaya hidup yang benar.

 

Menurut saya perlu memberikan perhatian (compassion) dan peduli (caring) terhadap penderita HIV/AIDS dan juga senantiasa mengasihi penderita termasuk keluarganya. Sebagai gereja dan orang Kristen kita harus menghindari stigma (hukuman/tuduhan) terhadap penderita HIV/AIDS ini karena Tuhan Allah telah mengajarkan tentang Kasih.

 

Mengajarkan Pola hidup yang baik, kehidupan berkeluarga dengan setia terhadap pasangan hidup, menjauhkan diri dari drug/narkoba, hidup dalam terang firman Tuhan, haruslah senantiasa menjadi mindset/pola pikir dan sikap orang Kristen.

 

 

SUMBER PUSTAKA

  1. Palma & PGI. Peran Gereja menghadapi AIDS, terjemahan atas publikasi WCC:

      Facing AIDS, The Challenge, The Churches’Response, Jakarta, 1997

  1. AIDS Working Group WCC, Guide to HIV/ AIDS Pastoral Counseling, Geneva, 1990
  2. Report of LWF, Youth Consultation, Malaysia, November, 2001
  3. Report of LWV Asian Leadership, Consultation on HIV/AIDS, Batam, December 2003
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pandangan Ahok Tentang Prostitusi

Nama               : Indra Junedi Pasaribu

Semester          : VI (Enam)

Dosen              : Ev. Sarah Wassar, M.Th

 

  1. PENDAPAT AHOK MENGENAI PROSTITUSI

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mencoba melakukan klarifikasi melalui akun Twitter-nya soal wacana apartemen lokalisasi yang sempat dia lontarkan. Melalui akun @basuki_btp, Ahok (sapaan Basuki) mengawali kicauannya dengan menyapa netizen.  “Selamat siang, udah lama saya nggak ngetwit. Sambil di perjalanan mau twit beberapa hal,” tulis Ahok di akun Twitternya, Rabu (29/4/2015). Diduga, Ahok menulis kicauan tersebut dalam perjalanan menuju Balai Kota seusai menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan nasional (musrenbangnas) bersama Presiden RI Joko Widodo dan gubernur dari provinsi lain.  Dalam kesempatan tersebut, Ahok mengaku, banyak pihak yang bertanya soal wacana lokalisasi prostitusi legal di Jakarta.

“Banyak yg tanya, lokalisasi prostitusi di jkt jadinya gimana? Ya nggak gimana-gimana,” tulis Ahok.

Masih dalam kicauannya, Ahok menegaskan, yang terpenting adalah masyarakat sadar bahwa praktik prostitusi memang ada di lingkungan sekitar. Hanya, banyak masyarakat yang pura-pura tidak tahu akan hal tersebut. Ahok menyimpulkan masyarakat sadar karena banyak yang mengomentari wacana tersebut.  “Tanggapan publik sangat ‘ramai’, Artinya masyarakat memang masih peduli dengan moral anak bangsa. Hebat kan.”

Selanjutnya, Ahok seakan membuat kesimpulan bahwa masyarakat Jakarta memang tidak ingin praktik prostitusi berlangsung di lingkungannya. Satu-satunya pihak yang menginginkan hal tersebut mungkin adalah mereka yang mengambil keuntungan dari praktik prostitusi.  Akan tetapi, praktik tersebut nyata. Ahok mengajak masyarakat yang mengetahui praktik tersebut di lingkungannya untuk segera melapor kepada polisi.

Dia pun mengaku memang sengaja melontarkan ide ini untuk melihat reaksi masyarakat. Jika wacananya banyak ditentang, Ahok akan mengetahui apa pertimbangan pihak lain menentang idenya. Meski membuat wacana membangun lokasi prostitusi, Ahok mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI tetap akan menindak rumah kos liar. Hal tersebut perlu dilakukan sebagai antisipasi kegiatan prostitusi di berbagai wilayah.  Akan tetapi, kata Ahok, usulan membangun apartemen khusus kegiatan prostitusi ini adalah solusi yang dia berikan untuk mengontrol pekerja seks komersial (PSK). Apabila usulannya dianggap buruk, Ahok meminta pihak lain untuk memberikan solusi yang lebih baik.

  1. PROSTITUSI MENURUT ALKITAB

(Matius 21:31) Maria Magdalena, salah seorang pengikut dan murid Yesus, seringkali digambarkan sebagai seorang pelacur yang diampuni Yesus (Lukas 8:2), meskipun pendapat ini masih diperdebatkan. Kitab Wahyu melukiskan Roma sebagai pelacur besar yang akan dijatuhi hukuman oleh Allah. Agama Yahudi dan Kristen menyamakan penyembahan terhadap dewa-dewa lain selain kepada Allah sebagai pelacuran. Gambaran ini dapat ditemukan di dalam kitab Nabi Yehezkiel ps. 23 dan kitab Nabi Hosea (1:2-11).

Dalil 1 : Yesus Melarang Berzina

Yesus bersabda Jangan berzina, yang di-kutip dari sepuluh (10) perintah Tuhan dalam kitab Taurat tepatnya Keluaran 20:14, kemudian Yesus juga memberikan peringatan agar umatnya tidak berbuat zina Matius 5:28-29

Peringatan Yesus tersebut memberikan arti kuat bahwa betapa sangat dilarangnya perbuatan zina, seseorang yang memandang perempuan dan tertarik maka oleh Yesus dikatakan sudah berbuat zina di dalam hatinya, dan menurut beberapa tafsir Alkitab, berkeinginan untuk berbuat zina sudah sama sifatnya dengan berzina.
Dalil 2 : Yesus Membiarkan Pezina

Suatu ketika ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi datang menemui Yesus untuk menyerahkan seorang wanita yang tertangkap basah berbuat zina :

“Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia se-dang berbuat zina. Yohanes 8:4; Yohanes 8:7 ;Yohanes 8:10

  1. PANDANGAN ETIKA KRISTEN

secara Teologi maka dapat ditarik beberapa hal sebagai berikut :

  1. Dalam Imamat 19:2 Tuhan berfirman “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus.” Menunjukan bahwa Allah menghendaki umat ciptaan-Nya hidup kudus dalam segala hal dan didalamnya tidak melakukan perbuatan tercelah seperti pelacuran dengan alasan apapun bahkan dalam hukum perkawinan, Allah melarang perzinahan (Keluaran 20:14) dan menghendaki bahwa orang yang melakuakan perzinahan harus dihukum mati (Ulangan 22:22).
  2. Pelacuran merupakan penolakan terhadap hukum kasih karena dalam Matius 22:39 Tuhan Yesus berkata “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Paulus pun menyatakan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri sebab tidak pernah seorang yang membenci tubuhnya sendiri, tetapi jusru mengasuhnya dan merawatinya (Ef. 5:28-29). Hal ini menegaskan bahwa tubuh kita harus kita jaga bukan untuk dilacurkan demi uang. Orang yang melacurkan dirinya tidak mengasihi tubuhnya sebagai Bait Allah dan ciptaan Allah (I Korintus 3:16-17).
  3. Orang yang melacur karena desakan ekonomi atau alasan apapun adalah orang yang tidak percaya akan berkat dan perlindungan Allah. Matius 6: 25-34 menjelaskan dengan panjang lebar bagaimana Allah sesungguhnya mengasihi manusia jauh melebihi ciptaan yang lain. Jika Allah mengasihi burung-burung dilangit dan bunga bakung di lading maka jelas Allah sangat mengasihi manusia melebihi ciptaan-Nya yang lain.

 

  1. PROSTITUSI MENURUT SAYA

Saya tidak setuju dengan praktek prostitusi karena:

  1. Melanggar hokum taurat ke-7 dalam Keluaran 20:14 menentang hokum Allah.
  2. Prostitusi akan menghancurkan tubuh yang dimana tubuh merupakan bait Roh Kudus 1 Korintus 3:16.
  3. Tidak menghargai bahwa tubuh manusia sudah lunas dibayar oleh Yesus sehingga kita harus memuliakan Dia dengan tubuh kita. Dengan prostitusi ia justru menolak hakekat sebagai manusia yang telah ditebus Allah 1 Korintus 6:20.
  4. Prostitusi melanggar perintah Allah dalam Roma 12:1 dimana bahwa tubuh haruslah kudus sehingga dapat dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Sekarang sudah saatnya semua pihak, termasuk birokrat, peneliti, akademisi, agamawan, dan praktisi, duduk bersama dan berusaha menemukan solusi efektif untuk menyelesaikan masalah prostitusi. menentukan kasus pelacuran, misalnya dalam hal kemiskinan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan. Pelacuran adalah sebuah tanda ketidakmampuan untuk mengahadapi kerasnya hidup walau ada yang memang telah menjadikan dunia ini sebagai tempat mencari uang atau ladang usaha. Sebuah perkataan ‘ora et labora’ jelas meganjurkan hidup bergantung pada Allah tapi juga mau bekerja sesuai kemampuan dan jelas harus halal.

 

SUMBER

  1. L. Norman, Etika Kristen: Pilihan dan Isu, Departemen, Literatur SAAT,

Malang

  1. Walker, D, F. Dr, Konkordansi Alkitab, BPK, Jakarta, Cetakan Ke-10, Tahun 2010
  2. JAKARTA, KOMPAS.com
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Makalah Kitab Yesaya

Makalah Kitab Yesaya

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Manusia pada umumnya dipanggil oleh Tuhan dengan tujuan untuk mendelegasikan tugas atau amanat Tuhan yang akan dikerjakan oleh manusia. Tuhan memanggil manusia menunjukkan bahwa Allah memiliki rencana atau tujuan didalam panggilan tersebut. Tuhan memanggil Yesaya untuk menyelesaikan suatu tugas tertentu. Dia membentuk Yesaya sejak dari kandungan ibunya untuk melakukan misi khusus, yaitu menyadarkan orang Israel kembali kepada Tuhan. Tuhan meyakinkan Yesaya kalau Dia akan memberikannya kebutuhan yang diperlukan dalam tugasnya. Tuhan memiliki rencana dalam hidup Yesaya.

Yesaya adalah seorang manusia rohani yang besar. Sejak dari penglihatannya di Bait Allah, dia terus bertumbuh dalam pengertian akan hal-hal yang bersifat rohani. Dia berjalan dekat dengan Tuhan selama pelayanannya. Kedekatannya dengan Tuhan membuat orang lain mengetahui kebenaran akan kata-katanya. Dia hidup dengan berusaha untuk membawa umatnya kembali kepada Allah.

Yesaya putra Amos dilahirkan di Yerusalem sekitar 760 sebelum Masehi. Dia mulai memberitakan pesan Tuhan sekitar 740 sebelum Masehi yaitu pada tahun kematian raja Uzia. Dia berkotbah selama 40 tahun di Yerusalem, menyampaikan pesan Tuhan kepada raja- raja, para pangeran dan rakyat. Dia adalah seorang yang berpendidikan tinggi yang sangat dihormati oleh penduduk Yerusalem.

 

 

  1. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengerti penggilan Tuhan di dalam kehidupan orang percaya
  2. Mengambil pelajaran dari panggilan Tuhan terhadap Yesaya dan aplikasinya bagi orang percaya masa kini.
  3. Menghargai dan bertanggungjawab atas panggilan Tuhan didalam kehidupan orang percaya.
  4. Mengerti tujuan Allah memanggil orang percaya.
  5. Allah memanggil manusia dalam mengemban tugas dan tanggung jawab

Panggilan Yesaya sebagai seorang nabi adalah salah satu cerita yang paling mengesankan yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Cerita tersebut dicatat dalam pasal 6. Dia mendapatkan penglihatan yang luar biasa dari Allah di Bait Allah. Pengalaman yang luar biasa ini mengubah hidupnya. Kekuatan terbesar dalam hidupnya adalah kuasa Allah yang sangat kuat atasnya untuk memberitakan firman Tuhan. Selama 40 tahun, Yesaya memberitakan firman Tuhan. Dia menubuatkan adanya pembebasan. Dia menulis pesan-pesan Tuhan. Dia menasehati para raja dan pemimpin. Dia adalah seorang negarawan yang besar. Dia sangat mengasihi orang miskin. Dia berkotbah untuk keadilan secara ekonomi dan sosial.

  1. RUMUSAN MASALAH

Banyak orang percaya yang tidak mengerti bahwa dirinya dipanggil oleh Tuhan untuk sebuah tujuan yang indah dalam kehidupannya, terkadang manusia melihat kepada kelemahannya sehingga sulit untuk berkarya tidak berani memandang terhadap panggilan Allah dalam kehidupannya dengan unsur perlengkapan kuasa dari Allah untuk memperlengkapi dalam memenuhi panggilan tersebut. Masalah iman dalam menangkap visi Allah dan menerima panggilan tersebut terhalang akibat keragu-raguan bahwa dirinya dipanggil oleh Tuhan. Sebagai bagian dari tindakan penebusan-Nya. Allah ‘memanggil’ Israel (Yes 49:1) dan individu-individu (Yes 41:25). Panggilan itu kadang-kadang untuk suatu pekerjaan baru dan tak terduga, karena itu diberikan nama yang tak terduga (Luk 1:59-63), atau nama baru (Yoh 1:42). Panggilan Allah kepada manusia terus berlanjut dalam jemaat rasuli (Gal 1:15). Meskipun semua orang dipanggil dalam kesetaraan untuk bersama-sama ambil bagian dalam kehidupan Kristen, namun beberapa di antaranya dipanggil untuk maksud-maksud tertentu.

 

  1. BATASAN MASALAH

Dalam penulisan makalah ini yang dimaksudkan oleh penulis adalah panggilan Allah dalam kehidupan Yesaya dan menjadi pelajaran berharga dalam panggilan Allah dalam kehidupan orang percaya. Panggilan disini bukan berarti Allah memanggil manusia kembali kepada-Nya tetapi Tuhan memanggi untuk mempercayakan sebuah tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh manusia untuk menjadi partner Allah di bumi ini.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. PELAJARAN PANGGILAN TUHAN KEPADA YESAYA
  2. Kehidupan manusia selalu berubah ketika dia bertemu Tuhan(Yesaya 6.)
    Yesaya melihat Allah dalam kuasa dan kemuliaan-Nya yang besar. Dia melihat Allah di rumah-Nya. Kehidupan Yesaya diubahkan. Dia melihat kemuliaan Tuhan. Kemudian dia melihat dosanya sendiri dan dosa bangsanya Yesaya 6:1-5. Yesaya mengetahui bahwa dia memerlukan Allah untuk menyucikan dosa-dosanya. Dia menerima pengudusan atas dosa-dosanya. Pada saat itu, dia dipanggil untuk pelayanan ilahi. Dia mendengar panggilan Tuhan, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Yesaya 6:8.  Jawaban Yesaya adalah tanggapan yang tertinggi dari seorang pilihan Allah. Dia dengan sukarela memberi diri. “Ini aku, utuslah aku.” Yesaya 6:8. Hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang adalah menerima panggilan Allah untuk hidupnya. Allah menerima Yesaya. “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini…” Yesaya 6:9. Dia menerima kuasa untuk maju sebagai pembawa pesan Allah kepada bangsa yang berdosa.

 

  1. Allah memberikan jaminan untuk umat- Nya.

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya. Yesaya 40:1-2.

Ini adalah Firman Tuhan kepada kelompok orang yang tertindas dan mempunyai masalah yang besar dalam peperangan. Yesaya memberitakan pesan pengharapan ini di masa-masa yang gelap dalam peperangan. Masalah yang berat dari umat Allah membebani hati- Nya. Allah ingin mereka tahu bahwa Dia masih mengasihi mereka bahkan pada masa penghukuman dan penindasan. Saat ini, sumber penghiburan kita adalah pengetahuan akan kebenaran yang sama. Allah mengasihi kita. Dia adalah Allah yang memperhatikan. Dia menyatakan kedamaian dan jaminan pada umat-Nya.

 

 

 

  1. Allah lebih besar dari ilah-ilah yang lain.

Yesaya 40:12-26“Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia?” firman Yang Mahakudus Yesaya 40:25. Yesaya menggambarkan Allah sebagai yangMaha Besar. Tak ada yang lain seperti Dia. Dia sempurna dalam kebenaran. Dia memiliki segala kuasa. Dia Yang Kekal namun Dia juga mengetahui nama dari setiap domba-domba-Nya. Dia sendiri mampu untuk memperhatikan setiap pribadi.

  1. Allah memberikan kekuatan untuk mereka yang lemah.

Yesaya 40:27-31 “Tetapi orang- orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapatkan kekuatan baru.”Yesaya 40:31. Setelah menunjukkan bahwa Allah adalah Maha Kuasa, Yesaya melanjutkan untuk membuat penerapan yang luar biasa. Dia menyatakan bahwa Allah mengetahui penderitaan umat Israel. Allah tidak pernah lemah atau menjadi lelah. Bahkan Dia akan menopang mereka yang lemah dan yang lelah. Allah bisa dipercaya. Nantikanlah Dia dan Dia akan memberikan kekuatan dan kedamaian.

Allah akan memberikan kekuatan kepada setiap orang yang berjalan dengan sabar di jalan-jalan-Nya.

  1. Allah akan mengutus Sang Juruselamat.

Kitab Yesaya mempunyai banyak ayat yang menjanjikan kedatangan Juruselamat dari Allah. Renungkanlah janji yang indah ini. Bacalah Yesaya 9:1-5. “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Yesaya 9:1. Dunia penuh dengan kegelapan pada masa Yesaya. Dan masih penuh dengan kegelapan pada masa sekarang. Tapi, Allah telah mengirimkan terang-Nya yang penuh kemuliaan ke dalam dunia. Dia sudah mengirimkan karunia dari surga ke dunia. Karunia Tuhan itu adalah dalam pribadi seorang Anak Yang Kudus. Yesus datang sebagai seorang bayi di Bethlehem. Sungguh suatu terang yang ajaib yang dibawa Yesus ke dalam hati mereka yang menerima Dia. Yesaya mengatakan bahwa hikmat Ilahi, kuasa Ilahi, sifat bapa secara Ilahi dan damai Ilahi akan datang karena pemerintahan-Nya di dunia. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini. Yesaya 9:6. Yesus, Sang Raja Yang Terbesar, telah datang. Dia Maha Bijaksana. Dia Maha Kuasa. Dia Penjaga umat-Nya. Dia membawa damai surgawi kepada setiap pribadi yang bersedia menerima Dia sebagai Raja.

  1. TUGAS PANGGILAN ALLAH KEPADA YESAYA

Yesaya berusaha sekuat tenaga membujuk bangsa itu menerima dan mempercayai jaminan berkat itu; khususnya pasal 55. Ia mencoba meyakinkan mereka dengan menghunjuk kepada kemuliaan Yahweh dalam alam dan sejarah. Ia mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tajam, dan menantang mereka untuk berdebat (Yes 40:12-31; 49:14). Ia tantang juga bangsa-bangsa kafir dan dewa-dewa mereka; dapatkah dewa-dewa ini melakukan sesuatu seperti Allah Israel? Adalah Allah Israel yang menciptakan Koresy dan membangkitkannya, agar dia menjadi alat untuk memerdekakan Israel. Karena itu Allah Israel-lah satu-satunya yang tahu lebih dahulu hasil tindakan-tindakan Koresy. Sebagaimana pastinya Yahweh telah menciptakan ‘ihwal’ yang ada menjadi kenyataan atau dengan perkataan lain, sebagaimana pastinya Dia telah menggenapi nubuat-Nya pada masa lalu demikianlah pula pastinya Dia akan melakukan ‘hal-hal baru’ dengan menggenapi janji janjiNya, yang Dia janjikan sekarang melalui nabi-Nya (Yes 41:1; Yes 48:1-11).

Dengan itu Yesaya tidaklah memaparkan ‘bukti-bukti’ dalam arti harfiah, melainkan memajukan permohonan yg kuat pada pikiran, hati sanubari dan suara hati.

 

  1. MAKNA PANGGILAN TUHAN

Yesaya 53:1-6. Yesaya melihat Yesus sebagai Hamba Tuhan yang diutus untuk menderita bagi umat yang terhilang. Yesus dilahirkan sebagai seorang bayi di Bethlehem. Selanjutnya, Dia bertumbuh menjadi seorang manusia yang menderita untuk kita semua. Ayat tersebut diatas adalah yang terbesar dari pengajaran Yesaya. Disini Yesaya menjelaskan maksud dari penderitaan Hamba Allah, Yesus. Yesus menderita menggantikan tempat orang yang berdosa. Dia mati untuk Anda dan saya. Dia sempurna. Dia mati untuk orang berdosa. Dia dilukai, dipukul, ditikam dan dihancurkan — bukan untuk dosanya sendiri melainkan untuk dosa-dosa kita. Dia menanggung dosa-dosa dunia diatas pribadinya sendiri. Allah adalah pribadi yang mengampuni manusia, yang menyediakan Yesus untuk mati menggantikan kita. Syukur kepada Tuhan atas Juruselamat yang sangat luar biasa itu.

 

Demikian juga dengan panggilan kepada Yesaya dan orang percaya bahwa Dia dipanggil untuk turut mengambil bagian dalam penderitaan akibat penghambaan kepada Tuhan. Siksaan atau penganiayaan yang berat dihadapi yaitu bahwa Kemartiran Yesaya, sebuah tulisan apokrif dari abad 1 sebelum Isinya mengisahkan 2 Raj 21:1-18 ditangkap dan digergaji oleh Manasye. Tulisan itu menunjukkan suatu sikap menghormati para martir pada zaman Makabe. Yesaya dipanggil untuk turtu merasakan penderitaan dalam tugas dan tanggungjawab didalam pelayanannya yang ia samakan dengan Yesus Kristus yang menderita di bumi.

 

Keselamatan yang diberitakan oleh Yesaya mencakup pelepasan Yerusalem dari kehancuran besar, tapi pelepasan ini tidaklah penyelamatan yang sepenuhnya. Keselamatan yang dijanjikan dalam arti yang sepenuhnya adalah berdasarkan keampunan dosa (Yes 1:18; 6), dan selanjutnya muatannya adalah hati yang dibarui (Yes 32:15 dst), hidup yang sesuai dengan perintah-perintah Allah, dimahkotai dengan kebahagiaan dan kemuliaan. Dalam keselamatan ini Sion akan menempati kedudukan yang sentral, tapi bangsa-bangsa lain juga akan berpartisipasi dalamnya (Yes 1:19,26; Yes 2:2-5; 4:2-6; 33:13). Pembebasan Israel dari Pembuangan dipandang sebagai awal zaman akbar penyelamatan, dimana segala sesuatu akan diperbarui. Di sini dapat disebut bahwa perjalanan Israel kembali pulang ke tanah leluhur disertai mujizat-mujizat alam (Yes 41:17; Yes 43:18-21; 48:21; 49:9 Yes 55:12 Yes 54:13). Dan berulang-ulang ditekankan bahwa tujuan utama dari semuanya ialah pujian dan kemuliaan bagi Allah (Yes 41:20; 43:21; 44:23; 48:9-11 dst).

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. SIMPULAN

Allah memanggil ini mengindikasikan bahwa Allah memiliki rencana dan tujuan untuk memberikan kemerdekaan atau pelepasan dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang lebih baik. Sebelum Allah memanggil tentu Ia telah mengaruniakan kemampuan untuk mampu mengemban tugas dan tanggung jawab tersebut, dengan segala kesadaran untuk turut mengambil bagian dalam tugas dan pekerjaan Allah, sehingga panggilan tersebut tidak akan sia-sia diberikan oleh Allah. Allah mengerti dan mengetahui apa kriteria dan acuan yang digunakan dalam panggilan tersebut. Yesaya dipanggil dengan tujuan untuk melepaskan orang Israel bangsa pilihan dari segala keterpurukan untuk menunjukkan bahwa Allah yang telah memilih dan memanggil mereka adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat. Allah ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya otoritas tertinggi terletak pada panggilan tersebut bukan karena ia adalah orang yang mampu tetapi karena Allah yang memampukan lewat peneguhan panggilan tersebut.

 

  1. SARAN

Saat Allah telah memanggil maka hal yang dapat dilakukan adalah

  1. Meresponi panggilan tersebut dengan segera Ini aku, utuslah aku.” Yesaya 6:8
  2. Meyakini panggilan Allah tersebut
  3. Sadar akan otoritas Allah memberi kekuatan dalam panggilan tersebut Tetapi orang- orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapatkan kekuatan baru.”Yesaya 40:31
  4. Yakin akan kuasa Allah ada dalam panggilan tersebut sehingga kita tidak akan pernah merasa ragu Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini…” Yesaya 6:9. Dia menerima kuasa untuk maju sebagai pembawa pesan Allah kepada bangsa yang berdosa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. R North, The Second Isaiah, 1964.
  2. J Young, The Book of Isaiah, NIC, 1, 1965.
  3. C Leupold, Exposition of Isaiah I (ps 1-39), 1968.
  4. L McKenzie, Second Isaiah, AB, 1968 Westermann.
  5. T Allis, The Unity of Isaiah, 1950.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar